TEORI KOMUNIKASI DAN ASUMSI FILOSOFIS
Hasyim Ali Imran1
Abstract
Existence carelessness of the perspective in connection with the uses of the theory for the interests of the
research, still often was encountered in the circle of the academic of the beginner's communication. In
connection with this, this paper tried to discuss the existence of the theory of communication according to
the assumption filofis with the focus to the epistemology component.Results of discussions according to the
History of Epistemology showed that the scientist's circle did not have the method that was same towards
him found the truth to the object of knowledge.Because of that was influential towards the process of the
production of the theory of communication. From results of discussions according to the Reflection of
epistemology in forma penteorisasian the phenomenon of communication, was known that like that the
difficulty in understanding the existence of a theory of communication well.But the level of this complexity
could be in part reduced by means of grouping theories of available communication according to each
available genre or by each paradigm.
Kata-kata kunci : Teori Komunikasi; asumsi filosofis dan epistemologi.
Latar Belakang dan Permasalahan
Sebagai salah satu sisi dalam kehidupan manusia, aktifitas komunikasi itu
dikatakan akademisi komunikasi sebagai aktifitas vital dalam kehidupannya.
Communication is so deeply rooted in human behaviors and the structures of society that
it is difficult to think of social or behavioral events that are absent communication2.
Soesanto mensinyalirnya sebagai aktifitas yang dilakukan manusia sebanyak 90 % dalam
kehidupannya sehari-hari. Cangara3yang mengklaim sebagai penilaian dari banyak pakar,
mengatakan bahwa komunikasi adalah sebagai suatu kebutuhan yang sangat fundamental
bagi seseorang dalam hidup bermasyarakat. Menurut Schram komunikasi dan masyarakat
merupakan dua kata kembar yang tidak dapat dipisahkan satu sama lainnya. Tanpa
komunikasi tidak mungkin masyarakat terbentuk, sebaliknya tanpa masyarakat maka
manusia tidak mungkin dapat mengembangkan komunikasi4.
Melihat dua pendapat tadi kiranya menyiratkan kalau komunikasi itu sebagai
aktifitas penting bagi setiap orang dalam kehidupannya dengan sesama dalam rangka
kehidupan bermasyarakat. Dengan demikian, komunikasi itu antara lain dapatlah
diartikan sebagai suatu aktifitas yang terjadi di antara sesama manusia yang berfungsi
sebagai penghubung di antara mereka dengan cara melakukan penyampaian pesan
berupa lambang verbal dan non verbal yang artinya diusahakan dapat dimaknai secara
bersama.Sebagai sebuah fenomena kemanusiaan, maka komunikasi antar manusia yang
disebut Littlejohn dengan human communication itu, proses keterjadiannya muncul pada
beberapa bentuk atau tingkatan. Bentuk atau tingkatan yang sebelumnya diistilahkan
Littlejohn dengan setting/konteks komunikasi yang terdiri dari konteks interpersonal,
group, organization dan mass5, itu kemudian diubahnya menjadi lima tingkatan (level),
yakni meliputi : 1-interpersonal, 2-group, 3-public or rhetoric, 4-organizational dan 5-
mass. 6
1 Peneliti Madya Bidang Studi Komunikasi dan Media pada BPPI Wilayah II Jakarta, Badan Litbang SDM Depkominfo.
2 (Taken from http//en.wikibooks.org, on Sept 13, 2006).
3 Cangara, Hafied, 1998, Pengantar Ilmu Komunikasi, Jakarta, Raja Grafindo Persada, hal. 1.
4 Schramm, 1982, dalam Cangara, 1998 :2).
5Littlejohn, Stephen W., 1983, Theories of Human Communication, Columbus –Ohio, Charles E. Merrill Publishing Company, p.
381-382.
6Littlejohn, Stephen W., 2005, Theories of Human Communication, eighth edition, Thomson Learning Inc., Wadsworth, Belmont,
USA.
1
Fenomena komunikasi di antara sesama umat manusia yang terjadi dalam lima
level itu, masing-masing memiliki problemanya sendiri yang begitu kompleks. Guna
memahaminya,
diperlukan
pemikiran
yang
relatif
serius.
Terkait
dengan
kekompleksitasan itu, karenanya banyak akademisi dari lintas disiplin ilmu yang tertarik
dan menuangkan keseriusannya terhadap fenomena human communication. Sebuah
fenomena yang belakangan dikenal menjadi obyek forma dari suatu ranting ilmu sosial
yang disebut dengan ilmu komunikasi.
Bagi ilmu komunikasi sendiri, latar belakang yang bersifat multi disipliner tadi,
mengandung banyak konsekuensi. Konsekuensinya antara lain berupa munculnya
beragam teori yang dirumuskan menurut beragam perspektif. Karenanya, konsekuensi
ragam perspektif ini menjadi perlu mendapat perhatian dalam kaitan pemanfaatan suatu
teori komunikasi untuk menjadikannya sebagai kompas dalam menelaah suatu fenomena
komunikasi pada setiap level keterjadiannya.
Berdasarkan pengamatan, eksistensi perspektif itu masih relatif sering dijumpai
pengabaiannya oleh kalangan akademisi. Bentuk pengabaian itu, entah karena disadari
atau tidak, antara lain berupa pengacuan teori yang tidak relevan dengan paradigma
penelitian yang diterapkan dalam suatu penelitian. Wujud lainnya, dan ini mungkin yang
paling kerap terlihat di kalangan akademisi, yakni saling mempertentangkan pendekatan
kuantitatif dan kualitatif. Padahal, seyogyanya ini merupakan hal yang kurang perlu,
sehubungan eksistensi keduanya masing-masing telah diakui di kalangan akademisi.
