This is not the document you are looking for? Use the search form below to find more!

Report home > Environment

Aplikasi GIS dalam Prediksi Spasial Kebakaran Hutan

0.00 (0 votes)
Document Description
A new way to mitigate the forest fire catastrophe, spatial prediction using GIS described inside. Just available in Indonesian.
File Details
  • Added: January, 25th 2012
  • Reads: 717
  • Downloads: 12
  • File size: 1.43mb
  • Pages: 22
  • Tags: prediction, gis, forest fire prone area
  • content preview
Submitter
Embed Code:

Add New Comment




Related Documents

Repong damar: kajian tentang pengambilan keputusan dalam ...

by: rajna, 22 pages

Proses pengelolaan hutan di pesisir Krui, Lampung Barat, biasanya terdiri dari tiga tahapan, yaitu dimulai dari ladang, kebun dan berakhir dengan repong damar . Kajian ini menunjukkan peranan ...

Pengelolaan Hutan Jati Rakyat Panduan Lapangan untuk Petani

by: ursula, 100 pages

Buku Panduan Pengelolaan Hutan Jati Rakyat ini merupakan salah satu bentuk output penelitian yang berkaitan dengan aspek teknis pengelolaan hutan rakyat, dalam hal ini aspek silvikultur.

Aplikasi Persediaan Stok Excel

by: xclmedia, 14 pages

Laporan persediaan merupakan informasi penting dalam pengelolaan persediaan, meliputi informasi barang masuk, barang keluar dan saldo akhir. Melalui informasi tersebut bisa dianalisa perputaran ...

suarasepakbola.com tempatnya prediksi bola terakurat

by: kang10, 2 pages

suarasepakbola.com tempatnya prediksi bola terakurat mempunyai fasilitas yang sangat memadai sebgai blogger pemula saya belajars eo sehingga akan bisa menjadi juara dalam suarasepakbola.com tempatnya ...

DIVA-GIS Version 5.2 Manual

by: manualzon, 79 pages

Free geography ebook, gis ebook manual, data topographic, spatial and how to operate DIVA GIS version 5.2 in pdf file

CARA ALAMI, JITU DAN AMPUH DALAM MENURUNKAN BERAT BADAN, CARA JITU MENGURUSKAN BADAN, PELANGSING ALAMI. CALL REKO HANDOYO, 081389411679, 081932985325 BINTARO JAKARTA SELATAN. http://makanankesehatananda.blogspot.com

by: abrahamhandoyo, 1 pages

CARA ALAMI, JITU DAN AMPUH DALAM MENURUNKAN BERAT BADAN, CARA JITU MENGURUSKAN BADAN, PELANGSING ALAMI. CALL REKO HANDOYO, 081389411679, 081932985325 BINTARO JAKARTA SELATAN. ...

GIS

by: Ravi, 6 pages

This presentation will focus on the current Internet technology and its application in the GIS metadata system. The presenter will demonstrate the new St. Johns River Water Management GIS metadata ...

CARA AGAR KURUS, CARA KURUS DALAM SEMINGGU, MAU KURUS, TIPS BIAR KURUS dengan HERBALIFE. Pemesanan dan Informasi Produk Hubungi; REKO HANDOYO, 081389411679, 081932985325 http://makanankesehatananda.blogspot.com

by: abrahamhandoyo, 2 pages

CARA AGAR KURUS, CARA KURUS DALAM SEMINGGU, MAU KURUS, TIPS BIAR KURUS dengan HERBALIFE. Pemesanan dan Informasi Produk Hubungi; REKO HANDOYO, 081389411679, 081932985325 http://makanankesehatananda ...

Gis

by: Andrew, 0 pages

Gis design

XCL01 Aplikasi Akuntansi Excel (www.xclmedia.com)

by: xclmedia, 15 pages

http://xclmedia.com - Excel software program bisnis non bisnis + ebook : aplikasi akuntansi excel, general ledger excel, piutang excel, penyusutan, persediaan stok, keuangan sekolah.

