This is not the document you are looking for? Use the search form below to find more!

Report home > Novel

cerita fiksi

2.33 (3 votes)
Document Description
fiksi
File Details
  • Added: November, 25th 2011
  • Reads: 316
  • Downloads: 5
  • File size: 304.33kb
  • Pages: 125
  • Tags: 2, 1
  • content preview
Submitter
  • Name: wiro42
Embed Code:

Add New Comment




Related Documents

cerita fiksi

by: wiro42, 79 pages

fiksi

CANDI JAGO DAN CERITA KUNJARA KARNA DALAM KONTEKS MASAKINI

by: radenka, 60 pages

Indonesia adalahnegara yang terkenalakankekayaansejarahbudayanya, termasukkesenian, kesusastraandankepercayaan agama. Selamaperkembangan Indonesia dalammasaperbakalabanyakbangunan yangberupa Candi ...

SEBUAH KENANGAN

by: kang, 146 pages

Draft novelku yang lama, belum direvisi

Arya Driga and JKT48 in case-48, case #1. bloody library

by: fauzil Shin, 12 pages

part 1, dari kasus-48

Dongeng

by: azestinova, 3 pages

Dongeng anak

mike shinoda

by: Mike, 6 pages

cerita mengenai mike shinoda bro

Seni dan Budaya Politik Jawa

by: hendrik, 88 pages

Bagi orang Jawa, pengaruh kesenian wayang dalam kehidupan nyata sangat besar. Cerita wayang maupun tokoh-tokoh wayang seringkali mengilhami sikap hidupnya, baik dalam kehidupan bermasyarakat, ...

Terminal Cinta Terakhir

by: cipudan, 175 pages

cerita dari desa seberang

PANDANGAN MASYARAKAT GUNUNG KIDUL TERHADAP PELARIAN MAJAPAHIT ...

by: lyyli, 10 pages

Penelitian arkeologis yang dilakukan di wilayah Kecamatan Karangmojo, Playen, dan Ponjong telah mendapatkan suatu data antropologis berupa cerita rakyat yang senan- tiasa berhubungan dengan ...

JASA VIDEO SHOOTING PROMOSI WISATA KULINER, VIDEO SHOOTING PROMOSI MAKANAN. HUBUNGI REKO HANDOYO 085319906869 ; 081932985325 Jakarta http://jasavideoshootingmurah.com

by: abrahamhandoyo, 1 pages

JASA VIDEO SHOOTING PROMOSI WISATA KULINER, VIDEO SHOOTING PROMOSI MAKANAN. HUBUNGI REKO HANDOYO 085319906869 ; 081932985325 Jakarta http://jasavideoshootingmurah.com Tempat wisata menjadi sangat ...

Content Preview




RATU PENGGODA
SILUMAN MUKA
AYU
Oleh Sandro S.

Cetakan pertama, 1990
Penerbit Gultom Agency, Jakarta
Gambar Sampul oleh
oleh: Trias Typesetting


Dilarang mengcopy atau memperbanyak
sebagian atau seliiruh isi buku ini
tanpa izin tertulis dari penerbit



Sandro S.
Serial Pendekar Pedang Siluman
Darah dalam episode:
Ratu Penggoda Siluman Muka Ayu
128 hal; 12 x 18 cm




