This is not the document you are looking for? Use the search form below to find more!

Report home > Education

KAJIAN TEORI DAN KERANGKA BERPIKIR

0.00 (0 votes)
Document Description
Budaya Sekolah dan Masyarakat Menurut Deal dan Peterson (1999), budaya sekolah adalah sekumpulan nilai yang melandasi perilaku, tradisi, kebiasaan keseharian, dan simbol-simbol yang dipraktikkan oleh kepala sekolah, guru, petugas administrasi, siswa, dan masyarakat sekitar sekolah. Budaya sekolah merupakan ciri khas, karakter atau watak, dan citra sekolah tersebut di masyarakat luas (Anonim, 2007. "Menciptakan Budaya Sekolah yang Tetap Eksis Suatu Upaya untuk Meningkatkan Mutu Pendidikan " www.welcome.labschool.co.id .). Budaya sekolah yang terjadi dewasa ini, sebenarnya telah membudaya beberapa puluh tahun yang lalu. Sehingga dampaknya, adalah siswa-siswa yang pada zaman dulu, yang sekarang telah duduk di pemerintahan tidak peka terhadap masalah, lebih senang tutup mulut, senang korupsi, senang mengurus hal-hal yang kecil. Contohnya adalah budaya sekolah dewasa ini yang lebih menekankan hal-hal yang terlihat daripada peningkatan mutu sekolah. Seperti peraturan harus memakai sepatu hitam, harus memakai ikat pinggang, dan aturan-aturan tetek bengek yang tidak penting lainnnya. Di sisi lain, pihak sekolah sangat teramat sulit untuk diminta bantuan dananya ketika ada siswa yang berniat mengembangkan kreativitasnya.
File Details
  • Added: October, 22nd 2010
  • Reads: 2207
  • Downloads: 66
  • File size: 61.59kb
  • Pages: 12
  • Tags: nilai perilaku, tradisi, kebiasaan keseharian, simbol simbol
  • content preview
Submitter
  • Name: igino
Embed Code:

Add New Comment




Related Documents

Teori dan riset

by: hasyim ali imran, 13 pages

membahas hubungan antara teori dan metode riset komunikasi

INTEGRASI SOSIAL DAN KOMUNIKASI ANTAR BUDAYA

by: elita, 5 pages

Penelitian ini beranjak dari asumsi bahwa setiap masyarakat mejemuk dalam suku, agama, ras, dan antar golongan selalu menghadapi masalah komunikasi. Masalah ini timbul karena proses komunikasi ...

INVESTOR ASING DI JAWA: PENYESUAIAN BUDAYA DAN AGAMA SERTA ...

by: emmanuel, 60 pages

Tujuan penelitian ini adalah untuk: 1. Mendiskripsikan penyesuaian terhadap budaya yang dilakukan oleh Investor asing di Jawa. 2. Mendiskripsikan penyesuaian terhadap agama yang dilakukan oleh ...

BUKU ANALISIS JALUR DENGAN LISREL UNTUK TESIS DAN DISERTASI

by: Dr Edi Riadi MPd, 3 pages

Buku ini menjelaskan teori dan aplikasi analisis jalur dengan memanfaatkan LISREL untuk tesis dan disertasi

Pengantar Test Kecerdasan Majemuk

by: otto, 13 pages

Apakah Kecerdasan Majemuk ( Multiple intelligence ) Itu? Howard Gardner menyatakan bahwa semua orang memiliki berbagai jenis kecerdasan (kecerdasan majemuk atau) dengan kadar dan kombinasi yang unik ...

Etika Bisnis dalam Islam

by: rita, 9 pages

Etika adalah bagian dari filsafat yang membahas secara rasional dan kritis tentang nilai, norma atau moralitas. Dengan demikian, moral berbeda dengan etika. Norma adalah suatu pranata dan nilai ...