Content Preview

APLIKASI SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (SIG) DALAM PREDIKSI
SPASIAL WILAYAH RAWAN KEBAKARAN HUTAN
APPLICATION OF GEOGRAPHIC INFORMATION SYSTEMS (GIS) IN SPATIAL PREDICTION OF
FOREST FIRE PRONE AREAS
ZAIDIL FIRZA
09/285558/KT/06585
FAKULTAS KEHUTANAN UNIVERSITAS GADJAH MADA
2011
Corresponding author: zaidil-firza@hotmail.com , zaidil.firza@mail.ugm.ac.id , +6287738099073
ABSTRACT. Planning activities in fire prevention and suppression require accurate and actual informations,
and also easily understood by decision makers. Often, information about fire-prone areas are not presented
clearly, and also not based on processing methods that are inconsistent methodology, so it tends to be
subjective and depends on the data processor. Thus, literature research is structured to illustrate how the
application of geographic information systems (GIS) in predicting the spatial areas prone to forest fires. The
next major goal of this application is forest fire management strategies that are sustainable. This
application uses overlay method in GIS, so as to create a map of areas prone to fire, a very important role
in supporting fire managers in making decisions. Presentation of spatial information would be helpful to
give a clear and accurate description of the location, spacing, and accessibility of fire-prone locations with
existing resources in the field. This map will be updated each period, so it becomes the basic foundation in
the design of sustainable forest fire countermeasures strategies.
Keywords: Forest fire prone area, GIS, prediction
I.
LATAR BELAKANG
Kesadaran akan perlunya upaya penanggulangan kebakaran hutan oleh pihak
pemerintah sudah lebih baik dibandingkan beberapa tahun sebelumnya. Hal ini terlihat
dari cukup meningkatnya upaya pengalokasian sumber daya pemadaman di wilayah
rawan kebakaran. Anggaran untuk kegiatan pencegahan dan pemadaman juga cukup
banyak dianggarkan oleh pemerintah daerah.
Hanya saja, kegiatan perencanaan dalam pencegahan dan pemadaman
kebakaran membutuhkan informasi yang akurat, aktual, serta mudah dipahami oleh
pengambil keputusan. Seringkali informasi mengenai daerah rawan kebakaran tidak
disajikan secara jelas, serta tidak didasari atas metode pengolahan yang secara
metodologi tidak konsisten, sehingga cenderung bersifat subjektif dan tergantung dari
pihak pengolah data.

Informasi mengenai daerah rawan kebakaran merupakan informasi yang
sangat penting dan dibutuhkan oleh fire manager atau pengambil keputusan di dalam
kegiatan kebakaran hutan. Saat musim kemarau panjang, kebakaran besar bisa terjadi
pada areal yang luas dan sulit dijangkau. Keterbatasan sumber daya pemadaman
1


menjadi salah satu kendala yang paling sering dihadapi di lapangan. Karena itu kegiatan
pengendalian perlu difokuskan ke wilayah-wilayah yang rawan kebakaran.

Peta daerah rawan kebakaran, sangat berperan penting dalam mendukung
fire manager pada pengambilan keputusan tersebut. Penyajian informasi secara spasial
akan lebih membantu memberikan gambaran yang jelas dan akurat mengenai lokasi,
jarak, serta aksesibilitas antara lokasi rawan kebakaran dengan sumber daya
pemadaman yang ada di lapangan.

Permasalahan selanjutnya akan muncul saat peta tersebut tidak akurat lagi,
akibat adanya perubahan dari faktor-faktor yang digunakan dalam peta rawan
kebakaran tersebut. Sebagai contoh, penutupan vegetasi akan cenderung cepat
berubah sehingga akan memiliki karakteristik yang berbeda terhadap prilaku kebakaran
hutan. Untuk itu juga diperlukan upaya pemutakhiran (updating) peta sesuai dengan
perubahan yang terjadi, sehingga keakuratannya terjaga dalam strategi penanggulangan
kebakaran hutan yang berkelanjutan.
Metode GIS (Geographic Information System) yang dapat melakukan
visualisasi secara efektif mengenai kondisi geografis yang akurat, kejadian bencana
kebakaran, ataupun perkiraan ancaman kebakaran yang akan terjadi. Informasi spasial
tersebut akan sangat membantu fire manager di dalam melakukan identifikasi,
perencanaan, pencegahan, persiapa n, respon, serta restorasi (Greene, 2002).
II.
PERMASALAHAN
1. Bagaimana strategi penanggulangan kebakaran hutan yang bersifat berkelanjutan?
2. Bagaimana memprediksi secara spasial wilayah-wilayah hutan yang rawan
kebakaran?
3. Bagaimana penerapan sistem informasi geografis (SIG) dalam memprediksi secara
spasial wilayah-wilayah hutan yang rawan kebakaran?

