This is not the document you are looking for? Use the search form below to find more!

Report home > Others

DAMPAK PARIWISATA TERHADAP

5.00 (1 votes)
Document Description
statue work of art produced by artists at the village of Silakarang is traditional work of art this is raised as a problem highlighting the existence and impact of traditional statue work of art produced by statue artists in the village of Silakarang. The aims of this study are to see the development traditional statue work of art and its existence if compared with modern statue. This study took twenty kinds consisting for sample of 10 traditional statue and 10 modern statue and 30 respondent of stone carver who were divided into three groups, group A,B, and C. They were all used as sample using " Purposive Sampling". Data collection used observation technique, interview, documentation, and library research. The study employed descriptive analysis, that is, analysis technique analyzing the existence of traditional status work of art in four aspects: form, function, significance and marketing and analysis with impact; esthetic, social and culture, economic, and environmental.
File Details
  • Added: October, 22nd 2010
  • Reads: 767
  • Downloads: 10
  • File size: 130.43kb
  • Pages: 9
  • Tags: traditional, statue, work of art, tourism
  • content preview
Submitter
  • Name: florus
Embed Code:

Add New Comment




Related Documents

PENGUJIAN EKSTRAK BAWANG PUTIH ( Allium sativum Linn.) TERHADAP ...

by: theo, 12 pages

Di Asia, terung ( Solanum melongena Linn.) merupakan sayuran penting dengan produksi lebih dari 86 % dari total produksi dunia. Produksi terung di Indonesia masih tergolong rendah. Berdasarkan data ...

Kemiskinan dan desentralisasi di Kutai Barat: dampak otonomi ...

by: shayan, 60 pages

Sebagai bagian tak terpisahkan dari proyek CIFOR-BMZ Making Local Government More Responsive to the Poor: Developing Indicators and Tools to Support Sustainable Livelihood under Decentralisation ...

ANALISIS SWOT TERHADAP SIX SIGMA UNTUK PENENTUAN STRATEGI MASA DEPAN

by: mako, 10 pages

Sejak Motorola pertama kali mengembangkan program kualitas bernama Six Sigma di tahun 1988, telah banyak literatur dan artikel yang bermunculan berkaitan dengan penerapan dan keberhasilan Six Sigma ...

HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI ANAK TERHADAP POLA ASUH ORANG TUA DENGAN ...

by: ashton, 91 pages

Belajar sangat diperlukan bagi setiap individu, terutama bagi seorang anak karena dengan belajar anak akan memperoleh pengetahuan mengenai apa yang ia pelajari. Motivasi dapat dikatakan sebagai ...

PENGARUH MUSIK TERHADAP PERKEMBANGAN KECERDASAN EMOSI ANAK USIA TK ...

by: lantos, 42 pages

Musik merupakan suatu kebutuhan pokok bagi setiap manusia, karena musik dapat menjadikan orang merasa senang, gembira dan nyaman. Musik bisa menjadi efektif di bidang akademis dengan membantu ...

PDRB Hijau Karangasem_oke

by: franciszka, 81 pages

Peran Sektor Kehutanan Indonesia merupakan negara yang memiliki hutan terluas nomor 3 (tiga) di dunia setelah Brazil dan Kongo. Pada tahun 1977 luas tutupan hutan Indonesia diperkirakan sekitar 100 ...

DAMPAK PERILAKU PENGGUNAAN MINUMAN KERAS DI KALANGAN REMAJA DI ...

by: ermenegilda, 11 pages

odernisasi yang dikatakan sebagai tonggak awal kemajuan zaman telah memberikan pengaruh dan dampak kemanusiaan yang luar biasa pada abad kedua puluh ini. Modernisasi juga membawa dampak perubahan ...

Bisnis Gaharu dan Dampaknya Terhadap Kehidupan Orang Awyu dan ...

by: florus, 77 pages

Sudah banyak perlawanan orang Awyu dan Wiyagar terhadap aktivitas bisnis Gaharu. Gaharu yang mestinya mendatangkan keuntungan namun ternyata membawa bencana kehancuran tatanan hidup bermasyarakat. ...

I PENGARUH KELUARGA TERHADAP KENAKALAN ANAK

by: ville, 8 pages

Kedudukan dan fungsi suatu keluarga dalam kehidupan manusia bersifat primer dan fundamental. Keluarga pada hakekatnya merupakan wadah pembentukan masing-masing anggotanya, terutama anak-anak yang ...

DIMENSI ETIS TERHADAP BUDAYA MAKAN DAN DAMPAKNYA PADA MASYARAKAT

by: monika, 6 pages

Penelitian ini membahas tentang dimensi etis (etika makanan/ food ethics) terhadap pola perilaku makan yang muncul dalam kehidupan sehari-hari. Pola makan seseorang ternyata dibentuk dari latar ...

