This is not the document you are looking for? Use the search form below to find more!

Report home > Art & Culture

KEARIFAN BUDAYA LOKAL DALAM PERSFEKTIF TEORI PERENCANAAN

5.00 (1 votes)
Document Description
Secara garis besar, teori perencanaan berkembang dari alur besar instrumental rasionalitas menuju komunikatif rasionalitas, yaitu mengalir dari alur authoritative knowledge ke alur pelibatan berbagai fihak dalam perencanaan. Komunikatif rasionalitas dikemas dan dikategorikan dalam teori perencanaan komunikatif (Communicative Planning Theory) dalam bentuk konsep yang beragam, seperti advocacy planning, transactive planning, participatory planning, radical planning, collaborative planning , dan lain-lain. Namun demikian, dalam alur komuniatif rasionalitas tersebut, konsep dasar mengenai komunikasi dan kolaborasi antara budaya lokal atau kearifan lokal dengan perencanaan masih belum secara eksplisit dibicarakan, karena selama ini komunikatif rasionalitas lebih banyak membicarakan hubungan antar individu, kelompok masyarakat, pemerintah, pelaku bisnis, dan stakeholder perencanaan lainnya. Budaya atau kearifan budaya lokal sebagai bagian dari "practical reasoning " sesungguhnya ada dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat, terutama di negara-negara sedang berkembang bukan barat (non western culture) seperti Indonesia, di samping perencanaan normatif sebagai hasil penalaran " knowledge of science " dalam perencanaan. Tulisan ini menjelaskan konsep kolaborasi antara kearifan budaya lokal dengan perencanaan dalam persfektif teori perencanaan
File Details
  • Added: October, 21st 2010
  • Reads: 2636
  • Downloads: 203
  • File size: 301.10kb
  • Pages: 26
  • Tags: perencanaan komunikatif, perencanaan kolaboratif, budaya lokal
  • content preview
Submitter
  • Name: seijun
Embed Code:

Add New Comment




Related Documents

PEMANFAATAN KEBERAGAMAN BUDAYA INDONESIA DALAM PENGAJARAN BAHASA ...

by: regina, 9 pages

Bahasa Indonesia merupakan bahasa nasional sekaligus bahasa negara Indonesia. Sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia sudah dikumandangkan dalam Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928 oleh para pemuda ...

PERANAN WANITA DALAM SENI PERTUNJUKAN BALI DI KOTA DENPASAR

by: susanna, 12 pages

Artikel ini dimaksudkan untuk membahas semakin dominannya peranan wanita dalam seni pertunjukan Bali, khususnya yang ada di Kota Denpasar, selama dua puluh lima tahun belakangan ini. Ada lima belas ...

BEBERAPA TEORI PSIKOLOGI LINGKUNGAN

by: jenci, 12 pages

Ada tiga tradisi besar orientasi teori Psikologi dalam menjelaskan dan memprediksi perilaku manusia. Pertama, perilaku disebabkan faktor dari dalam (deterministik). Kedua, perilaku disebabkan faktor ...

Konsep Sehat, Sakit dan Penyakit dalam Konteks Sosial Budaya

by: ishaan, 11 pages

Pembangunan kesehatan sebagai salah satu upayapembangunan nasional diarahkan guna tercapainya kesadaran, kemauan, dan kemampuan untuk hidup sehat bagi setiap penduduk agar dapat mewujudkan derajat ...

KONSEP RUANG TRADISIONAL JAWA DALAM KONTEKS BUDAYA*)

by: benito, 13 pages

Tulisan ini mencoba mengulas misteri rumah tinggal orang Jawa, dengan penekanan pada konsep ruang yang terjadi melalui pengetahuan budaya yang dimiliki oleh orang Jawa. Pengetahuan budaya yang ...

DI ANTARA AGAMA DAN BUDAYA :

by: jayden, 33 pages

Penyelidikan ini berusaha untuk memahami upacara Peusijuek dalam masyarakat Aceh dari perspektif agama dan budaya. Soalan utama kajian ialah adakah peusijuek itu amalan budaya atau amalan agama? ...

Koran Komunitas Edisi XXIII

by: ylskar indonesia, 8 pages

Nilai-nilai budaya dalam tradisi

teori

by: hasyim ali imran, 9 pages

menggambarkan bekerjanya konsep teoritik teori genderlect style.

Teori-teori Pembangunan: Sebuah Analisis Komparatif

by: lantos, 0 pages

Teori-teori Pembangunan: Sebuah Analisis Komparatif

Evaluasi Break-event point untuk perencanaan laba paia PT. Lautan Mutiara Sewu

by: monkey, 1 pages

Bagi manajemen perusahaan, khususnya di bidang pemasaran daîam menentukan perencanaan laba dan pengambilan keputasan untuk strategi perusahaan di perlukan informasi tentang hal yang ...

