This is not the document you are looking for? Use the search form below to find more!

Report home > Religion

KONFLIK ISLAM- KRISTEN

1.00 (1 votes)
Document Description
Perbedaan konsepsi diantara agama-agama yang ada adalah sebuah realitas, yang tidak dapat dimungkiri oleh siapa pun. Perbedaan -bahkan benturan konsepsi itu- terjadi pada hampir semua aspek agama, baik di bidang konsepsi tentang Tuhan maupun konsepsi pengaturan kehidupan. Hal ini dalam prakteknya, cukup sering memicu konflik fisik antara umat berbeda agama. Konflik Maluku, Poso, ditambah sejumlah kasus terpisah di berbagai tempat dimana kaum Muslim terlibat konflik secara langsung dengan umat Kristen adalah sejumlah contoh konflik yang -sedikit banyak- dipicu oleh perbedaan konsep diantara kedua agama ini. Perang Salib (1096-1271) antara umat Kristen Eropa dan Islam, pembantaian umat Islam di Granada oleh Ratu Isabella ketika mengusir Dinasti Islam terakhir di Spanyol, adalah konflik antara Islam dan Kristen yang terbesar sepanjang sejarah. Catatan ini, mungkin akan bertambah panjang, jika intervensi Barat (Amerika dan sekutu-sekutunya) di dunia Islam dilampirkan pula di sini.
File Details
  • Added: October, 23rd 2010
  • Reads: 839
  • Downloads: 32
  • File size: 63.61kb
  • Pages: 17
  • Tags: perbedaan konsep, konflik fisik, melegitimasi pembunuhan
  • content preview
Submitter
  • Name: katja
Embed Code:

Add New Comment




Related Documents

PENGHITUNGAN SUPLAI-DEMAND DALAM MENGHADAPI HARI-HARI BESAR ...

by: georgina, 5 pages

Dalam menyambut hari-hari besar keagamaan Nasional hampir semua masyarakat Indonesia merayakannya, mengingat mayoritas penduduk Indonesia adalah penduduk yang beragama yang terdiri dari agama Islam, ...

A Brief Illustrated Guide To Understanding Islam

by: williamstt, 80 pages

This book is a brief guide to understanding Islam. It consists of three chapters. The first chapter, “Some Evidence for the Truth of Islam,” answers some important questions ...

Questions about Islam?

by: marc, 2 pages

Islam comes from the root word ‘salaam’, meaning peace. When our individual and collective lives are in harmony with nature and with the will of the Creator, peace is inevitable. Islam, ...

Sufism: The Mystical Side of Islam

by: marc, 13 pages

During the eighth and ninth centuries A.D., a new emphasis began to develop within the religion of Islam. This emphasis was a reaction against the prevailing impersonal and formal nature of Islam. ...

The Beard in Islam

by: Fatih, 4 pages

The beard in Islam, by Fatih, Verry impressive book

Islam, Commerce, and Business Ethics

by: samanta, 14 pages

Islam is the only major world religion founded by a businessman, although, in a sense, Judaism, Christianity and Islam all trace their origins to another businessman, Abraham, the ancestor of Moses, ...

Concept of God In Islam

by: 877whyislam, 2 pages

Educational brochure explaining the Concept of God in Islam.