III.
TUJUAN
Paper ini disusun untuk menggambarkan bagaimana penerapan sistem informasi
geografis (SIG) dalam memprediksi secara spasial wilayah-wilayah hutan yang rawan
kebakaran. Tujuan besar selanjutnya dari penerapan ini adalah strategi penanggulangan
kebakaran hutan yang bersifat berkelanjutan.

IV.
MANFAAT
1. Menjadi rekomendasi dan mendukung terwujudnya strategi penanggulangan
kebakaran hutan yang bersifat berkelanjutan dengan dukungan penyajian secara
spasial (peta wilayah-wilayah hutan yang rawan kebakaran), yang selalu termutakhir
tiap periodenya.
2. Mengetahui bagaimana SIG berperan positif dalam upaya meprediksi wilayah-
wilayah hutan yang rawan kebakaran.





2


V.
TINJAUAN PUSTAKA
1. ANALISA PENYEBAB KEBAKARAN HUTAN
A. PEMICU KEBAKARAN

Pemicu kebakaran merupakan faktor yang secara langsung
mempengaruhi terjadinya penyulutan api. Aktifitas manusia merupakan
porsi terbesar dalam penyulutan api, dibandingkan secara alami.

Penyulutan api oleh manusia juga dikelompokkan menjadi 2
komponen, yaitu kesengajaan dan kecerobohan. Walau seringkali
kebakaran besar diawali dari upaya yang disengaja dan akibat
ketidakpahamanan pembakar mengenai kondisi yang ada, sehingga
menjadi kecerobohan yang menyebabkan kebakaran merambat ke
tempat lain.

Motivasi dari pembakaran/kebakaran yang disengaja dan biasa
dijumpai meliputi beberapa hal, antara lain: penyiapan lahan, pembukaan
akses, dan perburuan satwa.

B. KONDISI PENDUKUNG
Faktor penyebab kebakaran lainnya adalah kondisi pendukung yang
juga dipengaruhi oleh alam (iklim) dan juga manusia. Kemarau dan
kekeringan yang disebabkan oleh adanya fluktuasi iklim sebenarnya sudah
lama terjadi, namun kebakaran besar di daerah tropis tidak banyak tercatat
oleh para peneliti sebelum tahun 1970an. Kejadian kebakaran hutan tropis
mulai sering muncul setelah tahun 1982/1983. Hal ini disebabkan adanya
perubahan vegetasi dan tapak yang sangat drastis serta pengaruh sosial
ekonomi masyarakat.
Di banyak tempat di Indonesia, dimana lahan pertanian menjadi
lebih terbatas, masyarakat baik lokal maupun pendatang juga mulai
merambah areal lahan hutan, terutama gambut, baik untuk mencari kayu,
berburu, pertanian, bahkan perkebunan. Pertanian dan perkebunan di lahan
hutan alam bukanlah tradisi dan budaya masyarakat tradisional di seluruh
Indonesia. Karena itu upaya pencegahan dan penyadaran akan bahaya
kebakaran hutan perlu difokuskan di wilayah-wilayah yang rawan.
Selain itu budaya pemahaman dampak akibat asap juga masih
sangat rendah. Masyarakat seringkali tidak peduli dengan dampak
pembakaran yang mereka lakukan terhadap masyarakat sekitar dan
lingkungan. Contoh kecil yang sering kita lihat adalah, masih banyaknya
masyarakat di kota yang masih membakar sampahnya, apalagi masyarakat
di daerah pedesaan yang tidak memiliki akses dan teknologi untuk
membersihkan lahan secara mekanis. Akibatnya, undang-undang dan
peraturan yang melarang masyarakat melakukan pembakaran, mendapat
resistensi di dalam penerapannya.

