This is not the document you are looking for? Use the search form below to find more!

Report home > Health & Fitness

Gangguan Tidur pada Usia Lanjut (INSOMNIA)

Document Description
Insomnia pada Usia Lanjut (Terjemahan) oleh Ika Syamsul Huda MZ.
File Details
  • Added: June, 05th 2010
  • Reads: 4086
  • Downloads: 506
  • File size: 916.90kb
  • Pages: 15
  • Tags: ika, syamsul, huda, mz
  • content preview
Submitter
  • Username: ikapdf
  • Name: ikapdf
  • Documents: 2
Embed Code:
Comment is disabled by submitter.
Related Documents

OBAT SAKIT SENDI, OBAT SAKIT PERSENDIAN, SAKIT RADANG SENDI, RADANG SENDI KESEHATAN, dari HERBALIFELINE. PEMESANAN HUBUNGI REKO HANDOYO, 081389411679, 081932985325 BINTARO JAKARTA SELATAN. http://produkherbalsehat.blogspot.com

by: abrahamhandoyo, 2 pages

OBAT SAKIT SENDI, OBAT SAKIT PERSENDIAN, SAKIT RADANG SENDI, RADANG SENDI KESEHATAN, dari HERBALIFELINE. PEMESANAN HUBUNGI REKO HANDOYO, 081389411679, 081932985325 BINTARO JAKARTA SELATAN. ...

RANCANG BANGUN APLIKASI SISTEM PAKAR UNTUK MENENTUKAN JENIS ...

by: samuel, 23 pages

Sistem pakar ( expert system ) secara umum adalah sistem yang berusaha mengadopsi pengetahuan manusia ke komputer, agar komputer dapat menyelesaikan masalah seperti yang biasa dilakukan oleh para ...

PENGOBATAN SAKIT RADANG SENDI, RADANG SENDI KESEHATAN, OBAT SAKIT SENDI, OBAT SAKIT PERSENDIAN dari HERBALIFELINE. PEMESANAN HUBUNGI REKO HANDOYO, 081389411679, 081932985325

by: abrahamhandoyo, 2 pages

PENGOBATAN SAKIT RADANG SENDI, RADANG SENDI KESEHATAN, OBAT SAKIT SENDI, OBAT SAKIT PERSENDIAN dari HERBALIFELINE. PEMESANAN HUBUNGI REKO HANDOYO, 081389411679, 081932985325 BINTARO JAKARTA SELATAN. ...

PERSEPSI WISATAWAN LANJUT USIA PADA FASILITAS AKOMODASI DAN ...

by: yesse, 13 pages

The aim of this research is to identify elder tourist perception toward accommodation facilities and tourism activities from art and cultural atmosphere point of view in Sanur Village. This research ...

PROFIL PENGGUNAAN KONTRASEPSI PADA PASANGAN USIA SUBUR ( PUS ) DI ...

by: anna, 23 pages

Indonesia menghadapi permasalahan pada jumlah dan kualitas sumber daya manusia dengan tingginya tingkat kelahiran setiap tahun. Untuk dapat mengangkat derajat kehidupan telah dilaksanakan secara ...

Insomnia

by: rika, 4 pages

Insomnia is not defined by the number of hours of sleep a person gets or how long it takes to fall asleep. Individuals vary normally in their need for, and their satisfaction with, sleep. Insomnia ...

Practice Parameters for the Evaluation of Chronic Insomnia

by: rika, 5 pages

Chronic insomnia is the most common sleep complaint which health care practitioners must confront. Most insomnia patients are not, however, seen by sleep physicians but rather by a variety of primary ...

Insomnia

by: rika, 3 pages

Insomnia can cause problems during the day, such as excessive sleepiness, fatigue, trouble thinking clearly or staying focused, or feeling depressed or irritable. It is not defined by the number of ...

Insomnia

by: rika, 15 pages

Insomnia is the sensation of daytime fatigue and impaired performance caused by insufficient sleep. In general, people with insomnia experience one of the following: •An inability to ...