Content Preview
DAMPAK PARIWISATA TERHADAP
SENI PATUNG TRADISIONAL
DI DESA SILAKARANG
I Wayan Mudana
Abstract: statue work of art produced by artists at the village of Silakarang is traditional
work of art this is raised as a problem highlighting the existence and impact of traditional
statue work of art produced by statue artists in the village of Silakarang. The aims of this
study are to see the development traditional statue work of art and its existence if compared
with modern statue. This study took twenty kinds consisting for sample of 10 traditional
statue and 10 modern statue and 30 respondent of stone carver who were divided into three
groups, group A,B, and C. They were all used as sample using “ Purposive Sampling”. Data
collection used observation technique, interview, documentation, and library research. The
study employed descriptive analysis, that is, analysis technique analyzing the existence of
traditional status work of art in four aspects: form, function, significance and marketing and
analysis with impact; esthetic, social and culture, economic, and environmental.
Keywords: Traditional statue work o1' art and tourism.
Pengaruh pariwisata terhadap sosial budaya masyarakat Bali dapat dilihat dari berbagai
kreativitas seni yang dilakukan oleh masyarakat, sistem organisasi kemasyarakatan yang
dijalankan, serta karakteristik atau prilaku masyarakat Bali yang merupakan unsur utama ke
Baliannya. Dari unsur seni budaya, pariwisata dapat mendorong masyarakat untuk menghidupkan
kembali seni kebudayan asli yang sudah hampir terlupakan, dapat menggairahkan perkembangan
kebudayaan asli, serta dapat menumbuhkan kreativitas seni masyarakat yang dapat memperkaya
kasanah budaya Bali. Namun disayangkan kebanyakan motivasi mereka lebih pada
komersialisasi, sehingga sering mengakibatkan terjadinya provanisasi benda-benda seni yang
bersifat sakral dan tempat suci yang sering mendapatkan sorotan masyarakat banyak. Dari aspek
keorganisasian, pariwisata dapat memperkokoh organisasi tradisional seperti banjar, desa
pakraman, subak yang merupakan identitas masyarakat Bali yang menjadi salah satu daya tarik
wisatawan. Sedangkan dari aspek prilaku dan pola hidup yang sering digunakan sebagai tolak
ukur untuk menilai kebaliannya masyarakat Bali sudah adanya tedensi pergeseran, namun secara
umum masyarakat Bali masih bisa mempertahankan karakteristik prilaku sebagai masyarakat
Bali.
Khusus mengenai eksistensi seni budaya yang merupakan hasil karya masyarakat Bali asli
yang belum dipengaruhi budaya asing (luar) yang sering diidentifikasikan sebagai budaya
tradisional yang mencerminkan identitas warna lokal (budaya lokal) Dalam melihat pengaruh
pariwisata terhadap budaya lokal maka dalam penelitian ini akan diteliti tentang salah satu unsur
seni budaya yang berupa karya seni patung yang dihasilkan oleh masyarakat Desa Silakarang,
Singapadu Kaler, Sukawati, Gianyar. Lokasi ini merupakan jalur pariwisata yang sering dilewati
bahkan dikunjungi oleh wisatawan yang membeli dan memesan patung. Sering sekali patung
yang dipesan oleh wisatawan sesuai dengan desain yang mereka kehendaki, sehingga eksistensi
patung tradisional terancam perkembangannya bahkan dikwatirkan terancam kepunahannya.
Apalagi dengan berkembangnya kunjungan wisatawan dari berbagai belahan dunia yang
memungkinkan banyak ide atau desain-desain yang bervaraiasi yang mengapresiasi patung
tradisional. Sehingga patung yang dihasilkan tidak lagi memberikan warna lokal asli daerah Bali,
tetapi lebih pada dominasi budaya wisatawan terhadap budaya lokal.