KAJIAN LINGKUNGAN HIDUP STRATEGIS [KLHS] SEBAGAI KERANGKA BERFIKIR ...

by: marco, 8 pages

Kebijakan nasional penataan ruang secara formal ditetapkan bersamaan dengan diundangkannya Undang-undang Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang [UU 24/1992], yang kemudian diperbaharui dengan ...

KAJIAN TENTANG BENTUK DAN MAKNA SIMBOLIK SENI PRASI DALAM ...

by: khulood, 3 pages

Seni prasi tergolong genre (aliran) kesenirupaan dua demensi sebagai ilustrasi pada lembaran darun lontar. Seni prasi ini dalam proses pemahatan pengerupak pada daun lontar, nampak sangat rumit, ...

PENGARUH FRAMING PADA KEPUTUSAN AKUNTANSI MANAGERIAL DALAM PERSPEKTIF INDIVIDU-KELOMPOK; Pengujian atas Prospect Theory dan Fuzzy-Trace Theory

by: monkey, 3 pages

Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh framing pada pengambilan keputusan dalam konteks akuntansi managerial dari perspektif individu-kelompok, dan juga menguji kemampuan dari ...

STRATEGI PENGEMBANGAN WILAYAH DALAM KERANGKA PEMBANGUNAN EKONOMI NASIONAL YANG LEBIH MERATA DAN LEBIH ADIL

by: rosie, 10 pages

Makalah ini berisikan uraian upaya percepatan pengembangan wilayah nasional yang relatif masih tertinggal, yaitu Kawasan Timur Indonesia (KTI), Kawasan perbatasan, kawasan tertinggal dan pulau-pulau ...

Content Preview

7
BAB II
KAJIAN TEORI DAN KERANGKA BERPIKIR

A. Kajian Teori
1. Budaya Sekolah dan Masyarakat
Menurut Deal dan Peterson (1999), budaya sekolah adalah
sekumpulan nilai yang melandasi perilaku, tradisi, kebiasaan keseharian,
dan simbol-simbol yang dipraktikkan oleh kepala sekolah, guru, petugas
administrasi, siswa, dan masyarakat sekitar sekolah. Budaya sekolah
merupakan ciri khas, karakter atau watak, dan citra sekolah tersebut di
masyarakat luas (Anonim, 2007. “Menciptakan Budaya Sekolah yang
Tetap Eksis Suatu Upaya untuk Meningkatkan Mutu Pendidikan
www.welcome.labschool.co.id.).
Budaya sekolah yang terjadi dewasa ini, sebenarnya telah
membudaya beberapa puluh tahun yang lalu. Sehingga dampaknya, adalah
siswa-siswa yang pada zaman dulu, yang sekarang telah duduk di
pemerintahan tidak peka terhadap masalah, lebih senang tutup mulut,
senang korupsi, senang mengurus hal-hal yang kecil. Contohnya adalah
budaya sekolah dewasa ini yang lebih menekankan hal-hal yang terlihat
daripada peningkatan mutu sekolah. Seperti peraturan harus memakai
sepatu hitam, harus memakai ikat pinggang, dan aturan-aturan tetek bengek
yang tidak penting lainnnya. Di sisi lain, pihak sekolah sangat teramat sulit
untuk diminta bantuan dananya ketika ada siswa yang berniat
mengembangkan kreativitasnya. Misalnya berniat membuat film, atau