Content Preview
KEARIFAN BUDAYA LOKAL
DALAM PERSFEKTIF TEORI PERENCANAAN



KEARIFAN BUDAYA LOKAL
DALAM PERSFEKTIF TEORI PERENCANAAN

Oleh
SARASWATI 1

Abstrak
Secara garis besar, teori perencanaan berkembang dari alur besar instrumental
rasionalitas menuju komunikatif rasionalitas, yaitu mengalir dari alur authoritative knowledge ke
alur pelibatan berbagai fihak dalam perencanaan. Komunikatif rasionalitas dikemas dan
dikategorikan dalam teori perencanaan komunikatif (Communicative Planning Theory) dalam
bentuk konsep yang beragam, seperti
advocacy planning, transactive planning, participatory
planning, radical planning, collaborative planning, dan lain-lain.
Namun demikian, dalam alur komuniatif rasionalitas tersebut, konsep dasar mengenai
komunikasi dan kolaborasi antara budaya lokal atau kearifan lokal dengan perencanaan masih
belum secara eksplisit dibicarakan, karena selama ini komunikatif rasionalitas lebih banyak
membicarakan hubungan antar individu, kelompok masyarakat, pemerintah, pelaku bisnis, dan
stakeholder perencanaan lainnya. Budaya atau kearifan budaya lokal sebagai bagian dari
“practical reasoning” sesungguhnya ada dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat,
terutama di negara-negara sedang berkembang bukan barat (non western culture) seperti
Indonesia, di samping perencanaan normatif sebagai hasil penalaran “
knowledge of science
dalam perencanaan.

Tulisan ini menjelaskan konsep kolaborasi antara kearifan budaya lokal dengan
perencanaan dalam persfektif teori perencanaan.

Kata Kunci : Perencanaan Komunikatif, Perencanaan Kolaboratif, Budaya Lokal.





1 Penulis adalah dosen tetap pada Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota / Teknikn Planologi,
Fakultas Teknik, Universitas Islam Bandung.
Jurnal PWK Unisba


KEARIFAN BUDAYA LOKAL
DALAM PERSFEKTIF TEORI PERENCANAAN



Pendahuluan
ilmiah melalui proses penelitian

kuantitatif memang telah berlaku sejak
Berdasarkan sejarah, pengenalan
abad ke-19, sehingga metode ilmiah
teori perencanaan berkembang pada saat
menjadi berkonotasi positivis.
terjadinya perencanaan kota modern
Positivisme mengangap adanya dunia
dalam konsep: Garden City, City
obyektif, yang kurang lebih dapat segera
Beautiful, dan Public Health Reforms 2.
digambarkan dan diukur oleh metode
Teori perencanaan itu sendiri merupakan
ilmiah, serta berupaya untuk
subjek studi yang sulit difahami, karena
memprediksikan dan menjelaskan
di dalamnya akan menggambarkan
hubungan sebab-akibat di antara
berbagai disiplin ilmu yang semakin
variable-variable utamanya secara
dibahas akan memberi peluang
kuantitatif. Metode positivistik ini
pengembangan yang semakin terbuka
dikritik sebagai menghilangkan konteks
lebar. Ada pertanyaan utama dalam teori
dari pemaknaan dalam proses
perencanaan yaitu: aturan apa yang
pengembangan ukuran kuantitaf
dapat diterapkan dalam perencanaan
terhadap fenomena faktual yang diteliti
untuk mengembangkan kota atau
(Lincoln dan Guba 2000).
wilayah di antara hambatan politik,
Oleh sebab itu, muncul
sosial, dan ekonomi? Jawabannya bukan
pemikiran-pemikiran baru dalam teori
pada membangun sebuah model
perencanaan yang mengarah pada
perencanaan, tapi lebih pada bagaimana
komunikatif rasionalitas yang
praktek perencanaan yang berbasis pada
dituangkan dalam berbagai konsep yang
karakteristik masyarakat di mana
salah satunya digagas oleh Habermas
perencanaan itu akan diterima dan
dengan
Communicative Rationality,
dilaksanakan.
Forester melalui Communicative
Selama dekade 1970 hingga
Planning Theory. Healey dengan
1980an, muncul keprihatinan terhadap
Collaborative Planning, dan
keterbatasan dan validitas informasi,
Allmendinger dengan Postmodern
data serta metode kuantitaf yang sering
Planning nya (Lihat Gambar berikut)
dihubungkan dengan positivisme sebagai

paradigma yang berlaku saat itu.

