This is not the document you are looking for? Use the search form below to find more!

Report home > Others

Menyimak Pemikiran Hukum Islam Satria Effendi

1.00 (3 votes)
Document Description
The main problem that the writer tries to trace in the following article is Satria Effendi's Thought of Islamic law. One of the related problem is how to describe Satria Effendi's theoretical framework and methodology of Islamic law. According to this Islamic law expert to develop Islamic law thought it is urgent need to study the goal of Islamic legislation and public interest especially to response several contemporary problems of Islamic law nowadays. In this context, the using and the integrating or combining the deductive-normative approach model and emphirical- inductive approach model constitutes the necessity because it is a way to produce
File Details
  • Added: October, 24th 2010
  • Reads: 1327
  • Downloads: 95
  • File size: 184.80kb
  • Pages: 23
  • Tags: aqasid al syariah, maslahat, ijtihad, hukum islam
  • content preview
Submitter
  • Name: sasa
Embed Code:

Add New Comment




Related Documents

Pluralisme hukum dalam kewenangan peradilan agama di Indonesia ...

by: matteo, 3 pages

Penduduk Sumatera Barat yang mayoritas masyarakat Minangkabau dikenal kuat berpegang kepada adat, tetapi dapat menerima perobahan norma yang disebabkan oleh pergantian penguasa yang lebih luas ...

Pendidikan Anak Menurut Ajaran Islam

by: jayden, 98 pages

Keluarga adalah lingkungan pertama dan utama yang memegang tanggung jawab mendidik anak dan mempersiapkannya untuk memasuki kehidupan bermasya-rakat, supaya menjadi insan yang baik dan dapat ...

A Brief Illustrated Guide To Understanding Islam

by: williamstt, 80 pages

This book is a brief guide to understanding Islam. It consists of three chapters. The first chapter, “Some Evidence for the Truth of Islam,” answers some important questions ...

Questions about Islam?

by: marc, 2 pages

Islam comes from the root word ‘salaam’, meaning peace. When our individual and collective lives are in harmony with nature and with the will of the Creator, peace is inevitable. Islam, ...

Sufism: The Mystical Side of Islam

by: marc, 13 pages

During the eighth and ninth centuries A.D., a new emphasis began to develop within the religion of Islam. This emphasis was a reaction against the prevailing impersonal and formal nature of Islam. ...

The Beard in Islam

by: Fatih, 4 pages

The beard in Islam, by Fatih, Verry impressive book

Islam, Commerce, and Business Ethics

by: samanta, 14 pages

Islam is the only major world religion founded by a businessman, although, in a sense, Judaism, Christianity and Islam all trace their origins to another businessman, Abraham, the ancestor of Moses, ...

Concept of God In Islam

by: 877whyislam, 2 pages

Educational brochure explaining the Concept of God in Islam.

Human Rights in Islam

by: 877whyislam, 2 pages

WhyIslam.org brochure regarding Human Rights in Islam info@whyislam.org

Islam Explained

by: 877whyislam, 2 pages

Educational brochure explaining the basics of Islam info@whyislam.org

Content Preview
Menyimak Pemikiran Hukum Islam
Satria Effendi
Oleh: Yusdani*
Abstract
The main problem that the writer tries to trace in the following article is Satria
Effendi’s Thought of Islamic law. One of the related problem is how to describe
Satria Effendi’s theoretical framework and methodology of Islamic law. According
to this Islamic law expert to develop Islamic law thought it is urgent need to study
the goal of Islamic legislation and public interest especially to response several
contemporary problems of Islamic law nowadays. In this context, the using and the
integrating or combining the deductive-normative approach model and emphirical-
inductive approach model constitutes the necessity because it is a way to produce

Keywords: maqasid al-syariah, maslahat, ijtihad dan hukum Islam
I. Pendahuluan
Dalam belantika pemikiran dan upaya pengembangan hukum Islam
di Indonesia, keberadaan Satria Effendi, 1 tidak asing lagi. Bahkan, apabila
* Penulis adalah Dosen Fakultas Ilmu Agama Islam UII, sekarang kandidat doktor di
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
1 Satria Effendi Muh.Zein, lahir di Kuala Panduk, Riau pada 16 Agustus 1949, menempuh
pendidikan Sekolah Dasar di Kuala Panduk Riau, Tsanawiyah dan Aliyah di Madrasah
Tarbiyah Islamiyah Candung Sumatera Barat, gelar Lc didapat di Universitas Damaskus
Syria, MA di Universitas King Abdul Aziz Mekkah, dan gelar Doktor dalam bidang Usul Fikih
dengan Yudisium Cumlaude di Universitas Ummul Qura Mekkah setelah mempertahankan
disertasi yang berjudul al-Majmu’ wa Dilalatuhu ‘ala al-Ahkam”, sebuah studi kritis atas
al-Khabbazi. Sementara itu, gelar Guru Besar Madya dalam bidang Ilmu Usul Fikih telah
ditetapkan pada tanggal 29 Desember 2002, tetapi sebelum sempat dikukuhkan beliau telah
menghadap kehadirat Allah SWT, pada hari Jumat dini hari 2 Februari 2000. Beliau adalah
dosen pascasarjana IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan juga pada beberapa pascasarjana
Al-Mawarid Edisi XVII Tahun 2007 61

