This is not the document you are looking for? Use the search form below to find more!

Report home > Automotive

automoive freak

1.00 (1 votes)
Document Description
automoive freak
File Details
  • Added: September, 26th 2010
  • Reads: 1725
  • Downloads: 31
  • File size: 99.43kb
  • Pages: 16
  • Tags: automoive, car, freak
  • content preview
Submitter
Embed Code:

Add New Comment




Related Documents

wer bin ich

by: ML, 24 pages

lol

PokelClub episode 1 (fan pokémon series)

by: lukasdanin, 10 pages

A pokémon fan serie you can visit the web site if you wanna a traslate versio (the original is portuguese brazilian) my website is :

Get To Be Familiar With The Primary Characters Of Fairy Tail.

by: wilts1933206, 1 pages

and as her mother died, the girl eventually left home and tried following her own path.

10 Traditional Kids Bash Video Games Which Has A Twist

by: theings843, 3 pages

Place regarding 10 or 15 small items or perhaps playthings like a pen , watch , brush , table spoon ,

Hallow's Eve And Dress-Up Costume Concepts For Women -- 2 Hundred 9

by: johasked281, 2 pages

One from the great aspects of hallow's eve , whether its kids , young adults , young adults , more

Five Classic Children Bash Game Titles Which Has A Twist

by: johasked281, 3 pages

Place with regards to ten to fifteen small goods or gadgets for instance a pen , watch , brush , spoon ,

Dekotora - Operates Associated With Truck Art

by: johasked281, 2 pages

mirrors along with opera are put into metallic awnings , baffles , water lines , packing containers along

The Superior 15 Mermaid Films Event R

by: truits823, 3 pages

excellent history and awesome mermaid video clip and lots of a silly joke , or a excellent romance.

Content Preview
UPT Perpustakaan UNS
Jl. Ir Sutami 36A Kentingan Surakarta
http://pustaka.uns.ac.id
MEREPOSISI PERAN PEMASARAN PERTANIAN DALAM REVITALISASI
PERTANIAN
Create on Senin, 14 Desember 2009 by ajick
<p style="text-align: justify;">Oleh:
Prof. Dr. Ir. Endang Siti Rahayu, M.S.
Disampaikan pada Sidang Senat Terbuka UNS
Tanggal 10 Desember 2009
Assalamu&rsquo;alaikum Warahmatullahi Wabarokatuh
Selamat Pagi dan Salam Sejahtera untuk kita semua.
Pertama-tama marilah kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT yang telah memberikan limpahan, karunia, rahmat,
taufik, hidayah, inayah serta barokah-Nya kepada kita semua, sehingga kita dapat hadir di sini dalam keadaan sehat tidak
kurang suatu apa. Atas rahmat Allah SWT pula saya dapat berdiri di mimbar yang terhormat ini untuk menyampaikan pidato
pengukuhan Guru Besar dalam bidang Ilmu Pemasaran Pertanian pada Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret, di
hadapan para hadirin yang mulia.
&nbsp;
Hadirin yang saya hormati,
Pada hari yang berbahagia ini, perkenankanlah saya menyampai&not;kan pidato pengukuhan guru besar dengan judul :
&rdquo;MEREPOSISI PERAN PEMASARAN PERTANIAN
DALAM REVITALISASI PERTANIAN&rdquo;
Pemasaran Pertanian merupakan salah satu syarat pokok dalam Pembangunan&nbsp; Pertanian (Mosher, 1973). Sejalan
dengan perubahan lingkungan strategis baik secara internal maupun eksternal, maka pertanian berubah sesuai dengan
tuntutan perkembangan yang ada. Strategi pembangunan pertanian dalam konteks kekinian menjadikan pemasaran
pertanian sebagai salah satu penentu untuk menuju kesejahteraan sesuai dengan yang digariskan dalam Revitalisasi
Pertanian. Pemasaran Pertanian mempunyai arti penting karena memberikan sumbangan pada perluasan dan pemuasan
kebutuhan dan keinginan masyarakat terhadap produk hasil pertanian. Pemasaran pertanian merupakan sarana untuk
mengenal kebutuhan manusia yang tak terpenuhi dan mengubahnya menjadi peluang usaha dan menciptakan pemenuhan
bagi orang lain dan menjadikannya sebagai alat untuk memperoleh keuntungan. Diperolehnya keuntungan merupakan
sarana untuk meningkatkan kesejahteraan. Kemampuan petani untuk tetap hidup dan mendapatkan kesejahteraan
tergantung pada kemampuannya untuk senantiasa menciptakan nilai bagi pasar yang menjadi sasarannya dalam
lingkungan kebutuhan dan keinginan masyarakat yang selalu berubah-ubah. Dalam konsep Revitalisasi Pertanian hal ini
memberikan arti kesadaran untuk menempatkan kembali arti penting pertanian secara proporsional dan kontekstual
(Krisnamukti, 2006). Proporsional memiliki arti penting dalam posisinya bersama dengan bidang dan sektor lain dalam
perannya untuk meningkatkan kesejahteraan dalam berbagai dimensi kehidupan. Kontekstual memiliki arti sesuai dengan
perkembangan masyarakat. Revitalisasi Pertanian dapat diartikan sebagai usaha, proses dan kebijakan untuk mendorong
peningkatan kesejahteraan dan mengurangi kemiskinan.
Revitalisasi Pertanian diawali pada Musyawarah Perencanaan Pembangunan Pertanian tanggal 11-12 Mei 2005.
Revitalisasi Pertanian dirumuskan melalui tiga program, yaitu : (1) Program peningkatan ketahanan pangan, (2) Program
pengembangan agribisnis, (3) Program peningkatan kesejahteraan petani.&nbsp; Program tersebut kemudian diperluas dan