Paradigma positivisme yang

menurunkan pemahaman kebenaran




2 Campbell dan Fainstein, 1996. h. 5. yang
selanjutnya menjelaskan mengenai 3

karakteristik dasar sejarah perencanaan

yaitu: (1) penetapan kurun waktu para

pelopor perencananya; (2) periode

kelembagaan, profesionalisasi, dan

pengakuan perencanaan regional dan

perencanaan federal; dan (3) era pasca

Gambar 1
perang, masa krisis, dan diversifikasi

perencanaan. (Krueckeberg, 1983, dalam
Sumb
er: Allmendinger, 2002. Towards a post positivist typology., hal. 80
Campbell dan Fainstein, 1996).
Jurnal PWK Unisba


KEARIFAN BUDAYA LOKAL
DALAM PERSFEKTIF TEORI PERENCANAAN



Jika dilakukan periodesasi
property dengan konsern utama pada
mengenai perjalanan teori perencanaan,
land-use dan land development.
maka ada dua alur besar teori

perencnaan, yaitu instrumental
Dalam perjalanannya,
rasionalitas dan komunikatif rasionalitas.
perencanaan komunikatif dan
Instrumental rasionalitas merupakan
perencanaan kolaboratif ini belum
konsep-konsep pemikiran pada era Pra
membicarakan kemungkinan adanya
Modern Planning dan Modern Planning
struktur budaya yang mungkin dapat
Theory, sedangkan komunikasi mendukung atau mungkin dapat
rasionalitas berada pada era Post
mengganggu jalannya suatu
Modern Planning Theory. Dalam
perencanaan. Unsur budaya ini dapat
typologinya, teori perencanaan ini
dipandang sebagai bagian yang dapat
berada pada filisofi Positivist dan
dipertimbangkan dalam komunikasi
Postpositivist (Almendinger, 2002)
perencanaan. Salah satu peluang untuk

mempertimbangkan potensi lokal yang
Konsep perencanaan komunikatif
dapat dikomunikasikan dan
dan kolaboratif yang dituangkan dalam
dikolaborasikan dalam perencanaan,
tipologi postmoderen tersebut, telah
adalah budaya lokal atau kearifan
banyak membicarakan tentang bagaiman
budaya lokal sebagai bagian dari alasan
melakukan kolaborasi antara “knowledge
praktis (practical reasoning) dalam
of science” dengan “practical
perencanaan di samping pengetahuan
reasoning” dalam suatu perencanaan
ilmiah (knowledge of science) yang
yang lebih berpihak pada kepentingan
selama ini dimiliki oleh para perencana.
masyarakat banyak, tidak hanya
Artikel ini menjelaskan posisi
berpihak pada kelompok yang mampu
pertimbangan budaya lokal dalam
melakukan ‘lobby’ dengan pihak
perspektif teori perencanaan.
pengambil keputusan saja. Perencanaan

komunikatif dan perencanaan kolaboratif
Teori Perencanaan : Sebuah
merupakan kritik terhadap Pemerintah
Perspektif
dan Group Pelobi Bisnis dalam kapasitas

dan kompetensi pemerintah lokal,
Menurut Alexander (1986) teori
melalui keadilan alokasi ruang, pelibatan
adalah cara untuk memahami dunia, dan
masyarakat dalam proses perencanaan,
merupakan kerangka untuk
outcome dalam perbaikan lingkungan
menginterpretasikan fakta, atau cara
hidup, keberpihakan, dan perhatian
untuk memahami fakta dan merupakan
terhadap perilaku masyarakat dalam
kerangka menginterpretasikan
suatu lingkungan perumahan.
pengalaman. Ilmu pengetahuan pada

hakekatnya dibentuk dari gabungan
Konsep komunikatif, khususnya
antara fakta dan pengalaman, dengan
perencanaan kolaboratif yang digagas
demikian teori adalah kerangka yang
oleh Haley (1987) berawal dari
sepatutnya digunakan dan diterapkan,
pengalamannya dalam pengendalian
karena dapat menjelaskan fakta yang
pembangunan ruang kota dalam bidang
ada. Tidak ada definisi tunggal untuk
memahami perencanaan dan teori
Jurnal PWK Unisba


KEARIFAN BUDAYA LOKAL
DALAM PERSFEKTIF TEORI PERENCANAAN



perencanaan. Sama halnya dengan
alam yang luas, dan (4) banyak
profesi perencana, tumbuh berkembang
pendekatan yang dapat dipakai dalam
dan hadir dalam latar belakang yang
perencanaan dengan meminjam alat
berbeda dan memiliki keluasan wawasan
analisis, metoda, dan teori dari bidang
dari pengalaman masing-masing.
ilmu pengetahuan lainnya.


