Evaluasi Dan Penyusunan Strategi Pengelolaan Perkebunan Pala
Rakyat Di Desa Paya Teuk, Kecamatan Pasieraja, Kabupaten Aceh
Selatan
Mahasiswa: Angga Dwiartama
Program Studi Magister PSDH & LH Tropika SITH, email: dwiartama@students.itb.ac.id
Pembimbing: Dr. Devi N. Choesin1
1SITH-ITB, email: devi@sith.itb.ac.id
Gelar: Magister Sains (M.Si), Wisuda Maret 2008
Abstrak
Kabupaten Aceh Selatan merupakan daerah penghasil pala kedua tertinggi di Indonesia
setelah Kabupaten Banda, Maluku, dengan produksi mencapai 6500 ton di tahun 1980-
an. Meskipun demikian, sejak tahun 1990-an telah terjadi penurunan produksi pala akibat
serangan hama. Ditinjau dari latar belakangnya, permasalahan hama ini terkait dengan
masalah lain yang lebih kompleks. Fluktuasi harga yang tinggi menyebabkan masyarakat
tidak memiliki sumber pendapatan yang tetap, dan sering menelantarkan lahan
perkebunannya. Di sisi lain, konflik berkepanjangan juga berdampak pada semakin
banyaknya lahan pala yang terlantar. Lahan terlantar ini menjadi faktor pendorong
meningkatnya invasi hama di perkebunan pala. Permasalahan pala di Kabupaten Aceh
Selatan ini menuntut adanya evaluasi dalam pengelolaan pala secara menyeluruh.
Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi dan merumuskan strategi pengelolaan pala
yang baru di Desa Paya Teuk, Kecamatan Pasieraja, sebagai salah satu daerah di
Kabupaten Aceh Selatan yang mengalami penurunan produksi pala cukup tinggi.
Metode penelitian dilakukan sebagai modifikasi dari perencanaan strategis yang
ditujukan untuk petani pala sebagai pengelola perkebunan pala. Penelitian dilakukan
dalam tiga tahap, yaitu penentuan faktor internal dan eksternal kunci, perumusan strategi,
dan implementasi-evaluasi strategi. Faktor-faktor kunci diperoleh melalui pengumpulan
data ekologis dan sosial ekonomi. Metode pengumpulan data ekologis meliputi
pengambilan kondisi fisika lingkungan, deskripsi kondisi vegetasi di perkebunan pala,
wawancara aktor, dan observasi langsung di lapangan. Deskripsi kondisi vegetasi
perkebunan dilakukan di 30 plot berukuran 10 x 10 m2 yang tersebar di empat lokasi
perkebunan di sekitar pemukiman penduduk. Wawancara dilakukan menggunakan
metode open-ended interview/semi-terstruktur terhadap 25 responden, terkait dengan
kondisi perkebunan, pengolahan pala, dan kebutuhan ekonomi masyarakat.
Dari data dan informasi yang diperoleh, dilakukan analisis data yang meliputi evaluasi
kondisi umum perkebunan pala di Aceh Selatan, analisis proses dan hasil produksi,
analisis ekonomi, dan evaluasi kondisi pasar. Analisis produksi mencakup evaluasi
kesesuaian kondisi lingkungan, evaluasi metode produksi, analisis kerusakan, dan analisis
produktivitas. Analisis ekonomi mencakup perhitungan rasio Gross Profit Margin
(GPM), Break Even Point (BEP), dan Net Present Value (NPV) dari usaha yang
dijalankan. Evaluasi pasar mencakup deskripsi jalur pemasaran, evaluasi pasar lokal, dan
evaluasi pasar global. Hasil audit faktor eksternal dan internal kunci digunakan sebagai
masukan dalam perumusan strategi pengelolaan yang baru. Tahap perumusan strategi
tersebut meliputi tahap input dengan pembobotan tiap faktor kunci, tahap pencocokan
dengan menggunakan matriks SWOT dan matriks Internal Eksternal (IE), serta tahap
keputusan dengan menggunakan matriks QSPM. Strategi yang dipilih kemudian
diimplementasikan ke dalam rencana kerja yang lebih teknis, dan dievaluasi berdasarkan
kriteria kelayakan dan konsistensi.