dicanangkan Presiden RI di Jatiluhur berupa Program Revitalisasai Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (PRPPK) yang
intinya sebagai amanat untuk mempercepat laju perkembangan sektor Pertanian secara luas sebagai penunjang
perekonomian nasional. Ada tiga strategi umum RPKK, yaitu :
1.&nbsp;&nbsp;&nbsp; Pengurangan kemiskinan dan kegureman, pengurangan pengangguran serta pencapaian skala
perekonomian usaha Pertanian, Perikanan, Peternakan dan Kehutanan
2.&nbsp;&nbsp;&nbsp; Peningkatan daya saing, produktivitas, nilai tambah dan kemandirian produksi dan distribusi
Pertanian, Perikanan, Peternakan dan Kehutanan
3.&nbsp;&nbsp;&nbsp; Pelestarian lingkungan hidup dan sumberdaya
Berpijak pada strategi tersebut, maka kegiatan pemasaran pertanian&nbsp; merupakan strategi kedua.
Hadirin yang saya hormati,
Pemasaran telah ada sejak manusia mengenal pembagian kerja dalam masyarakat, sehingga sekelompok masyarakat
hanya membuat barang tertentu kemudian saling mengadakan tukar menukar barang yang dihasilkan dan kegiatan
pemasaran pada saat itu masih bersifat sederhana (barter). Perkembangan pemasaran berjalan dari tahap tukar menukar
yg sederhana melintasi tahap perekonomian uang sampai ke sistem pemasaran modern. Perkembangan pemasaran
berkembang dan mengalami kemajuan sejalan dengan kemajuan dalam masyarakat. Timbulnya persaingan yang semakin
tajam maka perkembangan pemasaran berkembang dari &rdquo;seller&rsquo;s market &rdquo; menjadi
&rdquo;buyer&rsquo;s market&rdquo; yaitu kekuatan pasar yang dikuasai oleh pembeli. Kondisi demikian menyebabkan
pemasaran semakin komplek dan arah pemasaran berubah dari &rdquo;production oriented&rdquo; menjadi &rdquo;market
orieted&rdquo;. Oleh karena itu peran pemasaran semakin komplek, semakin diperhatikan dan semakin menjadi penting.
PEMASARAN PERTANIAN SEBAGAI ILMU
Hadirin yang saya hormati,
Pemasaran Pertanian merupakan bagian dari ilmu Pemasaran pada umumnya, tetapi dapat dianggap sebagai disiplin ilmu
yang berdiri sendiri karena didasarkan pada karakteristik produk pertanian, subyek dan obyek pemasaran pertanian itu
sendiri.
Secara khusus karakteristik hasil pertanian, menurut Hadisapoetra (1968) ditimbulkan oleh (1) sifat khusus hasil pertanian
yang bersifat bulky (bahasa Jawa &rdquo;rowa&rdquo;) artinya volume besar tidak sesuai dengan nilainya, tidak tahan
lama/mudah busuk (perishable), tergantung pada alam sehingga kualitas dan kuantitas berfluktuasi, (2) sifat khusus pada
konsumen hasil pertanian yang menginginkan bermacam-macam hasil pertanian serta menginginkan hasil pertanian setiap
hari secara terus menerus seperti : tanaman pangan (beras, jagung, kedelai, dll) buah (pisang, pepaya, jeruk, kelengkeng,
anggur dll), sayur-mayur (bayam, kangkung, sawi, cabe, dll), konsumen menghendaki hasil pertanian yang berbeda dalam
bentuk (segar, olahan dll) dan kualitas sesuai dengan seleranya (grade A, B atau C) , sedangkan hasil pertanian diperoleh
secara musiman, (3) sifat khusus pada usaha pertanian (diusahakan dalam skala kecil dan tersebar). Oleh karena itu tugas
pemasaran pertanian ditentukan oleh sifat-sifat khusus hasil pertanian dan berpengaruh terhadap sistem pemasarannya.
Berdasarkan sifat khusus ini maka tugas pemasaran pertanian dibagi 3 yaitu (1) tugas pengumpulan yaitu pengumpulan
hasil pertanian kecil-kecil untuk dipusatkan pada tempat-tempat yang terjangkau oleh alat-alat pengangkutan, (2) tugas
persiapan untuk kepentingan konsumen (sortasi, grading, pemrosesan/pengolahan, pengawetan, dll) (3) tugas distribusi
yaitu tindakan untuk membagi hasil pertanian sesuai dengan kehendak konsumen yang berbeda-beda berdasarkan
pendapatan, pendidikan, agama, iklim, lokasi dan lain-lain.
Berdasarkan kondisi itu, maka pemasaran pertanian pertama kali dijalankan pada waktu orang dapat menghasilkan lebih
banyak daripada yang diperlukan sendiri. Transisi dari production for consumption kepada production for exchange berjalan
sangat lambat. Oleh karena itu konsepsi tentang pemasaran pertanian sangat luas, FAO (1958) mendefinisikan pemasaran
pertanian merupakan serangkaian kegiatan ekonomi komoditi hasil-hasil pertanian mulai dari produsen primer sampai ke
konsumen akhir. Sementara Philip (1968) mendefinisikan pemasaran pertanian sebagai aktivitas perdagangan yang
meliputi aliran barang dan jasa secara fisik dari pusat produksi sampai ke pusat konsumsi, Breimeyer (1973) menyatakan
pemasaran pertanian terjadi setelah usahatani (marketing post the farm) dan produksi yang terjadi pada usahatani

(production on the farm). Masih banyak definisi dan konsepsi tentang pemasaran pertanian tetapi inti dari semuanya itu
adalah seluruh rentetan jasa yang dilakukan dalam pemindahan hasil pertanian dari titik produksi pertama ke titik konsumsi
terakhir.&nbsp;
Proses penyampaian hasil-hasil pertanian dari produsen ke konsumen sesuai dengan sifat-sifat khusus memerlukan biaya
pemasaran yang tinggi, dan umumnya lebih tinggi daripada biaya pemasaran barang-barang lain, maka pemasaran
hasil-hasil pertanian merupakan rantai pemasaran yang paling tidak efisien dibandingkan dengan penyaluran
barang-barang ekonomi lainnya (Mubyarto, 1972).
Pemasaran Pertanian menjadi perhatian para ahli ekonomi karena adanya ciri-ciri pasar yang menarik yaitu besarnya
kebebasan pasar, dimana dicirikan oleh tidak samanya kekuatan tawar menawar antara sejumlah pembeli yang terbatas
dengan penjual yang banyak sekali. Oleh karena itu teori pemasaran pertanian didasarkan pada teori ekonomi mikro yang
memberikan sumbangan dalam menentukan batas biaya bagi konsumen dan produsen dalam memaksimalkan kegunaan
dan keuntungan, penentuan harga output, input dan penentuan bentuk pasar.
KINERJA PEMASARAN PERTANIAN
Hadirin yang saya hormati,
Selama ini, pemasaran merupakan frase yang terabaikan dalam konteks pembangunan pertanian di Indonesia. Pertanian
Indonesia berhasil dengan tercapainya swasembada pangan tahun 1984 dan itu dibuktikan dengan diberikannya
kehormatan Presiden RI untuk berpidato dan menyampaikan rahasia sukses pembangunan Pertanian Indonesia pada
Sidang Tahunan FAO. Banyak kalangan menilai hal itu belum cukup untuk menyatakan keberhasilan pembangunan
pertanian, karena secara jujur bidang pertanian lebih condong ke sektor produksi, sedangkan sektor pemasaran masih
terabaikan dengan bukti produsen pertanian yang melibatkan berjuta-juta petani, masih sulit memperbaiki posisi sosial
ekonominya (Kustiah et al, 1988) Pernyataan ini didukung kajian para pakar, bahwa telah terjadi peningkatan produksi hasil
pertanian melalui berbagai rekayasa teknologi dan kelembagaan, tetapi tidak meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan
petani (Dillon et al, 1999; Simatupang dan Syafa&rsquo;at, 1999 ; Simatupang et al, 2000; Suryana et al, 2001; Kariyasa et
al, 2003; Malian et al, 2004).
Tingkat kesejahteraan petani sering diukur dengan nilai tukar petani (NTP). Perhitungan NTP ini diperoleh dari
perbandingan indeks harga yang diterima petani terhadap indeks harga yang dibayar petani (dalam prosentase). NTP
merupakan salah satu indikator relatif tingkat kesejahteraan petani, semakin tinggi NTP relatif semakin sejahtera tingkat
kehidupan petani (Silitonga,1995; Sumodiningrat, 1997, 2001; Tambunan, 2003; BPS, 2006, Masyhuri, 2007).
Sumodiningrat (1990) menyatakan bahwa petani meng&not;hadapi kenaikan harga-harga barang kebutuhan lain yang
harus dibeli, indikator yang dapat digunakan adalah melihat peranan sektor pertanian melalui petaninya yang mampu
memupuk surplus produksi dari usahatani dengan melakukan investasi untuk meningkatkan teknik produksi. Surplus
usahatani ini dapat diamati dari tingkat pendapatan dan tingkat profitabilitas usaha. Nilai tukar petani (NTP) yang
merupakan perbandingan antara pendapatan dengan pengeluaran petani dalam menghasilkan satu macam produksi dapat
digunakan sebagai indikator untuk melihat profitabilitas kegiatan usahatani.
Silitonga (1995) menyatakan bahwa nilai tukar petani (NTP) diterjemahkan sebagai Farm Term of Trade atau mirip
pengertian dengan Rural-Urban Term of Trade (RUTOT) dalam Timmer (1983). BPS mendefinisikan NTP sebagai pengukur
kemampuan tukar produk pertanian yang dihasilkan petani terhadap barang/jasa yang diperlukan untuk konsumsi RT
maupun produksi pertanian. Dikarenakan kedudukan petani selain menjadi produsen juga konsumen, maka untuk
meningkatkan NTP dapat dilakukan dengan meningkatkan produktivitas dan memelihara stabilitas harga bahan yang
digunakan produsen. Intervensi pemerintah dalam memelihara stabilitas pangan melalui kebijakan harga kurang
menguntungkan petani produsen yang terlihat dari nilai tukar petani yaitu perbandingan antara nilai yang diterima dengan
nilai semua pengeluaran petani, dimana nilai pengeluaran petani meliputi pengeluaran untuk biaya produksi dan
penambahan modal (investasi) serta pengeluaran konsumsi rumah tangga (Sumodiningrat (1987).
Menurunnya angka indek NTP ini antara lain disebabkan petani tanggap terhadap perkembangan teknologi yang lebih
cepat dibandingkan perkembangan harga, sehingga&nbsp; perkembangan produksi meningkat cepat melebihi kemampuan
&ldquo;pasar&rdquo; untuk menyerap, akibatnya harga cenderung turun. Kajian Endang (2008) menunjukkan hal yang
sama bahwa intervensi pemerintah dalam kebijakan harga tidak menaikkan tingkat kesejahteraan petani. Hal ini disebabkan