Human Rights in Islam

by: 877whyislam, 2 pages

WhyIslam.org brochure regarding Human Rights in Islam info@whyislam.org

Islam Explained

by: 877whyislam, 2 pages

Educational brochure explaining the basics of Islam info@whyislam.org

Status of Women in Islam

by: 877whyislam, 2 pages

whyislam.org brochure on the status of women in Islam info@whyislam.org

Content Preview
KONFLIK ISLAM- KRISTEN
DAN IMPLIKASINYA TERHADAP SIKAP KEAGAMAAN UMAT
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Perbedaan konsepsi diantara agama-agama yang ada adalah sebuah
realitas, yang tidak dapat dimungkiri oleh siapa pun. Perbedaan –bahkan benturan
konsepsi itu- terjadi pada hampir semua aspek agama, baik di bidang konsepsi
tentang Tuhan maupun konsepsi pengaturan kehidupan. Hal ini dalam prakteknya,
cukup sering memicu konflik fisik antara umat berbeda agama.
Konflik Maluku, Poso, ditambah sejumlah kasus terpisah di berbagai
tempat dimana kaum Muslim terlibat konflik secara langsung dengan umat
Kristen adalah sejumlah contoh konflik yang –sedikit banyak- dipicu oleh
perbedaan konsep diantara kedua agama ini. Perang Salib (1096-1271) antara
umat Kristen Eropa dan Islam, pembantaian umat Islam di Granada oleh Ratu
Isabella ketika mengusir Dinasti Islam terakhir di Spanyol, adalah konflik antara
Islam dan Kristen yang terbesar sepanjang sejarah. Catatan ini, mungkin akan
bertambah panjang, jika intervensi Barat (Amerika dan sekutu-sekutunya) di
dunia Islam dilampirkan pula di sini.
Pandangan stereotip satu kelompok terhadap kelompok lainnya, biasanya
menjadi satu hal yang muncul bersamaan dengan terdengarnya genderang
permusuhan, yang diikuti oleh upaya saling serang, saling membunuh, membakar
rumah-rumah ibadah seteru masing-masing, dan sebagainya. Umat Islam
dipandang sebagai umat yang radikal, tidak toleran, dan sangat subjektif dalam
memandang kebenaran yang –boleh jadi- terdapat pada umat.sementara umat
Kristen dipandang sebagai umat yang agresif dan ambisius yang bertendensi

1

menguasai segala aspek kehidupan dan berupaya menyebarkan pesan Yesus yang
terakhir, “Pergilah ke seluruh dunia dan kabarkanlah Injil kepada seluruh
makhluk!” (Martius 16: 15)
Sebagian kalangan berpendapat bahwa perbedaan konsep keagamaanlah
yang menjadi sumber konflik utama antara umat manusia. Tidak dapat dimungkiri
bahwa sejumlah teks keagamaan memang mengatur masalah kekerasan dan
peperangan. Dalam tradisi Judeo-Christian, Yehweh –sebutan Tuhan dalam Bibel-
digambarkan sebagai “God of War”, sebagaimana diterangkan dalam Mazmur 18:
40- 41,
“(40) Engkau telah mengikat pingggangku dengan keperkasaan untuk
berperang; Engkau tundukkan ke bawah kuasaku orang yang bangkit
melawanku. (41) Kau buat musuhku lari dari aku, dan orang-orang yang
membenci aku kubinasakan.”1
Dalam Islam juga dikenal konsep jihad yang dalam sejumlah hal berarti
qital (peperangan).2 Maka, sebagian pengamat melihat, agama adalah sumber
konflik, atau setidaknya memberikan legitimasi terhadap berbagai konflik sosial.
Ferguson (1977) mencatat, “Every major religious tradition includes its
justification for violence”. Sebagian lain memnyimpulkan bahwa agama-agama
memberikan ajaran dan contoh-contoh yang melegitimasi pembunuhan. Dalam
tradisi Islam dan Kristen (bahkan Yahudi), kata mereka, Tuhan membunuh
masyarakat, dan memerintahkan masyarakat untuk melakukan hal yang sama.3
Cara pandang terhadap agama dengan menempatkan agama sebagai
sumber konflik, telah menimbulkan berbagai upaya menafsirkan kembali ajaran
agama dan kemudian dicarikan titik temu pada level tertentu, dengan harapan
konflik diantara umat manusia akan teredam jika faktor “kesamaan agama” itu
didahulukan. Pada level eksoteris-seperti aspek syari’ah- agama-agama memang
berbeda, tetapi pada level esoteris, semuanya sama saja. Semua agama kemudian
dipandang sebagai jalan yang sama-sama sah untuk menuju kepada Tuhan,i
termasuk Islam dan Kristen.