Yusdani: Menyimak Pemikiran ...
ditelusuri ke seluruh pelosok tanah air, barangkali sudah banyak murid
beliau yang berusaha mengembangkan pemikiran dan gagasannya. Murid
adalakanya murid langsung melalui proses belajar mengajar di perguruan
tinggi agama Islam, maupun murid yang tidak langsung bertatap muka
dengan beliau, tetapi selalu mengikuti perkembangan pemikirannya dalam
berbagai tulisannya yang sudah dipublikasikan, terutama dalam bentuk
artikel yang dimuat dalam jurnal atau majalah ilmiah.2
Gagasan segar beliau mulai terlihat ketika beliau mulai mengajar di
Program Pascasarjana IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta (sekarang UIN Syarif
Hidayatullah) di bawah kepemimpinan Harun Nasution. Saat itu Pascasarjana
identik dengan pola dan cara berpikir rasional yang dikembangkan Harun.
Begitu gencarnya kecenderungan rasionalisasi dalam memahami ajaran
Islam, sering kali ahli hukum Islam (syari’ah) dianggap sebagai kelompok
yang tidak bisa diajak untuk mengembangkan penalaran. Sampai suatu
saat Harun pernah mengatakan, bahwa orang Fakultas Syari’ah sulit diajak
berpikir modern (maju dan rasional). Dalam suasana seperti inilah Satria
Effendi masuk ke program Pasacsarajana. Dapat dibayangkan, apabila
cara berpikir orang syari’ah konvensional yang dipakai saat itu, Harun,
sebagai pimpinan Pascasarjana, belum tentu berkenan menerima kehadiran
beliau.3
Dalam kondisi seperti itulah Satria berusaha menjembatani pemikir
IAIN lainnya seperti Yogyakareta, Riau, Padang, dan Ujung Pandang. Selain itu, mengajar
pula di pascasarjana Fakultas Hukum Universitas Indonesia, pascasarjana Universitas
Muhammadiyah Jakarta, Pascasarjana IIQ, Ketua Jurusan Jinayah-Siyasah Fakultas Syari’ah
IAIN Jakarta dan Dosen di beberapa Perguruan Tinggi Swasta seperti Institut Agama Islam
Darurrahman, Sekolah Tinggi Agama Islam Darunnajah (STAIDA), dan Fakultas Syari’ah
IIQ, wakil Ketua Fatwa MUI, Wakil Ketua Dewan Pengurus Badan Arbitrase MUI (BAMUI),
Anggota Dewan Syari’ah Nasional (DSN MUI), Ketua Dewan Pengawas Syari’ah (DPS)
Asuransi MAA, dan wakil RI pada Lembaga Pengkajian Hukum Islam (Majma’ al-Fiqh al-
Islami
) Organisasi Konferensi Islam(OKI), aktif memberikan ceramah Agama dan seminar,
banyak karya ilmiah yang almarhum tulis, di antaranya: ”Fikih Umar bin Khattab”, dalam
Kajian Islam tentang Berbagai Masalah Kontemporer, 1988, ”Elastisitas Hukum Islam”,
dalam buku Metode Mempelajari Islam, 1992, ” Fikih Mu’amalat (Suatu upaya rekayasa
Sosial umat Islam Indonesia), dalam buku Aktualisasi Pemikiran Islam, “ Wawasan al-Qur’an
tentang Hubungan Manusia dengan Alam Sekitarnya”, dalam buku al-Qur’an – IPTEK
dan Kesejahteraan Umat
, “ Metodologi Hukum Islam”, dalam buku Prospek Hukum Islam
dalam Kerangka Pengembangan Hukum Nasional, Problema Hukum Islam Keluarga Islam
Kontemporer Analisis Yurisprudensi dengan Pendekatan Ushuliyah
, baca Satria Effendi
M.Zein, Problema Hukum Islam Keluarga Islam Kontemporer Analisis Yurisprudensi dengan
Pendekatan Ushuliyah
(Jakarta: Diterbitkan atas kerja sama dengan Fakultas Syariah &
Hukum UIN Jakarta dan Balitbang DEPAG RI, 2004).
2 Fathurrahman Djamil. 2004. “Karakteristik Pemikiran Fiqh Prof. Dr. H. Satria Effendi
M. Zein, MA” (Epilog) dalam Satria Effendi M.Zein. 2004. Problematika Hukum Keluarga
Islam Kontemporer Analisis Yurisprudensi dengan Pendekatan Ushuliyah
(Jakarta: Fakultas
Syariah dan Hukum UIN Jakarta dan Balitbang DEPAG RI, 2004), hlm. 522.
3 Ibid. hlm. 522-523
62 Al-Mawarid Edisi XVII Tahun 2007