karena intervensi pemerintah akan menyebabkan terjadinya kerugian bobot mati (deadwight loss) sebagai efek
kesejahteraan (welfare effect) yang menyebabkan salah satu dari pelaku pasar akan mengalami kerugian atau keuntungan,
hasil kajian menunjukkan bahwa intervensi pemerintah dalam kebijakan harga (terutama beras) memberikan efek surplus
konsumen (consumer&rdquo;s surplus) lebih tinggi dibandingkan dengan surplus produsen (producer&rsquo;s surplus).
Implikasinya bahwa kebijakan pemerintah terlalu bias konsumen daripada produsen.&nbsp;&nbsp;
Perubahan nilai tukar petani (NTP) dalam kenyataannya lebih merugikan daripada menguntungkan petani, artinya di dalam
berusahatani, pendapatan yang diterima petani lebih kecil daripada biaya produksi atau perubahan rasio pendapatan di
sektor pertanian terhadap pendapatan di sektor non-pertanian lebih sering negatif daripada positif, oleh karena itu NTP ini
mempunyai korelasi dengan kemiskinan (Tambunan, 2003; Krisnamukti, 2006; Masyhuri, 2007; Arifin, 2007).
Perbaikan NTP banyak dipengaruhi oleh pendapatan sektor pertanian dan faktor-faktor penyebab rendahnya NTP dapat
dilihat berdasarkan jenis komoditi, tetapi bukanlah komoditi beras yang berpengaruh besar membentuk NTP, terdapat
tendensi komoditi hortikultura merupakan komoditas andalan untuk mengangkat NTP, karena petani beras Indonesia
memiliki persaingan yang berat dengan beras impor, dan karena beras merupakan makanan pokok maka selalu ada
permintaan dalam jumlah besar, kondisi ini menyebabkan harga beras di pasar domestik cenderung menurun sampai titik
keseimbangan jangka panjang sama dengan biaya marginal atau sama dengan biaya rata-rata per unit output. Beras
sebagai makanan pokok, maka permintaan beras lebih dipengaruhi oleh jumlah penduduk dan pendapatan masyarakat dan
bukan oleh harga, maka elastisitas permintaan beras selalu tidak elastis. Disisi lain NTP juga dipengaruhi oleh rasio indeks
harga output petani dengan harga output yang dibutuhkan petani untuk kebutuhan hidup sehari-hari yang dicerminkan
dengan inflasi untuk tingginya harga-harga pokok kebutuhan petani. Inflasi ini dapat berdampak positif maupun negatif bagi
pendapatan petani. Dampak positif terjadi apabila kenaikan harga-harga bersumber dari petani, dan negatif jika kenaikan
harga-harga bersumber pada barang-barang kebutuhan petani.
Rendahnya nilai NTP ini juga mengindikasikan masih banyaknya kemiskinan yang berada di pedesaan dan sebagian besar
rumah tangga yang berbasis pertanian dengan lahan sempit. Hasil Sensus Pertanian 2003 menunjukkan bahwa rumah
tangga petani &rdquo;gurem&rdquo; dengan luas lahan garapan kurang 0,5 Ha bertambah menjadi 13,7 juta pada tahun
2003 (56,5%)&nbsp; dibandingkan pada kondisi Sensus Pertanian 1993 sekitar 10,8 juta (52,7%) dari total rumah tangga
petani (Krisnamukti, 2006; Masyhuri, 2007)
&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Hadirin yang saya muliakan,
Kinerja sektor pertanian dari aspek pemasaran pertanian sangat beragam. Dalam arti luas pertanian mencakup pertanian
tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, peternakan, perikanan dan kehutanan. Dilihat dari skala usaha terdapat
pertanian rakyat dan perusahaan pertanian (Mubyarto, 1979). Perusahaan pertanian untuk komoditas perkebunan dan
hortikultura mempunyai kinerja yang menggembirakan. Hal ini dapat dilihat dari ekspor hasil pertanian yang mempunyai
surplus neraca perdagangan, antara lain komoditi kelapa sawit, pala, cengkeh, karet, CPO, kopi, teh, vanili dll (Saragih,
2006), hortikultura (sayur-sayuran, buah-buahan, bunga, tanaman biofarmaka/obat-obatan) mengalami kenaikan nilai
ekspor dari kontribusi tehadap PDB (Product Domestic Bruto) sebesar Rp 58,84 trilyun naik menjadi Rp 65,68 trilyun
(Daryanto, 2007), sedangkan tanaman pangan dan peternakan menunjukkan defisit (Sawit, 2007; Masyhuri, 2007).
Pertanian rakyat yang dilakukan oleh petani kecil termasuk peternak, nelayan, petani kebun dan hutan mengalami
keterpurukan. Hal ini menunjukkan teori dualisme (dual economy) Boeke masih berkembang. Teori tersebut berkembang
sejak jaman sebelum penjajahan Belanda (Sayogya, 1982; Widodo, 1983; Noer Sutrisno, 2005; Masyhuri, 2007). Dalam
perkembangannya sampai sekarang ternyata masalah dualisme masih berpengaruh pada perkembangan perekonomian
Indonesia, baik pada perkembangan komoditi, pengelolaan maupun kelembagaan.
Keterpurukan pertanian rakyat di Indonesia disebabkan karena pertanian rakyat dikuasai oleh petani kecil dengan produk
pertanian dan mutu yang bervariasi. Unit-unit kegiatan skala kecil tersebut membawa konsekuensi dalam kegiatan, luas
lahan, produksi yang dihasilkan, keragaman jenis kegiatan dan sebagai&not;nya yang memberikan kontribusi terhadap
pendapatan nasional. Kondisi ini juga dapat dilihat dalam subsistem pengolahan hasil dan subsistem pemasaran hasil.
Kegiatan pertanian yang dilakukan oleh petani-petani kecil ini merupakan wajah pertanian Indonesia sampai saat ini.
Kondisi tersebut terjadi karena pertanian rakyat dibatasi oleh keterbatasan dalam permodalan, penguasaan lahan,
keterampilan, teknologi, pengetahuan dan aksesibiltas pasar, bargaining position dan sebagainya. Semuanya akan
mempengaruhi pengambilan keputusan dalam penentuan komoditas yang akan diusahakan yang pada akhirnya bermuara