2

Sehubungan dengan itu, tulisan ini bermaksud membahas tentang:
bagaimana sikap umat beragama (Islam dan Kristen) terhadap agamanya di era
millenium sekarang; dan benarkah perbedaan konsepsi agama-lah yang
menyebabkan konflik diantara kedua umat ini?
*****
Perbedaan Konsepsi dan Sikap Anti Agama
Terhadap konflik yang terjadi antara umat beragama telah menimbulkan
dua kutub pemikiran yang berbeda. Pertama, sikap “anti agama” yaitu berupa
penegasian dan pengingkaran peran agama dalam kehidupan pribadi,
bermasyarakat dan bernegara. Agama dianggap sebagai sumber konflik, sehingga
harus disingkirkan. Agama dianggap tidak mempunyai peranan penting dalam
kehidupan sehingga harus disingkirkan. Agama dianggap sebagai salah satu
penyebab terjadinyaa pembunuhan dan kematian diantara umat manusia, sehingga
sudah saatnya dilenyapkan, sebagaimana dikatakan John Lennon dalam syair
lagunya Imagine, “There is no religion too”.
Sikap anti agama ini, yang berakar di Eropa, kiranya dilatarbelakangi
oleh pengalaman sejarah Eropa abad pertengahan yang mengalami ketertinggalan
dalam hampir seluruh aspek kehidupan. Dalam konteks ini, agama –yang
direpresentasikan oleh para pemuka agama (Gereja)- dianggap menjadi faktor
penghambat kemajuan Eropa di samping istana dan kaum borjuis. Menyandarkan
peradaban pada nilai-nilai agama dianggap tidak sesuai dengan semangat
Renaissance dan Humanisme Eropa yang telah mengubah paradigma Eropa, dari
pandangan-pandangan makrokosmos kepada mikrokosmos, dimana rasionalitas
dianggap sebagai alat pencari dan pengukur kebenaran yang bisa diakui
validitasnya. Paham ini, pada kenyataannya berkembang terus, di berbagai
belahan dunia, baik yang mayoritas penduduknya Islam maupun Kristen.
Kendatipun demikian, gagasan “melenyapkan” peran agama dalam
peradaban umat manusia, dalam kenyataannya tetap dianggap absurd, dan tidak

3

sesuai dengan realitas. Tokoh-tokoh politik Eropa, pasca Renaissance, meskipun
tidak menyukai perilaku berbagai pemuka agama, akhirnya juga memerlukan
agama untuk kepentingan mereka.ii
Arnold Toynbee, pakar sejarah, menekankan peran agama dalam
peradaban. Ia meneliti aspek peran dinamis agama dalam kelahiran dan
kehancuran satu peradaban. Ia menyimpulkan bahwa banyak peradaban yang
hancur (mati) karena “bunuh diri” dan bukan karena benturan dengan kekuatan
luar. Dalam studi yang mendalam tentang kebangkitan dan kehancuran peradaban,
Tonbee menemukan bahwa agama dan spiritualitas memainkan peran sebagai
chrysalis ‘kepompong’ yang merupakan cikal bakal tumbuhnya peradaban. Antara
kematian dan kebangkitan satu peradaban baru, ada satu kelompok yang disebut
Toynbee creative minorities yang dengan spiritualitas mendalam (deep spiritual)
atau motivasi agama (religious motivation)- bekerja keras untuk melahirkan satu
peradaban baru dari reruntuhan peradaban lama. Karena itu, aspek spiritual
memainkan peran sentral dalam mempertahankan eksistensi suatu peradaban.
Peradaban yang telah hilang spiritualitasnya, ia akan mengalami penurunan
(Civilizations that los their spiritual core soon fell into decline).iii
Wacana Pluralisme Agama
Gagasan kedua, adalah kelompok yang berupaya “menyamakan” semua
agama. Gagasan ini muncul karena beranggapan bahwa perbedaan konsepsi
agama merupakan sumber konflik umat manusia. Upaya penyamaan ini biasanya
dikamuflasekan dengan paham pluralisme agama (religious pluralism/ al-ta’addud
al-diniyyah).
Adalah John Hick yang dianggap sebagai penggagas pluralisme agama.
Dia mendefinisikan religious pluralism sebagai:
“Philosophically, however, the term refers to a particular theory of the
relation between these traditions, with their different and competing claims. This
is the theory that the great world religions constitute variant conceptions and

