This is not the document you are looking for? Use the search form below to find more!

Report home > Novel

Api di Bukit Menoreh

0.00 (0 votes)
Document Description
menghadirkan API DI BUKIT MENOREH (ADBM), adi cerita milik bangsa sendiri, ciptaan sang maestro, Singgih Hadi Mintardja atau SH Mintardja, ke dunia siber.
File Details
  • Added: July, 26th 2013
  • Reads: 166
  • Downloads: 4
  • File size: 550.71kb
  • Pages: 81
  • Tags: certa silat, api di bukit menoreh, sh mintardja
  • content preview
Submitter
  • Name: pakdedjoko
Embed Code:

Add New Comment




Related Documents

How to Design a Good API and Why it Matters

by: williamstt, 49 pages

Why is API Design Important? APIs can be among a company's greatest assets _ Customers invest heavily: buying, writing, learning _ Cost to stop using an API can be prohibitive

Diario di bordo

by: tiziana, 1 pages

Diario di Bordo

Diario di bordo

by: tiziana, 1 pages

Diario di bordo

Diario di bordo

by: tiziana, 1 pages

Diario di bordo

Archeologia dell'architettura, progetto di conservazione e conduzione del cantiere

by: luca zigrino, 2 pages

considerazioni sull'intervento di riuso dell'ex monastero di santa chiara in fino del monte (BG)

Piano Provinciale Gestione Rifiuti Provincia di Isernia

by: redazioneinfiltrato, 100 pages

Cosa dice il documento ufficiale, redatto dalla Provincia di Isernia, sotto la Presidenza di Raffaele Mauro, relativamente alla Gestione Provinciale dei Rifiuti? La realtà, come raccontano le ...

Prove di tenuta

by: ForTest, 34 pages

Documento che descrive metodologie per effettuare test di prova tenuta e prova portata in ambito industriale

StartArt di Anna Rosa Damiano e Marcella Di Patria

by: annarosa, 13 pages

"START ART"..."Cominciamo a fare Arte".Nasce da una riflessione o semplicemente dall'osservare la realtà che ci circonda...e quel che si deduce è che c'è tanta voglia di ridere, voglia ...

Buy Ansal API Orchard County Chandigarh - 09999684905

by: affiso, 11 pages

Ansal API launched its new residential project Orchard County at Mohali. Treasure the best moments of your life in Orchard County. A stone's throw from schools, provisional stores and an ...

Huong dan duong di den khoa hoc 2011

by: Tho Le, 8 pages

Ban huong dan duong di den khoa tu hoc Phat Phap ky 3 nam 2011

Content Preview
Kang Zusi - http://cerita-silat.co.cc/
Buku 06
Api di Bukit Menoreh
http://adbmcadangan.wordpress.com/
Untara dan Agung Sedayu kemudian tidak membuang-buang
waktu lagi. Segera mereka mulai dengan suatu latihan yang
keras. Ternyata Untara benar-benar ingin melihat, sampai
dimana puncak kemampuan adiknya.
Ketika latihan itu telah berjalan beberapa lama, maka tahulah
Untara bahwa apa yang dikatakan oleh Widura itu memang
sebenarnya demikian. Agung Sedayu mempunyai bekal yang
cukup untuk menjadi seorang anak muda yang perkasa.
Ketangkasan, kekuatan tenaga dan kelincahan. Apalagi kini,
setelah
anak
muda
itu
menemukan kepercayaannya
kepada diri sendiri, maka
setiap geraknyapun seolah-
olah menjadi lebih mantap.
Meskipun beberapa kali Untara
melihat kesalahan-kesalahan
yang masih dilakukan oleh
adiknya, namun kesalahan-
kesalahan kecil itu segera
dapat diperbaikinya.
Dalam latihan-latihan itulah,
maka Widura melihat betapa
Untara
sebenarnya
mempunyai ilmu yang hampir
mumpuni. Bahkan kemudian
Widura itu tersenyum sendiri mengenangkan perkelahian
antara Untara dan Sidanti. "Aneh" pikirnya "Jarang aku temui
anak muda sesabar Untara dalam menghadapi lawan
perkelahian apapun alasannya. Tetapi terbawa oleh tugas
yang diembannya, maka agaknya Untara harus berlaku
bijaksana. Kalau ia mau, maka Sidanti adalah bukan
lawannya."
Namun Agung Sedayu ternyata telah mengagumkan pula. Kini
anak itu tampaknya tidak ragu-ragu lagi untuk sekali-sekali