pada rendahnya tingkat pendapatan dan kesejahteraannya. Ketergantungan terhadap iklim dan pendekatan pemilihan
komoditas pertanian yang bersifat historis menjadi penyebab ketidaksinambungan antara ketersediaan komoditi maupun
mutu produk. Keadaan ini mempengaruhi fluktuasi harga dan ketersediaan produk pertanian di pasar.
Kondisi demikian sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Kim (1986) bahwa pola perkembangan pemasaran komoditi
dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu tumbuhnya komersialisasi pada produksi, adanya pengadopsian teknologi,
berkembangnya spesialisasi tenaga kerja dalam usahatani, terpisahnya secara geografis antara produksi dan konsumsi,
berkembangnya populasi dan urbanisasi, adanya perubahan kebiasaan makan dan daya beli, adanya perubahan mobilitas
konsumen serta kondisi peranan pemerintah. Berkaitan dengan itu, komoditi pertanian di Indonesia juga mengalami pola
perubahan sesuai dengan dinamika dan pertumbuhan ekonomi yang ada, baik pada produksi, konsumsi dan pemasaran
atau perdagangan.
Hasil empiris menunjukkan bahwa sektor pertanian merupa&not;kan sektor yang mengandung risiko (risk) dan
ketidakpastian (uncertainty) yang cukup tinggi. Kondisi ini berdampak pada sistem pemasaran dan pasar produk-produk
pertanian. Jika dalam sistem agribisnis dikedepankan sistem budaya, organisasi dan manajemen yang amat rasional dalam
rangkaian memperoleh nilai tambah (added value) yang dapat disebar dan dinikmati oleh seluruh pelaku ekonomi secara
fairplay sebenarnya ditujukan untuk membangun dan meningkatkan kapasitas (capacity building) petani dan pelaku
usahatani serta aktor penting agribisnis mulai dari petani sebagai produsen, pedagang, konsumen dan segenap lapisan
masyarakat yang terlibat dalam penyaluran produk pertanian dari produsen sampai ke konsumen. Namun dalam
kenyataanya petani dan pelaku bisnis pertanian selalu dihadapkan pada pasar output dan input pertanian yang asimetris,
pasar dimana informasi yang diperoleh pelaku pasar tidak sama yang disebabkan karena adanya eksternalitas dan
informasi yang tidak seimbang (Pyndick dan Rubinfeld, 2001). Menurut Arifin (2005, 2006) kondisi pasar asimetris ini juga
dihadapi petani dalam kancah perdagangan internasional, sebagai contoh kasus paha ayam, perdagangan daging&nbsp;
dsb. Indikasi pasar asimetris, sebagai contoh dapat dijelaskan dari pendapat Sawit (2007) bahwa Indonesia melarang impor
CLQ (chicken leg quater) bukan hanya alasan kesehatan tetapi juga kehalalan, karena CLQ mengandung hormon dan
residu antibiotika yang tidak baik untuk kesehatan, aspek kehalalan terkait konsumen Indonesia yang sebagian besar Islam,
tidak memahami perlakuan CLQ tersebut apakah benar berasal dari ayam yang dipotong secara halal atau dicampur tanpa
membedakan keduanya, sedangkan untuk daging alasannya karena negara ekspotir belum bebas dari penyakit mulut dan
kuku, hanya dua negara eksportir bebas penyakit yaitu Selandia Baru dan Australia, karena itu kedua negara tersebut
pemasok utama daging ke Indonesia.
Di samping itu kinerja pemasaran pertanian Indonesia, secara empiris dan generalisasi menunjukkan bahwa rantai
tataniaga (pemasaran) hasil pertanian terlalu panjang dan menyebabkan rendahnya tingkat kesejahteraan petani dan
berdampak pada terjadinya penyimpangan dalam pembangunan pertanian. Kondisi demikian menjadi indikasi bahwa
pemasaran pertanian menjadi tidak efisien, padahal yang menyebabkan tidak efisien bukan panjang pendek rantai
pemasaran tetapi ditentukan oleh tingkat balas jasa yang fair sesuai dengan jasa yang dikeluarkan oleh pelaku pemasaran
yang terlibat (Mubyarto, 1971; Masyhuri, 2005;&nbsp; Arifin, 2007). Sebagai contoh dalam ekspor komoditi hortikultura,
biaya transportasi merupakan komponen biaya terbesar (Daryanto, 2007), sedangkan dalam pemasaran komoditi pangan
menunjukkan neraca perdagangan beras yang semakin negatif. Disamping itu pemasaran pertanian komoditi pangan telah
terjadi proses &ldquo;disarray&rdquo; yang merugikan petani. Faktor lain adanya proses otonomi daerah dalam
menempatkan pemasaran pertanian&nbsp; dalam posisi yang masih lemah, indikasi yang dapat dilihat adalah terdapatnya
pungutan sepanjang saluran pemasaran dengan retribusi yang dilegalkan oleh perda-perda&nbsp; yang akhirnya margin
pemasaran membengkak yang pada akhirnya ditanggung oleh konsumen. Hasil penelitian Mayrowani (2006) menunjukkan
bahwa perda-perda yang dibuat dalam otonomi daerah rata-rata mencapai 5,5% yang menyangkut pemasaran pertanian,
orientasi pemda adalah melegalkan segala cara untuk memperkuat basis keuangan tanpa memikirkan dampak distorsif
yang muncul. Adanya perda tersebut memberikan dampak pada meningkatnya biaya pemasaran, menekan harga yang
diterima petani (farm gate) dan menekan daya saing daerah serta komoditi ekspor.
Kinerja pemasaran pertanian juga ditandai oleh indikasi bahwa&nbsp; negara-negara penghasil bahan baku atau produk
primer selalu menjadi sub-ordinat dari pasar atau posisi industri pengolahan, hal demikian terjadi juga di Indonesia. Petani
yang jumlahnya jutaan dan tersebar pada umumnya berada pada posisi yang lemah. Akhirnya petani hanya menerima
harga yang terjadi (price taker). Lemahnya posisi petani dapat diperlihatkan dari usaha untuk meningkatkan daya saing
produk hilir dan produk turunan dari berbagai komoditas, sebagai contoh melonjaknya minyak goreng didalam negeri,