7


8
mengadakan pameran robotik. Alasan pihak sekolah bermacam-macam,
dari yang tidak ada dana, sampai dananya sudah habis terpakai untuk hal-
hal lainnya. Dari sinilah siswa-siswa mencontoh perilaku pihak sekolah,
pada saatnya nanti, siswa-siswa yang telah dewasa yang telah menduduki
kursi pemerintahan akan bersikap sama seperti apa yang telah dilihatnya di
sekolah dulu (Anonim. 2007. “Budaya Sekolah Mendasari Budaya
Masyarakat”. www.sharing.stories.co.id.).
Kuntjoroningrat (2006: 76), mendefinisikan kebudayaan itu
keseluruhan dari kelakuan dan hasil kelakuan manusia, yang teratur oleh
tata kelakuan, yang harus didapatnya dengan belajar dan yang semuanya
tersusun dalam kehidupan masyarakat. Kata culture (bahasa Inggris) dari
kata colore (Yunani), berarti mengubah, mengerjakan, terutama dalam hal
mengolah tanah atau bertani, berkembang menjadi culture yang berarti
segala daya dan aktivitas manusia untuk mengolah dan mengubah alam.
Edward B. Tylor, kebudayaan merupakan keseluruhan yang
kompleks, yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan,
kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain
yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat. Sedangkan menurut
Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi, kebudayaan adalah sarana hasil
karya, rasa, dan cipta masyarakat (Anonim. 2008. ”Budaya”.
www.wikipedia.indonesia.co.id. ).
Jadi, istilah kebudayaan masyarakat mengandung pengertian yaitu
segala sesuatu yang dihasilkan oleh cipta, rasa, dan karsa manusia seluruh
masyarakat atau bangsa Indonesia.

8


9
2. Unsur – unsur Kebudayaan Masyarakat
Cultural Universal, yang meliputi : 1) Peralatan dan perlengkapan
hidup manusia (pakaian, perumahan, alat-alat rumah tangga, senjata, alat-
alat produksi, alat-alat transportasi, dan sebagainya); 2) Mata pencaharian
hidup dan sistem – sistem ekonomi (pertanian, peternakan, sistem produksi,
sistem distribusi, dan sebagainya); 3) Sistem kemasyarakatan (sistem
kekerabatan, organisasi politik, sistem hokum, sistem perkawinan); 4)
Bahasa (lisan maupun tertulis); 5) Kesenian (seni rupa, seni suara, seni
gerak, sastra, dan sebagainya); 6) Ilmu pengetahuan; dan 7) Religi (agama).
Jadi, kalau banyak orang yang apabila berbicara atau membahas tentang
kebudayaan hanya memusat pada kesenian saja itu dianggap berpandangan
sempit dan tidak mewakili ruang lingkup kebudayaan secara keseluruhan.
Menurut Daoed Yoesoef, yang dikutip Slamet Sutrisno (2006:97),
menegaskan bahwa pemahaman konstruktural mengenai pendidikan
sebagai bagian dari kebudayaan. Konotasi ucapan Pendidikan dan
Kebudayaan memang sering bisa menyesatkan orang, karena kebudayaan
dipandang kurang berguna lantaran disebut terakhir di belakang dan. Secara
substansial pun kebudayaan banyak dipersepsikan seperti terkesan dalam
pandangan masa lampau, yang diartikan hanya meliputi kesenian,
kesusteraan dan yang sejenisnya. Kebudayaan dalam aksentuasi estetik itu
acapkali luput dari perhatian di tengah gelora pembangunan, yang biasanya
memandang urgen lebih kepada hal-hal yang kongkrit seperti umpamanya
pabrik, transportasi, puskesmas berikut sejumlah infrastrukturnya yang
makin aktual semisal kondom dan spiral. Dari persepsi yang meleset,
dahulu kebudayaan ialah soal lain di seberang urusan pendidikan. Sampai

