KAJIAN TENTANG BENTUK DAN MAKNA SIMBOLIK SENI PRASI DALAM KEHIDUPAN SOSIO-KULTURAL MASYARAKAT BALI TESIS Untuk memenuhi persyaratan mencapai derajat sarjana S2 Program Studi Antropologi Jurusan Ilmu-Ilmu Humaniora Diajukan Oleh: KETUT DARMANA
NIM: 16743/IV-4/1249/01
Kepada PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA 2004
INTISARI
Seni prasi tergolong
genre (aliran) kesenirupaan dua demensi sebagai ilustrasi pada
lembaran darun lontar. Seni prasi ini dalam proses pemahatan pengerupak pada daun lontar,
nampak sangat rumit, pelik dan didukung dengan perasaan yang sabar. Masalah yang dikaji dalam
penelitian ini, tema-tema ceritera yang diilustrasikan oleh para seniman pemrasi (pemahat) daun
lontar dengan pola dasar lukisan wayang gaya-Kamasan dari Klungkung; makna simbolik seni
prasi sebagai pengejawantahan agama, khusus agama Hindu yang membentuk struktur dan
identitas budaya Bali.
Tujuan penelitian ini, secara teoritis untuk menelaah
bentuk dan
makna simbolik seni prasi
sebagai salah satu aspek membingkai dalam kehidupan sosio-kultural masyarakat Bali. Tujuan
praktis untuk memberikan gambaran secara komprehensif terhadap masyarakat tentang bentuk dan
makna simbolik seni prasi dalam kehidupan masyarakat Bali. Data ini digali dari para informan
sebagai unit analisis perajin seni prasi (pemahat daun lontar) sebanyak 20 orang perajin seni prasi.
Pengumpulan data dilakukan dengan observasi partisipasi dan wawancara mendalam (
depth
interview) berlandaskan pada pedoman wawancara (
interview guide). Data lapangan yang telah
terkumpul diklasifikasikan, diolah dan dianalisis. Analisis data yang melandasi penelitian ini,
adalah analisis kualitatif, yaitu menekankan pada analisis tafsir kebudayaan (
cultural interpretif
analysis) dan analisis simbolik (
symbolic analysis)
Tema-tema ceritera diilustrasikan pada lembaran daun lontar, sebagai sebuah teks. Isi teks
itu menurut Geertz ditasirkan (interpretif) konteksnya dengan kehidupan sosio-kultural masyarakat
Bali. Mengingat manusia sebagai
animal symbolicum yang terjaring dalam jaringan makna yang
dirajut sendiri. Begitu pula penasiran terhadap teks dapat dilakukan secara bebas, namun tidak
semena-mena dari berbagai sudut pandang, baik itu dilakukan oleh seniman pemrasi (pemahat)
yang mengilustrasikan karya seninya pada lembaran daun lontar maupun masyarakat sebagai
penikmat keindahan seni. Penaksiran karya seni prasi sebagai sebuah teks, dapat dilakukan
berlapis-lapis, untuk mencegah penaksiran yang subyektivitas, sehingga dapat menghasilkan
penaksiran obyektif.
Pada seni prasi yang diilustrasikan itu tentang wayang, karena wayang mengandung nilai
filosofis yang amat dalam mengenai ajaran agama Hindu. Ajaran agama Hindu dengan ketiga
kerangka dasarnya, yaitu (1)
tattwa (fisafat keagamaan); (2)
susila (moral keagamaan) dan (3)
ritual (upacara keagamaan). Ketiga kerangka ini melandasi keseluruhan aspek kehidupan
masyarakat, khususnya umat Hindu di Bali. Selanjutnya ilustrasi wayang yang digarap para
seniman pemrasi pada daun lontar itu, sebagai suatu bayangan tentang alam dewa atau Tuhan
(
Swah), alam jagat raya atau makrokosmos (
Bhuah) dan alam manusia atau
mikrokosmos (
Bhur).
