This is not the document you are looking for? Use the search form below to find more!

Report home > Art & Culture

DESAKRALISASI TARI BARONG DALAM KEHIDUPAN SOSIAL BUDAYA MASYARAKAT ...

2.00 (1 votes)
Document Description
This research aims to express and analyze the desacredness of Barong Dance in the social living Balinese People's culture. Desacredness is a traditional norm movement into the modern ones in with the growth of historical events anda run in accordance with the people's change and take many. Barong dance is sacred one performed only for the need of Hindu ritual in Bali, however in this opment of dance is also performed for those of tourists'amusement. Research models are both descriptive and explorative ones which qualitatively depict about the redness of Barong dance. The data collection was held by observation, literatures, and document. Observation for seeing the Barong dance performance and the symbols used. The interview was held artistis, religious custom and youngsters. The document were bay reading correlated literature with discussed problems. The research result includes as follows. Appearance of desacradness of Barong dance of power structure change and the decision for in the Barong dance performance. When the king held the power in Bali, he was the decision for in the performance, when the Dutch colony came, the colonial government holding the decision, when the freedom time came, the people gradually held the decision to this time the organization, even the stage Barong dance in the form of Barong Profan appeared because of debate between five is, that is, religious, custum, artist, tourist and government groups. Thus, it is also the form of these people's dynamism for doing a renewal, experimentationd dissolve the religious tradition unity for sacral Barong dance performance, which during this time dominate. The Barong dance element having desacradness was the process of making mask, ceremonial; pace anda the level of ceremonial; place and the level of ceremony, performance ritualism, function, and performance objektif, rating organization, acor, dancing structure, place of performance, organization structure, dynasty nation, magical ambience and the audiences and the audiences of Barong dance performance. The desacredness bias of Barong dance in the socio-cultural living cause the nowe organization , like sekaa barong dance, barong dance management individually/personally. The tradition change happiness", livehood, pesangkepan tradition, will glue the correction between the village custom. Interacting in doing things. The weakness of Barong dance sacredness existence give more care the Barong dance performance. The symbols of Barong having been desacredness is the beginning for using colour, decoration of performance attribute and the disappear of "title" to Barong on the performance of Barong profane.
File Details
  • Added: October, 22nd 2010
  • Reads: 3130
  • Downloads: 28
  • File size: 107.95kb
  • Pages: 15
  • Tags: desacradness, barong dance, dan socio cultural
  • content preview
Submitter
  • Name: olivia
Embed Code:

Add New Comment




Related Documents

ANALISIS KEHIDUPAN SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT

by: marco, 4 pages

Penelitian ini berjudul "Analisis Kehidupan Sosial Ekonomi Masyarakat Kawasan Kumuh di Kecamatan Teluk Nibung Kota Tanjung Balai" dibawah bimbingan: Prof. Ir. Zulkifli Nasution, MSc. Ph.D ...

Konsep Sehat, Sakit dan Penyakit dalam Konteks Sosial Budaya

by: ishaan, 11 pages

Pembangunan kesehatan sebagai salah satu upayapembangunan nasional diarahkan guna tercapainya kesadaran, kemauan, dan kemampuan untuk hidup sehat bagi setiap penduduk agar dapat mewujudkan derajat ...

KEHIDUPAN SOSIAL BUDAYA ETNIS CINA DI PULAU BANGKA: Studi Kasus di ...

by: shaiming, 16 pages

This study aims at describing the socio-cultural life of the Chinese community in Sungailiat, Bangka Island. The data-collecting technique used includes in-depth interview and observation. In-depth ...

PERKEMBANGAN SOSIAL-BUDAYA MASYARAKAT DI INDONESIA

by: rita, 49 pages

Kebudayaan Megalitikum • Kebudayaan batu-batu besar di seluruh dunia, termasuk di Indonesia, ditandai oleh: pendirian menhir, dolmen, pundan bertangga, peti mati batu (sarcophagus). • Lokasi di ...

KOVENAN INTERNASIONAL HAK EKONOMI SOSIAL BUDAYA

by: rioko, 11 pages

Menimbang bahwa sesuai dengan asas-asas yang diproklamasikan dalam Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa, pengakuan terhadap martabat yang melekat dan hak-hak yang sama dan tidak terpisahkan dari semua ...

BAB II PEMBANGUNAN SOSIAL BUDAYA DAN KEHIDUPAN

by: karin, 79 pages

Pembangunan bidang sosial budaya dan kehidupan beragama yang mencakup bidang-bidang kesehatan dan gizi, pendidikan, kependudukan dan keluarga berencana, perpustakaan nasional, pemuda dan olahraga, ...

NORMA-NORMA YANG BERLAKU DALAM KEHIDUPAN BERMASYARAKAT, BERBANGSA ...

by: etoile, 22 pages

Dalam kehidupan sehari-hari, setiap orang atau individu senantiasa melakukan interaksi dengan individu atau kelompok lainnya. Jadi setiap manusia, baik sebagai individu atau anggota masyarakat selalu ...

Penataan Lingkungan Sosial bagi Penderita Dimensia (Pikun) dan RTA ...

by: przemek, 12 pages

ulisan ini dapat menambah wawasan dan sangat bermanfaat khususnya bagi para mahasiswa yang tertarik untuk mendalami antropologi psikiatri ataupun bagi warga masyarakat awam dan juga bagi orang-orang ...

PERANAN PSIKOLOGI DALAM MENJAWAB FENOMENA PSIKOLOGIS MASYARAKAT ...

by: shayan, 20 pages

Definisi Psikologi yang paling disepakati oleh para pakar adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia. Menurut Wortman dkk. (2004) Psikologi adalah "the scientific study of behavior, both ...