1

Seorang lelaki tua tampak tengah
duduk bersila, di hadapannya duduk
seorang pemuda. Mereka tampaknya
tengah membicarakan sesuatu hal.
Sesekali nafas lelaki tua itu
memburu, sepertinya dalam hati orang
tua itu ada ganjelan yang memendam.
Pemuda yang duduk di hadapannya tampak
hanya menundukkan muka, tak banyak
bicara.
Sesaat setelah lama terdiam,
lelaki tua itu pun tampak memulai
berkata: "Lima puluh tahun yang lalu,
di kaki gunung Slamet ada sepasang
pendekar suami istri. Keduanya
merupakan pendekar-pendekar kelas
wahid, yang disegani kawan maupun
lawan."
"Hai! Untuk apa Ki Perwana
menceritakan kejadian lima puluh tahun
yang silam? Bukankah aku diundang ke
mari untuk membicarakan sesuatu masa-
lah?" tanya pemuda yang duduk di
hadapan Ki Perwana, yang tersenyum
demi mendengar pertanyaan pemuda itu.
"Benar, Jaka! Sengaja aku men-
ceritakan kejadian lima puluh tahun
yang silam, yang memang ada kaitan nya
dengan apa yang akan kita bicarakan."
Mengerut kening Jaka, demi
mendengar ucapan Ki Perwana. "Untuk
apa?"


Tersenyum Ki Perwana kembali,
mendengar pertanyaan Jaka yang hanya
terbengong-bengong melihat Ki Perwana
tersenyum. Hingga karena tak mengerti
akan apa yang disenyumi Ki Perwana,
Jaka kembali bertanya.
"Kenapa paman tersenyum? Adakah
aku telah membuat sebuah pertanyaan
yang sangat lucu?"
"Tidak begitu, Jaka. Sebenarnya
pertanyaanmu bagus. Aku tersenyum
bukan karena pertanyaanmu. Namun aku
tersenyum melihat kau begitu terkejut
mendengar cerita ku. Perlu kau ingat,
Jaka!"
"Tentang apa itu, Paman?"
"Sebenarnya cerita ku ada kaitan
nya dengan apa yang nantinya akan aku
minta tolong padamu," tandas Ki
Perwana hingga membuat Jaka hanya
manggut-manggut, tanpa banyak berkata-
kata lagi.
Demi melihat Jaka atau Pendekar
Pedang Siluman terdiam, Ki Perwana pun
segera meneruskan ceritanya.
Di sebuah desa yang berada di
kaki gunung Slamet, lima puluh tahun
yang lalu. Tersebut lah
sepasang
pendekar suami-istri. Mereka merupakan
pendekar-pendekar kelas wahid. Dise-
gani baik lawan, maupun kawan. Kedua
suami istri itu mempunyai ilmu kedig-
dayaan yang tinggi. Sang suami bernama
Ki Jagalaya, sedang yang istri bernama


Dewi Kalandasan.
Sudah menjadi kebiasaan semua
pendekar-pendekar persilatan. Kedua
suami istri itu pun, suka mengadakan
petualangan-petualangan guna menambah
pengalaman.
Kedua pendekar suami-istri itu
adalah murid-murid seorang tokoh
persilatan, yang namanya telah kondang
di masa itu. Guru mereka adalah, Ki
Tapak Waringin.
Karena keduanya sukar untuk
dipisahkan, maka Ki Tapak Waringin pun
menjodohkan keduanya, menjadi sepasang
suami istri. Setelah kedua pendekar
itu menyatu, makin bertambah pula
kekuatannya. Dengan senjata yang
mereka miliki, yaitu Tri Sula Sakti
lengkaplah apa yang dimiliki oleh
kedua pendekar itu.
Kecantikan Dewi Kalandasan yang
tiada cacat cela nya, telah mengundang
Tumenggung Tambak Yasa tergila-gila.
Dengan mengutus prajurit-prajuritnya,
Tumenggung Tambak Yasa bermaksud
meminta Dewi Kalandasan dari tangan
Jagalaya untuk dijadikan istrinya.
Hal membuat Jagalaya seakan
diinjak-injak martabat dan harga
dirinya. Maka dengan berani, Jagalaya
menentang tindakan Tumenggung seraya
berkata pada prajurit-prajurit utusan
Tumenggung
"Sampaikan pada Tumenggung mu!