disebabkan pelaku lebih suka menjual dalam bentuk CPO karena harga yang tinggi di pasar dunia yang saat itu mencapai
sekitar US$ 750 per ton, sedangkan pada posisi itu harga yang diterima petani (farm gate price) masih sangat rendah dan
jauh dari harga acuan internasional yang berlaku (Arifin, 2007). Hal ini mengindikasikan bahwa bagian yang diterima petani
(farmer share) yang dapat dinikmati sedikit/kecil, Arifin (2004) menyatakan bahwa kondisi demikian disebabkan rendahnya
kapasitas kelembagaan dan sikap kewirausahaan.
Lemahnya posisi petani disebabkan juga oleh posisi tawar (bargaining power) yang rendah, jika musim panen produksi
berlimpah (over supply) sehingga harganya murah dan jika musim paceklik harga tinggi. Menyikapi kondisi ini, Pakpahan
(2004) mengatakan bahwa pada jaman penjajahan, jika terjadi over supply dengan mudah dapat diatasi dengan membakar
atau menghancurkan tanaman, supaya produksi turun dan harga merangkak naik kembali, dalam kondisi sekarang
cara-cara demikian kurang tepat, maka harus ada kebijakan untuk mengatur over supply ini. Indonesia sebagai negara
berkembang juga menghadapi dua kondisi yaitu over supply pada saat panen raya dan kedua struktur pasar monopsoni
pada saat petani menjual produknya. Dalam kondisi demikian maka petani disarankan membuat organisasi untuk
meningkatkan bargaining ini antara lain membentuk&nbsp; koperasi, asosiasi dll.
Dari pengalaman kelembagaan selama ini, aspek pemasaran pertanian petani memiliki ketergantungan sangat kuat dengan
program pemerintah. Petani sebagai produsen merupakan bagian dari supply chain dari produk pertanian, pada saat ada
kegiatan pemerintah (proyek), maka kelembagaan itu ada, tetapi begitu proyek selesai, maka bubarlah kelembagaan itu.
Contoh kelembagaan dalam pemasaran pertanian adalah koperasi. Koperasi pada awal difungsikan dalam pemasaran
pertanian adalah BUUD (Badan Usaha Unit Desa) yang amalgamasi menjadi KUD (Koperasi Unit Desa) sebagai organisasi
kelembagaan ekonomi yang melengkapi program Bimas (Bimbingan Massal) dan Insus (intensifikasi Khusus) dalam rangka
program nasional ketahanan pangan tetapi dalam perjalanannya sampai sekarang KUD tidak lagi menjalankan fungsi
pemasaran disebabkan karena adanya persaingan dengan pedagang dan pasar. Berbeda dengan di negara maju bahwa
koperasi merupakan wadah efektif dalam memperjuangkan kepentingan petani dan&nbsp; mampu meningkatkan kekuatan
tawar (bargaining power), tetapi di Indonesia terdapat kesalahpahaman terhadap koperasi yang menyebabkan
pengembangan koperasi dibidang pertanian menjadi pekat dan krisis identitas (Lukman MB, 2004)
MEREPOSISI PERAN PEMASARAN PERTANIAN DALAM REVITALISASI PERTANIAN
Hadirin yang saya hormati,&nbsp;
Mereposisi peran pemasaran pertanian dalam Revitalisasi Pertanian pada intinya adalah upaya meningkatkan nilai tambah
(added value) dan pendapatan petani serta kesejahteraanya. Jika pemasaran pertanian selama ini belum mendapatkan
perhatian yang seharusnya, maka pola pengembangan pemasaran yang terjadi selama ini harus dikembangkan kearah
pertanian yang berdaya saing tinggi, memberikan kebebasan petani untuk melakukan kegiatan pertaniannya yang
kompetitif, tidak perlu menimbulkan distorsi, baik pasar input maupun pasar output. Mengacu pada pemikiran Moore (1968)
bahwa produsen (petani) meningkatkan pendapatannya dengan berbagai cara yaitu menurunkan jumlah produk
(menggeser posisi kurva penawaran), diskriminasi pasar (menjual ke berbagai pasar), melaksanakan fungsi-fungsi
pemasaran, meningkatkan permintaan konsumen. Dalam upaya menaikkan permintaan konsumen dapat dilakukan dengan
:
Pertama, menyesuaikan produk pertanian dengan kemauan pasar (market driven) dengan meningkatkan (a) akses
terhadap teknologi dan pengetahuan, (b) akses pengusaha dan petani terhadap kapital, (c) kapasitas jaringan komoditi
untuk mem&not;fasilitasi perluasan perdagangan. Strategi dasar supaya produk pertanian bisa bersaing dalam pemasaran
dan perdagangan yang kompetitif adalah peningkatan efisiensi dan daya saing usaha. Hal ini dapat dilaksanakan mulai dari
titik produsen (petani) dan pemasaran input sampai pada sistem pemasaran hasil olahan dengan tetap memperhitungkan
kondisi lingkungan, baik ling&not;kungan ekonomis maupun fisik, lingkungan internal maupun eksternal.
Daya saing suatu komoditi dapat diukur dengan mengguna&not;kan pendekatan keunggulan komparatif (comperative
advantage) dan keunggulan kompetitif (competitive advantage). Keunggulan komperatif merupakan konsep yang
dikembangkan oleh David Ricardo untuk menjelaskan efisiensi alokasi sumberdaya di suatu negara dalam sistem ekonomi
yang terbuka (Warr,1992; Saptana et al, 2006). Teori keunggulan komperatif Ricardo disempurnakan oleh teori biaya
imbangan (theory opportunity cost) dengan asumsi bahwa harga relatif komoditi yang berbeda ditentukan oleh perbedaan
biaya, biaya yang dimaksud adalah biaya produksi komoditas alternatif yang harus dikorbankan untuk menghasilkan