Yusdani: Menyimak Pemikiran ...
hukum Islam konvensional dengan pemikir rasional. Tidak heran kalau bahan
ajar dan literatur yang disajikan pada program Pascasarjana IAIN berusaha
mengakomodir pemikir hukum Islam yang punya kecenderungan analisis
yang relatif rasional. Dalam materi Usul Fikih, misalnya, kita menemukan
materi yang berbicara tentang kedudukan akal dan wahyu dalam hukum
Islam, konsep ta’aqquli dan ta’abbudi dan sudah tentu konsep maqasid al-
syari’ah yang mengarah kepada pembahasan filosofis disyari’atkan hukum
Islam.4
Dari ketiga materi kajian di atas sudah dapat diduga, bahwa beliau ingin
mengantarkan murid-muridnya untuk memahami secara proporsional peran
akal dalam memahami nas suci Al-Qur an dan Al-Sunnah, dan bagaimana
dapat membuat pengelompokkan hukum Islam yang masuk ranah yang given
atau taken for granted, yang dogmatis, di satu sisi dan mana yang terbuka
pada penalaran akal di pihak lain. Gagasan ini menjadi starting point untuk
membuka wacana hukum Islam yang rasional. Untuk membahas topik utama
ini beliau selalu mengacu pada pemikiran ahli hukum Islam dari Cordoba,
Abu Ishaq al-Syatibi.5
Melalui pembukaan wacana hukum Islam yang rasional dan dinamis,
Satria dikenal sebagai ahli hukum Islam memperhatikan perkembangan
masyarakat dan perubahan sosial. Berbagai gagasan tentang hukum Islam
dan perubahan sosial ditulis oleh beliau dalam berbagai seminar yang
dilaksanakan di berbagai pergururan tinggi Islam, baik negeri maupun
swasta. Kesan umum dari berbagai tulisan beliau adalah, bahwa hukum Islam
bersifat dinamis, adaptif, dan relevan dengan perubahan dan perkembangan
masyarakat.6 Untuk mengukuhkan dan memperkuat gagasan tersebut,
Satria Effendi banyak bicara tentang illat mansusah dan illat mu’tabarah,
4 Satria Effendi M.Zein. 1995. Usul Fikih. Jakarta: PPS IAIN Jakarta, hlm. 1-68.
5 Fathurrahman Djamil, “ Karakteristik Pemikiran…p.523.
6 Satria Effendi M.Zein, ” Hukum Islam: Perkembangan dan Pelaksanaannya di
Indonesia”, dalam Ari Anshori dan Slamet Warsidi (Editor), Fiqh Indonesia dalam Tantangan.
Surakarta: FIAI UMS, p.23-40.
Al-Mawarid Edisi XVII Tahun 2007 63

Yusdani: Menyimak Pemikiran ...
dan sering merujuk kasus ijtihad tatbiqi7 dari Umar bin Khattab.8 Berkat
gagasan dan pemikirannya itu, mengantarkan ahli hukum Islam (Indonesia)
dapat berinteraksi dengan wacana modernitas. Deskripsi pemikiran Satria
Effendi M.Zein tentang hukum Islam bersifat dinamis, adaptif, dan relevan
dengan perubahan dan perkembangan masyarakat di atas, dapat dibaca
dalam berbagai tulisannya.9
7 Ibid. p.39-40. Ijtihad dalam pandangan Satria Effendi terbagi menjadi 2 macam, yaitu
ijtihad istimbati dan ijtihad tatbiqi, itjihad istimbati adalah upaya menyimpulkan hukum dari
sumber-sumbernya, sedangkan ijtihad tatbiqi adalah upaya menerapkan hukum itu secara
tepat terhadap suatu kasus. Dalam ijtihad istimbati, yang menjadi pusat perhatian adalah
sumber-sumber hukum Islam, yang dilakukan baik dengan pendekatan kebahasaan maupun
pendekatan maqasid syari’ah. Dalam ijtihad tatbiqi yang menjadi perhatian utama adalah
untuk mengantarkan seorang penerap hukum kepada penerapan hukum secara tepat dalam
suatu kasus, yang menjadi objek kajiannya adalah hal-hal yang meliputi perbuatan manusia
dengan segala bentuk objek perbuatan itu, juga manusia itu sendiri sebagai pelaku hukum
dengan segala kondisi dan perbuatannya. Ijtihad tatbiqi dapat berlaku pada setiap hukum,
baik yang dinilai qat’i, rinci maupun yang zanni, baca juga Satria Effendi M.Zein. 1996.
“Metodologi Hukum Islam”, dalam Amrullah Ahmad dkk (Editor), Dimensi Hukum Islam dalam
(Jakarta: Gema
Insani Press, 1996), p. 117-128.
8 Dalam pandangan Satria Effendi kasus-kasus hukum ijtihad Umar bin Khattab termasuk
kategori ijtihad tatbiqi, dengan demikian ijtihad Umar dalam berbagai kasus hukum tersebut
tidak meninggalkan nas, apalagi mengganti atau menghapuskannya, baca Muhammad Sa’id
Ramdan al- Buti. 1986.
. Beirut: Muassasah
ar-Risalah, Amiur Nuruddin. 1987. Ijtihad Umar bin Khattab Studi tentang Perubahan Hukum
dalam Islam
. Jakarta: Rajawali Pers. Paling tidak ada 5 pandangan terhadap ijtihad Umar,
yaitu: (1) ijtihad Umar tidak meninggalkan nas, apalagi mengganti atau menghapuskan
ketentuannya, (2) ijtihad Umar memang meninggalkan zahirnya nas. Karena ia berpegang
pada ruh nas atau maqasid syari’ah, (3) ijtihad Umar berkenaan dengan masalah yang
qat’iyah yang bukan bidang ijtihad, tetapi ini diperbolehkan khusus untuk Umar, (4) ijtihad
Umar telah menginggalkan nas yang sarih, tetapi sebagaimana berlaku pada setiap mujtahid,
ijtihadnya tetap memperoleh satu ganjaran, dan (5) ijtihad Umar memang banyak melanggar
nas yang qat’i, tetapi itu dilakukan Umar karena kekurangan informasi yang diterimanya untuk
persoalan-persoalan yang bersangkutan, baca Jalaluddin Rakhmat. 1988. “Kontroversi Sekitar
Ijtihad Umar R.A. dalam Iqbal Abdurrauf Saimina (Penyunting), Polemik Reaktualisasi Ajaran
Islam
. Jakarta: Pustaka Panjimas, hlm. 43-59.
9 Satria Effendi M.Zein. 1995. Usul Fikih. Jakarta: PPS IAIN Jakarta, hlm. 1-68; Satria
Effendi M.Zein, ” Hukum Islam: Perkembangan dan Pelaksanaannya di Indonesia”, dalam Ari
Anshori dan Slamet Warsidi (Editor), Fiqh Indonesia dalam Tantangan (Surakarta: FIAI UMS,
hlm. 23-40; Satria Effendi M. Zein. 1991. “Maqashid al-Syari’at dan Perubahan Sosial” dalam
Dialog. Badan Litbang Depag RI No.33 tahun XV, hlm. 29; Satria Effendi M. Zein, ”Metodologi
Hukum Islam”, dalam Amrullah Ahmad dkk (Editor). 1996. Dimensi Hukum Islam dalam Sistem
Jakarta: Gema Insani
Press, hlm. 117-128, dan Satria Effendi M. Zein. 2004. Problematika Hukum Keluarga Islam
Kontemporer Analisis Yurisprudensi dengan Pendekatan Ushuliyah
. Jakarta: Diterbitkan atas
kerja sama dengan Fakultas Syariah & Hukum UIN Jakarta dan Balitbang DEPAG RI.
64 Al-Mawarid Edisi XVII Tahun 2007