Hasil analisis menunjukkan bahwa kerusakan pala akibat serangan hama mengurangi
tanaman produktif hingga 31,3% dan menurunkan produksi hingga 24,7% dari produksi
pra-serangan hama. Adapun, hasil deskripsi kondisi vegetasi menunjukkan bahwa
proporsi Tanaman Menghasilkan (TM) dan Tanaman Belum Menghasilkan (TBM) tetap
jauh lebih tinggi dari proporsi Tanaman Rusak (TR), yang memperlihatkan adanya upaya
pemulihan perkebunan oleh masyarakat. Selain itu, tanaman komoditas lain di
perkebunan yang meliputi durian, kweni, pinang, dan nilam yang ditanam dengan pola
agroforestri dapat memberikan hasil produksi sampingan yang cukup besar. Analisis
ekonomi memperlihatkan rasio GPM yang tinggi (14,8%) dan nilai NPV positif (Rp.
7.537.404), yang menunjukkan bahwa usaha perkebunan pala secara keseluruhan masih
layak dijalankan. Di samping itu, permintaan pasar dunia yang tinggi terhadap pala,
dukungan pemerintah terhadap perkebunan pala, dan infrastruktur yang tersedia tetap
mempertahankan petani untuk memroduksi pala.
Hasil evaluasi faktor internal dan eksternal kunci menunjukkan bahwa petani kurang
merespons kondisi eksternalnya (rata-rata tertimbang EFE 2,2), tetapi memiliki posisi
internal yang kuat (rata-rata tertimbang EFI 2,65). Berdasarkan analisis matriks IE,
kondisi pengelolaan pala di Desa Paya Teuk secara keseluruhan berada pada kondisi
stabil, karena kelemahan dan ancaman yang dihadapi tetap diimbangi oleh kekuatan dan
peluang dari pengelolaan pala. Dari analisis matriks SWOT, diperoleh delapan pilihan
strategi yang mungkin dilakukan. Dari pilihan-pilihan strategi tersebut, analisis QSPM
menunjukkan bahwa strategi integrasi ke belakang memiliki nilai ketertarikan total
tertinggi (3,25), dan karena itu dipilih sebagai strategi yang akan diterapkan. Strategi
integrasi ke belakang berhubungan dengan upaya petani untuk memperoleh akses
terhadap supply bahan baku dan sarana produksi perkebunan untuk meningkatkan
produktivitas lahan. Strategi ini diimplementasikan melalui penentuan tujuan jangka
pendek, penyusunan organisasi petani, penentuan kebijakan bersama, dan alokasi
sumberdaya sesuai prioritas tujuan. Hasil evaluasi dari strategi tersebut menunjukkan
bahwa berdasarkan tiga pendekatan (sosial, ekologi, dan ekonomi), strategi integrasi ke
belakang layak (feasible) dan konsisten untuk diimplementasikan di petani pala Desa
Paya Teuk.
Kata kunci : perkebunan rakyat, pala, perencanaan strategis
Evaluation And Strategy Formulation For The Management Of Nutmeg
Smallholder Estate In Paya Teuk Village, Pasieraja District, South Aceh
Regency
Student: Angga Dwiartama
Master’s program In PSDH & LHT, School of Life Sciences and Technology-ITB,
email: dwiartama@students.itb.ac.id
Advisors: Dr. Devi N. Choesin1
1School of Life Sciences and Technology ITB, email: devi@sith.itb.ac.id
Degree: Magister Sains (M.Si), Conferred March 2008
Abstract
South Aceh Regency (kabupaten) is the second largest producer of nutmeg in Indonesia,
with a total production reaching 6500 tons in the 1980s. However, since the early 1990s
there has been a decrease in production due primarily to pest infestation. A closer
background examination revealed that the problem is actually related to more complex
underlying causes. High fluctuation in nutmeg price has been the cause of uncertainty in
farmers’ income, causing them to abandon their plantations in search for other sources of
income. On the other hand, political conflict in Aceh has also acted as a factor causing an
increase in the abandonment of nutmeg plantations, thus inducing pest infestation.