3


2. PEMODELAN PETA RAWAN KEBAKARAN HUTAN

Metode GIS (Geographic Information System) yang dapat melakukan
visualisasi secara efektif mengenai kondisi geografis yang akurat, kejadian
bencana kebakaran, ataupun perkiraan ancaman kebakaran yang akan
terjadi. Informasi spasial tersebut akan sangat membantu fire manager di
dalam melakukan identifikasi, perencanaan, pencegahan, persiapan, respon,
serta restorasi (Greene, 2002).

Mengingat keterbatasan yang ada, pendekatan dilakukan dengan
menerapkan beberapa asumsi untuk melengkapi keterwakilan data. Model
peta rawan kebakaran ini tidak secara khusus memperhatikan potensi
penyulutan, melainkan lebih secara luas memprediksi kemungkinan
kebakaran yang akan terjadi serta kemungkinan intensitas serta dampak yang
ditimbulkan. Potensi penyulutan juga dikembangkan sebagai salah satu
komponen di dalam Sistem Analisa Ancaman Kebakaran (Ruecker, 2007) yang
dikembangkan oleh SSFFMP.

VI.
METODE
Peta rawan kebakaran merupakan model spasial yang digunakan untuk
merepresentasikan kondisi di lapangan terkait dengan resiko terjadinya kebakaran hutan
dan lahan. Model ini dibuat menggunakan aplikasi GIS untuk memudahkan proses
overlay antar faktor-faktor penyebab dan perilaku kebakaran merupakan hal yang
sangat utama di dalam melakukan permodelan ini.
Skor R awan Kebakaran = (0,4 x Skor Penutupan Lahan) + (0,3 x Skor Lahan Gambut) +

(0,3 x Skor Zona Iklim atau Elevasi)
Pe mbobotan:
1. Peta Penutupan Lahan (40%)
2. Peta Ketinggian (30%)
3. Peta Tanah - Persebaran Gambut (30%)
Penilaian (scoring) dilakukan dengan menggunakan hasil analisa dari penyebaran
hotspot selama musim kemarau panjang, yang lebih menarik dan relevan bagi fire
manager
untuk bahan pertimbangan musim kebakaran selanjutnya. Hasil analisa
frekuensi hotspot dari berbagai faktor tersebut selanjutnya diklasifikasi ke dalam
beberapa kelas nilai (misalnya 1-5). Sedangkan pembobotan (weighting) dilakukan
dengan menggunakan penilaian berdasarkan pengetahuan serta kondisi yang terjadi di
lapangan (expert judgement). Faktor dengan pengaruh lebih besar mendapatkan
pembobotan yang lebih besar dibandingkan faktor lainnya. Dalam hal ini pengaruh
penutupan lahan dianggap lebih besar dibanding faktor lainnya, mengingat selain terkait
4


dengan data vegetasi, penutupan lahan juga terkait dengan penggunaan lahan, seperti
pertanian, perkebunan, HTI, dll.
1. DATA YANG DIPERLUKAN


Data - data tematik yang diperlukan hanya terdiri dari 3 jenis
data yang relatif mudah untuk didapatkan. Yaitu peta penutupan lahan,
penyebaran jenis lahan gambut serta ketinggian.


Penutupan Lahan yang diperoleh dari hasil interpretasi citra
satelit yang dilakukan oleh BPKH II, digunakan sebagai salah satu faktor
yang terkait dengan penggunaan lahan aktual. Wilayah yang terdegradasi dan
tidak memiliki pola pemanfaatan intensif cenderung rawan terhadap kebakaran.


Penyebaran Lahan Gambut merupakan faktor penting yang
berpengaruh terhadap intensitas dan dampak kebakaran yang terjadi.
Informasi penyebaran jenis lahan diperoleh dari peta unit lahan yang
dikeluarkan oleh Puslitanak.