Yusdani: Menyimak Pemikiran ...
II. Studi Kasus Sebagai Model Kajian Hukum Islam
Salah satu model kajian hukum Islam yang ditawarkan oleh Satria
Effendi adalah menggunakan studi kasus.10 Metode analisis yurisprudensi
ini dengan model (metode) studi kasus mengkaji perkara hukum dalam
bidang hukum Islam pada umumnya dan keluarga Islam khususnya yang
benar-benar terjadi dalam masyarakat dan menganalisis perkara itu dari
segi pendapat-pendapat ulama yang tertuang dalam kitab-kitab fikih. Model
kajian hukum Islam seperti yang dilakukan oleh Satria Effendi ini seolah
memberi contoh bagaimana seorang ahli ilmu hukum Islam membaca dan
menganalisis masalah-masalah hukum Islam yang benar-benar terjadi dalam
masyarakat, seperti perkara-perkara hukum keluarga Islam yang pernah
diajukan ke Pangadilan Agama di Indonesia kemudian menyimpulkan hasil
analisisnya.11
Dalam melakukan analisis yurisprudensi di atas, terkadang beliau
menyetujui suatu keputusan pengadilan tingkat pertama atau tingkat banding
atau tingkat kasasi, tetapi terkadang beliau juga tidak menyetujui suatu
keputusan pengadilan tingkat pertama, tingkat banding atau tingkat kasasi.
Bahkan terkadang beliau memberi saran alternatif yang seharusnya dapat
dilakukan oleh suatu keputusan pengadilan dan alternatif itu tidak pernah
disinggung oleh Pengadilan Agama tingkat pertama, tingkat banding maupun
tingkat kasasi dalam perkara-perkara yang bersangkutan.12
Studi kasus sebagai sebuah model metode kajian hukum, mempelajari
hukum yang dihadapkan kepada persoalan hukum (perkara) riil, kemudian
diharapkan untuk dapat menganalisisnya dari segi hukum dan menyimpulkan
status hukumnya. Kelebihan model metode studi kasus terutama karena
sifatnya yang utuh sebagai suatu persoalan hukum dengan segala jenis
keterkaitannya dengan masalah lain di luar hukum. Selain itu, metode ini juga
melakukan kajian sinkronisasi hukum dari berbagai peraturan perundang-
undangan mengenai hukum masalah hukum yang bersangkutan13
Studi yang dilakukan oleh Satria Effendi di atas, khususnya tentang
hukum keluarga, memperkaya jenis-jenis studi pemikiran hukum Islam.
Seperti diketahui paling tidak terdapat 5 jenis literatur pemikiran hukum Islam
yang dikenal, yaitu kitab fikih, Keputusan Pengadilan, fatwa-fatwa, Undang-
10 Sifat khas dari case study atau studi kasus adalah suatu pendekatan yang bertujuan
untuk mempertahankan keutuhan (wholeness) dari objek, artinya data yang dikumpulkan
dalam rangka studi kasus dipelajari sebagai suatu keseluruhan yang terintegrasi. Tujuannya
adalah untuk memperkembangkan pengetahuan yang mendalam mengenai objek yang
bersangkutan, yang berarti bahwa studi kasus disifatkan sebagai suatu penelitian yang
eksploratif, J.Vredenbregt. 1978. Metode dan Teknik Penelitian Masyarakat. Jakarta:
Gramedia, hlm. 34.
11 M. Atho’ Mudzhar, “ Peranan Analisis Yurisprudensi…p.xxv-xxvi
12 Ibid. hlm. xxvi
13 Ibid.
Al-Mawarid Edisi XVII Tahun 2007 65