Tulisan ini sendiri tidak bermaksud untuk mengarahkan pada keunggulan teori pada suatu
perspektif tertentu. Akan tetapi, dengan mengacu pada percikan fenomena aplikasi teori
yang relatif keliru dalam kepentingan akademik tadi, maka tulisan ini hanya bermaksud
sebatas pada upaya menelaah eksistensi teori komunikasi menurut asumsi filofisnya saja,
dan itupun terfokuskan pada komponen epistemologis. Dengan telaah dimaksud,
diharapkan dapat terwujud kejernihan dalam memaknai teori, terutama terkait dengan
kepentingan penggunaannya dalam pelaksanaan penelitian.
Epistemologi dan Asumsi Filosofis
Memahami eksistensi teori komunikasi dalam konteks upaya pemberdayaannya
sebagai kompas dalam menelaah fenomena komunikasi, maka yang lazim dilakukan
dalam dunia akademik antara lain dilakukan dengan cara mengetahui dan memahami
konsep-konsep yang terkandung di dalam suatu teori komunikasi. Akan tetapi, upaya ini
saja secara relatif masih belum memadai karena masih belum mampu memberikan
gambaran keseluruhan tentang hakikat suatu konsep dalam sebuah teori. Terutama ini
dalam kaitannya dengan “siapa pencetusnya”, yang nota bene ini akan sangat
mempengaruhi warna perspektifnya dalam menteorisasi suatu fenomena. Terlebih lagi
jika disadari bahwa komponen konsep itu hanya merupakan salah satu saja dari empat
komponen yang ada dalam suatu teori. Komponen lainnya, sebagaimana telah disinggung
sebelumnya, yaitu mencakup komponen asumsi filosofis,7, penjelasan8 dan prinsip9.
7 Mengenai komponen konsep, ini diartikan sebagai generalisasi dari sekelompok fenomena tertentu, sehingga dapat dipakai untuk
menggambarkan berbagai fenomena yang sama (Singarimbun dan Effendy, 1984 : 17). Konsep ini sifatnya masih bermakna
tunggal sehingga belum bisa dilakukan pengukuran terhadap fenomena yang dijelaskannya. Guna memungkinkan pengukuran,
maka bagi ilmuwan tradisional terhadap suatu konsep harus diberikan sifat-sifat tertentu. Concepts are typically operationalized in
2
Jadi, upaya memahami suatu teori secara utuh, tampaknya antara lain dapat dilakukan
dengan baik melalui upaya pemahaman terhadap masing-masing dari keempat komponen
dimaksud dalam suatu keseluruhan. Meskipun demikian, paper ini tidak bermaksud untuk
meninjau semua komponen dimaksud, melainkan hanya dibatasi pada komponen asumsi
filosofis melalui sub komponen epistemologis 10 . Dua sub komponen lainnya pada
komponen dimaksud, sebagaimana diketahui yakni terdiri dari sub komponen ontologi
dan aksiologi.
Sebagai salah satu dari tiga sub komponen yang ada dalam komponen asumsi
filosofis, sub komponen epistemologi dikenal sebagai cabang philosophy yang
mempelajari pengetahuan. Epistemologi mencoba untuk menjawab pertanyaan mendasar
: apa yang membedakan pengetahuan yang benar dari pengetahuan yang salah. Secara
praktis, pertanyaan-pertanyaan ini ditranslasikan ke dalam masalah-masalah metodologi
ilmu pengetahuan. Misalnya seperti : how can one develop theories or models that are
better than competing theories?11 Relatif sejalan dengan ini, maka sebagai salah satu
komponen dalam filsafat ilmu, epistemologi disebutkan terfokus pada telaah tentang
bagaimana cara ilmu pengetahuan memperoleh kebenarannya, atau bagaimana cara
mendapatkan pengetahuan yang benar12, atau how people know what they claim to know
13 . Jadi, dari sini tampaknya “how” menjadi kata kunci dalam upaya menemukan
“rahasia” dibalik kemunculan konsep-konsep teoritis dalam suatu teori komunikasi.
Banyak cara mungkin dapat dilakukan dalam usaha menemukan esensi dari kata “how”
tadi. Salah satunya yang paling utama, mungkin menurut sejarah “epistemologi” itu
sendiri.
Bila ditinjau menurut sejarah epistemologi, maka terlihat adanya suatu
kecenderungan yang jelas mengenai bagaimana riwayat cara-cara menemukan kebenaran
(pengetahuan), kendatipun riwayat dimaksud memperlihatkan adanya kekacauan banyak
perspektif yang posisinya saling bertentangan. Teori pertama pengetahuan dititikberatkan
pada keabsolutannya, karakternya yang permanen14. Sedangkan teori berikutnya menaruh
traditional science (Littlejohn (2005 : 25) karena ilmu ini memerlukan ketepatan dalam melakukan observasi terhadap konsep yang
dipelajari.
8 Komponen ketiga pada teori adalah penjelasan atau eksplanasi. The theorist identifies regularities or patterns in the relationships
among variables. In simplest terms, explanation answers the question, Why ? An explanation identifies a “logical force” among
variables that connect them in some way. Penjelasan tersebut banyak jenisnya, namun dua diantaranya yang umum adalah
penjelasan sebab-akibat (causal) dan penjelasan praktis (practical). Causal explanation explains outcomes as responses, whereas
practical explanation sees action as controllable and strategic. In causal explanation, the consequent event is determined by some
antecedent event. In practical explanation, outcomes are made to happen by actions that are chosen. Perbedaan antara penjelasan
sebab akibat dan praktis ini sangat penting dalam debat mengenai apa yang harus dilakukan sebuah teori. Banyak teoritisi
tradisional mengatakan bahwa teori-teori akan berhenti pada tingkatan penjelasan ini. (Lihat, dalam Littlejohn, 2005 : 22).