komoditas bersangkutan. Kemudian teori Heckscer Ohlin tentang pola perdagangan menyatakan bahwa komoditi yang
dalam produksinya menggunakan faktor produksi berlimpah atau dengan faktor produksi yang langka diekspor untuk ditukar
dengan barang-barang yang membutuhkan faktor produksi dan sebaliknya (Chacholiades, 1990). Keunggulan komperatif
suatu komoditi sering dianalisis dengan Domestic Resources Based (DRC).
Dalam dunia bisnis yang semakin bersaing ketat, hasil pertanian tidak hanya memperhatikan keunggulan komperatif
(comperative advantage) tetapi harus mengusahakan keunggulan kompetitif (competitive advantage). Keunggulan
komperatif (comperative advantage) merupakan keunggulan yang tidak terdapat di daerah lain yang&nbsp; antara lain
disebabkan faktor-faktor (1) geografis dan agroklimat, (2) ketersediaan air, (3) kesesuaian lahan, (4) tenaga kerja yang
murah dan (5) pasar. Peningkatan keunggulan kompetitif (competitive advantage), produksi pertanian yang dihasilkan harus
memiliki (1) efisiensi usaha yang tinggi,&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; (2) struktur biaya
rendah, (3) mutu (kualitas) tinggi, (4) skala usaha luas, (5) mampu menyesuaikan dengan permintaan konsumen dan
sebagainya.
Kedua, peluang mempromosikan produk pertanian. Sampai sekarang dirasakan sangat sulit untuk menentukan produk hasil
pertanian apa yang dapat dipromosikan dan promosi yang bagaimana yang paling efektif. Karena bidang ini kurang menarik
dipelajari bagi ahli ekonomi, karena teori yang digunakan tidak banyak membantu. Kegiatan ini berkaitan dengan penetapan
biaya penjualan, padahal satu sisi produk hasil pertanian sering tidak mengikuti pola itu, terkecuali terdapat persyaratan
tertentu bagi produk dan pasar yang harus dipenuhi sehingga promosi hasil pertanian dapat dilakukan. Menurut Parish
(1963) syarat yang menguntungkan bagi promosi hasil pertanian adalah : (1) terdapat peluang untuk membedakan produk,
(2) kualitas yang tersembunyi dalam suatu produk, (3) terpadunya motif emosional yang kuat untuk membeli dan produk
yang ditawarkan. Sedangkan dari sisi pasar, karakteristik yang harus dipenuhi adalah : (1) ter&not;dapat kecenderungan
permintaan yang baik, (2) terdapat konsumen potensial, (3) pergantian pembeli relatif cepat, (4) terjadi perubahan produki,
(5) sering terjadi perubahan harga. Untuk produk-produk primer selama terdapat sifat substitusi atau komplemen dari
produk masih bisa dipromosikan.
Ketiga, meningkatkan model pemasaran pertanian berdasar&not;kan&nbsp; kontrak, yang dimaksud adalah persetujuan
antara penjual (produsen/petani) dengan pembeli (seorang petani sebagai pedagang, pengolah dan sebagainya) yang
berniat untuk meng&not;hasil&not;kan produk dengan menggunakan faktor-faktor usahatani. Syarat perjanjian umumnya
menyangkut tentang harga, faktor produksi, kuantitas, kualitas dan waktu penyerahan, sedangkan metode dan tempat
produksi tidak tercakup didalamnya. Bentuk kontrak ini bisa berupa persetujuan secara lisan atau dengan dokumen resmi.
Tujuan dari kontrak ini dari sisi perusahaan adalah (1) memperoleh bahan dan mendapatkan kepemilikan atas komoditi (2)
pengawasan kredit berkaitan dengan pihak-pihak berkepentingan atau alasan timbulnya hak-hak komoditi eksklusif, (3)
efisiensi pengolah, (4) pengendalian mutu, (5) penjualan faktor produksi. Tujuan dari kontrak dari sisi petani adalah (1)
stabilisasi harga, (2) saluran pemasaran, (3) memperoleh faktor-faktor produksi dan teknologi, (4) meraih modal usahatani
dan memasuki pasar industri, (5) memasuki bidang pertanian. Pengamatan di lapangan dengan sistem ini petani
melakukan kontrak dengan pedagang, baik lisan maupun tertulis untuk memenuhi sejumlah output maupun input. Evaluasi
dari sistem ini petani menjadi bertanggung jawab untuk memenuhi kontrak, stabilitas harga dan pendapatan petani terjamin,
karena pedagang selalu menerima output&nbsp; dari petani.
Selanjutnya untuk mereposisi peran pemasaran pertanian dalam Revitalisasi Pertanian dengan upaya untuk melakukan
diskriminasi pasar (menjual ke berbagai pasar) dan melaksanakan fungsi-fungsi pemasaran dapat dilaksanakan dengan :
Pertama, meningkatkan diferensiasi dan pengembangan produk. Upaya ini memberikan sumbangan yang berarti dalam
pengembangan pemasaran pertanian, karena pada umumnya akan memperbaiki efisiensi alokasi dalam proses penetapan
harga. Pemasaran sebagai proses yang bergerak dan ber&not;kembang merupakan komplementer dilihat dari perbaikan
dan pengembangan produk. Diferensiasi produk dasar utamanya adalah mampu membedakan barang/produk dari penjual
satu dengan penjual lainnya, yang akhirnya menimbulkan preferensi terhadap satu macam produk (Chamberlin, 1946;
Faris, 1960; Stanton, 1984; Davis dan Devinney, 1997). Sedangkan Abbott (1955) menyatakan bahwa diferensiasi produk
atau variabilitas produk dapat berbentuk 3 macam : vertikal, horizontal dan inovasional. Vertikal menyangkut perbedaan
mutu yang lebih tinggi dan lebih rendah, berkaitan dengan biaya untuk menyediakan tinggi atau rendah dan produk akan
dianggap praktis oleh pembeli. Perbedaan horizontal perbedaan yang tidak disepakati secara jelas. Inovasional dianggap
kemajuan oleh semua pembeli dan memiliki harga tinggi. Implikasi dari diferensiai produk adalah memudahkan persaingan
non-harga (Bober, 1955) yang pada dasarnya dibedakan menjadi dua yaitu (1) persaingan produk dan (2) persaingan

promosi. Persaingan produk dipusatkan pada aspek fisik dari komoditi maupun perbedaan dalam jasa-jasa yang ditawarkan
dalam proses penjualan, yang digunakan dalam upaya menyesuaikan barang dengan selera dan pilihan konsumen.
Persaingan promosi dilaksanakan dengan mengurangi skala pilihan pembeli dalam upaya menanam kepercayaan
konsumen. Variasi mutu dipusatkan pada produk dan variasi itulah yang menggerakkan konsumen (Bober, 1955).
Dengan demikian diferensiasi produk (1) membantu perusahaan untuk melindungi dan mempertahankan suatu pasar bagi
produk, (2) dapat menambah kepuasan konsumen dan meningkatkan pilihan konsumen. Persaingan non-harga ini
memerlukan biaya sosial. Diferensiasi produk ini dapat dikaitkan dengan struktur pasar, tempat perusahaan melakukan
kegiatan dibawah tingkat kapasitas optimal, menetapkan harga lebih tinggi dari harga bersaing. Adanya diferensiasi produk
mendorong produsen untuk menemukan sifat-sifat produk baru dan mengembangkan mutu produk atau menciptakan
barang yang sama sekali baru dalam upaya mencari diferensiasi produk yang memberikan keuntungan, sehingga
diferensiasi produk menurut Schumpeter (1934) merupakan bentuk inovasi produk. Imple&not;mentasi dalam pemasaran
pertanian adalah selalu mencari inovasi pada produk baru melalui berbagai rekayasa, seperti upaya mencari keunggulan
genetik jagung untuk memenuhi permintaan pakan ternak, mengembangkan kedelai dengan kandungan asam oleat tinggi
yang bermanfaat pada kesehatan.
Kedua, meningkatkan implementasi penggolongan mutu (standardisasi, grading, sortasi). Produk hasil pertanian sangat
bervariasi, baik dalam varietas, bentuk, ukuran, warna dan sebagainya dan semuanya diakibatkan oleh usaha pertanian
yang bersifat musiman dan banyaknya keanekaragaman tumbuhan dan hewan Indonesia sebagai daerah tropis. Oleh
karena itu dalam kepentingannya pada pemasaran pertanian, produk hasil pertanian sulit untuk disamakan, tetapi bukan
berarti tidak dapat dilakukan. Oleh karena itu untuk memperlancar proses pemasaran diperlukan standar, grade dan
sebagainya. Standardisasi adalah penentuan atau penetapan standard golongan (kelas atau derajat) untuk barang-barang
produk hasil pertanian. Standar ini merupakan suatu ukuran atau ketentuan mutu yang diterima oleh umum sebagai
sesuatu yang mempunyai nilai tetap ditentukan berdasarkan ciri-ciri produk yang berupa, varietas, ukuran, bentuk, warna,
rasa, kandungan air, kandungan unsur-unsur tertentu dan sebagainya. Grading berarti memilih barang untuk dimasukkan
kedalam kelas atau derajat yang telah ditetapkan dengan jalan standardisasi. Sortasi hampir sama dengan standardisasi
tetapi lebih terbatas. Menurut Farish (1963; Hadisaputra, 1977; Hanafiah dan Saefuddin, 1978; Limbang dan Sitorus, 1985)
penggolongan mutu dilakukan dengan tujuan (1) meningkatkan keuntungan petani sebagai produsen, (2) meningkatkan
kepuasan pembeli, (3) meningkatkan efisiensi pemasaran. Adanya penggolongan mutu (standardisasi, grading, sortasi)
akan mempengaruhi tingkah laku pasar dan kegiatan pasar yang pada akhirnya berakibat pada perubahan struktur pasar,
dengan menelusuri dinamika pembeli, produsen dan pelaku pasar. Untuk produk pertanian yang diekspor, standardisasi,
grading sudah biasa dilakukan tetapi tetap saja dalam aplikasinya masih terkedala, misalnya supaya produk udang
memenuhi standardisasi harus tegak, karena tidak bisa tegak, petani berimprovisasi dengan memaku udang tersebut,
akibatnya produk tidak bisa diterima dan dikembalikan lagi. Sedangkan untuk pemasaran dalam negeri hanya dihargai oleh
pembeli tertentu saja, tetapi jika ini dilakukan petani akan menerima harga yang lebih tinggi daripada tidak melakukan
sortasi ini.
Ketiga, meningkatkan strategi pemasaran hasil pertanian dengan sistem foward market dan future market yang pada
dasarnya untuk menjamin kepastian pasar bagi produsen dan ketersediaan hasil dengan mutu yang tinggi. Sifat hasil
pertanian adalah memiliki resiko tinggi (high risk) dan penuh ketidakpastian (uncertainty). Dalam pasar forward dan pasar
future menekankan fungsi seluruh pasar dan memberi peluang terciptanya koordinasi antara pembeli dan penjual
(produsen/petani) berdimensi ruang dan waktu. Peningkatan perbaikan organisasi pasar dari pasar tradisional ke pasar
future merupakan akibat penghematan dalam pasar yang bersumber dari teknologi pasar dan spesialisasi fungsi-fungsi
pemasaran. Pasar future yang digunakan oleh berbagai kelompok pedagang berbeda-beda sesuai dengan sasaran dan
fungsi yang ingin dicapai. Spekulan berusaha memperoleh keuntungan dengan mengantisipasi perubahan harga secara
tepat dan menyediakan berbagai fasilitas komunikasi. Para pencegah resiko (hedger) menggunakan future dengan
berbagai alasan dan kebanyakan berasal dari pengalihan penetapan harga dan atau spekulasi kepada para spekulan.
Pembagian tugas antara penyimpanan, pengolahan, produksi dan fungsi penetapan harga dan spekulasi dimungkinkan
oleh pasar future mengakibatkan penghematan, terutama pada spesialisasi dan pengurangan harga penawaran dan
memperbaiki alokasi sumberdaya melalui waktu. Penghematan ini terkait erat antara pembeli dan penjual dengan barang
yang sudah dihasilkan, aspek ini berdimensi ruang, tetapi berkaitan dengan masa depan harus dipertimbangkan dan aspek
ini disebut berdimensi waktu dari organisassi pasar (Wickkteed, 1957). Pentingnya mengenali masa depan di bidang