Penelitian yang dilakukan ini bersifat deskriptif dan komperatif, yaitu penelitian yang
menjelaskan suatu fenomena dan membandingkan antara satu fenomena dengan fenomena
lainnya. Dalam penelitian ini akan menjelaskan tentang eksistensi seni patung tradisional akibat
adanya pengaruh pariwisata, dan membandingkan antara pendapatan yang diterima oleh
masyarakat dari pembuatan patung tradisional (warna lokal) dengan pendapatan yang diterima
dari pembuatan patung modern.
Penelitian ini dilakukan di Desa Silakarang yang merupakan jalur menuju kawasan
pariwisata Ubud dan mulai dilakukan dari bulan Oktober 2005 sampai bulan Februari 2006.
Alasan pengambilan lokasi ini, karena di Desa Silakarang yang 90% masyarakatnya sebagai
pematung batu padas dan merupakan daerah pematung pertama di daerah Gianyar, yang sering
disebut sebagai sentral seni patung batu padas. Karya-karya seni patung yang dibuat di Silakarang
dianggap bisa mewakili eksistensi seni patung tradisional kalau dilihat dari aspek bentuk, fungsi
dana makna, dan dampak pariwisata dilihat dari aspek estetik, sosial budaya, ekonomi, dan
lingkungan. Sebagai jalur wisata yang banyak dilewati oleh para wisatawan, transaksi bisnis
antara para wisatawan dengan para pengusaha sangat besar pengaruh pariwisata terhadap
eksistensi budaya lokal khusunya seni patung tradisional.
TINJAUAN PUSTAKA
Pariwisata
Spillane (1987:21) menyatakan: pariwisata adalah perjalanan dari satu tempat ke tempat
lain, bersifat sementara, dilakukan perorangan maupun kelompok, sebagai usaha mencari
keseimbangan atau keserasian dan kebahagiaan dengan lingkungan hidup dalam dimensi sosial,
budaya, alam, dan ilmu.
Pariwisata berarti perpindahan orang yang bersifat sementara ke suatu daerah di luar
tempat tinggalnya dan tempat kerjanya sehari-hari, aktifitas yang berlangsung selama mereka
tinggal di tempat tujuan dan fasilitas yang dibuat untuk memenuhi kebutuhannya.
Sedangkan jenis pariwisata ditentukan menurut motif tujuan perjalanan, sehingga pariwsata
dapat digolongkan menjadi 6 jenis (Spillane,op.cit.p.28-31), yaitu:
1) Pariwisata untuk Menikmati Perjalanan (Pleasure Tourism)
Tujuan perjalanan ini adalah untuk berlibur, mencari udara segar, mengendorkan ketegangan
syarafnya, melihat sesuatu yang baru, menikmati keindahan alam, mengetahui hikayat rakyat
setempat, mendapatkan ketenangan dan kedamaian di luar kota maupun menikmati hiburan
di kota-kota besar.
2) Pariwisata untuk Rekreasi (Recreation Tourism)
Dilakukan oleh orang dengan tujuan untuk beristirahat, memulihkan kesegaran jasmani dan
rohaninya, yang biasanya mereka tinggal di daerah pantai, pegunungan, dan pusat-pusat
peristirahatan atau kesehatan dan tinggal lebih lama.
3) Pariwisata untuk Kebudayaan (Cultural Tourism)
Tujuannya untuk belajar di pusat-pusat pengajaran dan riset, mempelajari adat-istiadat dan
cara hidup negara lain, mengunjungi monumen dan peninggalan bersejarah, pusat-pusat
kesenian, keagamaan, serta ikut dalam festival-festival seni musik, teater, tarian rakyat.
4) Pariwisata untuk Olah Raga (Sports Tourism). Jenis ini dibagi dua, yaitu:
Big Sports Events, yaitu peristiwa olah raga besar seperti: Olympiade Game, dan kejuaraan
dunia lainnya. Sporting Tourism of the Practitioners, berupa latihan olah raga, berburu,
memancing, mendaki gunung.
5) Pariwisata untuk Urusan Usaha Dagang (Business Tourism)
Jenis ini sering disebut sebagai Profesional Travel atau perjalanan yang ada kaiatannya
dengan pekerjaan atau usaha dagang.
6) Pariwisata untuk Berkonvensi (Convention Tourism)