4

perceptions of, and responses to, the one ultimate, mysterious divine
reality…Explicit pluralism accepts the more radical position implied by
inclusivism: the view that the great world faiths embody different perceptions and
conceptions of, and correspondingly different responses to, the Real or the
Ultimate, and that within each of them independently the transformation of human
existence from self-conteredness is taking place. Thus the great religious traditons
are to be regarded as alternative esoteriological ‘spaces’ within which--or ways
along which—men and women can find salvation, liberation and fulfillment.”iv
Definisi di atas menyimpulkan bahwa agama-agama besar mengandung
persepsi-persepsi varian dari “yang asal”, yaitu realitas ketuhanan yang misterius
dan respon-respon terhadapnya. Pada akhirnya John Hick sampai pada satu
kesimpulan bahwa agama pada hakekatnya adalah jalan yang berbeda-beda
menuju tujuan (the Ultimate) yang sama. The Real atau Yang Ada (Tuhan),
hanya Esa, namun penyebutan dan interpretasi manusia saja yang berbeda-beda.
Pluralisme agama John Hick kelihatannya adalah bentuk pengembangan dari
paham inklusivisme.v
Dr. J. Verkuil dalam bukunya Samakah Semua Agama? Memuat kisah
Nathan der Weise (Nathan yang Bijaksana) karya Lessing (1729-1781).
Kesimpulan dari kisah itu adalah bahwa semua agama intinya sama saja. Intisari
agama Kristen, menurutnya adalah Tuhan, kebajikan, dan kehidupan kekal.Intisari
itu, demikian Verkuil, juga terdapat pd agama Islam, Yahudi, dan agama lainnya.
Konferensi Parlemen Agama-agama di Chicago tahun 1893, mendeklarasikan
bahwa seluruh tembok pemisah antara berbagai agama di dunia sudah runtuh.
Konferensi itu, lebih jauh menyerukan persamaan antara Kon Fu Tsu, Budha,
Islam dan agama lainnya.
Pada level Indonesia, Nurcholis Madjid dan Ulil Abshar Abdalla, dan
Prof. Dr. Said Agil Siradj, termasuk cendekiawan yang mengusung “pluralitas”
dengan tendensi “menyamakan” agama-agama yang ada. Ulil Abshar Abdalla
menyatakan, “Semua agama sama. Semuanya menuju jalan kebenaran. Jadi, Islam

5

bukan yang paling benar.”vi Said Agil Siradj menyatakan bahwa agama Islam,
Yahudi dan Kristen adalah agama yang “sama-sama” memiliki komitmen untuk
menegakkan kalimat Tauhid, karena ,secara geneologi, ketiga agama ini,
mengakui bahwa Ibrahim adalah ‘the foundation father’s’vii Dr. Abdul Munir
Mulkhan menyatakan bahwa agama-agama hanyalah salah satu “pintu” menuju
surga Tuhan yang satu. Dan surga Tuhan itu hanya bisa dimasuki dengan
keikhlasan, pembebasan manusia dari kelaparan, penderitaan, kekerasan dan
ketakutan, tanpa melihat agamanya.viii
Senada dengan para tokoh pembaharu di atas, Nurcholis Madjid
berpendapat bahwa Islam “bukanlah” nama agama. Dengan menginterpretasi Q.
S. Ali Imran ayat 67, yang menceritakan tentang polemik kecil antara Yahudi dan
Nasrani. Kedua kelompok ini, demikian Nurcholis, mengklaim Nabi Ibrahim a.s.
masuk ke dalam golongannya. Lalu Al-Qur’an menegaskan bahwa Ibrahim
adalah “hannifan musliman”. Yang terakhir ini diartikannya “seorang pencari
kebenaran yang tulus dan murni (hanif), dan seorang yang berhasrat untuk
pasrah”. Ia keberatan bila kalimat itu diartikan bahwa Ibrahim adalah seorang
muslim.ix
“Islam” bagi Nurcholis bukanlah nama sebuah agama formal (organized
religion), karena menurutnya, istilah itu muncul pada abad kedua hijrah. Setiap
agama yang mengajarkan sikap tunduk dan berserah diri, dalam pandangannya,
adalah Islam. Karenanya, bukan hanya Islam (sebagai organized religion), namun
Kristen, Yahudi, Hindu, Budha dan lain-lain adalah Islam.x
Dari uraian di atas bisa disimpulkan bahwa para penganut paham
pluralisme beragama menganggap bahwa, terlepas dari perbedaan-perbedaannya,
esssensi agama-agama adalah sama. Sebab sumbernya adalah sama, yaitu Yang
Mutlak (Tuhan). Jika terjadi perbedaan bentuk, ini disebabkan karena perbedaan
manifestasi dalam menanggapi Yang Mutlak. Sehingga, walaupun pada aspek
eksoterisnya berbeda, namun pada level esoteris, kondisi internal atau batin, akan
didapat titik temu. Dengan paham ini, maka tidak benar (dan tidak dibolehkan)