Pengertian
planning atau
Perencanan tidaklah
perencanaan itu sendiri telah mengalami
dikembangkan berdasarkan teori tetapi
banyak perkembangan. Perkembangan
sebaliknya teori perencanaan
akan esensi perencanaan bagi manusia
berkembang sebagai kelanjutan dari
mempunyai kaitan yang erat dengan
pengalaman mengenai usaha-usaha
perkembangan peradaban dan teknologi
manusia untuk mengatasi keadaan
(Sujarto, 1990). Hal ini karena
lingkungan hidupnya (Sujarto, 1990).
perkembangan peradaban manusia
Ada dua jenis utama teori perencanaan
berpengaruh terhadap kompleksitas
yaitu : yang berusaha untuk menjelaskan
permasalahan yang dihadapi di dalam
bagaimana sistem sosial berjalan dan
perencanaan, sementara perkembangan
yang berusaha untuk menyediakan alat
teknologi berperan besar di dalam
dan teknik (tools & technique) untuk
menetukan pola pendekatan perencanaan
mengendalikan & mengubah sistem
yang hendak diterapkan. Sejalan dengan
sosial (Feldt, dalam Catanese & Snyder,
perkembangan peradaban dan teknologi
1988 : 49). Jenis pertama, yaitu teori-
tersebut maka berkembang pula teori
teori operasi sistem, terutama
perencanaan dan praktek-praktek
memaparkan sejumlah disiplin akademis
perencanaan yang terjadi pada kurun
tradisional, karena tidak ada disiplin
jaman tertentu.
tunggal yang mencakup cukup luas

untuk semua aspek penting dari suatu
Pemahaman tentang teori
sistem sosial. Jenis kedua, teori-teori
perencanaan (planning theory)
perubahan sistem, menyajikan hampir
mengalami perdebatan yang panjang dan
semua latar belakang dan teknik-teknik
luas, karena pemahamannya menjadi
dari disiplin ilmu terapan, seperti
semakin melebar dan kompleks. Apa itu
administrasi pemerintahan dan ilmu
teori perencanaan menjadi sulit
teknik, di samping yang berasal dari
didefinisikan secara pasti karena
berbagai disiplin ilmu lainnya. Teori-
beberapa alasan, di antaranya (Campbel.
teori perubahan sistem dibagi dalam
S & Fainstein. S, 1996) : (1) teori
empat jenis cabang utama, yaitu teori
perencanaan memiliki over-lap dengan
rasionalisme, inkrementalisme,
berbagai disiplin ilmu lain (ilmu sosial,
utopianisme dan metodisme.
politik, ekonomi, arsitektur, dll); (2)

batasan profesi perencana dan profesi
Teori perencanaan rasional
lainnya sering tidak jelas, di mana
mendasarkan pada pandangan
perencana tidak hanya membuat rencana
menyeluruh mengenai sistem dan
dan bukan perencana dapat mengerjakan
berusaha untuk memberikan satu
perencanaan; (3) ruang perencanaan
pandangan menyeluruh mengenai semua
terbagi atas pola ruang dan lingkungan
aspek yang terkait dengan sistem
Jurnal PWK Unisba


KEARIFAN BUDAYA LOKAL
DALAM PERSFEKTIF TEORI PERENCANAAN



kehidupan maupun yang tidak berkaitan
komprehensif, perencana harus
dengan kehidupan. Bagian dari sistem
mengasumsikan bahwa tujuan-tujuan
kehidupan itu mencakup sistem wilayah
masyarakat yang bermacam-macam
dan kehidupan di atasnya. Suatu sistem
tersebut, bagaimanapun, dapat diukur
dapat didefinisikan sebagai seperangkat
kepentingannya meskipun secara umum
komponen-komponen yang saling
tidak dapat disatukan ke dalam hierarki
tergantung dengan ruang lingkup,
tujuan masyarakat (Altsuler, dalam
keterkaitan dan stabilitas yang relatif
Faludi 1983 : 194).
tinggi. Ruang lingkup (closure)

ketaktergantungan eksternal, sampai
Teori perencanaan dapat dlihat
sejauh mana komponen-komponen
dari sudut pandang atau perspektif
sistem tersebut tidak berinteraksi dengan
pengetahuan yang cukup lebar melalui
komponen lain di luar sistem.
proses kajian dan pengalaman
Keterkaitan (connectivity) mengukur
perencana, sampai pada batasan yang
ketergantungan internal, yaitu suatu
diterima dalam lingkungannya
batasan tingkat di mana komponen-
(Alexander, 1986). Meskipun teori
komponen sistem saling berinteraksi satu
perencanaan yang berkembang
sama lain. Stabilitas (stability)
berlandaskan pandangan rasional, di
berhubungan dengan lamanya waktu di
mana pemahaman aksioma rasional itu
mana sistem tersebut berakhir tanpa
sendiri adalah suatu cara berfikir ilmiah
adanya perubahan atau gangguan yang
dan anlitis menuju pemecahan suatu
berarti. Demikian dengan perencanaan
permasalahan tertentu, atau suatu
wilayah dan kota pada hakekatnya dapat
tindakan ‘masuk akal’ pada hal-hal yang
didekati melalui pendekatan sistem,
dipertimbangkan dalam pemilihan
dengan menetapkan ruang lingkup,
alternatif, pencapaian tujuan, dan
keterkaitan, dan stabilitas sistem.
hubungan antara tujuan awal dan tujuan

akhir suatu ‘perencanaan’. Analisa

Kelompok perencana yang
keputusan rasional adalah pondasi
mengaku termasuk dalam kelompok
teoritis bagi perencanaan, melalui
perencana yang komprehensif penggunaan metoda dan alat canggih
menyatakan bahwa fungsi perencana
untuk mencapainya. (Alexander, 1986).
yang terpenting adalah (Altshuler, dalam

Faludi, 1983 : 193) memahami
kepentingan masyarakat dan memiliki
pengetahuan yang cukup untuk
mengukur perkiraan pengaruh tindakan
yang diusulkan tersebut, terhadap
kepentingan masyarakat.