Insomnia

by: rika, 3 pages

Having insomnia means you often have trouble falling or staying asleep. Insomnia can be either a short-term or a long-term problem. Insomnia affects 1 in 3 adults every year in the US. nsomnia may be ...

Content Preview
The American Journal of Medicine (2006) 119, 463-469
TINJAUAN
Insomnia pada Usia Lanjut: Penyebab, Pendekatan, dan
Pengobatan

Nabil S. Kamel, MD, a,b Julie K. Gammack, MD a,b
a Division of Geriatric Medicine, Saint Louis University Health Sciences Center, b GRECC, St.
Louis VA Medical Center, St. Louis, Mo.

ABSTRAK
Insomnia adalah masalah umum dalam kehidupan akhir. Masalah tidur
pada usila sering keliru dianggap sebagai bagian normal dari penuaan.
Insomnia, gangguan tidur yang paling umum, adalah laporan subjektif atas
tidur kurang atau tak-menyegarkan meskipun peluang cukup untuk tidur.
Terlepas dari kenyataan bahwa lebih dari 50% dari usia lanjut dengan
insomnia, itu biasanya tak-dikelola, dan intervensi nonfarmakologis kurang
dimanfaatkan oleh praktisi kesehatan. Artikel ini akan meninjau penyebab
insomnia pada usila, pendekatan untuk evaluasi pasien, dan pengobatan
nnonfarmakologis dan farmakologis atas insomnia. © 2006 Elsevier Inc.
Hak cipta dilindungi Undang-Undang
KATA KUNCI: Tidur; Usia Lanjut; Insomnia

Insomnia adalah laporan subjektif atas tidur kurang atau tak-menyegarkan meskipun
peluang cukup untuk tidur. Foley dkk. melaporkan insidensi tahunan insomnia pada
sekitar 5% pada usia lanjut. Insidensi keseluruhan insomnia adalah serupa pada laki-
laki dan perempuan, tetapi lebih tinggi di antara pria 85 tahun dan lebih tua.
Pendapatan lebih rendah, pendidikan lebih rendah, dan menjadi seorang janda
dikaitkan dengan peningkatan risiko untuk insomnia. Prevalensi insomnia dilaporkan
dalam daerah dari Amerika Serikat dan di negara lain adalah serupa dan berkisar
antara 30% dan 60%.

FISIOLOGI
Dua faktor utama mengendalikan kebutuhan fisiologis untuk tidur: kuantitas total tidur
(rata-rata 8 jam tidur setiap periode 24-jam) dan irama sirkadian harian kantuk dan
kewaspadaan. Persyaratan dan pola tidur berubah sepanjang hidup, tapi masalah tidur
pada usia lanjut bukan merupakan bagian normal dari penuaan. Apakah usia lanjut
perlu tidur kurang atau tidak dapat mendapatkan tidur yang mereka perlukan,
memerlukan penelitian yang sedang berlangsung. Saat ini tidak ada patokan emas
untuk berapa banyak tidur yang normal pada usia lanjut tetapi berdasarkan persepsi
Insomnia pada Usila: Penyebab, Pendekatan, dan Pengobatan ~ 1


pasien dan dampak pada status fungsional. Pernyataan konsensus Institut Nasional
Kesehatan baru-baru ini menuju diagnosis, risiko, konsekuensi, dan pengobatan
insomnia kronis pada usia lanjut. American Academy of Sleep Medicine juga telah
menerbitkan beberapa pedoman praktek untuk evaluasi dan pengelolaan insomnia.
Secara umum, ada sedikit bukti berkualitas tinggi untuk membimbing praktisi dalam
perawatan orang dewasa dengan insomnia.