Tujuannya untuk mengikuti berbagai konvensi atau konferensi baik bersifat nasional maupun
bertaraf internasional (MICE).
Seni Patung
Seni patung merupakan suatu pernyataan pengalaman artistik lewat bentuk-bentuk tiga
dimensional. Menurut Suandi (1999:32): seni patung adalah sebagai suatu seni perencanaan dan
pengkonstruksian bentuk-bentuk tri matra dengan sifat-sifat sebagai berikut: a) Menggambarkan
obyek sebenarnya atau khayal, b) Menyajikan sebuah rancangan bentuk tri matra, dan c)
Mensugestikan berjenis gagasan, perasaan, dan pengalaman lain.
Untuk mengekpresikan apa yang terkandung di dalam jiwa seniman sampai terwujud suatu
karya seni patung adalah melalui proses kejiwaan yang disadari atas pengalaman, intelektual,
daya imajinasi, daya kreativitas yang tinggi, dan beberapa faktor yang lain, seperti faktor internal
dan eksternal seniman. Faktor internal menyangkut bakat dan kemampuan seniman terhadap
apresiasi dan teknik, sedangkan faktor eksternal menyangkut tentang pengalaman serta
lingkungan yang mendukung (kepercayaan dan spiritual).
Kondisi Desa Silakarang
Desa Silakarang termasuk wilayah Singapadu Kaler, Kecamatan Sukawati, kabupaten
Gianyar, Propinsi Bali, terletak di sebelah barat kabupaten Gianyar dengan batas-batas: di sebelah
penghujung utara Desa Singakerta (kecamatan Ubud), di sebelah barat Desa Mambal (kecamatan
Abiansemal, Badung), sebelah selatan Desa Singapadu Tengah (kecamatan Sukawati Gianyar),
sebelah timur Desa Lodtunduh (kecamatan Ubud, kabupaten Gianyar). Secara geografis, desa
Silakarang; merupakan dataran rendah dengan ketinggian 250 sampai 300 meter di atas
permukaan air laut dan panas suhu 24 sampai 33 derajat celcius. Luas wilayah 3.000 meter
persegi (monografi desa Silakarang 1998).
Berdasarkan data statistik tahun 1998 penduduk desa Silakarang adalah 331 KK dengan
jumlah penduduk 1.324 yang mata pencahariannya sangat beragam.
Tabe1 1. Komposisi Mata Pencaharian Penduduk Silakarang
1
Bertani
10
2
Pematung ukir
662
3
PNS/ABRI
52
4
Dagang
101
5
Buruh
489

Jumlah
1324
Sumber Data: Catatan kependudukan Banjar adat Silakarang
Berdasarkan atas uraian tersebut, Desa Silakarang berpotensi untuk dikembangkan
sebagai salah satu sentra industri yang bergerak dalam sektor seni dan kerajinan. Sebagian besar
penduduknya memilih mata pencaharian mematung/ukir sehingga untuk kedepannya dapat
dijadikan andalan untuk menopang kehidupan masyarakat. Industri ini juga dapat dijadikan suatu
pembinaan dalam menyongsong pasar bebas yang banyak dikunjungi pembeli dunia karena
sebagai rekanan bisnis (manca negara) yang memiliki disain diproduksi di Silakarang sehingga
terjadi akulturasi pemikiran seni antara pemahaman terhadap seniman lokal dengan karya seni
tradisinya dengan orang asing tentang kebebasan berekpresi.
Pemasaran Karya Seni Patung

Tabel 2. Produksi Patung Tradisional dan Patung Modern Tahun 2005
1
Patung Brahma
Patung Ikan
400
1.460
2
Patung Wisnu
Patung Kura kura
440
1.456
3
Patung Hanoman Patung Kodok
400
2.904
4
Patung Ganesia
Patung Gajah
588
732
5
Patung Twalen
Patung Torso
208
312
6
Patung Wredah
Dewi Tara
216
396
7
Patung Singa
Patung Buda
448
1.448
8
Patung Dedari
Patung abstrak
204
150
9
P Buta nawasari
Patung Mengantuk
424
2.896
10
P Naniswara
Patung Melamun
456_
2.908
J u m 1 a h
3.784
14.662
Komposisi ( %)
20,51
79,49
Sumber data: Pengusaha Patung di Silakarang
Pemasaran karya seni patung yang tejadi di Desa Silakarang tidak sepenuhnya dibeli oleh
wisatawan, namun banyak pembeli domestik, bahkan ada orang Bali. Patung yang dibeli oleh
para wisatawan kebanyakan adalah patung modern, namun ada juga yang membeli patung
tradisional. Penjualan patung yang terjadi sangat mempengaruhi besarnya tingkat produksi yang
dihasilkan oleh para pematung dari banjar Silakarang. Untuk itu di sini akan disajikan produksi
antara patung tradisional dengan patung modern yang dihasilkan oleh para pengusaha patung di
banjar Silakarang. Besarnya perbandingan jumlah patung tradisonal dengan patung modern dapat
dilihat dari bagaimana posisi produksi patung tradisional dengan patung modern dengan adanya
perkembangan pariwisata.
Dari tabel di atas dapat dijelaskan bahwa produksi patung tradisional hanya sebesar
20,51% dari produksi total patung dan produksi patung modern sebesar 79,49%. Ini berarti
produksi patung modern lebih besar dari produksi patung tradisional, namun produksi patung
tradisional masih cukup besar peluang pasarannya.
DAMPAK PARIWISATA TERHADAP KARYA SENI PATUNG
Pariwisata membawa perubahan yang sangat besar terhadap perkembangan karya seni
patung di Desa Silakarang, serta memiliki dampak yang sangat luas terhadap tatanan dan nilai
dalam berkarya seni. Perubahan tersebut dapat sebagai pendorong ke arah perkembangan,
pemeliharaan, pelestarian bahkan resiko terhadap lingkungan sosial maupun lingkungan alam.
Adaptasi masyarakat lokal dengan wisatawan selain memiliki latar belakang ketertarikan
terhadap, pandangan hidup (Agama Hindu), adat istiadat, kepercayaan, dan juga dilatar belakangi
oleh ketertarikan atas produksi seni dan kerajinan (seni patung). Para seniman sangat adaptip
terhadap ide-ide yang dibawa wisatawan dalam usaha menciptakan disain patung baru.
Wisatawan juga sangat menghargai karya seni patung tradisional sebagai identitas warna lokal
yang harus dijaga dan dikembangkan, dengan memasukan inovasi-inovasi baru. Dari akulturasi
pemahaman terhadap ide dengan kultur berbeda berbeda, muncullah ide-ide kreatif, selain untuk
memenuhi kebutuhan lokal juga untuk memenuhi kebutuhan wisatawan.
Dari aspek sosial budaya; Dengan tidak mengurangi makna positif dari pariwisata, harus
diakui pariwisata menimbulkan konflik kepentingan antara pelestarian dan pengembangan