Masyarakat jelas mempunyai
tujuan yang berbeda-beda antara satu
orang atau satu kelompok dengan orang
atau kelompok lain, maka untuk
menyusun suatu rencana yang
Jurnal PWK Unisba


KEARIFAN BUDAYA LOKAL
DALAM PERSFEKTIF TEORI PERENCANAAN



Demikian juga Mazza (2000) 3
dalam bentuk piramid turunan, sebagai
menyatakan bahwa dalam 50 tahun
bagian dalam proses perencanaan.
terakhir ini, aktifitas perencanaan telah
Piramida ini disebut dengan bagan
memperlihatkan dua karakter yang
pengetahuan teknis dan tindakan
kontradiktif yaitu: (1) Proses
perencanaan yang menjelaskan relasi
diversifikasi dan spesialisasi yang
sosial dalam proses perencanaan agar
menerus dan berkembang, dan (2)
diperoleh bentuk ruang yang efisien
Pembangunan yang lamban dan tidak
Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dalam
menentu dalam ilmu pengetahuan teknis
gambar berikut ini.
yang diformalisasi. Dalam

Gambar 2
pelaksanaannya, proses spesialisasi dan

diversifikasi telah menghasilkan dua

konsekuensi yang berbeda dalam tori

perencanaan, dengan banyak alasan


bagaimana peluang rancangan grand

teori dan naratif akan mengalami

kelemahan dalam pendekatannya

(Mandelbaum, 1979 dalam Mazza,

2002).4



Mazza juga menggambarkan

bahwa aturan-aturan yang dibuat dalam

perencanaan, secara teoritis merupakan
Sumber :
Mazza, Technical Knowledge and Planning
Actions. H. 19.
bagian dari bentuk ruang (spatial form)

yang secara hirarkis akan menghasilkan

Perencanaan merupakan suatu
hubungan hipotetikal yang timbal balik
aktivitas universal manusia, suatu
antara masyarakat dengan ruang atau
keahlian dasar dalam kehidupan yang
lingkunga alamnya, keperluan politis
berkaitan dengan pertimbangan suatu
suatu kebijakan, dan perencanaan
hasil sebelum diadakan pemilihan
sebagai bagian dari pembelajaran sosial
diantara berbagai alternatif yang ada.
(planning as a learning process). Secara
Sebagai suatu “idea “, perencanaan
diagramatis, pernyataan ini dituangkan
sudah dikenal sejak masa Yunani yaitu

sejak munculnya kota-kota berpola pada
3 Mazza, Luigi. yang menyatakan bahwa
masa itu seperti kota-kota di lembah
“During the last 50 years – and during almost the
Euphirat. Tetapi perencanaan modern
whole century – Planning activities have shown
(modern planning) mulai dikenal sejak
two relevant and seemingly contradictory
akhir abad ke 19 yaitu sejak masa
characters: a continuous and growing process of
diversification and specialization, and a slow and
revolusi industri yang terjadi di Eropa
uncertain development of the formalized
Barat (Mumford, 1950, dalam sujarto
technical knowledge. The diversification process
1990). Sedangkan perencanaan sebagai
developed both through the spreading of

suatu teori yang aktif dan mandiri baru
planning activities to new intervention sectors
mulai dikembangkan tidak lebih dari 30
and the incorporating of sectors in which other
experts were already operating.
tahun yang lalu (F.B.Gillie 1971, dalam
4 Op-cit, h. 12.
Jurnal PWK Unisba


KEARIFAN BUDAYA LOKAL
DALAM PERSFEKTIF TEORI PERENCANAAN



Sujarto 1990). Perencanaan juga
1990). Secara mendasar, proses
merupakan suatu rangkaian kegiatan
perencanaaan mencakup tiga tahapan,
berfikir yang bersinambungan dan
yaitu : formulasi nilai, identifikasi cara-
rasional untuk memecahkan suatu
cara untuk mencapai tujuan, dan
permasalahan sacara sistematik, efektif
pelaksanaan (Reiner & Davidoff, dalam
dan efisien (Holden, 1970, dalam Sujarto
Faludi, 1983 : 28)
1990). Secara mendasar, proses

perencanaaan mencakup tiga tahapan,
Teori perencanaan dibedakan
yaitu : formulasi nilai, identifikasi cara-
dalam dua pendekatan utama, yaitu
cara untuk mencapai tujuan, dan
pendekatan normatif dan pendekatan
pelaksanaan (Reiner & Davidoff, dalam
tindakan. Dalam kedua pendekatan ini
Faludi, 1983 : 18) Perencanaan adalah
pertama-tama mempelajari cara
aplikasi dari metoda ilmiah mengambil keputusan dalam manajemen
bagaimanapun sederhananya untuk
(Cyert & March, 1959; Dyekman, 1961).
membuat kebijaksanaan (Reiner &
Hal ini merupakan perbedaan yang
Davidoff, dalam Faludi, 1983 : 11) yaitu:
dibuat dalam studi perencanaan oleh