9


10
hari inipun para guru masih cukup gagu manakala harus memenuhkan
presisi dari keterlibatannya dalam permasalahan pendidikan dan
kebudayaan. Daoed Yoesoef, menegaskan bahwa pendidikanlah cara yang
dipergunakan dalam meneruskan, memelihara, dan mengolah nilai-nilai
budaya sekaligus semangat yang menjiwai pendidikan, kerangka di mana
diletakkan setiap pemikiran dan perbuatan pendidikan.
3. Pancasila sebagai Filter Kebudayaan Masyarakat
Menurut mantan Presiden Republik Indonesia, Soeharto, seperti
yang dikutip Slamet Sutrisno (2006: 182), menyatakan bahwa masyarakat
Indonesia yang dicita-citakan haruslah tetap berjiwa Indonesia. Tanpa jiwa
dan wajah yang dicita-citakan itu masyarakat modern yang bagaimana pun
tidak akan memberikan kebahagiaan yang utuh kepada kita semua. Akal
budi dalam benak manusia Indonesia memang harus merebut ilmu dan
teknologi barat yang begitu maju, akan tetapi tubuh kebangsaan tetap harus
berdiri di atas etika dan moralitas pada kedua kaki kita sendiri. Di sini
Pancasila relevan untuk disebut, sebab di dalam Pancasila terletak orientasi
nilai dalam perjuangan bangsa sebagai kriteria segala sikap perilaku
kemasyarakatan manusia Indonesia.
4. Beradaptasi Sosial
a. Perilaku Adaptasi Sosial
Adaptasi merupakan bentuk perilaku pada umumnya yang
didasarkan atas keseimbangan kemampuan akal (kognisi) dan kemampuan
rasa (afeksi), dan psikomotor, karena manusia tidak hanya memiliki otak
tetapi juga mempunyai emosi dan keterampilan, baik keterampilan
berkomunikasi maupun keterampilan fisik jasmaniah. Oleh karena itu,

10


11
kesadaran terhadap perbedaan akal, emosi, dan keterampilan manusia
merupakan aspek penting keberhasilan penyesuaian diri. Mengingat
manusia tidak hanya berperilaku atas dasar kemampuan akal semata, tetapi
juga didasarkan pada kemampuan rasa, yakni kemampuan menilai perasaan
kepuasan diri sendiri dan orang lain dalam masa perkembangan yang
timbul dalam kehidupan sehari-hari.
b. Ruang Lingkup Kemampuan Beradaptasi Sosial
Hal senada diungkapkan Vembriarto (2005: 60), bahwa teman
sebaya adalah kelompok yang terdiri dari anak-anak yang mempunyai umur
dan status sosial yang sama, karenanya remaja dengan kelompok sebayanya
memiliki suatu hubungan yang intim.
Hubungan intim yang terjadi dalam kelompok dimungkinkan karena
adanya pengembangan, antara lain suatu pola perbuatan atau bahasa yang
seolah-olah merupakan bahasa mereka sendiri, pola tingkah laku, dan pola
pernyataan perasaan kebersamaan dalam suatu group.
Terbentuknya pola-pola ini, menjadikan kelompok sebagai
lingkungan yang baru dengan ciri, norma, dan kebiasaan yang berbeda dari
lingkungan keluarga, lingkungan pertama dalam interaksi sosial.
Norma-norma dalam kelompok memungkinkan remaja belajar
bertenggang rasa, patuh, bertanggung jawab, belajar menerapkan prinsip-
prinsip hidup dan bekerja sama, dan saling mendukung satu sama lain.
Keeratan hubungan anggota ditentukan oleh keberhasilan pencapaian
prinsip-prinsip tersebut dalam interaksi kelompok.

11


12
Penerapan prinsip-prinsip dalam kelompok sosial menumbuhkan
sikap kebersamaan, kesadaran akan peranannya, kesempatan untuk
mengembangkan kecakapan, memberikan sumbangan (kontribusi) pada
kelompok, dan belajar mengutamakan kepentingan kelompok daripada
keinginan sendiri. Oleh karena itu, pengaruh adaptasi dalam aktivitas
belajar sangat kuat bagi perkembangan pribadi. Hal ini terjadi karena siswa
mendapatkan pengaruh dari lingkungan belajarnya, sehingga terjadi
perubahan tingkah laku sebagai salah satu usaha penyesuaian diri terhadap
lingkungannya belajar.
c. Faktor–faktor Pembentuk Kemampuan Beradaptasi Sosial
Di dalam interaksi sosial, individu dituntut untuk dapat melakukan
penyesuaian diri dengan baik, agar dapat hidup dengan wajar dan diterima
keberadaannya oleh lingkungan. Vembriarto (2005:21–24) mengemukakan
bahwa, proses penyesuaian diri dipengaruhi oleh:
1) faktor sifat dasar, yaitu potensi yang dibawa sejak lahir, merupakan
warisan orang tua.
2) lingkungan prenatal, yaitu waktu dalam kandungan seorang bayi
mendapatkan pengaruh tidak langsung dari ibu. Dapat berupa penyakit,
dapat pula gangguan yang mengakibatkan keter-belakangan mental dan
emosional.
3) perbedaan perorangan, sejak lahir anak terus berkembang menjadi
individu yang unik dan berbeda dengan yang lain.
4) lingkungan, yakni lingkungan di sekelilingnya.