9 Sebuah prinsip adalah sebuah pedoman yang memungkinkan kita untuk melakukan interpretasi pada sebua peristiwa, membuat
sebuah penilaian mengenai apa yang terjadi, dan kemudian memutuskan bagaimana melakukan tindakan dalam suatu situasi. Suatu
prinsip memiliki tiga bagian; (1) prinsip mengidentifikasikan suatu situasi atau peristiwa; (2) prinsip ini mengandung sebuah
rangkaian norma-norma atau nilai-nilai, dan (3) prinsip menuntut sebuah hubungan antara suatu jarak tindakan dan konsekuensi-
konsekuensi yang mungkin muncul. Principles enable researcher to repflect on the quality of actions observed and to provide
guidelines for practice as well. (Littlejohn, 2005 : 23).
10 Komponen asumsi filosofis sering dibagi ke dalam tiga jenis pembahasan, meliputi pembahasan menurut sub komponen :
epistemologi, or questions of knowledge; ontologi, or questions of existence; aksiologi, or questions of value((Littlejohn, 2005 :
20).Looking for these assumptions provides a foundation for understanding how a given theory positions itself in relation to other
theories on these basic issues that help construct a theory”, kata Littlejohn (2005 :18).
11 Heylighen,, F.,”Epistemology, Introduction”, dalam , http://pespmc1.vub.ac.be/EPISTEMI.html, diakses, 22 Maret 2007.
12 Suriasumantri, Jujun S., 1984, Filsafat Ilmu, Sebuah Pengantar Populer, Jakarta, Sinar Harapan., hlm. 33-34.
13 (Littlejohn, Stephen W., 2005, Theories of Human Communication, eighth edition, Thomson Learning Inc., Wadsworth,
Belmont, USA, p. : 18).
14 Lihat, Robert N. St. Clair; Walter E. Rodríguez; dan Carma Nelson, “PLATO AND THE WORLDS OF IDEAL AND MATERIAL
FORMS” dalam HABITUS AND COMMUNICATION THEORY, dalam http://louisville.edu/~rnstcl01/R- Bourdieu.html, diakses 22
Maret 2007.
3
penekanannya
pada
kerelativitasan
atau
situation
(keadaan)–dependence
(ketergantungan), kerelativitasan pengetahuan tersebut berkembang secara terus-menerus
atau berevolusi, dan pengetahuan secara aktif campur tangan terhadap the world dan
subyek maupun obyeknya. Secara keseluruhan cenderung bergerak dari suatu ke-statis-an,
pandangan pasif pengetahuan bergerak secara aktif ke arah penyesuaian demi
penyesuaian.
Dalam pandangan filsuf Yunani, Plato, pengetahuan adalah hanya sebuah
kesadaran mutlak, universal Ideas or Forms., keberadaan bebas suatu subyek yang perlu
dipahami 15 . Pemikiran Aristotle lebih menaruh penekanan pada metode logika dan
empirik bagi upaya penghimpunan pengetahuan, dia masih menyetujui pandangan bahwa
pengetahuan seperti itu merupakan sebuah apprehension of necessary and universal
principles. Mengikuti masa-masa Renaisans, terdapat dua epistemological utama yang
posisinya mendominasi filsafat, yaitu empiricism dan rationalism. Empiricism
(empirisme) yaitu suatu epistemologi yang memahami bahwa pengetahuan itu sebagai
produk persepsi indrawi. Sementara rationalism (rasionalisme) melihat pengetahuan itu
sebagai sebuah produk refleksi rasional.
Pengembangan terbaru yang dilakukan empirisme melalui eksperimen ilmu
pengetahuan telah berimplikasi pada berkembangnya pandangan ilmu pengetahuan yang
secara eksplisit dan implicit hingga sekarang masih dipedomani oleh banyak ilmuwan.
Pedoman dimaksud yaitu reflection-correspondence theory. Menurut pandangan ini
pengetahuan dihasilkan dari sejenis pemetaan atau refleksi obyek eksternal melalui organ
indrawi kita, yang dimungkinkan terbantu melalui alat-alat pengamatan berbeda, menuju
ke otak atau pikiran kita. Meskipun pengetahuan tidak mempunyai keberadaan a priori,
seperti dalam konsepsi Plato, tetapi mesti dibangun dengan pengamatan, hal yang
demikian karenanya masih absolute sifatnya. Ada teori penting yang diperkembangkan
pada periode itu yang layak untuk diikuti, yaitu menyangkut sintesa rasionalisme dan
empirismenya para pengikut Kant. Menurut Kant16, pengetahuan itu dihasilkan dari the
organization of perceptual data on the basis of inborn cognitive structures, which he
calls "categories". Kategori mencakup ruang, waktu, obyek dan kausalitas. Epistemologi
tersebut menerima ke-subyektifitas-an konsep-konsep dasar, seperti ruang dan waktu, dan
ketidakmungkinan untuk menjangkau kemurnian representasi objektiv dari sesuatu dalam
dirinya. Jadi kategori a priori masih tetap bersifat statis atau given.