Daland dan Parker (1962) dan yang
“Perencanaan adalah suatu
terbaru juga dalam mempelajari “formasi
proses untuk menentukan
kebijaksanaan” oleh Bauer (1968).
tindakan masa depan tindakan
Perbedaan tersebut merupakan analog
masa depan yang tepat melalui
terhadap studi perencanaan antara
serangkaian pilihan-pilihan. Di
normative teori politik dan positif. Ilmu
dalam perencanaan, “proses
pengetahuan politik teori normatif yang
“merupakan sesuatu yang
dihubungkan dengan bagaimana
bersinambungan (planning is a
continuous proces).

perencanaan harus diproses secara

rasional. Tindakan pendekatan lebih
Proses perencanaan tidak
mengarah pada batasan-batasan yang
mempumyai awal dan akhir yang
berlawanan dalam mencoba untuk
definitif (Webber, 1963, dalam Sujarto,
memenuhi program tindakan rasional
1990). Proses perencanaan akan
(Bolan’s paper, hal 373)
berlangsung terus menuju ke upaya

penyelesaian masalah selanjutnya sesuai
Jelasnya teori normatif dan
dengan perkembangan permasalahan
positif dari perencanaan satu sama lain
yang baru. Proses perencanaan akan
harus saling mendukung, misalnya
selalu tanggap dan menyesuaikan diri
seseorang harus menyebutkan bahwa
dengan perkembangan di dalam
penemuan secara empiris memodifikasi
masyarakat maupun berbagai sumber
preskripsi yang ditentukan. Seperti
daya yang menunjangnya (Branch, 1968,
Landblond dan teman kerjanya
dalam Sujarto, 1990 : 1). Perencanaan
menjaganya sejak perencanaan aktual
merupakan suatu rangkaian kegiatan
tidak pernah memprosesnya secara
berfikir yang bersinambungan dan
rasional, pengertian perencanaan
rasional untuk memecahkan suatu
regional bukan merupakan satu konsep
permasalahan sacara sistematik, efektif
normatif yang cocok (Dahl dan
dan efisien (Holden, 1970, dalam Sujarto
Lindblon, 1953, Bray Brooke dan
Jurnal PWK Unisba


KEARIFAN BUDAYA LOKAL
DALAM PERSFEKTIF TEORI PERENCANAAN



Lindblon, 1963; Lindblon 1965, h. 51-
terhadap teori empiris merupakan teori
69).
positif dari perencanaan, nampaknya

sebuah tanda “muturity” dari suatu area
Tapi Banfield menggambarkan
pencarian umumnya dan faktor-faktor
kesimpulan yang berbeda dari penemuan
pendukungnya untuk teori yang
tersebut, bahwa organisasi tidak
berhubungan dengan fakta empiris
dipergunakan dalam perencanaan
terhadap perencanaan dan teori positif
rasional. Baginya sisa-sisa apa yang
dilihat seperti tanda muturity dari suatu
tepat berlaku secara rasional namun
wilayah pencarian secara intelektual,
suatu normative yang ideal belum pasti
pengembangan lebih banyak material
harus berupa bentuk pengembangan
termasuk bekas-bekas pada tngkatan
terhadap ideal yang memungkinkan
teori normatif oleh karena maksud
ketepatannya dalam analisis keadaan,
pengenalan untuk mengurangi
seperti perkembangan mungkin terjadi
pengalaman teori perencanaan, namun di
karena tindakan pendekatan terhadap
mana Banfild dan gambaran pertamanan
studi perencanaan akan membantu.
pada studi empiris mengenai

perencanaan semua itu merupakan
Hubungan dekat terhadap
proses perencanaan rasional seperti yang
idaman, idaman ini merupakan kehendak
dikehendaki. Untuk lebih jelasnya studi
yang berlawanan dengan pengertian
empiris dalam teori perencanaan ini
rasional dan perencanaan sedikit demi
lebih jauh dijelaskan sebagai essay dari
sedikit pada konsep secara enpiris
Altsuler (dalam Faludi, 1983, h. 193-
seperti, Madge (1968) menyarankan
209).
keseluruhan dan teori sedikit demi