ARSITEKTUR TIDUR
Gerak maju tidur melintasi malam disebut arsitektur tidur, dan ditampilkan sebagai
histogram atau hipnogram tidur. Arsitektur tidur terdiri dari 3 segmen. Segmen pertama
meliputi tidur ringan (tahap 1 dan 2), dan segmen kedua termasuk tidur dalam (tahap 3
dan 4). Secara keseluruhan, tahap 3 dan 4 disebut tidur delta atau tidur gelombang
lambat (TGL). TGL diyakini menjadi bagian yang paling menyegarkan dari tidur. Tahap
1 sampai 4 merupakan gerakan mata tak-cepat (non-REM). Segmen tidur ketiga,
termasuk periode tidur REM. Tahap 3 dan 4 umumnya diamati selama paruh pertama
periode tidur, dan tidur REM terjadi paling sering pada paruh kedua. Biasanya, subyek
berputar melalui tahap tidur non-REM dan REM dengan periode 90 sampai 120 menit.

Arsitektur Tidur pada Usia Lanjut
Arsitektur tidur berubah secara signifikan pada individu usia lanjut sehat (Gambar 1).
Pengawitan tidur lebih sulit, tidur waktu tidur total dan keefisienan tidur terkurangi;
gelombang delta atau TGL menurun; fragmentasi tidur meningkat, dan lebih banyak
waktu yang dihabiskan di tempat tidur terjaga setelah selesai. Perubahan fisiologis
alami pada irama sirkadian mempengaruhi banyak usia lanjut untuk pergi tidur lebih
awal dan bangun lebih awal. Faktor-faktor ini dapat menyumbang kemerosotan pada
kualitas tidur dan tidur total kurang. Dengan menua, lamanya tidur REM cenderung
lebih diawetkan, tetapi latensi tidur adalah secara signifikan menurun, menunjukkan
bahwa usia lanjut lebih mengantuk daripada populasi muda.
Usia lanjut merasakannya lebih sulit untuk tetap terjaga di siang hari. Baik frekuensi dan
lamanya tidur siang hari meningkatkan, meskipun peningkatan lamanya relatif kecil
dibandingkan dengan peningkatan yang substansial dalam frekuensi tidur. Tidur siang
hari yang berlebihan akhirnya bisa menyebabkan pembalikan siklus tidur-bangun.
Pasien dapat melaporkan pembalikan siang-malam, di mana tidur tidak mulai sampai
fajar dan kemudian berlanjut sampai sore hari. Kantuk siang hari dapat dievaluasi
dengan menggunakan Uji Latensi Tidur Multipel, yang mengukur kemampuan subjek
Insomnia pada Usila: Penyebab, Pendekatan, dan Pengobatan ~ 2


untuk jatuh tidur selama 4 sampai 5 periode 20-menit sepanjang hari. Skala kantuk
Epworth merupakan alat skrining yang membantu lainnya.

SIGNIFIKANSI KLINIS
· Perubahan fisiologis atas penuaan, kondisi lingkungan, dan
penyakit medis kronis menyumbangkan insomnia pada usia
lanjut.
· Gangguan tidur pada usia lanjut dihubungkan dengan penurunan
memori, konsentrasi terganggu, dan kinerja fungsional terganggu.
Hal tersebut menyumbangkan peningkatan risiko kecelakaan,
jatuh, dan kelelahan kronis.
· Kebanyakan obat tradisional yang untuk mengobati insomnia
dihubungkan dengan efek samping yang mengkhawatirkan pada
penduduk usia lanjut. Tindakan tidur higienis harus tidur
dipertimbangkan sebagai terapi lini pertama.



Gambar 1. Perubahan tidur pada usia lanjut dibandingkan dengan orang dewasa
muda. Direproduksi dengan izin dari edisi 1999 Dokter Keluarga Amerika. Hak Cipta ©
1999 Akademi Dokter Keluarga Amerika. Hak cipta dilindungi Undang-Undang.