penyimpanan dan produksi karena menyangkut ketidakpastian. Untuk mengurangi ketidakpastian ini, produsen dan penjual
hanya mempunyai akses pada pasar tunai yang akan menghabiskan waktu untuk memprediksi permintaan dan penawaran
masa depan dengan pengorbanan kegiatan utama mereka. Ketidakpastian tersebut mengakibatkan penggunaan modal
secara terbatas, sebagai akibat dari penjatahan (rationing) atau pengalokasian untuk modal intern atau ekstern. Kondisi ini
dapat diselesaikan dengan pasar forward untuk mengurangi biaya-biaya tersebut yang timbul dari faktor waktu. Dengan
membiarkan pelaku pasar yang mengikat pembelian dan penjualan lebih dahulu, maka biaya-biaya dapat dialihkan kepada
pihak lain yang mau dalam keadaan yang lebih baik untuk berspekulasi. Pengalihan spekulasi ini meniadakan penjatahan
modal intern dan ekstern yang berarti meningkatkan efisiensi pembelanjaan. Pasar forward ini&nbsp; sebenar&not;nya
merupakan lembaga keuangan (Paul dan Wesson, 1960). Pengalihan fungsi spekulasi oleh produsen kepada pembeli atau
penjual forward berarti penjual forward menawarkan modal yang diperlukan untuk menghadapi ketidakpastian. Jaminan
yang diberikan kontrak forward bahwa pembeli atau penjual forward akan mempertahankan komitmennya memungkinkan
perbankan memberikan modal disamping pinjaman untuk produk yang tidak dijual atau dibeli forward.
Implementasi pada pemasaran pertanian dari pola pengem&not;bangan pasar forward dan pasar future dilakukan antara
kelompok petani dengan pembeli industri sekaligus industri melakukan kewajiban CSR (Corporate Social Responsibility)
dalam upaya pemberdayaan masyarakat.
Keempat, meningkatkan kelembagaan pemasaran ditingkat petani. Petani sebagai pelaku pemasaran merupakan bagian
dari agri supply chain, maka petani harus memiliki keterkaitan dengan pelaku pasar lainnya. Selama petani bergerak secara
individu akan sulit memposisikan dirinya di pasar dan tidak memiliki bargaing position untuk mampu memperjuangkan hasil
outputnya. Oleh karena itu pembentukan kelembagaan di tingkat petani diperlukan dalam kontek sistem agri supply
chain.&nbsp; Berangkat dari pengalaman program Bimas dan Insus, maka diperlukan restrukturi&not;sasi kelembagaan
ditingkat petani untuk menunjang agri supply chain yang dapat membentuk value chain ditunjang kompetensi yang kuat dari
petani sehingga memberikan kontribusi pada kesejahteraan petani (Natawidjaya R, 2004).
Kelima, melakukan transformasi pertanian. Dalam suasana persaingan dan orientasi pasar global, kunci sukses transfomasi
pertanian tradisional (pertanian rakyat) sangat ditentukan untuk menciptakan &rdquo;entrepreneurship&rdquo; yaitu
membawa petani kecil pada usahatani modern yang bernilai tambah tinggi karena peran wirausaha sebagai &rdquo;market
coordinator&rdquo; (Noer Sutrisno, 2004). Tingkat harga riil yang memadai secara berkelanjutan pada tingkat petani (farm
gate) merupakan salah satu kunci pertumbuhan pertanian yang pada gilirannya mengurangi kemiskinan. Banyak studi yang
menunjukkan bahwa pertanian merupakan sektor yang paling efektif untuk mengurangi kemiskinan pedesaan dan
perkotaan.
PENUTUP
Hadirin yang saya hormati&nbsp; dan saya muliakan
Keberhasilan dalam pemasaran pertanian akan memberikan jaminan harga yang pada akhirnya dapat meningkatkan
pendapatan dan kesejahteraan petani. Dalam revitalisasi pertanian, pemasaran pertanian merupakan unsur penting dalam
merubah dan menyalurkan komoditi dari titik produsen ke titik konsumen, sehingga dalam kegiatan ini akan diperoleh
manfaat dan produk&not;tivitas pada setiap kegiatan. Dalam kegiatan ekonomi, pemasaran pertanian sebagai kegiatan
produktif yang berarti&nbsp; akan diperoleh manfaat dalam konteks kegunaan tempat (place utility), kegunaan waktu (time
utility), kegunaan bentuk (form utility) dan kegunaan kepemilikan (possesion utility). Oleh karena itu pemasaran pertanian
memegang posisi sentral untuk keberhasilan revitalisasi pertanian, jika revitalisasi produksi sudah dijalankan. Dalam
kegiatan ini akan diperoleh nilai tambah (added value) yang merupakan variabel yang mampu menggerakkan proses
per&not;tumbuhan ekonomi. Sejarah negara-negara di dunia menunjukkan bahwa keberhasilan dalam membangun
ekonomi sangat ditentukan oleh kesuksesan dalam membangun sektor pertanian (Eropa Barat, Amerika Serikat, Jepang,
Rusia, Australia dan China). Negara-negara yang tidak berhasil membangun pertanian sebagai dasar pembangunan sektor
ekonomi akan mengalami kemunduran setelah mencapai tahapan perkembangan ekonomi tertentu, hal ini disebabkan
karena belum kokohnya sektor pertanian dan terlalu cepat membangun industri substitusi impor.
UCAPAN TERIMA KASIH