Tahap berikutnya dari perkembangan epistemologi disebut pragmatis
(pragmatic)17. Bagian-bagian dari perkembangan dimaksud dapat dijumpai pada masa-
masa mendekati awal abad dua puluh, misalnya seperti logika positivisme,
15 Robert N. St. Clair; Walter E. Rodríguez; dan Carma Nelson, “PLATO AND THE WORLDS OF IDEAL AND MATERIAL
FORMS” dalam HABITUS AND COMMUNICATION THEORY, dalam http://louisville.edu/~rnstcl01/R- Bourdieu.html, diakses 22
Maret 2007.
16Immanuel Kant is one of the most influential philosophers in the history of Western philosophy. His contributions to metaphysics,
epistemology, ethics, and aesthetics have had a profound impact on almost every philosophical movement that followed him. This
portion of the Encyclopedia entry will focus on his metaphysics and epistemology in one of his most important works, The Critique
of Pure Reason. (All references will be to the A (1781) and B(1787) edition pages in Werner Pluhar's translation. Indianapolis:
Hackett, 1996.) A large part of Kant's work addresses the question "What can we know?" The answer, if it can be stated simply, is
that our knowledge is constrained to mathematics and the science of the natural, empirical world. It is impossible, Kant argues, to
extend knowledge to the supersensible realm of speculative metaphysics. The reason that knowledge has these constraints, Kant
argues, is that the mind plays an active role in constituting the features of experience and limiting the mind's access to the
empirical realm of space and time.( dalam , http://www.utm.edu/research/iep/k/kantmeta.htm, diakses, 6 Juni 2007)
17 pragmatic theory is the theory of truth that the truth of a statement consists in its practical consequences, esp. in its agreement with
subsequent experience.( http://dictionary.reference.com/browse/pragmatic%20theory).
4
konvensionalisme, dan mekanika kuantum menurut "Copenhagen interpretation” 18 .
Filsafat ini masih mendominasi kebanyakan cara kerja ilmiah dalam cognitive science
dan artificial intelligence.
Menurut epistemologi pragmatis, pengetahuan terdiri dari model-model yang
mencoba merepresentasikan lingkungan sedemikian rupa guna penyederhanaan secara
maksimal pemecahan masalah, to maximally simplify problem-solving. Pemahaman
demikian karena diasumsikan bahwa tidak ada model yang pernah bisa diharapkan untuk
mampu menangkap semua informasi yang relevan, dan sekalipun model yang lengkap
seperti itu ada, model tersebut mungkin akan sangat rumit untuk digunakan dalam cara
praktis apapun. Karena itu kita harus menerima keberadaan kesejajaran model-model
yang berbeda, sekalipun model-model dimaksud mungkin terlihat saling bertentangan.
Model yang akan dipilih tergantung pada masalah yang akan dipecahkan. Ketentuan
dasarnya adalah bahwa model yang digunakan sebaiknya menghasilkan perkiraan
(melalui pengujian) yang benar (atau approximate) atau problem-solving, dan
sesederhana mungkin. Pertanyaan lebih jauh yaitu menyangkut tentang the " the Ding an
Sich" or ultimate reality behind the model are meaningless.19
Epistemologi pragmatis tidak memberikan jawaban jelas terhadap pertanyaan
mengenai asal-usul pengetahuan atau model. Ada asumsi tersirat bahwa model dibangun
dari bagian-bagian model lain dan data empiris yang perolehannya didasarkan pada
prinsip coba-coba-salah (trial and error) yang dilengkapi dengan beberapa heuristics atau
ilham. Pandangan yang lebih radikal ditawarkan oleh para penganut constructivism.
Kalangan ini mengasumsikan bahwa semua pengetahuan dibangun dari scratch by the
subject of knowledge. Tidak ada sesuatu yang 'givens', data atau fakta empiris yang
obyektif, kategori-kategori bawaan sejak lahir atau struktur-struktur kognitif.Gagasan
korespondensi 20 atau refleksi realitas eksternal karenanya menjadi sesuatu hal yang
ditolak. Karena kekurangan hubungan di antara model dan hal yang mereka
representasikan ini, maka bahayanya bagi constructivism adalah bahwa mereka mungkin
cenderung menjadi relativisme, karena dengan keyakinan mereka bahwa semua
pengetahuan dibangun dari scratch by the subject of knowledge maka cara untuk
membedakan pengetahuan memadai atau 'sebenarnya' dari pengetahuan yang tidak cukup
atau 'palsu', menjadi tiada.
Kita bisa membedakan dua pendekatan yang mencoba menghindari 'kemutlakan
relativisme'. Pendekatan yang pertama disebut konstruktivisme individual (individual
constructivism) dan kedua konstruktivisme sosial (social constructivis21. Konstruktivisme
18 The Copenhagen interpretation is an interpretation of quantum mechanics formulated by Niels Bohr and Werner Heisenberg while
collaborating in Copenhagen around 1927. Bohr and Heisenberg extended the probabilistic interpretation of the wave function,
proposed by Max Born. Their interpretation attempts to answer some perplexing questions which arise as a result of the quantum
mechanics, such as wave-particle duality and the measurement problem. There is no quantum world. There is only an abstract
physical description. It is wrong to think that the task of physics is to find out how nature is. Physics concerns what we can say
about nature.[1]There is no definitive statement of the Copenhagen Interpretation[2] since it consists of the views developed by a
number of scientists and philosophers at the turn of the 20th Century. Thus, there are a number of ideas that have been associated
with the Copenhagen interpretation.(dalam, http://en.wikipedia.org/wiki/Copenhagen_interpretation).