Kang Zusi - http://cerita-silat.co.cc/
membenturkan tenaganya apabila perlu. Meskipun beberapa
kali ia terdorong surut oleh kekuatan Untara, namun segera ia
berhasil menguasai keseimbangan dengan kelincahannya.
Untara melihat ketangkasan adiknya itu dengan penuh
kebanggaan didalam dadanya. Apa yang dilakukan oleh
Agung Sedayu, benar-benar jarang ditemuinya. Melatih diri
dalam lukisan-lukisan. Membuat perhitungan-perhitungan
dengan gambar. Tetapi ternyata dalam pelaksanaannyapun
Agung Sedayu mampu melakukan sebagian besar dari angan-
angannyayang dituangkannya diatas rontal-rontal. Hanya
disana-sini Untara masih perlu memberinya beberapa
petunjuk dan perubahan, sehingga dengan demikian ilmu
Sedayu itupun menjadi semakin sempurna.
Ketika Untara telah cukup mengenal ilmu adiknya, serta
menganggap latihan itu telah cukup, maka segera ia
menghentikannya. Agung Sedayu,yang sebenarnya telah
menjadi kelelahan, sgera meloncat surut dan dengan wajah
yang riang ia berdiri bertolak pinggang. Meskipun demikian,
tampak juga dadanya menggelombang karena nafasnya yang
terengah-engah.
"Kau lelah" bertanya Untara.
Agung Sedayu mengangguk, jawabnya "latihan ini terlalu
keras bagiku."
"Belum sekeras perkelahian sebenarnya" Untara menyahut
"Apalagi kalau kau bertemu dengan Macan Kepatihan dengan
tongkatnya yang mengerikan itu."
Agung Sedayu menarik nafas. Kemudian iapun segera duduk
diatas seonggok tanah disamping pamannya. Sedang Untara
masih saja berdiri untuk kemudian memberikan beberapa
petunjuk tentenag kesakahan-kesalahan yang dibuat oleh
Agung Sedayu.
"Sedayu" berkata kakaknya "kau ternyata mampu bertempur
seorang lawan seorang. Tetapi suatu ketika kau akan turut
serta dalam pertempuran brubuh. Pertempuran antara laskar
Pajang dan laskar Jipang. Dalam pertempuran yang demikian
kau tidak hanya dapat membanggakan kekuatan pertempuran
seorang lawan seorang. Tetapi kau harus dapat menempatkan
dirimu diantara kawan dan lawan."

Kang Zusi - http://cerita-silat.co.cc/
Agung Sedayu kemudian memperhatikan dengan seksama
petunjuk-petunjuk
yang
diberikan
oelah
kakaknya.
Kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi didalam perang
atara dua kekuatan dalam jumlah yang banyak. Hal-hal yang
sebagian
lagi
pamannya
telah
memberitahukannya
kepadanya.
Tetapi Untara itupun berhenti ketika dilihatnya sebuah
bayangan yang bergerak-gerak dibelakang pucuk kecil itu.
Namun mereka tidak menjadi cemas karenanya. Orang itu
telah mereka kenal baik-baik. Kiai Gringsing.
Namun mereka menjadi heran ketika melihat Kiai Gringsing itu
tidak datang sendiri.
Ketika Untara melihat orang yang datang bersama dengan
Kiai Gringsing itu, tampak wajahnya menjadi tegang. Dengan
agak tergesa-gesa ia kemudian bertanya "Apakah ada
sesuatu yang penting dengan pekerjaanmu?"
Sebelum orang itu menjawab, terdengar Kiai Gringsing
tertawa. Katanya "Kenapa kau tidak mempersilahkan aku
dahulu, baru bertanya kepada orang ini?"
Untara tertawa. Jawabnya "Marilah Kiai. Aku mempersilahkan
Kiai."
"Hem" Kiai Gringsing menarik nafas. Kemudian kepada Agung
Sedayu ia berkata " Apakah muridmu bertambah seoang lagi
Sedayu?"
Agung Sedayu tersenyum, tetapi ia tidak menjawab. Bahkan
yang berkata kemudian adalah Kiai Gringsing "Nah, sekarang
bertanyalah kepada orang itu."
Untara mengerutkan keningnya. Kemudian katanya kepada
orang yang datang bersama dengan Kiai Gringsing
"Kemarilah"
Orang itu ragu-ragu sejenak. Ditatapnya wajah Agung Sedayu
dan Widura berganti-ganti.
Untara yang dapat meraba keraguan orang itu berkata
"Mereka adalah pemimpin laskar-laskar Pajang di Sangkal
Putung. Yang satu adalah adikku Agung Sedayu dan yang lain
adalah paman Widura."