HAMBATAN SOSIAL BUDAYA DALAM PENGARUSUTAMAAN GENDER DI INDONESIA

by: lantos, 14 pages

Women condition in Indonesia on various aspects of life relatively low. Therefore, gender understanding to improve women roles, both in the household and in the society is required. This paper aims ...

Content Preview
Desakralisasi Tari Barong dalam Kehidupan
Sosial Budaya Masyarakat Bali (41 - 55)

I Guti Ngurah Sudiana
DESAKRALISASI TARI BARONG DALAM
KEHIDUPAN SOSIAL BUDAYA MASYARAKAT BALI
I Gusti Ngurah Sudiana
Jurusan Sosiologi UGM
ABTRACT
This research aims to express and analyze the desacredness of Barong Dance in the
social living Balinese People’s culture. Desacredness is a traditional norm movement
into the modern ones in with the growth of historical events anda run in accordance
with the people’s change and take many. Barong dance is sacred one performed only for
the need of Hindu ritual in Bali, however in this opment of dance is also performed for
those of tourists’amusement. Research models are both descriptive and explorative
ones which qualitatively depict about the redness of Barong dance. The data collection
was held by observation, literatures, and document. Observation for seeing the Barong
dance performance and the symbols used. The interview was held artistis, religious
custom and youngsters. The document were bay reading correlated literature with
discussed problems. The research result includes as follows. Appearance of desacradness
of Barong dance of power structure change and the decision for in the Barong dance
performance. When the king held the power in Bali, he was the decision for in the
performance, when the Dutch colony came, the colonial government holding the decision,
when the freedom time came, the people gradually held the decision to this time the
organization, even the stage Barong dance in the form of Barong Profan appeared
because of debate between five is, that is, religious, custum, artist, tourist and government
groups. Thus, it is also the form of these people’s dynamism for doing a renewal,
experimentationd dissolve the religious tradition unity for sacral Barong dance
performance, which during this time dominate. The Barong dance element having
desacradness was the process of making mask, ceremonial; pace anda the level of
ceremonial; place and the level of ceremony, performance ritualism, function, and
performance objektif, rating organization, acor, dancing structure, place of performance,
organization structure, dynasty nation, magical ambience and the audiences and the
audiences of Barong dance performance. The desacredness bias of Barong dance in the
socio-cultural living cause the nowe organization , like sekaa barong dance, barong
dance management individually/personally. The tradition change happiness”, livehood,
pesangkepan tradition, will glue the correction between the village custom. Interacting
in doing things. The weakness of Barong dance sacredness existence give more care the
Barong dance performance. The symbols of Barong having been desacredness is the
beginning for using colour, decoration of performance attribute and the disappear of
“title” to Barong on the performance of Barong profane.

Keywords: desacradness, barong dance, dan socio-cultural
41

AKADEMIKA, Jurnal Kebudayaan
Vol. 4, No. 1, April 2006

ISSN: 0216-8219
Pendahuluan
man kemerdekaan secara berangsur-
Penelitian ini bermaksud meng-
angsur masyarakat adat memegang
ungkapkan dan menganalisis desa-
keputusan, bahkan sekarang pimpinan
kralisasi tari barong dalam kehidupan
organisasi, kemudian pimpinan stage
sosial budaya masyarakat Bali. Desa-
barong dance yang memegang kekuasa-
kralisasi adalah gerakan-gerakan
an dalam pementasan tari barong. Di
norma-norma tradisional menuju nor-
samping itu desakralisasi tari barong
ma-norma modern seirama dengan ber-
dalam wujud barong profan timbul aki-
kembangnya peristiwa-peristiwa se-
bat perdebatan antara lima kelompok
jarah dan berjalan sesuai dengan pe-
yaitu kelompok agama, seniman, adat,
rubahan masyarakat serta mengambil
pelaku pariwisata, dan pemerintah.
berbagai bentuk.
Demikian juga merupakan wujud dina-
Tari barong semula merupakan tari
misme masyarakat Bali untuk mela-
sakral yang dipentaskan hanya untuk
kukan pembaharuan, eksperimentasi,
upacara agama Hindu di Bali, tetapi
dan mencairkan otoritas tradisi religius
dalam perkembangannya tari ini juga
dari tari barong yang selama ini men-
dipentaskan untuk hiburan wisatawan.
dominasi.
Tujuan penelitian ini adalah untuk
Unsur-unsur tari barong yang me-
mengungkapkan tentang munculnya
ngalami desakralisasi adalah proses
unsur-unsur, simbol-simbol dan bisa
pembuatan topeng, pemimpin upacara,
desakralisasi tari barong dalam kehi-
tempat, dan tingkatan upacara, ritu-
dupan sosial budaya masyarakat Bali.
alisme pementasan, fungsi dan tujuan
Model penelitian ini adalah des-
pementasan, organisasi pendukung,
kriptif eksploratif yang secara kualitatif
aktor, struktur tari, struktur organisasi,
menggambarkan tentang desakralisasi
dominasi wangsa, suasana magis, dan
tari barong. Pengumpulan datanya
penonton pementasan tari barong.
adalah dengan observasi, pustaka, dan
Bias desakralisasi tari barong
dokumen. Observasi untuk melihat pe-
dalam kehidupan sosial budaya meng-
mentasan tari barong dan simbol-
akibatkan tumbuhnya organisasi baru,
simbol yang dipergunakannya. Wawan-
seperti sekaa barong dance, pengelolaan
cara adalah dengan tokoh-tokoh seni
barong dance secara pribadi atau per-
dan dokumen adalah dengan membaca
orangan, perubahan tradisi suka duka,
literature dengan masalah yang dibahas.
perubahan mata pencarian, tradisi
Hasil penelitian ini antara lain:
pesangkepan, semakin melekatnya hu-
munculnya desakralisasi tari barong
bungan antara desa adat dengan sekaa
akibat perubahan struktur kekuasaan
dalam berinteraksi ketika melaksa-
dan pemegang keputusan dalam pe-
nakan kegiatan. Melemahnya eksis-
mentasan tari barong. Ketika raja ber-
tensi kesakralan tari barong dan sema-
kuasa di Bali, maka rajalah yang me-
kin terpeliharanya pementasan tari ba-
megang keputusan dalam pemen-
rong.
tasannya, ketika jaman kolonial Be-
Simbol-simbol tari barong yang
landa, pemerintah koloniallah yang
mengalami desakralisasi adalah dalam
memegang keputusan, dan ketika ja-
bidang penggunaan warna, pemasangan
42