terhadap produk lokal. Melihat perkembangan patung di Silakarang dari generasi ke generasi
terus meningkat, disain dan produk semakin bertambah besar dengan kualitas mutu meningkat.
Sehingga komoditas para seniman dengan karya seni patungnya berkembang menjadi suatu
bagian dari industri pariwisata yang memberikan kepuasan atas barang dan jasa. Untuk menjaga
eksistensi dan mencermati dampak yang mempengaruhi seniman dalam berkreatifitas lebih maju,
dapat bersaing, hak cipta para seniman harus mendapat perlindungan dari pemerintah. Sumber-
sumber yang menyebabkan persaingan itu yaitu: a) perebutan sumber daya; dengan menguasai
sumber daya baik itu merupakan sumber daya alam, manusia maupun teknologi secara tidak
langsung sudah dapat memenangkan persaingan, b) perluasan batas-batas sosial budaya,
persaingan bisa muncul dalam kehidupan majemuk karena perbedaan tradisi, bahasa, hukum, dan
identitas sosial dapat menyatu dalam kepentingan politik, c) benturan kepentingan politik,
idiologi dan agama.
Aspek ekonomi, berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan psikologis berupa: sandang,
pangan, papan, dan kebutuhan mewah serta berkaitan dengan kebutuhan yang bersifat intrinsik
yaitu: kepuasan, kesenangan, kedamaian. Dengan adanya kedua kebutuhan tersebut, dalam idustri
pariwisata yang memiliki kekuatan ekonomi mampu mengendalikan para seniman dan para
pemilik kios-kios seni, untuk membuat disain-disain baru sesuai dengan kebutuhan pasar. Disatu
sisi pesanan/orderan wisatawan sangat dibutuhkan karena memiliki potensi menghasilkan
pendapatan untuk menopang kebutuhan hidup. Dalam posisi tidak berdaya para pematung
menjadi sangat bergantung pada wisatawan dan mau mengerjakan apa saja yang menjadi
kebutuhan pasar yang dikehendaki wisatawan. Sehingga terjadilah provanisasi untuk dijadikan
model dalam industri, sehingga lahirlah produksi masal sebagai cerminan budaya populer.
Sedangkan dari aspek lingkungan; berkaitan dengan kebersihan, keselamatan lingkungan, dan
pembangunan berkelanjutan.
Dampak Pariwisata terhadap seni patung di Silakarang:
1. Aspek Estetis
Dengan adanya pariwisata, karya seni patung di Desa Silakarang mengalami
perkembangan sangat pesat, bila dilihat dari jumlah penjualan, pemasaran, upah/pendapatan, dan
kreasi disain. Identitas disain lokal yang mengangkat tema-tema lokal berkaitan dengan simbolik,
memiliki pangsa pasar lokal, sehingga produk karya seni patung tradisional perkembangannya
sangat terbatas. Sedangkan disain seni patung yang dikonsumsi oleh pariwisata dikembangkan
dengan mengadopsi ide-ide dari wisatawan yang memiliki latar belakang berbeda dari berbagai
negara. Akulturasi warna lokal dengan budaya pariwisata melahirkan karya seni patung yang
bersifat universal, dapat mewakili dari berbagai keinginan masyarakat dunia.
Para seniman dalam berkreasi, menciptakan produk seni patung untuk memenuhi keinginan
wisatawan sebagai wujud jual beli (komersial) dan melestarikan nilai-nilai tradisional adalah
merupakan tantangan baru, harus dicermati dari urgensitasnya. Sehingga dampak estetik wujud
karya seni patung tradisional dalam kaitannya dengan pariwisata, dikatakan sebagai berikut:
Dampak positif dari pariwisata terhadap estetika karya seni patung yang berkembang di
Desa Silakarang
a) Dapat memahami kebutuhan estetis wisatawan dari berbagai negara yang memiliki kultur
berbeda terhadap produk karya seni patung. Sebab setiap negara memiliki panatisme dan
identitas terhadap karya seni.
b) Semakin meningkatnya keragaman dari disain-disain patung, serta berkembangnya
pengetahuan tentang motif untuk menunjang keindahan. Sehingga wisatawan memiliki
alternatip pilihan yang lebih banyak sesuai dengan selera kebutuhan.
e) Memacu semangat untuk berinovasi dan berkreatifitas untuk melahirkan produk-produk seni
patung baru, untuk selalu eksis, berkelanjutan dapat memenuhi kebutuhan wisatawan akan
disain dari berbagai musim.