Kang Zusi - http://cerita-silat.co.cc/
Orang itu menganggukkan kepalanya sambil berkata "Aku
pernah mendengar tentang paman Widura di Sangkal Putung,
tetapi baru kali ini aku melihat orangnya."
Widura tersenyum, sahutnya "inilah orangnya. Tak ada yang
menarik."
Orang itu tertawa pendek, yang mendengarpin tertawa pula.
kemudian Untaralah yang berkata "Soma, berkatalah. Biarlah
paman Widura mendengar pula."
Soma menarik nafas dalam-dalam, kemudian setelah menelan
ludahnya ia berkata "Ada beberapa berita tentang orang itu."
Sebelum Soma meneruskan, terdengar Widura menyela
"Untara,aku telah memperkenalkan diriku, tetapi siapakah
kisanak ini?"
Untara mengerutkan keningnya. Sesaat ia berdiam diri, namun
kemudian jawabnya "ia salah seorang pembantuku."
Widura mengangguk-anggukkan kepalanya. Segera ia
mengerti, orang itu pasti dari pasukan sandi. Karena itu maka
Widura tidak bertanya lagi.
Kemudian berkatalah Soma itu seterusnya "Ketika aku datang
kepondokan kakang, ternyata kakang telah tidak ada. Menurut
pesan kakang terakhir, aku harus datang kerumah itu. Dan
yang aku jumpai adalah Kiai Gringsing."
"Aku meninggalkan rumah itu dengan tergesa-gesa tanpa aku
rencanakan terlebih dahulu. Tetapi bukankah aku telah
berpesan kepada Kiai Gringsing?"
"Pesan yang aneh" gumam Kiai Gringsing.
Untara tersenyum dan Soma itupun tersenyum.
"Tak ada orang yang dapat berbicara dalam bahasamu
Untara" berkata Kiai Gringsing kemudian "dan pesan itu sudah
aku sampaikan. "Kemudian kepada Agung Sedayu Kiai
Gringsing berkata "He, Sedayu apakah kau dapat mengerti
bahasa Untara itu. Bulan muda,angin selatan, bintang utara.
Laju bersama gubug penceng. "Kiai Gringsing itupun
kemudian tertawa terkekeh-kekeh. "Ayo Sedayu apakah kau
tahu artinya?"
"Aku tahu Kiai" jawab Agung Sedayu.
"Apa?"

Kang Zusi - http://cerita-silat.co.cc/
"Kisanak itu harus datang bersama Kiai menemui kakang
Untara disini." Jawab Agung Sedayu sambil tertawa.
Untara tertawa, Soma itupun tertawa dan yang lain-lain juga
tertawa.
"Akupun dapat memberikan arti menurut kehendakku" berkata
Kiai Gringsing.
"Tetapi bukankah Kisanak itu datang kemari bersama Kiai?"
berkata Sedayu.
Kembali mereka tertawa. Tetapi Untara tidak berkata apa-apa
tentang kata-kata sandi itu.
"Nah,Soma" berkata Untara kemudian "katakan berita itu?"
"Macan Kepatihan menempatkan beberapa orang untuk
mengamat-amati Benda, namun kemudian pergi ke Timur."
Untara mengerutkan keningnya, katanya "Apakah dapat
diketahui,
pada
siapakah
orang-orang
Tohpati
itu
bersembunyi?"
"Sudah, tetapi kami belum mengetahui jumlah itu." Jawab
Soma "sedang dihutan-hutan disebelah barat kadang-kadang
tampak juga beberapa orang Jipang. Diantara mereka adalah
Plasa Ireng."
Kini tidak saja Untara yang mengerutkan keningnya. Tetapi
Widurapun kemudian memperhatikan berita itu dengan
seksama. Bahkan dengan serta-merta ia berkata "Ada tanda-
tanda Tohpati akan menyergap dari barat?"
Untara mengangguk "Ya" jawabnya "Mereka sedang
menyusun kekuatannya di barat. Plasa Ireng dan pasti Alap-
alap Jalatunda telah ditarik pula kedalamnya."
Widura kemudian termenung sejenak. Agaknya Tohpati benar-
benar mengerahkan segala kekuatan dari sisa-sisa laskar
Jipang Plasa Ireng, Alap-alap Jalatunda dan mungkin pula
pimpinan laskar Jipang didaerah utara, yang terkenal dengan
nama Sanakeling.
Sesaat gunuk Gowok itu menjadi sepi. Mereka masing-masing
hanyut dalam arus angan-angannya. Widura merasa
bersyukur bahwa sampai saat ini Sidanti masih dapat
dikuasainya atas kebijaksanaan Untara,sehingga apabila
sergapan Tohpati itu datang beserta beberapa orang terkenal
dari laskar Jipang, tenaganya masih dapat dipergunakan.