Desakralisasi Tari Barong dalam Kehidupan
Sosial Budaya Masyarakat Bali (41 - 55)

I Guti Ngurah Sudiana
hiasan, atribut pementasan dan hilang-
tape recorder. Studi dokumentasi di-
nya gelar barong pada pementasan tari
lakukan terhadap Awig-awig Desa Adat
barong profan.
Batu Bulan, sumber-sumber berupa
pustaka lontar, buku, majalah, surat
Metode Penelitian
kabar yang berkaitan dengan objek
Penelitian ini adalah penelitian
penelitian.
deskriptif ekploratif yang bertujuan
Observasi langsung dilakukan
menemukan dan menggambarkan ten-
untuk mengamati secara langsung pe-
tang terjadinya desakralisasi tari ba-
laksanaan pertunjukan barong dance
rong dalam pariwisata di daerah Bali.
untuk melihat simbol-simbol yang me-
Metode yang digunakan adalah metode
ngalami desakralisasi dari tari barong
kualitatif yaitu suatu cara untuk mem-
ini.
bangun grounded theory. Penelitian ku-
Data yang diperlukan dalam pe-
alitatif menghendaki arah bimbingan
nelitian ini adalah sebagai berikut:
penyusunan teori dari data (Maleong,
a. Perkembangan pertunjukan barong
1991:6).
dance sejak berdirinya sampai dengan
Teknik pengumpulan data yang
penelitian berlangsung. Data ini
dipergunakan dalam penelitian ini
diperlukan untuk mengetahui latar
adalah wawancara, observasi langsung,
belakang berdirinya pertunjukan
dan dokumentasi. Wawancara menda-
barong dance di desa Batu Bulan. Data
lam dilakukan terhadap informan yaitu
ini diperoleh dengan studi doku-
orang-orang yang dimanfaatkan untuk
mentasi pada sekretariat perkum-
memberikan informasi tentang masa-
pulan barong dance dan wawancara
lah penelitian. Karena itu informan ha-
dengan tokoh-tokoh seni, adat, dan
rus banyak mempunyai pengetahuan
agama setempat untuk mengetahui
tentang latar penelitian ini yang men-
pandangan mereka tentang tari
jadi informan dalam penelitian ini
Barong.
adalah Kelian Desa Adat Batu Bulan, pe-
b. Program dan kegiatan perkumpulan
nyelenggara pertunjukan barong dance,
barong dance sebelum mulai pertun-
tokoh agama dalam hal ini ketua PHDI
jukan sampai akhir pertunjukan dan
Propinsi Bali, tokoh agama di desa Batu
kegiatan lain untuk menarik penon-
Bulan, generasi muda serta tokoh-to-
ton yang lebih banyak untuk me-
koh masyarakat lain yang dianggap me-
nyaksikannya. Data ini diperoleh de-
mahami permasalahan ini. Nama-nama
ngan pengamatan langsung serta
yang diwawancarai antara lain: I Nyo-
wawancara dengan ketua pelaksana
man Yudha, I Komang Gede, Jero Mang-
serta komponen pertunjukan, di-
ku Pererepan, I Made Mastika, I Gede
tambah dengan studi publikasi ma-
Sura,dan I Ketut Subagiasta.
jalah atau koran-koran dan seba-
Untuk mengarahkan kegiatan wa-
gainya.
wancara digunakan pedoman wa-
c. Bentuk pertunjukan, struktur pe-
wancara (interview guide). Selanjutnya
mentarasan, elemen-elemen tari,
agar data dapat diperoleh dengan baik,
pihak yang menentukan/berkuasa di
maka digunakan catatan lapangan dan
dalam pementasan dan pengelolaan
43