19 Heylighen,, F.,” Epistemology, introduction”, dalam , http://pespmc1.vub.ac.be/EPISTEMI.html, diakses, 22 Maret 2007.
20 correspondence theory is the theory of truth that a statement is rendered true by the existence of a fact with corresponding elements
and a similar structure. (http://dictionary.reference.com/search?q=correspondence%20theory).
21 Social constructivism is a variety of cognitive constructivism that emphasizes the collaborative nature of much learning. Social
constructivism was developed by post-revolutionary Soviet psychologist, Lev Vygotsky. Vygotsky was a cognitivist, but rejected the
5
individual mengasumsikan bahwa seorang individu mencoba mencapai koherensi di
antara perbedaan potongan-potongan pengetahuan itu. Pembuatan atau pengkonstruksian
yang tidak konsisten dengan mayoritas pengetahuan lain akan menyebabkan individu jadi
cenderung untuk menolaknya. Pengkonstruksian yang berhasil dalam mengintegrasikan
potongan-potongan pengetahuan yang sebelumnya tidak bertautan (incoherent) akan
dipelihara.
Konstruktivisme sosial memahami mufakat antara subyek berbeda sebagai
ketentuan tertinggi untuk menilai pengetahuan. 'Kebenaran' atau 'kenyataan' hanya akan
diberikan terhadap pengkonstruksian yang disetujui kebanyakan orang dari suatu
kelompok masyarakat. Dalam filsafat tersebut pengetahuan tampak sebagai sebuah
hipotesis
‘realitas
eksternal’
yang
sangat
independen.
Sebagai
ilmuwan
constructivists ’radikal' Maturana 22 dan Varela berargumentasi bahwa, the nervous
system of an organism cannot in any absolute way distinguish between a perception
(caused by an external phenomenon) and a hallucination (a purely internal event)23.Satu-
satunya kriteria dasar ialah bahwa perbedaan mental entitas atau perbedaan proses
kejiwaan di dalamnya atau di antara individu-individu sebaiknya menjangkau semacam
keseimbangan.
Melalui pendekatan Konstruktivis tampak penekanannya lebih banyak pada soal
perubahan dan sifat relatif dari pengetahuan, dan cara-cara mereka yang mengunggulkan
kesepakatan sosial atau koherensi internal dalam menemukan kebenaran, ini
menyebabkan mereka tetap masih memiliki ciri yang absolut. Dengan kata lain,
keabsolutan ini ditandai oleh keyakinan para konstruktivist bahwa synthetic outlook is
offered by different forms or evolutionary epistemology. Melalui cara ini dianggap bahwa
pengetahuan itu dikonstruksikan oleh the subject or group of subjects in order to adapt to
their environment in the broad sense.24 Pengkonstruksian itu merupakan sebuah proses
yang terus berkelanjutan pada tingkatan-tingkatan yang berbeda, baik secara biologis
maupun psikologis atau sosial. Pengkonstruksian terjadi melalui blind variation of
existing pieces of knowledge, and the selective retention of those new combinations that
somehow contribute most to the survival and reproduction of the subject(s) within their
given environment. 25 Oleh karena itu, sebagaimana dikatakan Heylighen, bahwa the
'external world' again enters the picture, although no objective reflection or
correspondence is assumed, only an equilibrium between the products of internal
variation and different (internal or external) selection criteria.26 Dalam kaitan ini, maka
bentuk kemutlakan atau ke-permanen-an apapun sudah hilang dalam pendekatan ini.
assumption made by cognitivists such as Piaget and Perry that it was possible to separate learning from its social context. He
argued that all cognitive functions originate in, and must therefore be explained as products of, social interactions and that
learning was not simply the assimilation and accommodation of new knowledge by learners; it was the process by which learners
were integrated into a knowledge community. According to Vygotsky: Every function in the child's cultural development appears
twice: first, on the social level and, later on, on the individual level; first, between people (interpsychological) and then inside the
child (intrapsychological). This applies equally to voluntary attention, to logical memory, and to the formation of concepts. All the
higher
functions
originate
as
actual
relationships
between
individuals.
(p.
57).
(lihat,
http://gsi.berkeley.edu/resources/learning/social.html).
22 Maturana, Humberto is the founder of radical constructivism. Menurutnya : Cognition is a biological phenomenon and can only be
understood as such; any epistemological insight into the domain of knowledge requires this understanding. (http://www.enolagaia.
com/Tutorial1.html#MV).
23 Heylighen,, F.,” Epistemology, introduction”, dalam , http://pespmc1.vub.ac.be/EPISTEMI.html, diakses, 22 Maret 2007.
24 Heylighen,, F.,” Epistemology, introduction”, dalam , http://pespmc1.vub.ac.be/EPISTEMI.html, diakses, 22 Maret 2007.
25 Heylighen,, F.,” Epistemology, introduction”, dalam , http://pespmc1.vub.ac.be/EPISTEMI.html, diakses, 22 Maret 2007.
26 Idem.
6
Namun demikian, sebagaimana dikatakan Heylighen, knowledge is basically still a
passive instrument developed by organisms in order to help them in their quest for
survival.
Pendekatan paling baru terkait epistemologi, dan mungkin ini pendekatan yang
lebih radikal, yaitu kalangan ilmuwan yang memandang bahwa ilmuwan itu harus to
make knowledge actively pursue goals of its own. Pengetahuan itu dibuat harus mampu
aktif untuk mencapai cita-citanya sendiri. Pendekatan epistemologi ini disebut memetics27.