Kang Zusi - http://cerita-silat.co.cc/
Widurapun mengharap Agung Sedayu akan memperkuat
laskarnya pula disamping Untara sendiri.
Untara itupun kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya.
Katanya kepada pembantunya "Aku terima beritamu. Hubungi
Trigata. Aku berada di Sangkal Putung. Beritahukan setiap
perkembangan keadaan."
Orang itu mengangguk. Jawabnya "Tetapi pasti tidak malam
ini. Mungkin besok malam atau lusa."
"Apakah ada tanda-tanda Tohpati menyergap malam hari?"
"Mungkin. Mereka menyiapkan obor dan panah-panah api."
"Setan" Untara menggeram "Tetapi bukan tujuan mereka
menghancurkan Sangkal Putung,sebab mereka memerlukan
lumbung-lumbung padi disini. Tetapi bahwa mereka
menyerang pada malam hari adalah mungkin sekali."
"Nah, aku akan pergi dulu kakang. Mungkin keadaan
berkembang terlalu cepat."
"Baik,aku akan berada di Sangkal Putung ."
Orang itupun kemudian mengangguk, minta diri kepada
semua yang hadir ditempat itu, dan menghilang diantara
gelapnya malam.
"Petygas yang baik" gumam Untara.
Widura mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi wajahnya
masih tegang. Sebagai seorang yang bertanggung jawab atas
daerah itu, maka segera Widura membuat perhitungan.-
perhitungan.
Tiba-tiba ia teringat kepada Tambak Wedi. "Sepasar"
katanaya dalam hati. Kini dua hari telah dilampauinya. Tiga
dengan besok. "Gila orang yang tak tahu keadaan itu. Ia
terlalu mementingkan diri sendiri dan muridnya tanpa
memandang segenap persoalan dalam jangkauan yang luas.
Tetapi tiba-tiba ia teringat pula pada orang yang bertopeng
yang duduk dimukanya. Dan dengan serta-merta Widura itu
bertanya "Kiai" katanya "apakah Kaia bertemu dengan
Tambak Wedi di lapangan. Bukankah Kiai telah melemparkan
cemeti Kiai setelah Tambak Wedi melemparkan gelang
besinya."
Orang itu tertawa "ya" jawabnya "ia memberi aku salam yang
hangat, sehangat api neraka. Tetapi setelah kalian bubar

Kang Zusi - http://cerita-silat.co.cc/
orang itu pergi juga tanpa berbuat sesuatu. Aku sangka ia
akan marah kepadaku. Tetapi ia hanya mengancamku."
"Apakah katanya?"
Kiai Gringsing itu diam sesaat. Kemudian dijawabnya "Ki
Tambak Wedi minta aku tidak ikut mencampuri urusannya
dengan kau. Kalau aku tidak memenuhinya, maka aku akan
dibunuhnya."
Widura mengangkat alisnya. Setelah termenung sejenak ia
bertanya pula "Bagaimanakah jawaban Kiai?"
"Hem" Kiai Gringsing menarik nafas. Kemudian katanya "Aku
kira tak seorang pun yang berhak berbuat seperti Ki Tambak
Wedi itu. Kalau ia ingin berbuat sekehendaknya, maka akupun
akan berbuat sekehendakku. Bukankah nanti apabila Ki
Tambak Wedi marah aku mencari perlindungan kepada Agung
Sedayu?"
"Ah" Agung Sedayu mendesah, tetapi Widura dan Untara
tertawa.
Dan Kiai Gringsing itupun berkata seterusnya "Tetapi lupakan
sajalah Ki Tambak Wedi itu. Aku harap ia tidak bersungguh-
sungguh. Yang perlu kau pikirkan, bagaimana kau dapat
menghindarkan Sangkal Putung dari bencana yang akan
dapat ditimbulkan oleh Tohpati."
Widura mengangguk-anggukkan kepalanya. Untarapun
kemudian berdiam diri, sedang Agung Sedayu memandang
jauh kelangit, seakan-akan sedang menghitung bintang yang
berhamburan diatas dataran yang biru pekat.
Sesaat mereka saling berdiam diri. Widura sedang mencoba
menghitung-hitung kekuatan dipihaknya dan membandingkan
dengan kekuatan Tohpati. Dalam jumlah, maka Widura dapat
berbesar hati. Dengan anak-anak muda Sangkal Putung,
laskarnya pasti berjumlah lebih banyak dari jumlah laskar
Tohpati. Namun dalam penilaian seorang-seorang, maka
Widura masih harus berkeprihatin. Meskipun setiap orang di
dalam laskarnya tidak akan kalah dari setiap orang dalam
laskar Jipang, tetapi anak-anak muda Sangkal Putung,
Widurapun tidak yakin kalau jumlah laskarnya akan memadai.
Karena laskar Jipang dapat berada dimana saja yang mereka