AKADEMIKA, Jurnal Kebudayaan
Vol. 4, No. 1, April 2006

ISSN: 0216-8219
seni pertunjukan barong dance ter-
teknik triangulasi yaitu pengecekan
sebut, proses upacara, penokohan
data dari hasil pengamatan langsung
dan fungsi tari barong. Data ini
dengan studi dokumentasi. Hasil wa-
diperoleh melalui observasi lang-
wancara antara informan satu dengan
sung maupun dengan wawancara
yang lain, bila ada data yang tidak re-
dengan tokoh adat, seni, dan agama
levan, maka dilakukan reduksi data.
yang dianggap tahu tentang masalah
Kedua, tahap klasifikasi data. Klasifikasi
yang dibahas.
data dilakukan atas tiga tema. Tema per-
tama, data tentang perkembangan per-
Untuk mengkaji kredibilitas data
tunjukan barong dance dari mulai ber-
digunakan teknik triangulasi, yaitu
diri sampai saat sekarang. Data ini
teknik pemeriksaan keabsahan data
dapat menggambarkan tentang duku-
yang memanfaatkan sesuatu yang lain
ngan masyarakat atau penolakan ma-
di luar data itu untuk keperluan penge-
syarakat terhadap penyelenggaraan
cekan atau sebanding dengan data
pertunjukan Tari barong dance ini di
tersebut. Menurut Potton, triangulasi
daerah Batu Bulan. Tema kedua, data
dapat dilakukan dengan dua strategi:
tentang program kegiatan perkumpu-
(a) pengecekan derajat kepercayaan pe-
lan barong dance mulai dari persiapan
nemuan hasil penelitian dengan be-
sampai akhir penyelenggaraan pertun-
berapa teknik pengumpulan data; (b)
jukan. Data ini menggambarkan ten-
pengecekan derajat kepercayaan be-
tang usaha-usaha yang dilakukan oleh
berapa sumber data dengan metode
komponen perkumpulan untuk me-
yang sama (Oetomo, 1995:178). Pada pe-
ngemas, mempromosikan pertunjukan
nelitian ini, digunakan strategi tringu-
kepada masyarakat terutama penon-
lasi pertama dan kedua. Pertama, pe-
ton. Tema ketiga, data tentang bentuk
ngecekan hasil pengamatan langsung
pertunjukan, struktur pementasan,
dengan studi dokumentasi. Yang kedua,
elemen-elemen tari, dan pihak yang
dengan pengecekan keabsahan data
berkuasa dalam pertunjukan barong
hasil wawancara antara satu informan
dance. Data ini akan dapat meng-
dengan informan lain.
gambarkan tentang pandangan masya-
Analisis data menurut Potton ialah
rakat Bali umumnya dan Batu Bulan
proses mengatur urutan data, meng-
khususnya di salah satu sisi.
organisasikannya ke dalam suatu pola,
Mereka sebagai masyarakat dalam
kategori, dan satu uraian dasar (Male-
posisi religius dan di sisi lain sebagai
ong, 1996:103). Pekerjaan analisis data
masyarakat sekuler. Ketiga, tahap inter-
kualitatif dapat dilakukan dalam proses
pretasi dan penafsiran data. Pada tahap
pengumpulan data, tetapi analisis data
ini dilakukan penafsiran atau pemberian
yang intensif dilakukan setelah pe-
makna yang signifikan terhadap data
ngumpulan data selesai. Analisis data
yang telah diklasifikasikan dan dicari
ini dilakukan dalam beberapa tahap.
hubungan yang satu dengan yang lain
Pertama, tahap pengecekan dan reduksi
sehingga dapat menjawab pertanyaan
data. Pada tahap ini data yang telah
penelitian. Keempat, pada tahap akhir
terkumpul diuji keabsahannya dengan
dilakukan pengambilan kesimpulan.
44

Desakralisasi Tari Barong dalam Kehidupan
Sosial Budaya Masyarakat Bali (41 - 55)

I Guti Ngurah Sudiana
Hasil dan Pembahasan
simbol yang sama dengan barong sa-
Tari barong di dalam masyarakat
kral. Memperhatikan terjadinya peru-
Bali tergolong sebagai tari sakral re-
bahan beberapa unsur serta fungsi pe-
ligius dance, tetapi dalam perjalanan
mentasan tari Barong sakral sehingga
sejarahnya tari ini mengalami perkem-
tari barong sakral telah mengalami pro-
bangan dan sekaligus mengalami
fanisasi/desakralisasi menjadi tari
perubahan dalam berbagai unsurnya.
barong profan. Unsur-unsur/simbol-
Perkembangan tari ini mulai dari tanpa
simbol yang mengalami desakralisasi
lakon, kemudian dipentaskan me-
antara lain: 1) proses pembuatan to-
makai lakon. Lakon yang dipergunakan
peng, 2) pengantar upacara/pemimpin
adalah Calonarang. Sesuai dengan
upacara, 3) proses pasupati, ngatep, dan
sifatnya tari barong ini dipentaskan
ngelukar, 4) ritualisme pementasan, 5)
berkaitan dengan pelaksanaan upacara
waktu pementasan, 6) fungsi dan tujuan
keagamaan bagi umat Hindu di Bali,
pemen-tasan, 7) organisasi pendukung,
seperti odalan, Galungan, dan Kuningan,
8) aktor, 9) struktur tari, 10) tempat pe-
menyambut Nyepi dan pada sasih ka-
mentasan, 11) cerita, 12) penokohan, 13)
enem, yang tujuannya secara mitologis
musik pengiring, 14) struktur pemen-
untuk mengusir penyakit yang meng-
tasan, 15) pengambilan keputusan, 16)
ganggu umat manusia, yang ditimbul-
dominasi wangsa, 17) daya magis, dan
kan oleh roh jahat leak.
18) penonton.
Kesakralan tari barong bukanlah
berdiri sendiri, tetapi didukung oleh
1. Munculnya desakralisasi tari
berbagai peristiwa sakralitas yang di-
barong sebuah realitas dalam
lakukan oleh masyarakat pendukung
masyarakat Bali
tari barong itu sendiri. Karena ritualis-
Munculnya desakralisasi tari
me barong sakral ini demikian rumit
barong dipengaruhi oleh struktur sosial
sehingga barong bagi masyarakat Bali
masyarakat Bali. Artinya, di dalam
diberikan gelar Ratu Lingsir, Ratu Sakti,
pementasan tari barong, struktur ke-
Ratu Gede, dan sebaginya. Gelar ini ham-
kuasaan yang paling dominan mem-
pir setara dengan kekuasaan dewa-de-
pengaruhi terjadinya desakralisasi.
wa umat Hindu. Sebab barong secara
Ketika kekuasaan dipegang oleh raja,
mitologis dianggap sebagai penjelmaan
tari barong dimanfaatkan oleh raja
dewa Brahma/Simbol dewa Brahma un-
untuk menanamkan ide-ide serta alat
tuk menghalau Roh Jahat yang ingin
memperkuat kekuasaannya. Pada ja-
menyebarkan penyakit di dunia.
man kolonial pementasan tari barong
Perkembangan selanjutnya tari
dimanfaatkan oleh penjajah Belanda
barong bukan lagi hanya untuk tari pe-
untuk menyambut tamu-tamu penting
ngiring upacara, tetapi sebagai tari un-
para penjajah. Demikian pula setelah
tuk sajian wisatawan, dengan lakon
era kemerdekaan sejalan dengan me-
yang berbeda yakni ceritra Kunti Sraya.
mudarnya kekuasaan raja dan kolonial,
Pementasan tidak lagi bertempat di
pementasan tari barong dimanfaatkan
jabaan pura, tetapi dipentaskan di se-
pemerintah untuk melakukan propa-
buah stage yang memakai atribut serta
ganda politik tahun 1965. ditambah lagi
45