Yusdani: Menyimak Pemikiran ...
Undang, dan Kompilasi Hukum Islam. Kitab fikih bersifat menyeluruh dari
awal sampai akhir sehingga sering enggan menerima perubahan, karena
untuk mengubah sebagiannya dianggap harus mengubah keseluruhannya,
khusunya sebelum muncul kitab-kitab fikih maudhu’i. Keputusan pengadilan
lebih dinamis sifatnya karena menyangkut masalah-masalah hukum nyata
dalam amsyarakat dan juga mengikat pihak-pihak terkait. Fatwa ulama
atau mufti juga lebih dinamis sifatnya karena harus menjawab pertanyaan
hukum masyarakat, meskipun tidak harus mengikat si peminta fatwa. UU
sifatnya mengikat seluruh anggota masyarakat dan memberikan sanksi,
tetapi dalam perumusannya sering kali bukan hanya dilakukan oleh para
ulama melainkan juga oleh para politikus. Adapun Kompilasi Hukum Islam,
dari segi bentuknya, disusun seperti UU, tetapi sifatnya tidak mengikat dan
dari segi isinya lebih merupakan hasil konsensus ulama setempat.14
Dari semua jenis literatur pemikiran hukum Islam tersebut yang telah
banyak khazanahnya adalah dalam bidang fikih, sedangkan studi-studi
mengenai empat jenis literatur yang lainnya masih sangat sedikit. Karena
itulah studi yurisprudensi Satria Effendi ini merupakan sumbangan berharga
bagi pengayaan, penyediaan, dan pemahaman literatur pemikiran hukum
Islam di luar kitab-kitab fikih.15 Selain itu, karya-karya Satria Effendi juga
menambah khazanah dan karya yang membahas tentang pemikiran hukum
Islam di Indonesia di era kontemporer.16
14 M. Atho’ Mudzhar. 1999. “ Dampak Gender Terhadap Perkembangan Hukum Islam”
dalam Profetika Jurnal Studi Islam, Vol.1 No.1, hlm. 113.
15 M. Atho Mudzhar, “ Peranan Analisis Yurisprudensi …, p.xxvii
16 Karya-karya yang khusus membahas tentang hukum Islam di Indonesia kontemporer
antara lain Nur A.Fadhil Lubis. 1995. Hukum Islam dalam Kerangka Teori Fikih dan Tata
Hukum Indonesia
. Medan: Pustaka Widyasarana, Nur Ahmad Fadhil Lubis. 1994. “Islamic
Justice in Transition: A Socio-Legal Study of the Agama Court Judges in Indonesia. Disertasi
Univ. California; Fathurrahman Djamil. 1995. Metode Ijtihad Majlis Tarjih Muhammadiyah.
Jakarta: Logos Publishing House; Mudzhar, M. Atho. 1993. Fatwa-Fatwa Majelis Ulama
Indonesia: Sebuah Studi Hukum Islam di Indonesia 1975-1988
. Disertasi pada UCLA Terj.
Soedarso Soekarno dari judul Bahasa Inggris Fatwas of The Council of Indonesian Ulama
A Study of Islamic Legal Thought in Indonesia 1975-1988
. Edisi Dwibahasa (Indonesia
dan Inggris). Jakarta: INIS; Nourouzzaman Shiddiqi. 1997. Fiqh Indonesia Penggagas dan
Gagasannya
(disertasi). Yogyakarta: Pustaka Pelajar; Dede Rosyada. 1999. Metode Kajian
Hukum Dewan Hisbah Persis
(disertasi). Jakarta: Logos; Ari Anshori dan Slamet Warsidi
(editor). 1991. Fiqh Indonesia dalam Tantangan. Surakarta: FIAI UMS; Amrullah Ahmad dkk
(Editor) 1996. Dimensi Hukum Islam dalam Sistem Hukum Nasional Mengenang 65 Th Prof.
. Jakarta: Geman Insani Press; Akh. Minhaji. 2001. Ahmad Hasan
and Islamic Legal Reform in Indonesia (1887-1958) (disertasi). Yogyakarta: Kurnia Kalam
Semesta Press; Rifyal Ka’bah. 2004. Penegakan Syariat Islam di Indonesia. Jakarta: Khairul
Bayan; M.B. Hooker. 2002. Islam Mazhab Indonesia Fatwa-Fatwa dan Perubahan Sosial, terj.
Iding Rosyidin Hasan. Jakarta: Teraju Mizan; Ahamd Rofiq. 1998. Hukum Islam di Indonesia.
Jakarta: Raja Grafindo Persada; Tim penulis. 1991. Hukum Islam di Indonesia Perkembangan
dan Pembentukan
. Bandung: Remaja Rosdakarya; Tim Penulis. 2000. Epistemologi Syara’
Mencari Format Baru Fiqh Indonesia
. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
66 Al-Mawarid Edisi XVII Tahun 2007