Kang Zusi - http://cerita-silat.co.cc/
kehendaki, sehingga suatu ketika, jumlah laskar Jipang itu
dapat menjadi banyak sekali.
Karena itu maka Widura mengambil kesimpulan, bahwa anak-
anak muda Sangkal Putung itupun selagi sempat harus
mendapat penempaan sejauh-jauh mungkin. Bahkan orang-
orang yang sudah agak lanjut usianya, asal mereka sanggup
dan bersedia, pasti akan menjadi tenaga bantuan yang berarti.
Sesaat kemudian, maka Kiai Gringsing itupun pergi
meninggalkan mereka. Katanya "Aku akan pulang kerumahku
diantara rumpun-rumpun bambu. Hati-hatilah, setiap saat
Tohpati itu akan datang. Mungkin benar ia akan menyergap
dari arah barat. Karena itu, awasilah arah itu baik-baik. Namun
jangan lengahkan penjagaan-penjagaan ditempat-tempat lain."
"Baik Kiai" jawab Widura.
Namun Kiai Gringsing itu berpalingpun tidak. Orang itu
berjalan mendaki puntuk kecil, lewat dibawah pohon kelapa
sawit dan seterusnya hilang dibalik puntuk kecil itu.
Belum lagi Untara sempat berpaling, terdengar Agung Sedayu
bertanya"Siapakah sebenarnya orang itu?"
Untara tersenyum, jawabnya "Kiai Gringsing."
Agung Sedayu hanya dapat menggigit bibirnya. Ketika
kemudian Untara dan Widura tertawa, maka anak muda itu
berdiri sambil menggeliat. Katanya `Apakah kita akan tidur
disini?"
Widura bahkan tertawa semakin keras. Katanya `Apakah kau
berani tidur disini? Bukankah setiap malam, apabila kita
berada ditempat ini kau selalu saja mengajak pulang? apalagi
ketika kau dengar Tohpati sedang berkeliaran didaerah ini?"
"Ketika itu tidak ada kakang Untara" jawab Sedayu.
"Bagaimanakah kalau aku lari apabila ada bahaya?"bertanya
Untara.
"Apa kakang sangka aku tidak bisa lari secepat kakang?"
bantah Agung Sedayu.
Kembali mereka tertawa. Namun terasa oleh Widura, betapa
kemenakannya itu mengalami banyak perubahan. Kini ia
sama sekali tidak tampak menjadi cemas seandainya bahaya
betul-betul mengancamnya. Apalagi setelah ia mendapat
beberapa petunjuk oleh kakaknya. Baik lukisan-lukisannya