6

sikap masing-masing agama yang menganggap memiliki kebenaran secara mutlak
(truth claim). Pada level keindonesiaan, cendekiawan yang tergolong pluralis
mengindikasikan betapa banyaknya konflik antar umat beragama (baik antar
maupun intern) disebabkan karena sikap eksklusif para pemeluknya terhadap
ajaran agama mereka. Yang terakhir ini, menurut mereka, cenderung menjadi
“pemberhalaan” konsep ajaran agama itu sendiri, sehingga lupa pada essensi
agama yang sebenarnya yaitu sikap tunduk dan pasrah pada kebenaran. Karena –
mengutip istilah Nurcholis Madjid- sebaik-baik agama di sisi Allah (baca: Yang
Mutlak-pen) ialah al-hanafiyat al-samhah, semangat kebenaran yang lapang dan
terbuka.xi Karena itu, dengan perspektif “Teologi Inklusif”, kelompok ini
berpendapat bahwa pandangan subjektif seperti , “Hanya agama sayalah yang
memberi keselamatan, sementara agama Anda tidak, dan bahkan menyesatkan”
akan mengakibatkan sikap menutup diri terhadap kebenaran agama lain, dan
berimplikasi serius atas terjadinya konflik atas nama agama dan Tuhan.xii
Kelompok pengusung pluralisme agama, dalam prakteknya telah bertindak tidak
hanya sebatas wacana. Sejumlah sikap dan tindakan konkret mereka perlihatkan
dalam mewujudkan “sikap toleransi” dan “keterbukaan” untuk menerima
kebenaran dari berbagai “pintu/ jalan” (baca: agama). Perkawinan antara laki-laki
dan perempuan yang berlainan agama, atau konversi dari Islam ke Kristen dan
sebaliknya adalah hal yang dianggap mereka “lumrah”, dan tidak harus
dipersoalkan. Sebab, bagi mereka, kebenaran mutlak hanya “satu”, hanya
interpretasi dan implementasinya saja yang berbeda di tengah-tengah masyarakat.
Gagasan pluralisme yang cenderung menyamakan agama-agama jelas
merupakan sesuatu yang absurd dan tidak sesuai dengan realitas bahwa konsepsi
masing-masing agama memang berbeda. Tidak hanya pada level eksoteris, bahkan
pada level esoteris pun, jika dikaji lebih dalam menimbulkan pertanyaan, apakah
benar semua agama sama pada level ini. Adalah sesuatu yang mustahil
“mempersatukan” agama-agama, sementara konsep masing-masing agama tentang
“Tuhan”, misalnya, berbeda antara satu dengan lainnya.