sedikit merupakan kutub-kutub antara
Teori Perencanaan telah banyak
ideologi yang aktual perubahan
berkembang pada pendidikan
perencanaan sosial. Sama halnya, Khan
perencanaan setelah berakhirnya
(1969) dalam bukunya yang terangkum
ketenaran sekolah Chicago (Perlofi,
dalam “Studies in Sosial Policy and
1957). Benyamin A Handler mengenai
Planning Observers” di Amerika Serikat,
“Apakah Perencanaan Itu?” (1957,
memaparkan perbedaan antara dalam Faludi, 1983) adalah contoh lain
keterkaitan dan pengertian merupakan
dari perhatian akademik untuk
kuantitas bukan kualitas. Faludi merasa
mengembangkan teori ini. Beberapa
telah pindah ke arah ini dalam beberapa
tahun kemudian Hendri C Hightower
tulisannya, dan merasa menemukan
(1970) mengulas lagi mengenai teori
dimensi-dimensi dari tindakan perencanaan yang lebih baik lagi yang
perencanaan, dan salah satunya
kemudian dijadikan contoh dalam
memberikan pernyataan bahwa perumusan masalah dan beberapa
rasionalisasi dalam proses perencanaan
pendekatan.
harus dibuat sedikit demi sedikit dan

berkesinambungan (Faludi, 1983).
Ada beberapa teori mengenai

apakah teori perencanaan itu atau dalam
Umumnya lingkungan dan yang
journal of the American institute of
mendukung untuk teori perencanaan
Planners yang menerangkan sifat-sifat
Jurnal PWK Unisba


KEARIFAN BUDAYA LOKAL
DALAM PERSFEKTIF TEORI PERENCANAAN



perencanaan dan lingkupnya secara
keputusan itu dibuat (Silvester, 1971-
panjang lebar. Berarti mereka lebih
1972).
menonjolkan usaha secara akademis

untuk menyatakan pada pelajar melalui
Pergeseran Paradigma
kerangka kerja untuk memahami
Perencanaan
perencanaan. Melalui kegiatan akademis

dan dengan cara latihan demikian adalah
Perencanaan rasional (Rational
merupakan bekal untuk profesi seperti
Planning) atau sering disebut
perencanaan yang kadang-kadang
perencanaan menyeluruh
dilupakan oleh pelajar-pelajarnya.
(Comprehensive Planning) pada
Semua itu lebih ditekankan di sekolah-
dasarnya merupakan suatu kerangka
sekolah perencanaan sebagai tempat
pendekatan atau metode pembuatan
latihan untuk mengembangkan daya
keputusan yang disusun secara teratur
hayal mereka. Sebagai mana Kaplan
dan logis (Banfield dalam Faludi, 1983,
(1964) menyatakan teori yang baru yaitu
hal 139).
menghubungkan kemasyarakatan. Studi

perencanaan merangsang untuk
Perencanaan rasional secara
berinovasi, penelitian yang akan menjadi
konsepsual dan analitis mencakup
perencana Amerika.
pertimbangan perencanaan yang laus.

Pertimbangan ini termasuk pula hal-hal
J. Brian Mc Loughlin (1969),
yang berkaitan dengan seluruh rangkaian
dalam bukunya sistem pendekatan
tindakan pelaksanaan serta berbagai
Perencanaan kota dan daerah. Lanjutan
pengaruhnya terhadap pengembangan
pandangan tentang teori perencanaan
(Sujarto, 1990). Dilihat dari produknya,
yang berdasarkan teori lokasi. Apa yang
perencanaan rasional mencakup suatu
saya sebut sebagai teori di dalm
totalitas dari seluruh aspek tujuan
perencanaan. Tapi secara jelas, dia selalu
pembangunan. Sistematika perencanaan
membuat pertanyaan-pertanyaan seperti
rasional dimulai dari diagnosa
perhatian pada teori perencanaan.
permasalahan, perumusan dan tujuan
Sebagai contoh dia mengingatkan bahwa
sasaran, penentuan serangkaian alternatif
proses perencanaan harus memiliki
untuk mencapai tujuan, penentuan
bentuk yang mana untuk proses ini
alternatif terbaik sesuai kebutuhan di
menjadikan manusia mengubah bentuk
amsa depan, sampai dengan tindakan
lingkungannya. Pada jalan ini
implementasi. Menurut Etzioni (dalam
keseluruhan teori perencanaan menjadi
Faludi, 1983, hal. 217-218) keseluruhan
kesimpulan dari teori dalam
sistematika perencanaan rasional selalu
perencanaan. Penekanan yang diberikan
didasarkan atas analisis fakta, teori, dan
kepadanya adalah melemahkan, jadi oleh
nilai-nilai yang terkait.
karena itu Mc Loughlin telah mengkritik

persis seperti yang saya pikirkan
Pendekatan perencanaan rasional
(pendapat saya) untuk meletakan pada
dapat dianggap sebagai suatu prosedur
kemajuan pendapat yang simpel dari
yang dilakukan tahap demi tahap
proses yang aktual di mana suatu
(Davidoff dan Reiner dalam Faludi,
1983, hal. 11). Sistematika perencanaan
Jurnal PWK Unisba