Insomnia pada Usila: Penyebab, Pendekatan, dan Pengobatan ~ 3


PENYEBAB
Insomnia diklasifikasikan sebagai sementara (tidak lebih dari beberapa malam), akut
(kurang dari 3-4 minggu), dan kronis (lebih dari 3-4 minggu). Insomnia sementara atau
akut biasanya terjadi pada orang yang tidak memiliki riwayat gangguan tidur dan sering
berhubungan dengan penyebab yang dapat di dentifikasi. Pencetus insomnia akut
termasuk penyakit medis akut, perumahsakitan, perubahan pada lingkungan tidur, obat-
obatan, jet lag, dan stresor psikososial akut atau berulang. Insomnia kronis atau jangka-
panjang dapat dikaitkan dengan berbagai dasar kondisi medis, perilaku, dan lingkungan
dan berbagai obat-obatan.

Tabel 1. Penyebab Insomnia Kronis
1) Gangguan tidur spesifik primer:
Gangguan irama sirkadian:

1) Sindrom fase tidur lanjut

2) Sindrom fase tidur terlambat
Apnea tidur (obstruktif, pusat, atau campuran)
Sindrom tungkai resah
Gangguan gerak ekstremitas periodik (mioklonus malam)
REM, gangguan perilaku

2) Penyakit Fisik:
Nyeri: artritis, nyeri muskuloskeletal, kondisi menyakitkan lainnya
Jantung pembuluh darah: gagal jantung, sesak napas malam hari, angina malam hari
Paru: penyakit paru obstruktif kronik, rinitis alergi (sumbatan hidung)
Gastrointestinal: penyakit refluks gastroesofageal, penyakit tukak lambung, sembelit,

diare, pruritus ani
Kemih: kencing malam dan retensi, pengosongan kandung kemih tidak lengkap,

inkontinensia
Sistem saraf pusat: strok, penyakit Parkinson, penyakit Alzheimer, gangguan kejang
Psikiatri penyakit: kecemasan, depresi, psikosis, demensia, delirium
Pruritus
Henti haid (semburat panas)

3) Perilaku: tidur siang, penggunaan tempat tidur dini, menggunakan tempat tidur untuk
aktivitas lain (misalnya, membaca dan menonton televisi), makan berat, kurang
olahraga, dan gaya hidup bermalasan.

4) Lingkungan: suara, cahaya dan gangguan lainnya, suhu ekstrim, tempat tidur tak
nyaman, dan kurangnya pajanan sinar matahari

5) Pengobatan:
Stimulan sistem saraf pusat: sympathomimetics, kafein, nikotin, antidepresan,

amfetamin, efedrin, fenilpropanolamin, fenitoin
Insomnia pada Usila: Penyebab, Pendekatan, dan Pengobatan ~ 4


Antidepresan: bupropion, penghambat selektif ambilan-kembali serotonin, venlafaksin
Obat anti-Parkinsonian agen: levodopa
Dekongestan: pseudoefedrin
Bronkodilator: teofilin
Jantung: penghambat-β, diuretik
Antihipertensi: klonidin, metildopa, kortikosteroid
Antihistamin, penghambat H 2: simetidin
Antikolinergik
Alkohol
Obat herbal
Perangsang pencaharan
REM : gerakan mata cepat.


DAMPAK GANGGUAN TIDUR
Gejala khas gangguan tidur pada usia lanjut termasuk kesulitan jatuh tertidur dan
mempertahankan tidur, bangun awal pagi, dan kantuk di siang hari yang berlebihan.
Penderita insomnia bisa menjadi secara fisik dan mental kecapaian, cemas, dan mudah
tersinggung. Sebagaimana pendekatan waktu tidur, penderita insomnia menjadi lebih
tegang, cemas, dan khawatir tentang masalah kesehatan, kematian, kerja, dan pribadi.
Masalah tidur mungkin memiliki dampak negatif pada kualitas hidup yang terkait
kesehatan dengan peningkatan risiko kecelakaan, rasa tak enak, dan kelelahan kronis.
Kualitas tidur yang buruk dikaitkan dengan penurunan memori dan konsentrasi, dan
gangguan kinerja dalam uji psikomotorik. Gangguan tidur juga dikaitkan dengan
peningkatan risiko jatuh, penurunan kognitif, dan tingkat kematian lebih tinggi.
Studi menunjukkan bahwa kurang tidur usia muda, laki-laki yang sehat terkait dengan
menurunnya kadar leptin, meningkatnya kadar ghrelin, dan meningkatnya rasa lapar
dan nafsu makan. Hal ini membuat peninggian tekanan darah dan konsentrasi protein
C-reaktif sensitifitas tinggi, yang prediktif kematian jantung-pembuluh darah. Lamanya
tidur 6 jam atau kurang (bahkan setelah pengecualian pasien dengan insomnia)
berhubungan dengan peningkatan prevalensi diabetes dan gangguan hasil tes toleransi
glukosa.