7

Walaupun benar bahwa ada konflik-konflik horizontal yang disebabkan
karena perbedaan konsepsi agama, seperti yang terjadi pada konflik antara Katolik
dan Protestan di Eropa (khususnya Irlandia Utara), dan antara Sunni dan Syi’ah di
dunia Islam (misalnya Irak), atau Perang Salib antara kaum Muslim dengan
bangsa Eropa (1096- 1271). Konflik Ambon, yang pernah terjadi di Indonesia,
juga disinyalir disebabkan karena perbedaan konsep agama (walaupun faktor-
faktor lain, seperti kondisi sosial, ekonomi dan sebagainya turut juga berperan).
Ribuan bahkan ratusan ribu nyawa melayang dalam pertikaian panjang dan
melelahkan itu. Namun, jauh lebih banyak konflik yang terjadi “bukan” karena
perbedaan konsep agama. Perang Dunia I dan II, dan Perang Dingin antara Eropa
Barat plus Amerika Serikat dengan Eropa Timur, serta Perang Saudara di
Amerika Serikat adalah beberapa contoh, dimana perbedaan ideologi politik dan
ekonomi menjadi sebab pertumpahan darah diantara dua kelompok yang saling
berseberangan. Sejarah menunjukkan bahwa –di samping faktor-faktor yang
disebutkan di atas-, perebutan wilayah dan hegemoni, perbedaan dan arogansi
etnis, serta perebutan sumber-sumber daya alam untuk kepentingan pertanian dan
industri merupakan penyebab munculnya berbagai konflik di berbagai belahan
dunia.
Konflik Islam- Kristen yang terjadi di beberapa tempat, jika dianalisa
lebih dalam, ternyata tidak disebabkan karena perbedaan konsepsi keagamaan.
Adian Husaini mengatakan bahwa konflik Islam-Kristen yang pernah terjadi di
Rengasdengklok, Situbondo, dan Tasikmalaya ternyata terkait dengan masalah
politik, ekonomi, sosial, penyebaran agama, pembangunan rumah ibadah dan
sebagainya. Dibandingkan masa-masa sebelumnya dalam perjalanan sejarah
bangsa ini, ternyata konflik antara Islam-Kristen lebih banyak terjadi di masa
Orde Baru (juga pada masa pasca Reformasi sekarang), pada saat mana, negara
secara sistematis melaksanakan program sekulerisasi dan menekan wacana
ideologis dan keagamaan.xiii
Menyamakan semua agama adalah suatu gagasan yang jelas-jelas
mengingkari kenyataan bahwa masing-masing agama memang berbeda. Tuhan

8

dalam Islam tidaklah sama dengan Tuhan dalam Kristen (dan juga agama lain).
Tuhan dalam Islam adalah Tuhan Yang Maha Esa, Yang Maha Pengasih dan
Maha Penyayang, serta Maha Kuasa. Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan,
dan tidak ada satu pun yang menyerupai-Nya.xiv Allah tidak terjangkau panca
indra dan akal manusia yang terbatas kemampuannya. Dia –Allah- jelas tidak
sama dengan pemahaman umat Kristen (Katolik dan Protestan) tentang Tuhan
Yang Maha Esa, namun terdiri atas tiga oknum yaitu Tuhan Bapak, Tuhan Anak
dan Roh Kudus.
Konsep-konsep tentang peribadahan dalam Islam haruslah semua yang
ditentukan oleh Allah dan dicontohkan oleh Nabi Muhammad Saw. Substansi
peribadahan Islam adalah ketundukan dan ketaatan pada Allah, namun tata cara
peribadahan itu diatur oleh Allah. Jadi bukan dilakukan sesuai dengan kehendak
manusia –apalagi sejarah- untuk membentuk ritualitas tertentu. Sejarah
menunjukkan bahwa Islam mengecam tata-cara ibadah orang-orang kafir yang
musyrik. Nabi Muhammad Saw. menolak untuk secara bergantian beribadah
dengan cara Islam dan kafir, walaupun orang-orang kafir menyatakan bahwa
Tuhan-tuhan yang mereka sembah hanyalah sarana menuju Tuhan Yang Maha
Esa.xv
Islam tidak “mengakui” konsepsi Kristen yang mempertuhankan Isa
as.xvi Agama yang benar di sisi Allah, dalam konsepsi Islam, adalah agama
Islam, dan barang siapa yang mencari agama selain Islam, maka agama itu adalah
sesat.xvii Implikasinya adalah, aspek-aspek lain Kristen, termasuk aspek eksoteris
yaitu ibadah juga tidak diakui dan karenanya ditolak. Al-Qur’an bahkan tidak
segan-segan memberikan sebutan “kafir” kepada orang-orang non-muslim seperti
Kristen. Sementara orang beranggapan bahwa sebutan itu tidak etis, dan
mengganggu suasana kerukunan yang sejak dulu dijalin di Indonesia. Padahal
dalam agama Kristen sendiri pemeluk agama lain seperti kaum Muslim disebut
“domba-domba yang tersesat” yang kurang lebih sama maknanya dengan sebutan
kafir dalam Islam.