Kang Zusi - http://cerita-silat.co.cc/
maupun pelaksanaannya, maka ternyata Agung Sedayu
benar-benar dapat menjadi seorang anak muda yang perkasa.
Apalagi hatinya benar-benar menjadi besar dan tangguh.
Maka kekuatan Agung Sedayu pantas diperhitungkan.
Sesaat kemudian Widura dan Untarapun berdiri pula.
keperluan mereka agaknya sudah cukup buat kali ini.
Sehingga dengan demikian segera merekapun kembali ke
kademangan.
Hari itu setiap penjagaan menjadi lebih diperkuat. Gardu-
gardu peronda dan peronda-peronda keliling. Tohpati yang
berada disekitar tempat mereka, setiap saat dapat menyergap.
Namun yang harus mendapat pengawasan paling ketat adalah
justru daerah barat.
Sedang kerja Widura hari itu adalah menangani sendiri
latihan-latihan bagi anak-anak muda Sangkal Putung
disamping beberapa orang anak buahnya. Langsung
diberikannya beberapa petunjuk penting apa dan bagaimana
mereka harus berbuat di dalam pertempuran-pertempuran.
Swandaru, yang memimpin anak-anak muda itupun berlatih
dengan sekuat-kuat tenaganya, supaya namanya tidak terlalu
jauh
dibawah
nama-nama
yang
dikaguminya.
Sidanti,Sedayu,Widura dan Untara.
Hanya Sidantilah yang selalu bersikap acuh tak acuh atas
semua kesibukan itu. Meskipun demikian, sampai saat itu,
Sidanti masih berada dalam barisan Widura.
Hari itupun ternyata Tohpati belum menyergap Sangkal
Putung. Sehingga pada malam harinyau dan Agung Sedayu
masih dapat memanfaatkannya dengan beberapa latihan
penting. Juga anak-anak muda Sangkal Putung, oleh Widura
diajarinya bertempur dimalam hari. Bagaimana mereka harus
mengenal kawan dan lawan di dalam gelap dan bagaimana
mereka harus memberikan ciri masing-masing dan tanda-
tanda sandi. Selain itu Widurapun telah membuat beberapa
persiapan untuk bertempur malam hari. Obor-obor dan panah-
panah api untuk mengimbangi laskar Tohpati yang dengan api
akan mencoba mengacaukan pertahanan pasukan yang
berada di Sangkal Putung.

Kang Zusi - http://cerita-silat.co.cc/
Namun dipagi hari berikutnya,ketika Untara dan Agung
Sedayu sedang sibuk mengurai lukisannya datanglah seorang
penjual keris yang ingin menemui Untara. Kepada para
penjaga dikatakannya bahwa ia mendapat pesanan dari
Untara itu.
Ketika seseorang menyampaikannya kepada Untara, maka
Untara itupun mengerutkan keningnya, kemudian katanya "Ya,
aku memang memesan sebuah keris. Bawalah orang itu
masuk."
Sesaat kemudian orang yang menyebut dirinya pedagang
keris itu diantar masuk ke pringgitan.
"Duduklah" Untara mempersilahkan.
Orang itupun kemudian duduk diatas sehelai tikar pandan.
Dipunggungnya terselip sebilah keris, dan dianggarnya pula
keris yang lain, pada sangkutannya didalam jumbai dibagian
depan ikat pinggangnya.
"Paman" berkata Untara kemudian kepada Widura "apakah
paman tidak ingin melihat beberapa bilah keris?"
Widura tersenyum. Tetapi ia tidak menjawab. Namun demikian
ia duduk pula dihadapan orang yang menyebut dirinya
pedagang keris itu. Agung Sedayupun kemudian hadir juga
diantara mereka.
Sesaat kemudian barulah Untara berkata kepada orang itu
"Apakah kau membawa keris itu?"
Orang itu menggangguk. Kemudian dijawabnya "Ya, Soma
telah menyampaikan pesan itu."
Untara
mengangguk-angguk.
Bahkan
Widurapun
mengangguk-angguk pula. Sedang Agung Sedayu sekali-
sekali mencoba memandang wajah orang itu.
"Nah, marilah aku perkenalkan dengan pemimpin laskar
Pajang di Sangkal Putung" berkata Untara sambil menunjuk
Widura "Paman Widura."
Orang itu mengangguk dalam sambil berkata "Aku adalah
utusan kakang Untara."
Kembali Widura mengangguk-anggukkan kepalanya. Segera
ia tahu bahwa orang itu sama sekali bukan pedagang keris.
Tetapi orang itu adalah salah seorang pembantu sandi dari
Untara dalam kedudukannya sebagai seorang senopati yang

Download
Api di Bukit Menoreh

 

 

Your download will begin in a moment.
If it doesn't, click here to try again.

Share Api di Bukit Menoreh to:

Insert your wordpress URL:

example:

http://myblog.wordpress.com/
or
http://myblog.com/

Share Api di Bukit Menoreh as:

From:

To:

Share Api di Bukit Menoreh.

Enter two words as shown below. If you cannot read the words, click the refresh icon.

loading

Share Api di Bukit Menoreh as:

Copy html code above and paste to your web page.

loading