Jangan karena dia menjadi Tumenggung,
lalu hendak semena-mena! Istriku
adalah harga diriku, yang harus aku
pertahankan walau dengan nyawaku!"
Mendengar ucapan Jagalaya yang
dirasa menentang Tumenggung nya. Salah
satu prajurit yang menjadi pimpinan,
marah dan berkata:
"Jagalaya! Tumenggung telah mem-
berikan kehormatan padamu. Tapi rupa-
nya kau malah menghina dan menentang.
Jangan salahkan kalau nantinya ber-
akibat tak baik bagimu!" Habis berkata
begitu, pimpinan prajurit pun segera
mengajak anak buahnya pergi mening-
galkan Jagalaya yang hanya terbengong-
bengong tak mengerti apa yang men-
jadikan Tumenggung hendak berbuat
gila.
Tercenung Jagalaya setelah keper-
gian lima prajurit Ketemenggungan.
Hatinya bimbang, dan bertanya-tanya:
"Mengapa Tumenggung Tambak Yasa hendak
mengambil istriku? Apakah sudah sede-
mikian buruknya watak dan kepribadian
Tumenggung? Kalau memang benar apa
yang akan dikatakan pimpinan prajurit
itu, celakalah aku ini. Tapi masalah
harga diri, apapun resikonya, aku
harus dapat menghalangi niat buruk
Tumenggung gila itu!"
Ketika Jagalaya tengah dilanda
kebimbangan, Dewi Kalandasan istrinya
datang menghampiri sembari bertanya.


"Ada apakah, Kakang? Tampaknya
Kakang tengah memikirkan sesuatu.
Kalau boleh dinda mengetahui, gerangan
apakah yang tengah menjadi buah
pikiran Kakang?"
Tersentak Jagalaya seketika, yang
tak menyangka kalau istrinya telah
hadir di situ dan mengajukan per-
tanyaan secara tiba-tiba. Maka dengan
masih terkejut, Jagalaya segera
menceritakan akan apa yang tengah
dipikirkannya.
"Demikianlah, Di Ajeng! Aku
bingung. Apakah mungkin seorang istri
diberikan pada orang lain?"
Dewi Kalandasan sesaat tercenung
diam, demi mendengar
ucapan sang
suami. Ditatapnya wajah Jagalaya yang
tampak murung. Sesaat kemudian, Dewi
Kalandasan tampak tersenyum.
"Kakang, bolehkah aku berpen-
dapat?"
"Apakah itu, Di Ajeng?" tanya
Jagalaya.
"Kakang Mas Jagalaya, kalau
menurut dinda, maka lebih baik Kakang
mengabulkan permintaan Kanjeng
Tumenggung..."
"Gila! Apa kau tidak berpikir
bagaimana nanti orang-orang persilatan
akan membicarakan dan menjelekkan
namaku! Di mana harga diriku?!" Ter-
sentak Jagalaya mendengar penuturan
dan saran istrinya. Hingga membuat


Jagalaya marah. Merasa saran istrinya,
adalah suatu saran yang makin
menjerumuskan.
Dewi Kalandasan bukannya takut
mendengar bentakan suaminya, bahkan
dengan tersenyum bagaikan tak bersalah
ia kembali berkata.
"Kakang jangan marah dulu.
Dengarkan pendapatku, hingga aku
selesai. Kalau nanti dirasa oleh
Kakang kurang baik, Kakang boleh
menolaknya"
Semarah apapun Jagalaya saat itu,
dirayu dengan senyuman maut Dewi
Kalandasan seketika hilang lah
marahnya dan berubah menjadi senyum
yang mengulas di bibir.
"Maafkan Kakang, Di Ajeng! Kakang
marah karena terlalu cintanya pada Di
Ajeng. Kakang takut Di Ajeng pergi
meninggalkan Kakang. Apalah jadinya
kalau Di Ajeng meninggalkan Kakang,
yang sangat mencintai dan mengasihi Di
Ajeng. Sekarang katakanlah, apa yang
menjadi saran Di Ajeng."
Makin melebar senyum di bibir
Dewi Kalandasan, mendengar ucapan sang
suami. Dengan melendotkan badan pada
tubuh suaminya, Dewi Kalandasan
kembali berkata:
"Kakang mas! Kalau Kakang mas
menghendaki perubahan status, maka
hendaklah Kakang mas mau mengabulkan
permintaan Tumenggung."