PENDEKATAN INSOMNIA
Langkah pertama dalam mengevaluasi masalah tidur pada usia lanjut (Tabel 2) adalah
menetapkan bahwa orang tersebut benar-benar telah insomnia. Langkah berikutnya
adalah untuk menentukan gangguan tidur yang dominan. Ketika mempertimbangkan
Insomnia pada Usila: Penyebab, Pendekatan, dan Pengobatan ~ 5


pola tidur pasien akan sangat membantu untuk berpikir tentang kualitas, lamanya,
jumlah terbangun, dan waktu. Hal ini sering berguna untuk memiliki pasien yang buku
catatan harian tidur lengkap 1 minggu 1 atau 2-minggu. Catatan ini harus menunjukkan
tidur biasanya pasien, waktu terbangun, tempo dan kuantitas makanan, penggunaan
alkohol, olahraga, obat-obatan (resep dan obat bebas), dan deskripsi lamanya dan
kuantitas tidur setiap hari.

Tabel 2. Pendekatan ke Pasien Usia Lanjut dengan Insomnia
Riwayat tidur:
Pastikan bahwa pasien insomnia
Identifikasi gejala (awitan, lamanya, pola, dan keparahan)
Evaluasi pola tidur / terjaga 24-jam
Tinjau buku harian tidur 1 sampai 2-minggu
Wawancara mitra tidur
Periksa riwayat keluarga gangguan tidur
Identifikasi penyebab
Gangguan tidur primer
Penyakit medis
Penyakit kejiwaan
Perilaku
Lingkungan
Pengobatan
Evaluasi dampak pribadi dan sosial dari gangguan tidur

Manajemen:
Pemeriksaan fisik menyeluruh
Penyelidikan laboratorium yang tepat
Pengobatan
Diskusikan harapan dengan pasien
Efektif pengobatan atas masalah utama
Tindakan higiene tidur
Tindakan non farmakologis
Intervensi farmakologis
Rujuk ke spesialis tidur jika perlu


Dalam mengambil riwayat medis dan pengobatan umum, dokter harus mengidentifikasi
kondisi dan obat-obatan yang diketahui terkait dengan tidur terganggu. Efek perancu
potensial dari obat, alkohol, dan penyalahgunaan zat harus dinilai pada semua pasien
yang menyajikan dengan masalah tidur. Insomnia bertepatan dengan pemasukan obat
baru harus dikaitkan dengan obat tersebut yang sampai dibuktikan lain.
Insomnia pada Usila: Penyebab, Pendekatan, dan Pengobatan ~ 6


Evaluasi lebih lanjut harus mencakup kondisi mental rinci dan pemeriksaan kejiwaan,
penyelidikan laboratorium termasuk fungsi tiroid, panel kimia serum, studi jantung-paru
jika di ndikasikan, dan penilaian lingkungan tidur. Merujuk pasien ke spesialis tidur
untuk evaluasi mungkin diperlukan.