AKADEMIKA, Jurnal Kebudayaan
Vol. 4, No. 1, April 2006

ISSN: 0216-8219
semakin pesatnya kehidupan pariwi-
dilihat dari bagian ritualismenya dan
sata di Bali tari barong dimanfaatkan
pelaksanaannya. Jika di dalam barong
oleh kelompok seniman untuk meng-
sakral upacaranya pada tingkatan u-
hibur wisatawan.
tama, sedangkan pada barong profan
Munculnya desakralisasi tari ba-
pada tingkatan terkecil (nista). De-
rong akibat pertarungan idealisme dan
mikian juga pelaksaaan upacaranya. Pa-
kepentingan lima kelompok masya-
da barong sakral dilaksanakan oeh de-
rakat Bali, seperti kelompok seniman,
sa adat yang bertempat di Pura Dalem,
pelaku pariwisata, adat, agama, dan
tapi pada barong profan dilaksanakan
pemerintah. Kelima kelompok ini ter-
oleh sekaa/kelompok bahkan pribadi
bagi menjadi dua kubu, yaitu kubu yang
dengan bertempat di stage/rumah pemi-
melarang pementasan barong sakral
lik saham barong dance.
untuk wisatawan –yakni kelompok aga-
Pemimpin upacara pada barong
ma, adat, dan pemerintah. Sedangkan
sakral telah mengalami pergeseran yai-
kelompok seniman dan pelaku pari-
tu semula dipimpin oleh pendeta se-
wisata menghendaki pementasan ba-
dangkan untuk barong profan dipim-
rong sakral untuk wisatawan. Dari per-
pin oleh pemangku saja. Pendeta/su-
debatan yang panjang, maka dibuatlah
linggih dalam masyarakat Bali mem-
pementasan barong profan yang me-
punyai wewenang lebih luas dalam bi-
nyerupai pementasan Barong sakral.
dang upacara keagamaan sedangkan
Pementasan tari barong profan
pemangku hanya terbatas pada sebuah
adalah merupakan sebuah bentuk di-
pura saja. Dengan demikian telah ter-
namisme masyarakat Bali yang terga-
jadi pergeseran kelas dan kewenangan
bung dalam kelompok seniman untuk
rohaniawan untuk menyelesaikan upa-
melakukan pembaruan, eskperimen-
cara tari barong.
tasi, dan mencarikan otoritas tradisi
Ritualisme barong sakral dapat di-
religius dengan sebuah wujud pemen-
bagi menjadi tiga bagian yakni Praya-
tasan barong profan. Bila diperhatikan,
scita, Ngatep, dan Pasupati serta Nge-
maka sirkulasi pementasan dan ke-
lukar, semua upacara ini dilaksanakan
lompok-kelompok yang melakukan
di Pura Dalem. Sedangkan pada ritu-
hubungan-hubungan pementasan yak-
alisme barong profan hanya pada ting-
ni kelompok seniman sebagai penjual
katan melaspas saja dan bertempat di
simbol dan pelaku pariwisata sebagai
stage/rumah pribadi. Ritualisme ba-
konsumen simbol, maka mereka itu
rong profan sangat mengurangi tingkat
telah menjadi dan disebut sebagai “pe-
kesakralan barong itu sendiri dari ka-
rantara budaya baru”, sebagai pemisah
camata masyarakat religius.
batas-batas kesakralan dan profan tari
Unsur ritualisme pementasan tari
barong dalam masyarakat Bali.
barong telah mengalami desakralisasi,
jika tari barong sakral menggunakan
2. Unsur-unsur tari barong yang
tingkatan utama dengan panyambleh
mengalami desakralisasi
ayam hitam, tetapi pada barong profan
Unsur pembuatan topeng barong
menggunakan tingkatan nista (paling
yang mengalami desakralisasi yakni
sederhana) dengan menggunakan ayam
46

Desakralisasi Tari Barong dalam Kehidupan
Sosial Budaya Masyarakat Bali (41 - 55)