12


13
5) motivasi, berupa kekuatan-kekuatan dari dalam yang menggerakkan
individu untuk berbuat, baik berupa dorongan maupun kebutuhan.
5. Perilaku Sosial
Masalah sikap perilaku dapat dibagi menjadi dua macam ialah :
pengeluaran yang bersifat perorangan dan kelompok (Walgito, 2003: 33-34).
a. Masalah perorangan (individual)
Sikap perilaku demikian pada anak dapat dijumpai, misalnya
yang bersifat destruktif :
1) anak suka pamer
2) anak suka melawak
3) anak yang bertingkahku menimbulkan onar/keributan
4) anak memperlihatkan kenakalan dan keras kepala.
Tingkah laku distruktif yang pasif, misalnya :
1) anak menjadi malu.
2) acuh tak acuh dalam pelajaran.
3) anak terus-menerus meminta bantuan orang lain.
b. Tingkah laku pencari kekuasaan
Tingkah laku pencari kekuasaan dapat dijumpai pada anak yang
bertingkah laku
1) suka mendebat/membantah
2) suka berbohong
3) selalu menampilkan pertentangn pendapat
4) tidak mau melaksanakan perintah orang lain (gurunya)

13


14
c. Siswa yang mengalami stres biasanya bertingkah laku yang cenderung
menuntut balas.
Anak suka menyakiti orang lain, seperti menempeleng, menggigit,
menendang, dan sebagainya. Tetapi jika dikalahkan ia merasa sakit hati
dan perasaan susah. Anak-anak yang suka menuntut balas ini biasanya
lebih aktif, tetapi kadang-kadang menjurus ke sifat agresif dan kejam..
d. Siswa yang memperlihatkan ketidakmampuan
Sikap ketidakmampuan pada anak ditandai adanya tingkah laku
yang bersifat : Menyerah terhadap segala persoalan, menyendiri dari
temannya, Pemalu, sukar bekerja sama, sikap ini biasanya selalu pasif
Ada beberapa cara untuk mengenali masalah-masalah perorangan, ialah :
a. Jika seseorang guru merasa terganggu terus menerus oleh seorang
siswa, maka kemungkinan anak tersebut mengalami masalah mengenai
perhatian orang lain.
b. Bila guru merasa dikalahkan/merasa terancam oleh tingkah laku anak,
maka anak tersebut mengalami masalah mencaari kekuasaan.
c. Bila guru merasa sangat disakiti, maka anak tersebut mengalami
masalah menuntut balas.
d. Jika guru merasa tidak mampu lagi menolong siswa, maka siswa
tersebut mengalami masalah ketidak mampuan.
Berhubungan dengan hal itu suatu saran bagi para pendidik
hendaknya benar-benar mampu mengenali dan memahami secara tepat arah
sikap perilaku siswa-siswa yang bersifat perorangan dan sebaginya.