PENGOBATAN
Tujuan terapi adalah untuk mengurangi morbiditas dan meningkatkan kualitas hidup
bagi pasien dan keluarga. Perawatan yang tepat insomnia memiliki potensi membalik
morbiditas terkait insomnia, termasuk risiko depresi, cacat, dan gangguan kualitas
hidup. Selanjutnya, pengelolaan yang optimal dari insomnia dapat meningkatkan
produktivitas pasien dan kognitif, dan penurunan penggunaan perawatan kesehatan
dan risiko kecelakaan.
Non Farmakologis
Insomnia biasanya tak terobati, dan intervensi non farmakologis kurang dimanfaatkan
oleh praktisi perawatan kesehatan. Pengelolaan insomnia yang sekunder terhadap
kesakitan medis, seperti nyeri atau sesak napas, harus dimulai dengan proses
pengobatan penyakit utama. Penyesuaian dosis dan waktu pemberian obat juga dapat
memiliki dampak yang signifikan terhadap kualitas tidur. Dalam konseling insomniak,
akan sangat membantu untuk menetapkan ekspektasi yang wajar dan menjelaskan
bagaimana kecemasan berpartisipasi dalam lingkaran setan yang memperparah dan
mempertahankan kondisi tersebut. Jika minimal atau tidak ada gangguan dalam fungsi
siang hari yang dilaporkan, pasien mungkin hanya perlu meyakinkan bahwa gejala tidak
patologis atau merusak.
Intervensi non-farmakologis "higiene tidur" yang menargetkan sumber masalahnya
masih dapat diimplementasikan pertama dalam situasi ini, dan harus dilanjutkan bahkan
ketika obat diperlukan. Intervensi fisiologis seperti berjalan siang hari dengan pajanan
waktu siang hari berjangka yang benar berguna untuk insomnia. Kendali suhu yang
tepat, ventilasi yang memadai, dan lingkungan tidur gelap juga dapat menyebabkan
peningkatan dramatis dalam kualitas tidur.
Tindakan higiene tidur (Tabel 3) harus disesuaikan dan diterapkan untuk setiap pasien
yang dievaluasi untuk gangguan tidur.



Insomnia pada Usila: Penyebab, Pendekatan, dan Pengobatan ~ 7


Tabel 3. Tindakan higiene tidur
Hindari dan meminimalkan penggunaan kafein, rokok, stimulan, alkohol,

dan obat lainnya
Jika medis mampu, meningkatkan tingkat aktivitas pada sore atau awal malam (tidak

dekat dengan waktu tidur) dengan berjalan atau berolahraga di luar ruangan
Meningkatkan pajanan cahaya alami dan cahaya terang selama siang hari dan awal

malam
Hindari tidur siang, terutama setelah 2:00 siang; batasi tidur siang batas untuk 1 tidur

kurang dari 30 menit
Periksa pengaruh obat terhadap tidur
Pergi ke tempat tidur hanya bila mengantuk
Mempertahankan suhu yang nyaman di kamar tidur
Minimalkan ringan dan paparan kebisingan sebanyak mungkin
Makan makanan ringan kalau lapar
Hindari makanan berat pada waktu tidur
Batasi cairan pada malam hari
Buatlah jadwal teratur

Istirahat dan pensiun pada saat yang sama setiap hari

Makan dan olahraga pada jadwal rutin

Manajemen stres-langkah:

Toleransi sulit tidur sesekali

Diskusikan kejadian yang kekhawatiran dan penuh stress secara cukup waktu

sebelum waktu tidur

Gunakan teknik relaksasi


Terapi perilaku
Terapi perilaku bertujuan mengubah kebiasaan tidur maladaptif, mengurangi gairah
otonom, dan mengubah keyakinan disfungsional dan sikap yang bisa melanggengkan
insomnia. Intervensi perilaku termasuk terapi relaksasi, pembatasan tidur, kendali
rangsangan, dan terapi kognitif. Relaksasi otot progresif bertujuan untuk mengurangi
gairah somatik, sedangkan teknik focus-perhatian (pelatihan citra, mediasi)
dimaksudkan untuk menurunkan gairah kognitif pra-tidur. Prosedur relaksasi sangat
cocok untuk individu dengan ketegangan dan kecemasan. Terapi pembatasan-tidur
digunakan ketika waktu yang berlebihan dihabiskan di tempat tidur. Terapi
membutuhkan 4 sampai 6 minggu untuk menimbulkan kehilangan tidur ringan yang
meningkatkan kemampuan untuk jatuh tertidur dan tetap tidur.
Terapi kendali-rangsangan terdiri dari membatasi penggunaan kamar tidur untuk tidur
dan aktivitas seksual sehingga waktu tidur yang akan dianggap sebagai waktu untuk
tidur. Teknik ini di ndikasikan untuk pasien yang jadwal tidur-bangun tidak teratur atau
yang terlibat dalam kegiatan yang bertentangan dengan tidur. Tujuan terapi kognitif
Insomnia pada Usila: Penyebab, Pendekatan, dan Pengobatan ~ 8


adalah untuk memberikan jaminan kepada pasien yang tidur kurang dari 8 jam
semalam tidak perlu tak-sehat dan tidak selalu menyebabkan konsekuensi dramatis
keesokan harinya. Pasien harus memahami bahwa jika mereka tidak bisa tidur,
bolehlah bangun, mandi, atau membaca dan kemudian kembali ke tempat tidur untuk
upaya lain untuk tidur.
Morin dkk 32 melakukan uji coba klinis secara acak, plasebo-dikendalikan atas 78
orang dewasa (rerata usia, 65 tahun) dengan insomnia kronis dan primer. Terapi
kognitif-perilaku dibandingkan dengan temazepam dan plasebo. Penurunan waktu
bangun setelah awitan tidur adalah lebih besar dalam terapi kognitif-perilaku (55%)
dibandingkan dengan temazepam (46,5%) (P 0,01 untuk keduanya). Tindak lanjut
menunjukkan bahwa perbaikan tidur adalah berkelanjutan dari waktu ke waktu lebih
baik dengan terapi kognitif-perilaku. Suatu meta-analisis perbandingan dari terapi
farmakologis dan terapi perilaku menunjukkan hasil yang sama pengobatan jangka-
pendek insomnia primer.
Hal ini sekarang sudah mapan bahwa irama sirkadian seseorang sangat dipengaruhi
oleh paparan cahaya. Terapi cahaya-terang adalah cara yang efektif untuk membuat
suatu siklus tidur-bangun sehat. Pewaktuan terapi cahaya tergantung pada pola
gangguan siklus tidur-bangun. Beberapa studi telah menunjukkan manfaat dari 60
sampai 120 menit perawatan cahaya buatan, dengan intensitas yang sesuai dari 6000-
8000 LUX, pada kualitas tidur malam hari di keduanya individu sehat dan pikun.
Farmakologis
Lima prinsip dasar yang menjadi ciri farmakoterapi rasional untuk insomnia:
penggunaan dosis efektif terendah, penggunaan dosis berselang (2 sampai 4 kali
seminggu), peresepan obat jangka-pendek (penggunakan teratur untuk tidak lebih dari
3 sampai 4 minggu), dan penghentian obat bertahap untuk mengurangi insomnia
pantulan. Pengobatan dengan waktu-paruh eliminasi lebih pendek secara umum lebih
dipilih untuk meminimalkan sedasi di siang hari.
Pemilihan obat harus didasarkan pada adanya dan keparahan gejala siang hari,
terutama dampak pada fungsi siang hari dan pada kualitas hidup pasien. Hasil
farmakologis yang diharapkan meliputi peningkatan pengawitan tidur, pemeliharaan
tidur tanpa efek mabuk, dan peningkatan fungsi hari berikutnya.
Perjanjian harus dicapai pertama selama pengobatan dengan obat, biasanya beberapa
hari, karena itu mungkin sulit untuk menghentikan pengobatan setelah penggunaan
jangka-panjang. Pemakaian yang tepat adalah akut, penggunaan jangka-pendek (tidak
lebih dari 2-3 minggu) dalam kombinasi dengan terapi perilaku.
Insomnia pada Usila: Penyebab, Pendekatan, dan Pengobatan ~ 9