f) Untuk memperlihatkan identitas, kepribadian terhadap karya-karya yang diperkenalkan pada
wisatawan. Identitas seseorang tercermin pada karyanya. Karya karya yang memiliki
identitas serta kualitas seni memadai akan menjadi incaran para pembeli.
Sedangkan dampak negatif dari estetika karya seni patung tradisional di Desa Silakarang
a) Semakin ditinggalkannya pakem-pakem dalam bentuk patung tradisional (warna lokal)
seperti: komposisi, proporsi, tata rias/busana. Membuat komposisi dalam seni patung
tradisional merupakan proses awal pembentukan yang diawali dari nyalonan dan ngetekung
untuk memproleh yang harmonis dan seimbang. Proporsi, berkaitan dengan kegunaan patung
yang terdiri dari: Lanjar ditempatkan pada tempat ketinggian, Nyepek ditempatkan pada
tempat yang ideal, dan Rentet untuk melahirkan bentuk patung yang disharmonis.
b) Komersialisasi membawa perubahan terhadap mental seniman, yang lebih mengejar
keuntungan ekonomi.
c) Penyederhanaan bentuk untuk mempercepat proses pengerjaan, mengurangi nilai estetis dari
kaya seni patung.
d) Keindahan sudah diukur dengan uang (budaya hidonisme). Uang memiliki kendali yang
sangat besar, sehingga karya-karya yang dikerjakan secara berkelompok sulit untuk
mendapatkan hasil maksimal.
2. Aspek Sosial-Budaya
Dalam teori evolusionisme multilinier mengemukan bahwa proses perkembangan berbagai
kebudayaan itu memperlihatkan adanya beberapa proses perkembangan yang sejajar. Kesejajaran
itu terutama nampak pada unsur yang primer sedangkan unsur kebudayaan yang sekunder tidak
nampak perkembangan yang sejajar dan hanya nampak perkembangan yang khas. Proses
perkembanan yang tampak sejajar mengenai beberapa unsur kebudayaan primer disebabkan oleh
karena lingkungan tertentu memaksa terjadinya perkembangan ke arah tertentu.
Adapun dampak positif yang disumbangkan baik yang berupa manfaat maupun keuntungan
yang diperoleh atau dirasakan oleh masyarakat Silakarang serta perubahan yang bersiilat positif
yang terjadi akibat adanya perkembangan pariwisata yang meliputi:
a) Dapat memacu motivasi kreativitas seni para pematung untuk berkarya lebih inovatif dan
lebih variatif sesuai dengan kebutuhan pariwisata dan meningkatnya persaingan bisnis.
b) Meningkatkan keterampilan dan pengetahuan para pematung tentang karya seni patung
khususnya dan karya seni lainnya, walaupun masih sedikit yang mengatakan yaitu sebesar
16,67%
c) Meningkatkan desiplin kerja para pematung terutama betul betul memanfaatkan jam kerja
sepenuhnya dalam rangka memenuhi pesanan wisatawan, supaya tidak kehilangan
kepercayaan.
d) Dapat mengetahui budaya dari berbagai negara terutama melalui berbagai pesanan karya seni
di luar karya seni patung tradisional yang dikerjakan oleh pematung seperti membuat
bentuk-bentuk karya seni abstrak yang berupa patung dari batu padas dan batu putih .
f) Dapat meningkatkan kualitas yadnya yang dilakukan di pura Kahyangan terutama dari
tingkatan upacara yang dilakukan tanpa adanya perasaan yang terbebani oleh banyaknya
iuran yang dikeluarkan oleh masyarakat.
g) Dapat meningkatkan jumlah masyarakat yang terjun ke sektor seni umumnya dan seni
patung khususnya, sehingga menjadikan masyarakat Silakarang secara mayoritas sebagai
masyarakat seni patung terutama para lelakinya.
h) Dapat melestarikan budaya bangunan tradisional yang adi luhung, karena sebagian besar
bangunan masyarakat yang ada di banjar Silakarang menggunakan gaya bangunan stil Bali
yang dihiasi dengan patung tradisional sebagai ornamennya.