Yusdani: Menyimak Pemikiran ...
III.Komparatif Sebagai Corak Kajian Hukum Islam
Pembahasan masalah fikih dengan model perbandingan bukanlah
suatu yang asing, terutama pada periode modern ini. Berbagai literatur fikih
disajikan dalam bentuk studi perbandingan dengan memperhatikan apa
yang menjadi inti persoalannya (mansya al-khilaf). Kitab Bidayat al-Mujtahid
karya Ibn Rusyd dianggap sebagai kitab pertama yang disajikan dalam
bentuk perbandingan mazhab ini. Setelah itu, bermunculan berbagai kitab
fikih yang bercorak muqaranah ini. Salah satu kitab yang sering dikutip oleh
Satria Effendi adalah kitab al-Fiqh ala al-Madzahib al-Arbaah karya Abdu
al-Rahman al-Jaziri, Fiqhu al-Sunnah karya Sayid Sabiq, dan kitab al-Fiqh
al-Islami wa Adillatuh karya Wahbah al- Zuhaili.
Upaya untuk membangun fikih lintas mazhab terlihat jelas dalam analisis
Satria Effendi terhadap berbagai masalah hukum keluarga. Adakalanya ia
mengungkap pendapat ahli fikih dari berbagai mazhab secara qauli tetapi
juga terkadang ia mengungkap pendapat mereka secara manhaji. Terhadap
kedua cara ini akhirnya beliau harus memberikan semacam preferensi atau
tarjih, mana di antara pendapat para fukaha terdahulunya yang dapat diterima
dan dijadikan sebagai pendapat yang terpilih. Namun kelihatannya cara tarjih
yang dilakukan oleh beliau mempunyai “kelebihan”, dibandingkan dengan
cara tarjih ahli fikih lainnya. Salah satu kriteria tarjih yang digunakan beliau
adalah sejauh mana pendapat itu mengacu pada maqasid al-syariah. Beliau
menegaskan, bahwa apabila hakim melihat adanya pendapat para ulama
atau fuqaha yang bertentangan dengan kemaslahatan dan tujuan syariat,
hakim boleh memilih pendapat yang lain, selama sejalan dengan tujuan
syariat. Pandangan beliau tentang tarjih berdasarkan maqasid, diterapkan
secara konsisten ketika menganalisis akibat cerai karena tidak mempunyai
keturunan atau karena adanya penyakit. Beliau mentarjihkan pendapat Al-
Zuhri dan ulama lain yang sependapat dengan beliau, karena lebih sesuai
dengan tujuan syariat.17
Namun demikian, salah satu yang dapat dicatat di sini di antaranya
adalah dalam semua pembahasannya, Satria Effendi hampir tidak pernah
merujuk kepada peraturan perundang-undangan tentang hukum keluarga
yang berlaku di negara-negara Muslim di dunia modern sekarang ini, di luar
Indonesia. Padahal perbandingan seperti itu, amat diperlukan, agar supaya
para pemikir hukum Islam tidak sendirian di dalam melakukan terobosan-
terobosan pemikiran hukumnya. Inilah yang dapat disebut dengan kajian
komparatif horizontal.18 Sedangkan yang telah dilakukan oleh Satria Effendi
17 Satria Effendi M.Zein, Problematika Hukum Keluarga Islam Kontemporer…. hlm.
124.
18 Literatur mengenai komparatif horizontal tersebut di antaranya Family Law Reform in
The Muslim World karya Taher Mahmood, Bombay, 1972; Personal Law in Islamic Countries:
History, Text, and Comparative Analysis
oleh Tahir Mahmood, New Delhi, 1987; Syarh
Al-Mawarid Edisi XVII Tahun 2007 67

Yusdani: Menyimak Pemikiran ...
adalah kajian komparatif vertikal, yaitu membandingkan masalah hukum
yang dihadapi dengan apa yang terdapat dalam kitab fikih.
Beberapa masalah yang dapat dilakukan kajian komparatif horizontal
misalnya adalah menyangkut pencatatan perkawinan atau nikah di bawah
tangan, masalah poligami, dan masalah gugat cerai serta tuntutan nafkah.
Masalah pencatatan nikah misalnya, semua negeri muslim modern sekarang
ini telah mewajibkannya melalui peraturan perundang-undangan. Demikian
pula mengenai poligami, beberapa negara seperti Yordania, Maroko, Yaman,
Syria, dan Tunisia telah mengatur bahwa suatu akad nikah boleh disertai
seperangkat perjanjian antara calon suami dan isteri, termasuk perjanjian
bahwa suami tidak akan menikah lagi selama ia berada dalam ikatan
perkawinan dengan isterinya.
Mengenai gugat cerai dan tuntutan nafkah, sejumlah negara seperti
Yordania, Mesir, Lebanon, Maroko, dan Yaman telah mewajibkan para
mantan suami untuk memberikan nafkah kepada mantan isterinya selama
masa iddah atau masa lain yang ditentukan sampai tiga tahun. Sedangkan
khusus mengenai nafkah, sejumlah negara seperti Banglades dan Pakistan
telah memberlakukan undang-undang yang memberi hak kepada isteri untuk
mengajukan tuntutan perdata atau bahkan pidana apabila hak nafkahnya
tidak diberikan oleh suami. Mengenai hadanah, sejumlah negara seperti
Aljazair, Mesir, Irak, Yordan, Malaysia, Maroko, Yaman, dan Somalia
telah memberlakukan undang-undang yang mengatur bahwa ibu adalah
pemegang utama hak hadanah, sedangkan di Tunisia diatur bahwa baik ibu
maupun ayah mempunyai hak yang sama atas hadanah.
Demikian beberapa negara dapat dikatakan telah memberlakukan
peraturan perundang-undangan yang dapat dikatakan merupakan terobosan
baru dalam pemikiran hukum Islam. Pemikiran itu berbeda dengan dengan
Qanun al-Ahwal as-Syakhsiyah karya Mahmud Ali Sartawi, Yordan, Syarh Qanun al-Ahwal
as Syakhsiyah as-Suri
karya Abdurrahman as-Sabuni, jilid 1 dan 2, Damaskus, 1972-1993;
Al-Ahwal as-Syakhsiyah oleh Ahmad al-Haji al-Kurdi, Damaskus, 1972-1973; al-Ahwal
as-Syakhsiyah
karya Francois Paul BLANC dan Rahba ZEIDGUY. Maroko, 1996; al-Wajiz
jilid 1 dan 2,
Bagdad, 1991; Qanun al-Ahwal as-Syakhsiyah ma’a Ta’dilatih oleh Muhammad Kasybur,
Bagdad, 1993; Qanun al-Ahwal as-Syakhsiyahraqm 188 Lisanah 1995 wa Ta’dilatih karya
Sabbah Sadiq Ja’fari, Bagdad, 2001; Mausu’ah al-Ahwal as-Syakhsiyah oleh Kamal Shaleh
al-Bana, Dar al-Kutub al-Qanuniyah, 1997; Ahkam al-Miras wa al-Wasiyah wa Haqq al-
karya Mustafa Ibrahim az-Zilmi, Bagdad,
2000; dan Islamic Marriage and Divorce Law of The Arab World karya Dawoud El- Alami
dan Doren Hinchcliffe
, London, 1996; Abdullahi Ahmed an-Nai’im, Islamic Family Law in a
Changing World: A Global Resource Book
, London-New York: Zed Books Ltd, 2002; Islam,
Negara dan Hukum
Kumpulan karangan di bawah redaksi Johannes den Heijer, Syamsul
Anwar, Leiden-Jakarta: INIS, 1993; Khoiruddin Nasution, Status Wanita di Asia Tenggara:
Studi Terhadap Perundang-Undangan Perkawinan Muslim Kontemporer di Indonesia dan
Malaysia
, Leiden-Jakarta: INIS, 2002.
68 Al-Mawarid Edisi XVII Tahun 2007