Dengan pendekatan ini ada kurang potensial untuk penyalahgunaan karena lebih
sedikit dosis obat yang diperlukan. Namun, banyak pasien dapat memperoleh manfaat
dari penggunaan jangka-panjang, praktek yang tidak membutuhkan dosis malam tetapi
pemakaian obat dalam menanggapi terjadinya gejala.
Benzodiazepines
Benzodiazepin (BZD) memperbaiki insomnia dengan mengurangi tidur REM,
menurunkan latensi tidur, dan menurunkan terbangun malam hari. Penyerapan BZD
tidak terpengaruh oleh penuaan, namun penurunan massa otot, penurunan protein
plasma, dan peningkatan lemak tubuh yang terlihat pada usia lanjut mengakibatkan
peningkatan konsentrasi obat tak-terikat dan peningkatan waktu paruh eliminasi obat.
BZD kerja-panjang dengan demikian sebaiknya dihindari.

Insomnia pantulan dapat terjadi dalam 1 atau 2 minggu penggunaan, dan ditandai
dengan perburukan tidur relatif terhadap garisdasar. BZD sering menimbulkan efek
mabuk. Bahkan BZD kerja-pendek dapat mengganggu kinerja psikomotor dan memori
hari berikutnya. Toleransi terhadap efek hipnotik BZD merupakan isu penting. BZD
pada awalnya sangat efektif dalam mendorong dan memperpanjang tidur, namun
toleransi berkembang pesat pada pemakaian ulangan. BZD juga berkaitan dengan
kecanduan, sedasi di siang hari, jatuh pusing, patah tulang pinggul, dan kecelakaan
mobil. Kecelakaan lebih sering terjadi dengan bahan-bahan paruh-waktu lama atau
pada pasien dengan gangguan tidur karena penggunaan jangka panjang. Temazepam,
BZD yang biasa digunakan, digunakan dalam insomnia pemeliharaan tidur, memiliki
waktu paruh 8 sampai 25 jam, dan dapat diberikan dalam dosis 15 sampai 30 mg pada
malam hari.
Obat-Obat Non-Benzodiazepin
Zolpidem. Zolpidem adalah hipnotik yang mengikat secara selektif dengan subkelas
omega-1 dari reseptor BZD di otak. Ia merupakan hipnotik yang paling sering
diresepkan di Amerika Serikat dan Eropa. Zolpidem dapat digunakan dalam insomnia
awitaqn tidur. Ia memiliki waktu paruh singkat yang hanya setengah 2,5 sampai 2,9 jam
dan dapat diberikan dalam dosis 5 sampai 10 mg. Ia dikontraindikasi pada gangguan
pernapasan terkait tidur, kerusakan hati parah, kerusakan paru akut, dan depresi
pernapasan. Zolpidem ini memiliki toleransi baik pada usia lanjut. Efek samping yang
paling umum adalah mual, pusing, dan kantuk.
Zolpidem tidak mengubah arsitektur tidur. Obat ini membawa risiko yang sama seperti
BZD, termasuk ketergantungan dengan penggunaan lebih dari 4 minggu. Zolpidem
Insomnia pada Usila: Penyebab, Pendekatan, dan Pengobatan ~ 10


Download
Gangguan Tidur pada Usia Lanjut (INSOMNIA)

 

 

Your download will begin in a moment.
If it doesn't, click here to try again.

Share Gangguan Tidur pada Usia Lanjut (INSOMNIA) to:

Insert your wordpress URL:

example:

http://myblog.wordpress.com/
or
http://myblog.com/

Share Gangguan Tidur pada Usia Lanjut (INSOMNIA) as:

From:

To:

Share Gangguan Tidur pada Usia Lanjut (INSOMNIA).

Enter two words as shown below. If you cannot read the words, click the refresh icon.

loading

Share Gangguan Tidur pada Usia Lanjut (INSOMNIA) as:

Copy html code above and paste to your web page.

loading