Memetics mencatat bahwa pengetahuan bisa ditransmisikan dari satu subyek kepada
subyek lainnya, dan dengan cara demikian kehilangan ketergantungannya pada individu
tunggal manapun. Sepotong pengetahuan yang bisa ditranmisikan atau ditiru dengan cara
sedemikian rupa disebut 'meme' 28(dibaca : -meem-mim). The death of an individual
carrying a certain meme now no longer implies the elimination of that piece of
knowledge, as evolutionary epistemology would assume. Sepanjang meme menjalar lebih
cepat sampai ke pengangkut baru, setelah itu alat pengangkutnya mati, maka meme akan
tetap berkembang biak, sekalipun pengetahuan itu menyebabkan dalam diri individu
pengangkut manapun, kemungkinan sama sekali tidak mampu dan juga berbahaya bagi
kelangsungan hidupnya.29
Dalam pandangan ini, sepotong pengetahuan mungkin succesful (in the sense
that it is common or has many carriers) sekalipun mungkin prediksinya salah sama
sekali, sejauh pengetahuan tersebut cukup meyakinkan bagi para individu yang berperan
sebagai pengangkut baru pengetahuan 30 . Di sini tampak gambaran di mana subyek
pengetahuan pun sudah kehilangan keunggulannya sendiri, dan pengetahuan menjadi a
force of its own with proper goals and ways of developing itself. Pengetahuan dalam
pengertian dimaksud, dalam kenyataan dapat diilustrasikan melalui banyaknya takhyul,
cerita-cerita iseng, dan kepercayaan-kepercayaan tak masuk diakal yang telah merambah
ke seluruh dunia, dan terkadang dengan kecepatan yang luar biasa.
Seperti halnya social constructivism, maka memetics perhatiannya juga tertarik
pada komunikasi dan proses sosial dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Namun
dalam memandang pengetahuan sebagai hasil konstruksi sistem sosial, memetic lebih
melihat sistem sosial itu sebagai sesuatu yang dikonstruksikan oleh proses pengetahuan.
Memang, satu kelompok sosial bisa didefinisikan melalui fakta bahwa semua anggotanya
membagikan meme yang sama (Heylighen, 1992). Konsep 'self' -pun ', yaitu konsep yang
membedakan seseorang sebagai seorang individu (a person as an individual), bisa
dipertimbangkan sebagai sebuah potongan pengetahuan, yang terkonstruksikan melalui
proses sosial, dan oleh sebab itu menjadi sebuah hasil dari evolusi memetic. Dari
pendekatan konstruktivis, di mana pengetahuan merupakan hasil konstruksi individu atau
masyarakat, maka kita telah bergerak ke pendekatan memetic, yakni pendekatan yang
27 Memetics is the study of ideas and concepts viewed as "living" organisms, capable of reproduction and evolution in an "Ideosphere"
(similar to the Biosphere) consisting of the collective of human minds. Memes reproduce by spreading to new hosts, who will
spread them further (typical examples are jokes, catchphrases or politicial ideas). (http://aleph.se/Trans/Cultural/Memetics/).
28 Dalam kamus memetics, meme (pron. `meem') : A contagious information pattern that replicates by parasitically infecting human
minds and altering their behavior, causing them to propagate the pattern. (Term coined by Dawkins, by analogy with "gene".)
Individual slogans, catch-phrases, melodies, icons, inventions, and fashions are typical memes. An idea or information pattern is
not a meme until it causes someone to replicate it, to repeat it to someone else. All transmitted knowledge is memetic. (Wheelis,
quoted in Hofstadter.) (http://pespmc1.vub.ac.be/MEMLEX.html).
29 Heylighen,, F.,” Epistemology, introduction”, dalam , http://pespmc1.vub.ac.be/EPISTEMI.html, diakses, 22 Maret 2007.
30 Heylighen,, F.,” Epistemology, introduction”, dalam , http://pespmc1.vub.ac.be/EPISTEMI.html, diakses, 22 Maret 2007.
7
melihat masyarakat dan individu sebagai dihasilkan oleh pengkonstruksian melalui
sebuah proses evolusi yang terus-menerus dari fragmentasi independent pengetahuan
yang berkompetisi demi dominasi.
Dari riwayat singkat tentang cara-cara menemukan kebenaran (pengetahuan)
sebelumnya, kiranya memberikan gambaran bahwa melalui argumentasinya masing-
masing, tampak kalangan ilmuwan tidak memiliki cara yang sama dalam upayanya
menemukan kebenaran pada obyek ilmu dan karena itu berkonsekuensi pada
penteorisasian fenomena (baca : komunikasi). Jadi, memang benar apa yang dikatakan
Neuman31, bahwa Theories come in many shapes and sizes.