Terbelalak mata Jagalaya, demi
mendengar ucapan istrinya. Hampir saja
ia bangkit dari duduknya, kalau saja
sang istri tidak segera mencegah.
"Tenang dulu, Kakang. Bukankah
dinda belum selesai bicara?"
"Tapi apa yang menjadi saran Di
Ajeng itu, bagi Kakang merupakan
tindakan gila! Bagaimana mungkin!
Kalau Di Ajeng Kakang serahkan pada
Tumenggung, apalah akibat yang akan
Kakang terima. Bagaimana pula tang-
gapan dari tokoh-tokoh persilatan,
juga tanggapan dari guru? Semua akan
akan menyalahkan Kakang yang tak mampu
mempertahankan kewajibannya. Semua
akan menganggap Kakang terlalu
mengalah pada penguasa. Tidak, Di
Ajeng!"
Kemarahan Jagalaya bukannya men-
jadikan Dewi Kalandasan takut, maupun
mengalah. Bahkan dengan tersenyum-
senyum, Dewi Kalandasan kembali
berkata:
"Kakang, aku tahu perasaan
Kakang. Seperti juga perasaanku pada
Kakang. Aku merasa takut kehilangan
Kakang. Namun, saran ku itu hanya
bersifat sementara. Apabila kita telah
dapat mengambil hati Tumenggung, maka
kita akan mudah untuk mempengaruhinya.
Aku bermaksud agar Kakang nantinya
dapat menguasai Ketemenggungan. Bu-
kankah itu akan menjadikan kehormatan


bagi kita, Kakang?"
Terdiam Jagalaya mendengar kata-
kata istrinya. Pikirannya seketika
terbang melayang, bertanya-tanya dan
menimbang-nimbang. Setelah sesaat
terdiam, Jagalaya tampak tersenyum.
"Hm... Kau pintar Di Ajeng. Tapi
apakah hal itu akan mudah kita
laksanakan? Tidakkah kau berpikir apa
akibatnya? Aku takut nanti kita
sendiri yang susah."
"Menurut Kakang?"
Ditariknya nafas panjang-panjang
oleh Jagalaya, sebelum dia kembali
berkata menerangkan.
"Di Ajeng, memang kita nanti
mampu menguasai Ketemenggungan. Namun,
apakah massa tidak akan menilai kita?
Apakah semudah itu kita menutup
telinga? Susah Di Ajeng."
Dewi Kalandasan tersenyum kem-
bali, bukan memikir mendengar ucapan
suaminya. Sepertinya ucapan sang
suami, hanyalah kata-kata kiasan yang
tak ada arti sama sekali. Sepertinya
ia telah memprogram apa yang bakalan
terjadi. Maka dengan masih bergayut di
pundak sang suami, Dewi Kalandasan
kembali berkata:
"Kakang, bagiku hal itu mudah."
"Mudah...? Bagaimana kau bisa
bilang mudah, Di Ajeng?" tanya
Jagalaya mengernyitkan dahi, tak
memahami kata-kata yang diucapkan oleh

Download
cerita fiksi

 

 

Your download will begin in a moment.
If it doesn't, click here to try again.

Share cerita fiksi to:

Insert your wordpress URL:

example:

http://myblog.wordpress.com/
or
http://myblog.com/

Share cerita fiksi as:

From:

To:

Share cerita fiksi.

Enter two words as shown below. If you cannot read the words, click the refresh icon.

loading

Share cerita fiksi as:

Copy html code above and paste to your web page.

loading