I Guti Ngurah Sudiana
sebulu-bulu (sembarang warna bulu-
Terpenting di dalam pementasan stage
nya). Bahkan pada stage perorangan
pribadi adalah keahlian.
tidak menggunakan ayam penyambleh
Struktur tari juga telah menga-
(ayam yang dikorbankan dengan me-
lami desakralisasi pada semua kom-
motong kepalanya).
posisi tari. Komposisi tari ada tiga yakni
Waktu pementasan tari barong te-
pepeson/pembukaan, pengawak/per-
lah mengalami pergeseran/perubahan,
tengahan, pekaad/pengabisan. Gerakan
jika Barong sakral pementasannya se-
pada masing-masing komposisi ter-
tiap ada upacara keagamaan setiap se-
sebut telah banyak mengalami peruba-
tahun sekali dengan limit waktu, saat
han seperti pada pepeson: gerakan
Sedyakala dan tengah malam, tetapi pa-
ngeseh/gerakan dorong ke kiri ke kanan,
da waktu pementasan barong profan
pada barong sakral selendet capung/
sama sekali tidak memperhitungkan
melihat si patung dilakukan satu kali,
waktu pementasan secara magis, na-
sedangkan pada barong profan dilaku-
mun disesuaikan dengan jadwal da-
kan dua kali. Gerakan barong sakral
tangnya turis melewati tempat pemen-
setelah ngandang-ngandang/berjalan ke
tasan sekiar jam 9.30 WITA setiap ha-
depan, dilakukan seledet, tetapi di da-
rinya.
lam barong profan dilakukan seledet
Desakralisasi tari barong menye-
capung dan ngangget kebot/ badan ber-
babkan wadah tari tersebut ikut meng-
goyang ke kiri.
alami pergeseran, tari barong sakral
Desakralisasi gerak bagian penga-
diwadahi oleh organisasi, banjar, dan
wak/pertengahan adalah pada pose me-
sekaa pemaksan. Sedangkan tari ba-
nuju agem kanan; posisi berat badan ter-
rong profan diwadahi oleh sekaa pemak-
letak di kaki kanan. Sebenarnya pada
san barong (sekaa yang masih tradi-
tari barong sakral setelah gerakan mal-
sional) dan diwadahi oleh stage pero-
pal/berjalan dengan badan diturunkan
rangan dengan pengelolaan yang hanya
sebatas pinggang dilanjutkan dengan
mengutamakan bisnis.
nyeregseg/bergeser cepat, namun da-
Aktor dalam pementasan tari ba-
lam tari barong profan ditambah deng-
rong juga telah mengalami pergeseran/
an gerakan seledet capung dua kali.
desakralisasi, sebab di dalam tari ba-
Gerakan pada menuju agem kiri; pada
rong sakral aktor sangat dipilih yaitu
barong sakral dilanjutkan dengan Nye-
mengutamakan kesurupan, tidak cun-
regseg, tetapi di dalam barong profan
taka/kotor secara spiritual, sedangkan
gerakan dilanjutkan dengan seledet
dalam pementasan Barong profan yang
capung baru kemudian dilanjutkan
organisasinya tidak tradisional, tidak
dengan keplakan mulut barong. Ge-
mengutamakan keturunan, cuntaka,
rakan pada menuju pose agem kanan;
profesional, dan tidak ngayahang/ke-
pada gerakan barong sakral setelah ge-
wajiban. Sangat berbeda dengan stage
rakan seledet/menoleh ke kiri ke kanan
pribadi, dalam stage pribadi yang di-
satu kali, dilanjutkan dengan gerakan
tuntut hanyalah profesionalisme, me-
mekirig/mundur disertai dengan ke-
reka mengabaikan tentang cuntaka,
plakan mulut barong. Sedangkan pada
ngayah, kahyangan, dan keturunan.
gerakan barong profan diawali dengan
47