Yusdani: Menyimak Pemikiran ...
apa yang ada dalam kitab-kitab fikih dan inilah yang disebut keberanjakan
hukum Islam modern dari kitab-kitab fikih. Pengetahuan tentang hukum
Islam dalam perspektif komparatif horizontal dan keberanjakan ini adalah
sangat penting untuk menengarai perkembangan dan dinamika pemikiran
hukum Islam, 19 dan hal inilah yang tidak dilakukan oleh Satria Effendi. Akan
tetapi tentu saja hal ini adalah pekerjaan besar dan berat yang tidak harus
dilakukan oleh seorang diri seperti Satria Effendi. Di sini diperlukan pemikir-
pemikir hukum Islam lainnya yang akan melanjutkan pekerjaan penting dan
mulia yang telah dirintis olehnya.
IV.Kerangka Metodologi Hukum Islam Satria Effendi
Persoalan-persoalan hukum Islam dan hukum keluarga Islam yang
dibahas Satria Effendi dalam berbagai karyanya, sebagian adalah masalah
lama yang sudah banyak tertulis rujukannya dalam kitab-kitab fikih. Akan
tetapi sebagian masalah lainnya, seperti soal akad nikah melalui telepon,
masalah harta gono-gini, masalah status uang tanggungan asuransi sebagai
harta waris, masalah uang santunan sebagai harta waris, dan lain-lain
adalah masalah-masalah baru yang sering kali belum ada rujukannya secara
eksplisit dalam kitab-kitab fikih.20
Dalam menganalisis kasus-kasus seperti tersebut, Satria Effendi selalu
terlebih dahulu mencari dan menyajikan dalil nas yang ada baik Al-Qur’an
maupun hadis, kemudian membandingkan pendapat-pendapat ulama yang
ada yang dikutip dari berbagai sumber, 21 setelah itu ia melakukan qiyas
19 J.N.D. Anderson. 1960. “The Significance of Islamic Law in the World Today, ” The
American Journal of Comparative Law, hlm. 191; idem. 1959. Islamic Law in the Modern
World
. New York: New York State University Press, hlm. 25-6, 91; idem. 1976. Law Reform
in the Muslim World
. London: The Athlone Press, hlm. 83; idem. Islamic Law, hlm. 82; idem.
1971. ”The Role of Personal Status in Social Development in Islamic Countries”, Comparative
Studies in Society and History 13
, hlm. 18-9; Majid Khadduri. 1978.” Marriage in Islamic Law:
The Modernist Viewpoints”, The American Journal of Comparative Law 26, hlm.215; Herbert J.
Liebesny. 1953.” Religious Law and Westernization in the Modern Near East”, The American
Journal of Comparative Law 2
, hlm. 492.
20 M.Atho’ Mudzhar, ” Peranan Analisis Yurisprudensi….hlm. xxxix.
21 Nama-nama kitab rujukan yang dipergunakan Satria Effendi tersebut adalah Ilmu Usul
al-Fiqh karya Abdul Wahhab Khallaf, Kuwait: Dar al-Qalam, 1983;
al-Islamiyah oleh Abdul Karim Zaidan, Bagdad: Matba’ah al-Ani, 1984; Kompilasi Hukum
Islam
oleh Abdurrahman, Jakarta: Akademi Presindo, 1990;
wa as-Sunnah oleh Abdurrahman Ibrahim, Bagdad: Matba’ah al-Ani, 1994; al-Muhazab oleh
Abu Ishaq as-Sirazi, Beirut: Dar al-Fikr, 1994; al-Qada wa al-Bayyinah karya Abdul Hasib
Abdussalam, Kuwait: Maktabah al-Ma’la, 1987; Munazaat al-Auqaf wa al-Ahkam oleh Abdul
Hamid as-Sawaribi, Beirut: Muassasah ar-Risalah, 1983; al-Mafhum al-Fiqh al-Islami oleh
Abdul Hamid Nizamuddin, Beirut: Muassasah ar-Risalah, 1983; Ilm al-Qada oleh Ahmad
al-Hasadi, Kuwait: Maktabah al-Ma’la, 1983; Bulugul Maram karya al-Asqalani, Beirut: Dar
al-Fikr, 1979;
karya Alauddin al-Kisani, Bagdad: Matba’ah
Al-Mawarid Edisi XVII Tahun 2007 69