Dalam konteks kajian ini lebih memfokuskan pada
susila (moral manusia) yang berkaitan dengan
kehidupan manusia. Sesuai dengan tema-tema ceritera yang diilustrasikan pada daun lontar,
tentang wiracaritera epos Ramayana dan Mahabharata. Tersirat dalam teks ceritera itu, tentang
satua (folktale),
tutur (tuntunan atau nasehat),
kepahlawanan,
legenda,
sasana (aturan-aturan),
etika yang bersumber dari
sastra-agama, seperti
kidung, kekawin, parwa, tantri, geguritan dan
ceritera rakyat (
foklor).
Inti utama dari agama Hindu, menegakkan dharma (kebenaran), bukan sebaliknya adharna
(kejahatan). Inilah sebenarnya yang diilustrasikan pada seni prasi, sehingga pemaknaan simbolik
sikap prilaku perbuatan manusia yang dinamakan “trikaya perisudha” dibingkai oleh simbol
dharma (kebenaran) dan
adharma (kejahatan) yang dikenal
rwabhineda (sifat-sifat yang
memposisikan berlawanan, baik-buruk, benar-salah, laki-perempuan dan sebagainya).
Kata-kata kunci :
Prasi, Bentuk dan Makna Simbolik. xiv
ABSTRACT Prasi art, takes form as illustrations engraved on Palmyra palm leaves, belongs
to the genre of two-dimension plastic art. The engraving process that uses
pengerupak
(a little knife) is very complicated that it needs perseverance and patience. The
research studied the themes of the illustrations (with
wayang drawing of Kamasan-
style from Klungkung as its basic patterns and its symbolic meaning) that are a
manifestation of religion, in this case is Hinduism that shapes the structure and
identity of Balinese culture.
The research theoretically aimed to gain understanding on the form and
symbolic meaning of this
Prasi art as one of many aspects that contribute to the
shaping of the socio-cultural life of Balinese people and practically wanted to give
better understanding about
Prasi art (its form and symbolic meaning) to Balinese
people. The data was taken from twenty informants, who are the engravers of
Prasi
art, as a unit of analysis. Data gathering was done by participation observation and
depth interview based on the interview guide. Field data collection was then being
classified, processed, and analyzed. The research applied the qualitative analysis that
stresses cultural interpretive and symbolic analyses as its basis of data analyzing.
The engraved illustrations on Palmyra palm leaves are considered as a text.
Geertz interpreted the context of the text’s substance as the socio-cultural life of
Balinese people because of the basic understanding on human beings as
animal
symbolicum trapped in the web of meanings they have made themselves. Actually, it
is possible to interpret the text by using any viewpoints but not arbitrarily by the artist
who does the engraving or society as art lovers. The act of interpreting the text in
layers can be done in getting objective interpretation and avoiding the subjective one.
The
wayang drawings found in the
Prasi art embody a profound philosophical
value on the doctrine of Hinduism. Hinduism with its three basic principals, namely
tattwa (religious philosophy),
susila (religious morality), and ritual base the whole
aspects of societal life of Hindu people in Bali. The
wayang drawings then, illustrate
God or gods’ world (
Swah), universe or macrocosm (
Bhuah), and human world or
microcosm (
Bhur). The research focused the study on
susila (religious morality)
relates to human life. The themes implied in the illustrations, which are in accordance
with the great epics of
Ramayana and
Mahabharata, are
satua (folktale),
tutur (guidance), heroism, legend,
sasana (directions), ethics (from poetic literature,
namely
kidung, kekawin, parwa, tantri, geguritan) and folklore.
The core of Hinduism is establishing
Dharma (Way of Truth) and not
Adharma (Way of Evil). This is truly what has been illustrated in
Prasi art that the symbolic
interpretation of human behavior named “
trikaya perisudha” is framed by the
symbols of
Dharma and
Adharma which are known as
rwabhineda (oppositional
categories such as good-evil, right-wrong, male-female, etc.).
Key Words:
Prasi,Form and Symbolic Meaning
xv
Document Outline
- Halaman Judul
- Intisari
- Abstract
Add New Comment