AKADEMIKA, Jurnal Kebudayaan
Vol. 4, No. 1, April 2006

ISSN: 0216-8219
seledet capung bukan seledet dilanjutkan
Tempat pementasan juga telah
dengan seledet. Ada gerakan tambahan
mengalami perubahan. Tari barong
yakni seledet capung. Gerakan menuju
sakral secara tradisi dipentaskan di
Ngopak Lantang, pada gerakan barong
sebuah pura/di pura bagian luar dan
sakral setelah mesiksikan/santai mem-
berkaitan dengan upacara agama Hin-
bersihkan bulu, dilanjutkan dengan
du. Sedangkan pementasan barong
Nyongkok/jongkok lalu ngopak lantang/
profan bertempat di depan pura perer-
langkah panjang dengan gerakan ke-
pan dan stage-stage perorangan serta
pala, badan ke kiri dan ke kanan. Seda-
tidak ada kaitannya dengan upacara ke-
ngkan pada barong profan setelah Me-
agamaan. Jadi tempat pementasan ba-
siksikan dilanjutkan dengan mekecos
rong sakral berada di tempat suci se-
dan tidak disertai dengan jongkok. Hal
dangkan pementasan barong profan
ini berarti hilangnya gerakan Nyong-
tidak di tempat suci.
kok/jongkok.
“Ceritra” tari barong juga meng-
Desakralisasi pada gerakan penyu-
alami perubahan. Tari barong sakral
wud/terakhir terdapat pada pose ge-
yang asli adalah calonarang, sedangkan
rakan tidur/turu. Pada barong sakral se-
cerita dalam tari barong profan adalah
telah sogok kanan dilanjutkan dengan
kuntisraya. Jadi perubahan ini disebab-
gelatik nuut pahpah, tetapi pada barong
kan cerita calonarang sangat bernuansa
profan tidak ada sogok kanan. Namun
magis mistis, sedangkan kuntisraya
dilanjutkan dengan ngipek kanan. Ke-
mengutamakan estetika.
mudian barulan diteruskan dengan
Penokohan sudah tentu mengala-
ngandang-ngandang dan masuk ke dalam
mi perubahan yaitu disesuaikan dengan
pura. Sedangkan dalam tari Barong
cerita yang dipergunakan. Di dalam ca-
profan diawali dengan sogok kiri, gelatik
lonarang tokoh utamanya adalah Ratna
nuut pahpah/kaki bergeser cepat ke
Manggali, Rangdeng Dirah/Calonarang,
samping kiri/kanan lalu dilanjutkan
Empu Bha-radah, Maling Maguna dan
dengan ngandang arep bawak/ke depan
Prabu Air Langga. Sedangkan dalam ce-
dua langkah kemudian tidur/turu. De-
rita Kuntisraya tokoh utamanya adalah
sakralisasi di sini dapat dilihat dari ge-
Dewi Kunti, Sahadesa, Kalika, dan Dur-
rakan turu, ngandang-ngandang bawah
ga. Jadi bila diperhatikan perubahan
dan ngipek yang merupakan tambahan
yang terjadi yaitu Empu Bharadah da-
dari gerakan barong profan ketika
lam barong sakral berubah menjadi Sa-
pementasan. Gerakan turu ini adalah ge-
hadewa pada Barong profan. Rangdeng
rakan yang sangat indah bila disajikan
Dirah pada Barong sakral berubah men-
untuk menarik wisatawan, tetapi bila
jadi Dewi Durga dalam barong profan.
dikaitkan dengan norma, apabila me-
Rarung pada barong sakral berubah
narikan barong sakral tidaklah etis jika
menjadi Kalika pada barong profan.
kaki dipakai mengusap-usap topeng
Di dalam struktur pementasan
barong yang disakralkan. Hal itu akan
juga mengalami desakralisasi yaitu pa-
menyebabkan hilangnya kemagisan ba-
da babak terakhir. Pada babak ini da-
rong itu sendiri.
lam tari barong sakral terdapat adegan
penari keris dan barong profan, disertai
48

Desakralisasi Tari Barong dalam Kehidupan
Sosial Budaya Masyarakat Bali (41 - 55)

I Guti Ngurah Sudiana
dengan Pemangku memercikan air suci
yang kewenangannya lebih rendah di-
sehingga penari keris Ngunying kesu-
bandingkan Pendeta/Sulinggih. Demi-
rupan. Adegan ini diikuti oleh pemen-
kian juga bila dilihat dalam stage-stage
tasan barong profan yakni pemangku
yang ada di Batu Bulan, dari empat sta-
memercikan air suci kepada penari
ge yang ada pimpinan stage masih di
keris/Ngunying juga pada barong sak-
dominasi oleh kaum kesatria yakni tiga
ral. Pemercikan air suci dan penusukan
stage dipimpin oleh wangsa satria se-
keris pada tubuh penari yang dilakukan
dangkan hanya satu stage dipimpin oleh
tidak tepat pada waktunya serta ber-
wangsa jaba. Berarti pementasan ba-
dasarkan tradisi religius menyebabkan
rong sakral didominasi oleh kaum Brah-
manipulasi ini sebagai salah satu ade-
mana dalam upacara, sedangkan kepe-
gan yang rasionalitas dan penuh ke-
mimpinan dalam barong profan dido-
pura-puraan.
minasi oleh kaum ksatria.
Para pengambil keputusan dalam
Suasana magis yang terdapat
pementasan barong sakral juga meng-
dalam pementasan tari barong sakral
alami desakralisasi. Perubahan ini se-
sangat kelihatan dari peralatan, sarana
cara historis yaitu semula pementasan
dan prasarana yang dipergunakan
diputuskan oleh raja ketika jaman ke-
dalam pementasan. Atribut serta simbol
rajaan, kemudian pada jaman kolonial
sakral , baik yang terdapat pada topeng
oleh pemerintah kolonial dan raja se-
barong dan Rangda yang disertai penari
bagai alat kolonial. Setelah jaman ke-
Nguying yang betul-betul mengalami
merdekaan diputuskan oleh Desa adat
kesurupan dan pemercikan air suci oleh
dan Pemaksan barong. Ketika industri
pemangku dengan air suci pelaksanaan
pariwisata semakin berkembang kepu-
odalan di suatu pura. Sedangkan sua-
tusan hanya terletak di tangan Desa
sana magis yang terdapat dalam barong
adat dan Pemaksan Barong sakral. Te-
profan/wisatawan penuh dengan mani-
tapi bagi barong profan yang sekaanya
pulasi kemagisan dengan unsur kepu-
masih tradisional diputuskan oleh Pe-
ra-puraan belaka sehingga kelihatan
maksan dan sekaa barong, sedangkan
hambar. Kehambaran ini semakin lama
dalam sekaa perorangan/stage per-
mempengaruhi eksistensi kesakralan
orangan keputusan terletak di tangan
barong sakral, yang oleh masyarakat
pemilik saham. Secara sosiologis setiap
pementasan tari barong sakral sama
pergeseran kekuasaan pengambilan
dengan Barong wisatawan. Istilah lain
keputusan dalam pementasan tari ba-
barong sudah merupakan tari komoditi
rong menjadi otoritas penguasa pada
turis.
saat itu.
Di dalam struktur organisasi juga
Dominasi wangsa dalam pemen-
terjadi desakralisasi yaitu semula di
tasan tari barong sakral masih dido-
wadahi oleh Desa Adat, banjat adat, dan
minasi oleh kalangan Wangsa Brahma-
pemaksan barong, maka yang berwe-
na yang sudah menjadi pendeta untuk
nang penuh adalah Bendesa Adat, Ka-
upacara melaspas, pasupati dan ngatep
lian Banjar, dan Kelian Pemaksan un-
serta ngelukar, sedangkan pada barong
tuk menetapkan keputusan paratem/
profan hanya dilakukan oleh Pemangku
rapat. Sedangkan dalam barong profan
49