9

Dalam konsepsi Islam, Nabi Muhammad Saw. sebagai seorang Nabi dan
Rasul mempunyai posisi yang sangat sentral untuk menyampaikan wahyu dari
Allah kepada hamba-hamba-Nya. “Islam” sebagai agama, tidak hanya merujuk
kepada satu bangsa, individu, atau kelompok pada ruang dan waktu tertentu. Islam
adalah juga nama aktivitas manusia yang menunjukkan sikap tunduk dan pasrah
kepada Tuhan, Yang Maha Esa, yang tidak ada Tuhan selain Dia, yaitu Allah.
Dengan demikian, Islam adalah agama yang meliputi seluruh umat manusia, sejak
Muhammad Saw. sampai akhir zaman kelak.
Sementara itu, jika bagi umat Islam, Isa As. Hanyalah seorang Nabi
sekaligus manusia biasa, yang diutus kepada Bani Israil saja, bagi umat Kristen,
Isa adalah anak Allah yang azali. Artinya tidak ada perubahan antara dirinya dan
Allah dalam hal waktu. Sebenarnya Allah murka kepada manusia karena dosa-
dosa mereka, khususnya dosa nenek moyang mereka yaitu Adam yang telah
mengeluarkannya dari surga. Tetapi, sekalipun Allah murka kepada manusia, Dia
tetap maha Pengasih dan ingin menghapus dosa manusia. Maka Doa mengutus
anak-Nya ke bumi dengan cara masuk ke dalam rahim Maryam yang masih gadis
dan dilahirkan seperti lazimnya anak yang lain. Setelah dewasa, Ia disalib oleh
Pontius Pilatus (Wakil kaisar Romawi) sebagai penebus dosa nenek moyang
manusia yaitu Adam.xviii Dengan demikian, Tuhan Yang Maha Esa dalam
Kristen terdiri atas oknum-oknum Bapa, Anak (Isa) dan Roh Kudus yang dikenal
dengan sebutan Trinitas, suatu ajaran yang “diperkenalkan” pertama kali oleh
Paulus.xix Dia pulalah yang menghapus sekaligus menciptakan syari’at-syari’at
baru yang bertentangan dengan apa yang diajarkan Musa sebagai Nabi yang
paling dihormati dan diagungkan oleh Bani Israil.
Dari uraian di atas, bisa disimpulkan bahwa kendati pun Islam mengakui
bahwa –sebagai mana halnya Islam- Kristen berasal dari sumber yang satu yaitu
Allah, namun menyamakan kedua agama, sebagai agama yang sama-sama
mengajarkan sikap tunduk dan pasrah kepada Tuhan, adalah sebuah kesimpulan
yang gegabah dan tidak diterima oleh umat beragama (dalam hal ini umat Islam).
Ribuan ulama Islam telah menulis tafsir dan mereka tidak pernah berbeda

10

Download
KONFLIK ISLAM- KRISTEN

 

 

Your download will begin in a moment.
If it doesn't, click here to try again.

Share KONFLIK ISLAM- KRISTEN to:

Insert your wordpress URL:

example:

http://myblog.wordpress.com/
or
http://myblog.com/

Share KONFLIK ISLAM- KRISTEN as:

From:

To:

Share KONFLIK ISLAM- KRISTEN.

Enter two words as shown below. If you cannot read the words, click the refresh icon.

loading

Share KONFLIK ISLAM- KRISTEN as:

Copy html code above and paste to your web page.

loading