Sedangkan dampak negatif yang diakibatkan dengan adanya perkembangan pariwisata
yang terjadi di Silakarang baik yang berupa kerugian maupun perubahan yang tidak diharapkan
dapat berupa:
a) Berkurangnya minat generasi muda di Silakarang untuk menjadi petani, karena
masyarakatnya sebagian besar (hampir semuanya) beralih profesi dari petani menjadi
masyarakat seni atau terjun ke profesi seni, sehingga tidak dapat melestarikan budaya
subak yang merupakan budaya Bali yang sudah terkenal ke manca negara.
b) Munculnya budaya (pola hidup) konsumtif, atau terjadinya perubahan pola hidup dari pola
hidup sederhana menjadi pola hidup konsumtif, di mana masyarakatnya hampir semua
menerapkan pola hidup mewah dan pola hidup instan dalam mengejar prestise.
c) Berkurangnya sifat kebersamaan karena adanya pengaruh budaya barat terutama tuntutan
dari pengerjaan patung modern yang lebih bersifat individual tidak seperti dalam
pengerjaan patung tradisional yang lebih bersifat komunal atau secara berkelompok.
d) Berkurangnya motivasi masyarakat untuk melanjutkan sekolah lebih tinggi karena
masyarakatnya sudah menikmati hasil dari karya seni patung yang dianggap lebih banyak
apabila dibandingkan dengan menjadi pegawai negeri.
e) Hilangnya batas penyengker(telajakan/sampih) rumah yang telah dijadikan stand untuk
penjualan patung, bahkan fungsi rumah sudah dijadikan tempat untuk memajangkan
patung, sehingga tidak lagi mengikuti ketentuan sikut satak atau sudah bertentangan
dengan konsep tri hita karana.
3. Aspek Ekonomi
Dampak positif dari perkembangan pariwisata yang berupa manfaat atau keuntungan yang
diperoleh atau dirasakan oleh masyarakat Silakarang serta perubahan yang bersifat positif yang
terjadi di banjar Silakarang, yang meliputi:
a) Meningkatkan pendapatan para pematung dari berbagai kelas pematung, di mana pendapatan
yang mereka terima lebih besar apabila mengerjakan patung modern dibandingkan dengan
mengerjakan patung tradisional.
b) Dapat menyediakan lapangan kerja baik secara sektoral maupun secara menyeluruh bagi
banjar Silakarang.
c) Memacu tumbuhnya interpreneuship (jiwa kewirausahaan) bagi para pematung khususnya
dan masyarakat Silakarang umumnya, walaupun pola bisnis tradisional.
d) Memacu munculnya usaha di sektor lain yang dapat menyediakan fasilitas baik kepada
pengusaha patung maupun kepada pematung itu sendiri, dimana salah satu contohnya akan
muncul usaha perbankan yang berupa BPR (Bank Perkreditan Rakyat), melihat banyaknya
kebutuhan dana yang diperlukan oleh para pengusaha patung terutama untuk melakukan
pembelian bahan dan pembayaran upah para pematung.
e) Meningkatnya harga dan sewa tanah terutama di pinggir jalan, sehingga dapat memberikan
keuntungan bagi masyarakat yang tidak memiliki kemampuan untuk membuka usaha
terutama secara finansial, sehingga dapat memacu perkembangan ekonomi pedesaan.
Sedangkan dampak negatif yang diakibatkan dengan adanya perkembangan pariwisata
yang terjadi di Silakarang baik yang berupa kerugian maupun perubahan yang tidak diharapkan
dapat berupa:
a) Terjadinya over supply (kelebihan penawaran) patung, karena masyarakat banyak yang
beralih profesi dari petani ke pematung, disamping adanya penawaran patung dari jawa yang
sangat banyak.
b) Ada kecendrungan meningkatnya biaya hidup masyarakat Silakarang karena adanya
perubahan gaya hidup, sehingga akan dapat mengurangi kebiasaan untuk menabung.
c) Kalau terjadi penurunan pariwisata yang tajam terutama pesanan dari wisatawan berkurang
akan menyebabkan masyarakat Silakarang kehilangan kesempatan untuk mendapatkan