Elevasi atau ketinggian diperoleh dari data Digital Elevation Model
(DEM) SRTM. Informasi ketinggian digunakan untuk membedakan dataran
rendah (0-25) daerah lahan kering (25 -1000 m) dan dataran tinggi atau
pegunungan (1000 - 3000 m). Pembagian tiga zona ketinggian ini terkait dengan
pembagian zona iklim, mengingat curah hujan di Indonesia, seperti contoh di
Sumatera dipengaruhi oleh topografi yang berkisar antara 6000 mm per
tahun di wilayah barat atau sekitar bukit Barisan hingga 1500 mm di bagian
timur (Whitten et al, 2000).




















Sebagai contoh, seperti terlihat pada peta di atas yang
merupakan peta pembagian zona iklim di Sumatera, untuk Provinsi
Sumatera Selatan terdapat 3 zona iklim (Whitten et al, 2000).
5




Batas Administrasi digunakan hanya sebagai batas areal yang
akan dianalisa, sehingga peta yang dihasilkan memiliki areal sesuai dengan
yang kita inginkan.

2. HARDWARE DAN SOFTWARE


ArcView (versi 3.x ke atas) dan ArcToolbox Spatial Analyst
diperlukan untuk penyusunan peta rawan kebakaran ini. Untuk menjalankan
program ArcView dan Spatial Analyst dalam platform PC-Intel, paling tidak
diperlukan komputer yang memiliki minimal sistem operasi Windows 2000
atau yang terbaru. Sehingga persyaratan minimal PC yang diperlukan antara
lain: Memory/RAM sebesar 64 MB serta free disk space sekitar 300 MB (ruang
instalasi).

VII.
PEMBAHASAN

a. PROSEDUR PEMETAAN

Memulai Modelbuilder
Tampilkan (add data) semua peta tematik (penutupan lahan, elevasi, jenis lahan,
dan administrasi) untuk memulai overlay peta.

Lalu, mulai membuat model (modelbuilder) dengan plug-in Toolbox Spatial Analyst
yang telah aktif.





Selanjutnya, jendela ModelBuilder akan muncul.

6


Konversi Data Penutupan Lahan (Shapefile ke GRID)
Untuk pengolahan data menggunakan Spatial Analyst, diperlukan data dengan
format GRID ESRI. Dalam artian, kita mengkonversikan vector ke dalam bentuk grid.



Pilih shapefile apa yang akan di konversi

7
















8


Kemudian, tentukan layar yang akan digunakan sebagai batas analisis.

Contoh pada wilayah Sumatera Selatan.


Beri nama untuk peta dan file penutupan lahan (GRID) yang akan dibuat. Hal
yang perlu diperhatikan untuk penamaan file atau folder terkait dengan data format
GRID, adalah harus sesuai dengan kaidah penamaan DOS, dimana hanya terbatas
sebanyak 8 karakter dan tanpa spasi.

Setelah proses diatas selesai dilakukan, maka pada halaman ModelBuilder
akan muncul Flowchart / bagan alur tentang proses konversi yang kita lakukan
yaitu konversi data landcover dalam format shapefile berdasarkan kolom
"Nama_Kelas" menjadi "Peta landcover" dalam format GRID.

9


KLASIFIKASI ULANG (RECLASS) DATA ELEVASI

Pengklasifikasian ulang data ketinggian dilakukan untuk mendapatkan layer
sebaran kelas ketinggian yang terkait dengan perbedaan zonasi iklim. Misalnya
untuk wilayah Sumatera Selatan, zonasi iklim dikategorikan ke dalam 3 zona,
yaitu zona dataran rendah (0 - 25 m), lahan kering (25 - 500 m) dan pegunungan
(500 - 3000 m).


10


Download
Aplikasi GIS dalam Prediksi Spasial Kebakaran Hutan

 

 

Your download will begin in a moment.
If it doesn't, click here to try again.

Share Aplikasi GIS dalam Prediksi Spasial Kebakaran Hutan to:

Insert your wordpress URL:

example:

http://myblog.wordpress.com/
or
http://myblog.com/

Share Aplikasi GIS dalam Prediksi Spasial Kebakaran Hutan as:

From:

To:

Share Aplikasi GIS dalam Prediksi Spasial Kebakaran Hutan.

Enter two words as shown below. If you cannot read the words, click the refresh icon.

loading

Share Aplikasi GIS dalam Prediksi Spasial Kebakaran Hutan as:

Copy html code above and paste to your web page.

loading