KEARIFAN BUDAYA LOKAL
DALAM PERSFEKTIF TEORI PERENCANAAN



rasional dimulai dari diagnosa
posmodernisme kritis yang telah
permasalahan, perumusan dan tujuan
terbangun dan telah memainkan peran
sasaran, penentuan serangkaian alternatif
penting dalam pemikiran barat (Lincoln
untuk mencapai tujuan, penentuan
dan Guba 2000).
alternatif terbaik sesuai kebutuhan di

amsa depan, sampai dengan tindakan
Konstruksionisme dan
implementasi. Menurut Etzioni (dalam
posmodernisme kritis mengemukakan
Faludi, 1983, hal. 217-218) keseluruhan
tantangan filosofis mendasar terhadap
sistematika perencanaan rasional selalu
positivisme dan menawarkan alternatif
didasarkan atas analisis fakta, teori, dan
pendekatan teoritus dan praktis terhadap
nilai-nilai yang terkait.
penelitian. Tradisi ini telah menghimpun

minat yang semakin meningkat,
Teori perencanaan rasional ini
sebagian disebabkan karena mereka
membutuhkan keandalan, ketersediaan,
memberikan perhatian secara tepat
dan validitas data yang sangat tinggi,
waktu terhadap masalah-masalah sosial
sehingga ukuran-ukuran kuantitatif
dan politis, yang tidak diperhatikan oleh
merupakan salah satu syarat
para peneliti positivis. Perhatian para
berlangsungnya pandangan menyeluruh
positivis untuk mengungkap kebenaran
terhadap suatu sistem yang akan
dan fakta-fakta dengan menggunakan
direncanakan. Sedangkan di sisi lain,
metode eksperimental atau survai telah
secara khusus, ukuran-ukuran ditantang oleh kaum interpretivis yang
kuantintatif sering mengesampingkan
menyatakan bahwa metode-metode

makna dan penafsiran dari data yang
tersebut memaksakan suatu pandangan
terkumpul. Metode ini mengenakan
dunia tentang permasalahan dan
makna dan penafsiran pihak luar
bukannya menangkap, mendeskripsikan
terhadap data, serta mensyaratkan
dan memahami pandangan dunia
sampel statistik yang justru seringkali
tersebut.
tidak mencerminkan kelompok sosial

tertentu dan tidak memungkinkan
Kondisi persyaratan yang sangat
generalisasi atau pemahaman terhadap
bersifat komprehensif tersebut pada
kasus-kasus individual. Oleh sebab itu
perkembangannya menimbulkan kritik
dalam perjalanannya, metode terhadap keefektifan model perencanaan
kuantintatif dan positivistik dalam
rasional (Sujarto, 1990). Persyaratan
perencanaan rasional yang menyeluruh
yang sangat komprehensif menurut para
ini cenderung mengesampingkan nilai
incrementalist terlalu berat bagi para
dari domain penelitian ilmiah.
pengambil keputusan yang

kemampuannya sangat terbatas,
Rasionalisme dan Positivisme
sehingga menimbulkan banyak kesulitan
akhirnya telah menjadi bentuk
(Etzioni dalam Faludi, 1983, 217-218)
pelembagaan yang dominan dalam

penelitian sosial akan tetapi dominasi ini
Secara umum kritik terhadap
semakin ditantang oleh kritik dari dua
model perencaan rasional didasarkan
alternatif tradisi pemikiran, yaitu
atas permasalahan yang dihadapi oleh
konstruksionisme interpretif dan
keandalan produknya, yang meliputi
Jurnal PWK Unisba


Document Outline

  • Cover.doc
  • Cover dalam.doc
    • ÿ
      • ÿ
      • ÿ
        • ÿ
  • Artikel PWK_2.doc
    • ÿ
  • Kearifan Budaya Lokal dlm PWD.doc
    • ÿ
  • PERANAN BENTUK DAN STRUKTUR HUTAN KOTA DALAM PEMBANGUNAN KOT.doc
  • reposisi istilah.doc
  • MAKALAH (Adit-mhs2001).doc
    • ÿ
      • ÿ

Download
KEARIFAN BUDAYA LOKAL DALAM PERSFEKTIF TEORI PERENCANAAN

 

 

Your download will begin in a moment.
If it doesn't, click here to try again.

Share KEARIFAN BUDAYA LOKAL DALAM PERSFEKTIF TEORI PERENCANAAN to:

Insert your wordpress URL:

example:

http://myblog.wordpress.com/
or
http://myblog.com/

Share KEARIFAN BUDAYA LOKAL DALAM PERSFEKTIF TEORI PERENCANAAN as:

From:

To:

Share KEARIFAN BUDAYA LOKAL DALAM PERSFEKTIF TEORI PERENCANAAN.

Enter two words as shown below. If you cannot read the words, click the refresh icon.

loading

Share KEARIFAN BUDAYA LOKAL DALAM PERSFEKTIF TEORI PERENCANAAN as:

Copy html code above and paste to your web page.

loading