Refleksi Ragam Epistemologikal dalam Teorisasi fenomena komunikasi
Ilmu komunikasi, sebagai ilmu yang menurut banyak ahli sebagai ilmu yang
bersifat interdisipliner, secara epistemologis mencerminkan hasil galian menurut ragam
perspektif. Secara terminologis ragam perspektif dimaksud tercakup pada sejumlah
paradigma ilmu pengetahuan, yang secara familiar dikenal mencakup: positivistik;
konstruktif/interpretif; dan kritikal. Terhadap teori-teori yang dibangun berdasarkan
paradigma
dimaksud,
para
akademisipun
tidak
sepakat
dalam
upaya
mengkategorisasikannya. Dalam upaya pengkategorian ini, para teoritisinya masing-
masing menunjukkan penggunaan istilah yang berbeda. Istilah itu, menurut penulis ada
yang pengkodefikasiannya menurut tempat berasalnya pemikiran-pemikiran teoritis, ada
yang menurut “ideologi” yang mendasari lahirnya perspektif teoritis, dan ada yang
berdasarkan cara bekerjanya ilmu dalam proses mencapai kebenaran ilmiahnya. Terhadap
pengkodefikasian yang dilakukan berdasarkan tempat asal lahirnya pemikiran teoritis,
maka pengkodefikasiannya dikenal dengan kelompok Chicago School yang Liberal-
Pluralis dan direpresentasikan sebagai perspektif teori komunikasi Barat yang nota bene
positivistic/obyektif. Karenanya, penelitian dalam kubu ini diarahkan pada penggunaan
unit analisis individu dengan methode survey dan instrumen-instrumen yang standar,
yang dimaksudkan sebagai usaha dalam menjelaskan gejala-gejala sosial sebagaimana
dalam hukum-hukum alam, yang hanya terbatas pada erklaeren berdasarkan hubungan
causal. Lawannya adalah Frankfurt School-Marxis Kritikal 32 , yang direpresentasikan
sebagai pemikiran-pemikiran yang melahirkan teori-teori komunikasi Timur. Para
Ilmuwan dalam kelompok ini, dengan tokoh yang antara lain terdiri dari Max
Horkheimer, Theodor W. Adorno, Erich Fromm dan Herbert Macuse, banyak
dipengaruhi oleh kritik idealisme Karl Marx. Jadi, di antara dua kubu tersebut, forma
penteorisasian fenomena komunikasinya, secara epistemologis terutama terbedakan
karena soal ‘value’ dalam proses bekerjanya ilmu dalam menemukan kebenaran
ilmiahnya.
Kemudian, pengkodefikasian yang dilakukan menurut cara bekerjanya ilmu
dalam proses mencapai kebenaran ilmiahnya, maka termasuklah di sini pengistilahan
31 Neuman, W. Lawrence, 2000, “The Ethics And Politic of Social Research”, in chapter 5 on Social Research Methods-Qualitative
and Quantitative Approaches, Allyn and Bacon, Boston, USA.
32 The Frankfurt School is a school of neo-Marxist social theory, social research, and philosophy. The grouping emerged at the
Institute for Social Research (Institut für Sozialforschung) of the University of Frankfurt am Main in Germany when Max
Horkheimer became the Institute's director in 1930. The term "Frankfurt School" is an informal term used to designate the thinkers
affiliated with the Institute for Social Research or influenced by them: it is not the title of any institution, and the main thinkers of
the Frankfurt School did not use the term to describe themselves.
8
yang diberikan Mc Quail dan Griffin. Mc Quail mengkodefikasikan istilahnya itu dengan
konsep model, yakni model komunikasi yang terdiri dari model Transmisi dan Ritual.
Model transmisi merupakan model yang menggambarkan cara bekerjanya ilmu
komunikasi dalam perspektif tradisional atau positivistic yang nota bene free value. Jadi,
sama dengan proses bekerjanya ilmu dalam perspektif Teori Barat sebelumnya.
Sementara model ritual, yakni model yang menggambarkan cara bekerjanya ilmu
komunikasi itu dengan proses seperti yang terjadi pada perspektif interpretif (humanis)
sebagaimana dikatakan Griffin seperti telah disinggung sebelumnya. Griffin sendiri,
mengistilahkan transmisi sebagaimana digunakan Mc Quail tadi dengan istilah Scientific
(Objektive). Dengan mana, perspektifnya relatif tidak berbeda dengan apa yang
digambarkan Mc Quail.
Kemudian, kodefikasi yang dilakukan menurut “ideologi” sebagai landasan
epistemologis yang mendasari lahirnya perspektif teoritis. Untuk yang ini, maka ada dua
teoritisi yang mengemukakan gagasannya. Pertama seperti yang dikemukakan Littlejohn
melalui istilah yang disebutnya dengan genre33 atau jenis-jenis teori komunikasi, dan
kedua oleh Miller dengan istilahnya Conceptual Domains of Communication Theory.
Terkait dengan Littlejohn, maka genre teori komunikasi itu menurutnya ada lima:
1. teori struktural fungsional; 2. teori kognitif dan behavioral; 3. teori interaksional; 4.
teori interpretif dan 5. teori kritis. (Littlejohn, 1994 : 13). Basis pada teori “1” adalah
perspektif sosiologi struktural-fungsionalisme dari Emile Durkheim dan Talcott Parson.
Perspektif ini berdasarkan pada perspektif dalam falsafah determinisme. Pada teori
kedua, maka basis pemikirannya bertolak pada perspektif psikologis, yakni Stimulus (S)
dan Respon (R). Manusia mendapatkan pengetahuannya dengan cara merespon
rangsangan-rangsangan yang ada di alam ini. Pada genre ketiga, maka basisnya adalah
bahwa kehidupan sosial dipandang sebagai sebuah proses interaksi, tokohnya antara lain
Herbert Mead. Kemudian genre keempat, basisnya yaitu pada upaya menemukan makna
pada teks. Dalam kelompok ini tergabung para ilmuwan yang menamakan diri dengan
henneneuticists, poststructuralis, deconstructivis, phenomenologis, peneliti studi budaya,
dan ada yang menyebutnya dengan ahli teori aksi sosial. Terakhir yaitu teori kritis, basis
teorinya adalah kritik idealisme Karl Marx, dengan tokoh awalnya Max Horkheimer,
Theodor W. Adorno, Erich Fromm dan Herbert Macuse.