pendapatan, sehingga masyarakat Silakarang akan mengalami kelaparan atau minimal harus
berutang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
d) Pendapatan para pematung sangat berfluktuasi, karena harga patung tergantung dari
perkembangan pariwisata. Di mana pada saat tamu ramai atau pesanan banyak harga patung
meningkat.
4.Aspek Lingkungan
Dampak positif dari perkembangan pariwisata yang berupa perubahan lingkungan yang
lebih baik dan yang lebih bermanfaat yang dirasakan oleh masyarakat Silakarang serta perubahan
yang berisfat positif yang terjadi di banjar Silakarang, yang meliputi:
a) Terjadi perubahan muka jalan di sepanjang Desa Silakarang dari tembok penyengker menjadi
bengkel-bengkel karya seni yang sekaligus sebagai halaman seni (art gellery) patung yang
menunjukkan betapa indahnya muka jalan di sepanjang desa Silakarang.
b) Kebersihan lingkungan di sepanjang jalan raya terjaga sepanjang hari dari sampah, walaupun
ada kreativitas seni yang dilakukan disamping atau di belakang gallery tersebut, namun tidak
terkesan kumuh. Bahkan justru dapat menarik wisatawan untuk menyaksikan kreativitas seni
tersebut secara langsung.
Sedangkan dampak negatif yang diakibatkan dengan adanya perkembangan pariwisata
yang terjadi di banjar Silakarang baik yang berupa kerugian maupun perubahan kondisi
lingkungan yang tidak diharapkan dapat berupa:
a) Ekplotasi tebing untuk mendapatkan material patung (batu padas) yang berlebihan akan
merusak lingkungan dan rawan bahaya longsor. Sisa-sisa bahan batu padas sering jatuh ke
saluran air, dan saluran air yang ada di muka gallery ditutup dengan plat atau dengan trotoar,
sehingga saluran air itu dangkal, menyebabkan pada musim hujan terjadi kebanjiran di jalan
raya, walaupun tidak terlalu lama. Namun hal ini tetap menjadi pemandangan yang tidak
higienis dan kurang asri, selain akan menimbulkan kemacetan lalu lintas. Banyaknya lahan
persawahan terutama di pinggir jalan berubah fungsi menjadi gallery menyebabkan paru-
paru desa di banjar Silakarang berkurang.
b) Berbaurnya rumah dengan gallery, sehingga tidak nampak jelas batas rumah dengan gallery.
Ini berarti penanataan lingkungan yang dilakukan melanggar konsep Tri Hita Karana .
c) Ada perbedaan penataan lingkungan antara di pinggir jalan raya dengan di pinggir jalan
desa (agak di dalam), di mana di jalan raya penataan lebih indah dan lebih bersih, karena ada
gallery.
SIMPULAN
Melihat dampak yang diakibatkan dengan adanya perkembangan pariwisata di banjar
Silakarang, di mana lebih banyak dampak positifnya, sehingga secara menyeluruh dari aspek
ekonomi pariwisata banyak memberikan nilai tambah yang berharga kepada masyarakat
Silakarang, walaupun ada beberapa kerugian yang akan dialami, namun hanya sebatas
kecendrungan yang terjadi, sehingga perkembangan pariwisata dari aspek ekonomi secara riil
banyak memberikan kemajuan kepada masyarakat Silakarang terutama dari peningkatan
pendapatan dan perkembangan ekonomi lainnya.
DAFTAR RUJUKAN
Tim. 1998. Monografi Desa Silakarang.
Soedarso, SP. 1990. Sejarah Perkembangan Seni Rupa Modern, Yogyakarta, Institut Seni
Indonesia.
_____. 1990. Tunjuan Seni, Yogyakarta, Saku Dayar Sana.
Spillane, James J. 1987. Ekonomi Pariwisata: Sejarah dan Prospekrrya, Kanisius, Yogyakarta.

Swandi, I Wayan. 1999. Inovasi Ida Bagus Tilem dalam Seni Patung Bali Modern, Denpasar,
Program Pasca Sarjana Universitas Udayana.

Download
DAMPAK PARIWISATA TERHADAP

 

 

Your download will begin in a moment.
If it doesn't, click here to try again.

Share DAMPAK PARIWISATA TERHADAP to:

Insert your wordpress URL:

example:

http://myblog.wordpress.com/
or
http://myblog.com/

Share DAMPAK PARIWISATA TERHADAP as:

From:

To:

Share DAMPAK PARIWISATA TERHADAP.

Enter two words as shown below. If you cannot read the words, click the refresh icon.

loading

Share DAMPAK PARIWISATA TERHADAP as:

Copy html code above and paste to your web page.

loading