AKADEMIKA, Jurnal Kebudayaan
Vol. 4, No. 1, April 2006

ISSN: 0216-8219
yang diwadahi oleh Pemaksan barong
rong, sebab kehidupan pertanian sudah
dan Sekaa barong dalam Sekaa tradi-
tidak memungkinkan lagi.
sional keputusannya terletak dalam we-
Perubahan juga terjadi pada tra-
wenang kelian pemaksan dan kelian
disi pesangkepan/rapat. Secara tradisi
sekaa barong, sedangkan dalam wadah
sebelum ada barong dance warga Pe-
sekaa pribadi atau stage perorangan
maksan barong mengadakan pesang-
keputusan terletak pada kelian sekaa
kepan setiap hari Rabu Wage/Budha
dan pimpinan stage secara otonom.
wage tetapi sekarang menggunakan
tanggal masehi yakni setiap tanggal 15
3. Bias Desakralisasi Tari Barong
pertengahan bulan.
dalam Kehidupan Sosial: Tum-
Terjadinya interaksi antarlem-
buhnya Organisasi Baru, Peru-
baga dan pribadi dalam pementasan
bahan Tradisi “Suka-Duka”, dan
tari barong. Antarlembaga interaksinya
Peralihan Mata Pencaharian
dapat dilihat ketika akan ada pemen-
Tumbuhnya organisasi baru se-
tasan barong sakral, maka desa adat
bagai bias dari desakralisasi tari barong
meminta kepada sekaa barong dance
antara lain: adanya sekaa-sekaa barong
untuk melaksanakan pementasan ba-
dance, baik yang tradisional maupun
rong sakral, Pemakian stage secara ber-
yang perorangan. Di samping itu adanya
gantian antara stageBarong Dejalan
sekaa-sekaa arisan dan sekaa nampah,
Batur dengan stage Banjar Tegal Tamu.
sekaa dagang, seperti dagang tegak
Interaksi antarpribadi dapat di-
(menetap) dan pejalan dan dagang a-
perhatikan ketika para penari sedang
cung.
mempersiapkan pementasan, petugas
Perubahan tradisi suka duka da-
dekorasi, tukang gamelan, tukang pa-
pat dilihat ketika anggota sekaa barong
yas. Di samping berdialog untuk mem-
dance akan melaksanakan gotong ro-
pertimbangkan masalah keluarga, pri-
yong di masyarakat adat Baru Bulan
badi, dan sosial juga berdialog tentang
yang secara tradisi dilakukan mulai tiga
segala yang berkaitan dengan pemen-
hari pagi siang dan malam ketika akan
tasan tari barong profan ini.
ada upacara keagamaan baik perka-
winan dan kematian, pada masa seka-
4. Bias Desakralisasi Tari Barong
rang dilaksanakan hanya setelah pe-
dalam Kehidupan Budaya
mentasan barong dan sebelum pemen-
Dalam kehidupan budaya dapat
tasan, artinya, waktunya telah berubah
dilihat pada kehidupan politik, kesa-
dan mengutamakan bagaimana agar
kralan/eksistesi kesakralan, peles-
gotong royong dilakukan sesingkat
tarian tari barong dan simbolisasi. Kehi-
mungkin, tetapi pekerjaan warga sudah
dupan politik di Bali menyebabkan tari
selesai.
barong dikendalikan oleh tiga betuk
Peralihan mata pencaharian juga
pemerintahan semasa tiga periode. Pe-
disebabkan oleh desakralisasi tari ba-
merintahan kerajaan untuk kepenti-
rong, masyarakat Batu Bulan kebanya-
ngan religius dan kerajaan. Pemerintah
kan memfokuskan kepada usaha seba-
kolonial Belanda untuk kepentingan
gai kelompok pematung dan tari ba-
menyambut tamu penjajah, dan peme-
50

Download
DESAKRALISASI TARI BARONG DALAM KEHIDUPAN SOSIAL BUDAYA MASYARAKAT ...

 

 

Your download will begin in a moment.
If it doesn't, click here to try again.

Share DESAKRALISASI TARI BARONG DALAM KEHIDUPAN SOSIAL BUDAYA MASYARAKAT ... to:

Insert your wordpress URL:

example:

http://myblog.wordpress.com/
or
http://myblog.com/

Share DESAKRALISASI TARI BARONG DALAM KEHIDUPAN SOSIAL BUDAYA MASYARAKAT ... as:

From:

To:

Share DESAKRALISASI TARI BARONG DALAM KEHIDUPAN SOSIAL BUDAYA MASYARAKAT ....

Enter two words as shown below. If you cannot read the words, click the refresh icon.

loading

Share DESAKRALISASI TARI BARONG DALAM KEHIDUPAN SOSIAL BUDAYA MASYARAKAT ... as:

Copy html code above and paste to your web page.

loading