Meskipun teori komunikasi itu terbagi menjadi lima genre, namun ini bukan
berarti masing-masing genre tidak memiliki persamaan sama sekali. Persamaan yang
kasat mata, paling tidak itu dimungkinkan terjadi menurut motif yang melatar belakangi
para ilmuwannya dalam memunculkan salah satu sudut pandang terhadap upaya
menelaah fenomena komunikasi. Persamaan dimaksud, dapat dikatakan sebagai sebuah
persamaan umum yang ada pada masing-masing genre teori komunikasi, yakni upaya
untuk
menemukan
kebenaran
yang
sedalam-dalamnya
tentang
fenomena
(Erscheinungen) komunikasi sebagai obyek forma dari ilmu komunikasi.
Selain persamaan umum, juga terdapat persamaan yang khas pada kelima genre
itu. Persamaan dimaksud, misalnya antara genre struktural and functional theories
dengan genre cognitif and behavioral theories, keduanya dipersamakan oleh landasan
falsafah ilmu yang dianut, yakni determinisme – positivisme yang dipelopori A. Comte
33 Daniel Chandler , “The word genre comes from the French (and originally Latin) word for 'kind' or 'class'. The term is widely used
in rhetoric, literary theory, media theory, and more recently linguistics, to refer to a distinctive type of 'text'*. How we define a
genre depends on our purpose. (http://www.aber.ac.uk/media/Documents/intgenre/ intgenre1.html).
9
(1798-1857)34. Dengan demikian, komunikasi antara lain dianggap sebagai proses yang
linier, dari komunikator ke komunikan. Jadi, persis seperti apa yang dimaksudkan Mc
Quail dalam model transmisinya.
Namun demikian, khusus terhadap genre pertama sebelumnya (struktural and
functional), genre itu lahir dari akar pemahaman yang berbeda, di mana struktural
berbasis pada pandagan sosiologi, sementara functional basisnya pada biologi, terutama
terhadap konsep sistem anatomi tubuh manusianya, yang kemudian dinilai tidak berbeda
halnya dengan sosial. Persamaan lainnya adalah, bahwa kedua genre teori komunikasi
dimaksud, juga berada dalam posisi yang sama dalam melihat posisi value dalam ilmu,
yakni sama-sama meyakini bahwa nilai tidak boleh terlibat dalam proses keilmuan demi
tidak lahirnya bad science. Dengan demikian, ilmuwan dalam kelompok ini berupaya
tetap menjaga jarak antara dirinya dengan obyek dalam usahanya mengkonseptualisir
suatu fenomena. Karenanya, hipotesis yang dirumuskan dengan proses berfikir ilmiah
deduktif, dinilai jadi sangat berperan dalam kedua genre ketika berupaya menemukan
kebenarannya.
Berbeda dengan dua genre teori komunikasi sebagaimana dibahas barusan, maka
pada tiga genre lainnya, yaitu interactionist symbolic theories; interpretive theories dan
critical theories, masalah value dinilai syah dalam proses ilmiah. Ini berhubungan dengan
pemahaman bahwa manusia itu sebagai makhluk yang memiliki kehendak bebas. Seiring
dengan itu, komunikasipun dirumuskan bukan sebagai sebuah proses yang linier,
melainkan sirkuler, dengan mana manusia-manusia yang terlibat di dalamnya tidak
dibedakan dalam hal status seperti halnya dalam genre teori yang berperspektif positivis
dengan isitilah komunikator dan komunikan. Dalam tiga genre ini, individu yang terlibat
disebut dengan partisipan komunikasi, atau ada yang dengan istilah komunikan sebagai
ekuivalen dengan partisipan Dengan demikian, maka komunikasipun antara lain
didefinisikan sebagai sebuah proses pertukaran makna dan konseptualisasi fenomenanya
dilakukan menurut subyek penelitian dengan prinsip ongoing process.
Dari uraian tentang refleksi epistemologi dalam forma penteorisasian fenomena
komunikasi tadi, kiranya mengindikasikan bahwa relatif rumitnya dalam upaya
memahami eksistensi suatu teori komunikasi dengan baik. Suatu pemahaman yang secara
pra kondisional tentunya sangat diperlukan oleh para akademisi komunikasi, terutama
bagi para pemula, guna tidak terjadinya kekeliruan dalam mengaplikasikan suatu teori
ketika mengkonseptualisasikan sebuah fenomena komunikasi. Namun, kerumitan ini
tampaknya antara lain bisa dikurangi dengan cara mengelompokkan teori-teori
komunikasi yang ada menurut setiap genre yang ada. Akan tetapi, sejauh pengamatan
menunjukkan bahwa upaya yang demikian belum ditemui. Juga belum ditemui pula
sejumlah teori komunikasi yang digolong-golongkan menurut masing-masing paradigma
(sebagai refleksi epistemologi) yang ada dalam perspektif filsafat ilmu. Yang ada bukan
menurut genre, melainkan diantaranya menurut level, gugusan, dan menurut alpabetisnya
saja. Upaya yang ada dimaksud, diantaranya dilakukan University of Twente
Nedherland35.
Penutup
34 dalam, Poedjawijatna, I.R., 1983, Tahu dan Pengetahuan, Pengantar ke Ilmu dan Filsafat, Jakarta, Bina Aksara., hlm. 94.
35 Lihat, University of Twente, Netherlands , (http://www.tcw.utwente.nl/theorieenoverzicht/index.html).
10
Add New Comment