Interrelated problems in the management of nutmeg smallholder estate must be
thoroughly evaluated. The following study was conducted to evaluate and formulate a
new strategy for the management of nutmeg plantation in Paya Teuk village (desa),
Pasieraja district (kecamatan), as one of the areas in South Aceh which has experienced a
significant decrease in nutmeg production.
The research approach formulated a strategic planning modified for farmers as managers
of the smallholder estate. The study was conducted between June and July 2007, and was
held in three phases, i.e., description of key internal and external factors, strategy
formulation, and strategy implementation-evaluation. Key factors were obtained through
collection of ecological and socioeconomic data. Ecological data collected include
assessment of environmental conditions, analysis of nutmeg plantation condition,
interviews, and direct observation in the field. The vegetation analysis was conducted
within 30 plots of 10 x 10 m2 which were distributed in four plantation locations around
the village settlement area. As for socioeconomic data, in-depth interviews were
conducted to 25 respondents, concerning plantation conditions, nutmeg processing, and
people’s daily needs.
Data and information obtained were analysed to evaluate the general conditions of
nutmeg plantation in South Aceh, production processes and productivities, financial
analysis, and nutmeg market condition. Production analysis included environmental
assessment, production method evaluation, damage analysis, and productivity analysis.
Financial analysis included the calculation of Gross Profit Margin (GPM) ratio, Break
Even Point (BEP), and Net Present Value (NPV) from the plantation. Market evaluation
included the description of distribution pathway and evaluation of local market, as well as
assessment of global market. Key internal and external factors were defined from the
analysis, and used in the formulation of strategy. The strategy formulation itself included
three stages, i.e., input stage, matching stage using SWOT and IE matrix analysis, and
decision stage using QSPM matrix analysis. The chosen strategy will be implemented in
a more technical workplan, and will be evaluated based on feasibility and consistency
criteria.
Results of analysis showed that pest infestation has caused a decrease in the total number
of productive nutmeg plants to 31.3% and a decrease of production to 24.7% of total
production before pest infestation. However, vegetation description showed that the
proportion of productive trees (tanaman menghasilkan=TM) and young trees (tanaman
belum menghasilkan=TBM) was still higher than the damaged trees (tanaman
rusak=TR), hence showing the farmers’ effort to recover their plantations. In addition,
the established agroforestry combination, which includes durian, kweni, pinang, and
nilam may give a high additional income for farmers. Financial analysis reveal a
relatively high GPM ratio (14.8%) and positive NPV (Rp. 7,537,404), thus show that the
plantation in the state of condition are financially feasible to be carried out. On the other
hand, the increased demand for nutmeg in the global and local market, government
support for nutmeg farmers, and the availability of infrastructure help farmers to maintain
their nutmeg plantation.
Analysis of key internal and external factors showed that farmers have low response to
external conditions, despite their strong internal position. Based on IE matrix analysis, in
general, nutmeg plantation in Paya Teuk village are in stable state, as weaknesses and
threats faced by the farmers are balanced with strengths and opportunities. The SWOT
matrix analysis resulted in eight strategy alternatives. From the alternatives, QSPM
matrix analysis showed that backward (upstream) strategy produced the highest Total
Attractiveness Score (TAS), i.e., 3.25, hence was chosen as the strategy for nutmeg
smallholder estate management in Paya Teuk village. Backward integration strategy is
related to the farmers’ efforts to gain access to raw material supplies and production
facilities, thus giving them the ability to improve their plantation productivity.
Implementation of strategy consists of determination of strategic goals, formation of a
farmers organization, policy formulation, and resources allocation. Evaluation of the
strategy from three different approaches (social, ecological, and economic) showed that
implementation of the backward integration strategy will be feasible and consistent.
Keywords : nutmeg plantation, strategic planning
Add New Comment