14


15
B. Penelitian Terdahulu
Hasil penelitian Sudrajat tentang “Budaya Organisasi Sekolah” (2008:
9-10), mengemukakan bahwa pentingnya membangun budaya organisasi di
sekolah terutama berkenaan dengan upaya pencapaian tujuan pendidikan
sekolah dan peningkatan kinerja sekolah. Sebagaimana disampaikan oleh
Stephen Stolptentang School Culture yang dipublikasikan dalam ERIC Digest,
dari beberapa hasil studi menunjukkan bahwa budaya organisasi di sekolah
berkorelasi dengan peningkatan motivasi dan prestasi belajar siswa serta
kepuasan kerja dan produktivitas guru (www.wikipedia.indonesia.co.id.).
Persamaan dengan penelitian yang dilakukan oleh peneliti adalah
tentang budaya secara umum, sedangkan perbedaannya adalah fokus pada
budaya masyarakat, perilaku sosial siswa dan pergaulan teman sebaya,
sehingga posisi penelitian ini adalah mengembangkan pada permasalahan lain,
maka penelitian ini masih layak dilaksanakan.
Begitu juga, studi yang dilakukan Fyans dan Martin tentang pengaruh
dari lima dimensi budaya organisasi di sekolah yaitu : tantangan akademik,
prestasi komparatif, penghargaan terhadap prestasi, komunitas sekolah, dan
persepsi tentang tujuan sekolah menunjukkan survey terhadap 16310 siswa
tingkat empat, enam, delapan dan sepuluh dari 820 sekolah umum di Illinois,
mereka lebih termotivasi dalam belajarnya dengan melalui budaya organisasi di
sekolah yang kuat. Sementara itu, studi yang dilakukan, Thacker dan William
D. McInerney terhadap skor tes siswa sekolah dasar menunjukkan adanya
pengaruh budaya organisasi di sekolah terhadap prestasi siswa (Anonim, 2008.
“Budaya Organisasi Sekolah”. www.wikipedia.indonesia.co.id.).

15


16
Penelitian tersebut di atas persamaannya dengan yang dilakukan
penelitian adalah tentang buday secara internal di sekolah, sedangkan
perbedaannya pada budaya masyarakat, perilaku sosial siswa dan pergaulan
teman sebaya, sehingga posisi penelitian ini adalah mengembangkan pada
permasalahan lain, maka penelitian ini masih layak dilaksanakan.
Studi yang dilakukannya memfokuskan tentang new mission statement,
goals based on outcomes for students, curriculum alignment corresponding
with those goals, staff development, and building level decision-making.
Budaya organisasi di sekolah juga memiliki korelasi dengan sikap guru dalam
bekerja. Studi yang dilakukan Yin Cheong Cheng membuktikan bahwa “
stronger school cultures had better motivated teachers. In an environment with
strong organizational ideology, shared participation, charismatic leadership,
and intimacy, teachers experienced higher job satisfaction and increased
productivity” (Anonim. 2008. Budaya Organisasi Sekolah. www.wikipedia.
indonesia.co.id.).
Persamaannya dengan penelitian yang dilakukan peneliti adalah budaya
secara umum, perbedaannya dengan penelitian yang dilaksanakan oleh peneliti
adalah lokasi penelitian dan subjek yang diteliti adalah siswa SMA, peneliti
menekankan pada budaya masyarakat sekitar kehidupan siswa dan lingkungan
pergaulan teman sebaya di antara siswa yang bersangkutan, menekankan pada
internal siswa di dalam lingkungan sekolah terkait dengan perilaku sosial, jadi
penelitian ini layak dilaksanakan.

C. Kerangka Berpikir
1. Mengembangkan dan membina kebudayaan masyarakat bangsa Indonesia
yang bersumber dari warisan budaya leluhur bangsa, budaya masyarakat,

16

Download
KAJIAN TEORI DAN KERANGKA BERPIKIR

 

 

Your download will begin in a moment.
If it doesn't, click here to try again.

Share KAJIAN TEORI DAN KERANGKA BERPIKIR to:

Insert your wordpress URL:

example:

http://myblog.wordpress.com/
or
http://myblog.com/

Share KAJIAN TEORI DAN KERANGKA BERPIKIR as:

From:

To:

Share KAJIAN TEORI DAN KERANGKA BERPIKIR.

Enter two words as shown below. If you cannot read the words, click the refresh icon.

loading

Share KAJIAN TEORI DAN KERANGKA BERPIKIR as:

Copy html code above and paste to your web page.

loading