Hadirin yang saya hormati dan saya muliakan
Sebelum mengakhiri pidato pengukuhan ini, secara tulus saya menghaturkan ucapan terima kasih dan penghargaan yang
setinggi-tingginya kepada:
1.&nbsp;&nbsp;&nbsp; Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia dan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi atas
kepercayaan yang diberikan kepada saya untuk memangku jabatan Guru Besar dalam bidang Ilmu Pemasaran Pertanian
pada Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret.
2.&nbsp;&nbsp;&nbsp; Rektor/Ketua Senat Universitas Sebelas Maret, Bapak Prof. Dr. Muchammad Syamsulhadi, dr,
Sp.Kj.(K), dan seluruh anggota Senat Universitas, Dekan/Ketua Senat Fakultas Pertanian Univer&not;sitas Sebelas Maret
dan segenap&nbsp; anggota Senat Fakultas Pertanian, Ketua Jurusan Agribisnis, Ketua Laboratorium Manajemen
Agribisnis dan Tim Kumulatif Kredit Point (CCP) yang telah menyetujui dan mengusulkan saya untuk menduduki jabatan
Guru Besar.
3.&nbsp;&nbsp;&nbsp; Kepada guru-guru saya di SD Selosari I Magetan, SMP Negeri I Magetan, SMA Negeri I Magetan,
Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret, Program Pascasarjana Universitas Gadjah Mada, saya menghaturkan terima
kasih, berkat jasa dan pengabdiannya, saya dapat mencapai jabatan tertinggi sebagai Guru Besar di Perguruan Tinggi ini.
Untuk para guru saya tersebut, saya mendoakan semoga Allah SWT membalas budi baik beliau dengan pahala dan
karunia yang berlipat ganda.
4.&nbsp;&nbsp;&nbsp; Ir. Mudjijo Prodjosuhardjo (alm.); Ir. Priya Prasetya, MS, Dr. Ir. Suprapti Supardi, M.P; Ir. Suharto,
MS selaku guru dan pembimbing saya pada jenjang S1 dan Prof. Ir. Sri Widodo, MSc; Prof. Dr. Gunawan Sumodiningrat,
MEc; selaku pem&not;bimbing saya pada jenjang S2.
5.&nbsp;&nbsp;&nbsp; Prof. Ir. Sri Widodo, MSc; Prof. Dr. Gunawan Sumodiningrat, MEc ; Prof. Dr. Ir. H. Dwidjono Hadi
Darwanto, MS.; selaku Promotor dan Ko-Promotor disertasi saya, dan Prof. Dr. Ir. Masyhuri, MSc.; Dr. Ir. Slamet Hartono,
MSc.; Dr. Ir.Jamhari, MP; Dr. Ir. Jangkung Handoyo Mulyo, MSc; dan M. Husein Sawit, SE, PhD (PSE-KP Badan Litbang
Deptan RI, Bogor) selaku penguji disertasi, terima kasih atas segala bimbingan, perhatian, dan arahan yang sangat besar
dan berharga bagi karier saya.
6.&nbsp;&nbsp;&nbsp; Segenap civitas akademika Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret, khususnya di Jurusan
Sosial Ekonomi/ Agribisnis, Ir. Catur TBJP, MS, Ir. Agustono, MS; Dr. Ir. Muhammad Harisudin, MSi; Dr. Ir. Kusnandar, MSi;
Ir. Sugiharti Mulyo Handayani, MP selaku pengurus Jurusan. Terima kasih atas doa, dukungan, bantuan dan kerja sama
yang telah kita ciptakan bersama selama ini.
7.&nbsp;&nbsp;&nbsp; Prof. Dr. Ir. Suntoro Wongso Atmojo, MS Dekan Fakultas Pertanian UNS yang selalu memberikan
do&rsquo;a, kepercayaan dan motivasi yang luar biasa dan dukungan dari pimpinan Fakultas Prof. Dr. Ir. Ahmad Yunus,
MSc, Ir. Hj. Rhina Uchyani F, MS, Ir, Sugiharjo, MS, serta dekan-dekan Fakultas Pertanian sebelumnya&nbsp; Ir. Toeranto
Sugiyatmo,&nbsp; Ir. Soetiarti S Hartono, MSc, Ir. Zainal Jauhari Fatawi, MS, Prof. Dr. Ir. Sholahudin, MS yang telah
memberikan motivasi
8.&nbsp;&nbsp;&nbsp; Prof. Drs. Haris Mudjiman, M.A, PhD; Prof. Dr. Drs Ravik Karsidi, MS; Prof. Dr. Sunardi, MSc; Drs
Sutopo JK; Drs. Munawir Yusuf, M.Psi; Drs Sugiharto, Apt, MS; Prof. Dr. Suranto, MSc; Prof. Dr. Ir. Purwanto, MS; Drs.
Ahmad, MSi;&nbsp; Dr. Ir. Darsono, MSi, Dra Susilaningsih M Bus: Ir. Joko Sutrisno, MP dan semua teman-teman (Peer
Group) di Pusat Penelitian Lingkungan Hidup (PPLH), Pusat Penelitian Pedesaan Pengembangan Daerah
(Puslitdesbangda), Pusat Pengembangan Kewirausahaan (PPKwu) dan Business Development Services (BDS) LPPM UNS
yang telah memberikan motivasi dan berimprovisasi, serta doa.
9.&nbsp;&nbsp;&nbsp; Kedua Orang Tua Saya, Ayahanda dan ibunda Sugiyo Martoutomo (Alm.) tercinta yang telah
membesarkan, mendidk dan memberikan keteladanan dan berpesan agar putra-putranya menuntut ilmu setinggi-tingginya
dan&nbsp; selalu mendoakan saya. Kedua mertua saya Bpk ibu Abdullah (Alm) yang telah memotivasi dan selalu
mendoakan saya.
10.&nbsp;&nbsp;&nbsp; Akhirnya, terima kasih yang tiada terkira kepada&nbsp; suamiku tercinta H. Arief Zaenal, SH, MSi
yang selalu memberikan kesempatan, kepercayaan, semangat, motivasi dan segalanya serta anak-anakku beserta
keluarganya&nbsp; Adam Reza Ganjara, SSi, Apt; Niza Arumta, SP; Rini Dwiyanti, S.Sos; Tunjung Hermawanto, ST atas
pengertian, doa, pengorbanan dan sumbang sarannya. Kepada kakak kandung -kakak ipar dan&nbsp; adik kandung saya
beserta keluarga&nbsp; Purnomo- Ni Nyoman Kasih; Suharti &ndash; Bambang Sumarno, BSc; Ir. Subandi, Dipl HE- Yayik
Nurhayati, SPd, Ir. Rukmini &ndash; Drs Santosa; Dhanik Setyani &ndash; Drs. Gunarso; Sri Hanarti, SPd &ndash; Dra.

Download
automoive freak

 

 

Your download will begin in a moment.
If it doesn't, click here to try again.

Share automoive freak to:

Insert your wordpress URL:

example:

http://myblog.wordpress.com/
or
http://myblog.com/

Share automoive freak as:

From:

To:

Share automoive freak.

Enter two words as shown below. If you cannot read the words, click the refresh icon.

loading

Share automoive freak as:

Copy html code above and paste to your web page.

loading