Yusdani: Menyimak Pemikiran ...
dan menguji maslahat serta maqasidus syari’ah yang ada dalam masalah
itu, barulah kemudian ia menyimpulkannya. Di sinilah letak kedalaman
dan kontribusi pemikiran Satria Effendi mengenai hukum Islam dan hukum
keluarga Islam di Indonesia. Meskipun dalam kehidupannya sehari-hari
secara pribadi Satria Effendi dikenal oleh para koleganya sebagai pengikut
mazhab Syafi’i, tetapi dalam analisisnya ia sangat dinamis memilih pendapat
mazhab yang dinilainya paling kuat argumentasinya.22
Satria Effendi hampir dalam setiap analisisnya berbicara tentang
maqasidus syari’ah dan maslahat, dua topik penting dalam kajian ilmu usul
fikih. Cara analisis seperti ini tentu saja sangat tepat, karena seorang mujtahid
tidak dapat berijtihad tanpa memahami secara mendalam filsafat dan teori
hukum Islam yang biasanya dikaji dalam kitab-kitab usul fikih. Kebanyakan
ulama Indonesia ketika mempelajari hukum Islam, lebih mengedepankan
aspek fikihnya daripada aspek usul fikihnya. Dengan kata lain, Satria Effendi
sesungguhnya sedang mengeritik secara tidak langsung, cara mempelajari
al-Ani, 1978; Usul at-Tasyri al-Islami karya Ali Hasaballah, Mesir: Dar al-Maarif, 1976; Kamus
Bahasa Indonesia
oleh Depdikbud RI, Jakarta: Balai Pustaka, 1990; Mimbar Hukum oleh
Ditbinpera Depag RI, Jakarta: al-Hikmah dan dan Ditbinpera Islam;
Syari’ah al-Islamiyah oleh Zafir al-Qasim, Lubnan: Dar an-Nafa’is, 1980; al-Fiqh al-Muqaran
ma al-Mazahib
karya Fathi ad-Daraini, Damaskus: T.P, 1980); Tuhfat al-Muhtaj karya al-
Haisami, Bairut: Dar al-Fikr T.T,); Hukum Kewarisan Bilateral menurut Al-Qur’an oleh Hazairin,
Jakarta: Rineka Cipta, 1989; at-Tabsyirah oleh Ibnu Farhun, Beirut: Muassasah ar- Risalah,
1982; Syarh Fath al-Qadir karya Ibnu Humam, Beirut: Dar Ihya al-Turas al-Arabi T.T.; A’lam
al-Muawqi’in
karya Ibn al-Qayyim al-Jauziyah, Beirut: Dar al-Fikr, 1977; al-Mugni karya Ibn
Qudamah, Matba’ah al-Qahirah, 1970; Bidayat al-Mujtahid wa Nihayat al- Muqtasid, Beirut:
Dar al-Fikr T.T.; Majmu’ al-Fatawa karya Ibn Taimiyah, Makkah: Asrof ar-Risalah T.T.; al-
Mudawwanah al-Kubra
oleh Imam Malik (Beirut: Dar la-Fikr, 1987); Kasyf al-Khafa wa Muzil
al-Ilbas
oleh Ismail bin Muhammad, Beirut: Muassasah ar-Risalah, 1983; al-Fiqh ala Mazahib
al-Arbaah
oleh Jaziri, Beirut: Dar al-Fikr T.T.;
Muhammad Abu Zahrah, Dar al-Fikr al-Arabi, 1957; al-Ahwal as-Syakhsiyah oleh Muhammad
Abu Zahrah, Dar al-Fikr al-Arabi, 1958; Rawa’i al-Bayan oleh Muhammad Ali as-Sabuni,
Damaskus: Maktabah al-Gazali, 1980; al-Misbah al-Munir oleh Muhammad bin Ali al-Maqri,
Beirut: Dar al-Fikr, 1987;
karya Muhammad al-Husairi,
Beirut: Muassasah ar-Risalah, 1984; al-Wajiz Qawa’id al-Fiqh al-Kulliyah oleh Muhammad
Sidqi al-Burnu, Beirut: Muassasah ar-Risalah, 1983;
oleh Muhammad bin Mansur, Makkah: T.P., 1982; Akhbar al-Qada oleh Muhammad Khalaf
bin Hayyan, Beirut: Alim a; -Kutub T.T.; Himpunan Fatwa MUI oleh MUI 1994; al-Madkhal
al-Fiqh al-Am
oleh Mustafa Ahmad az-Zarqa, Damaskus: Matba; ah Turbain, 1968; al-Fiqh
oleh Mustafa Ahmad Zarqa, Damaskus: Matba; ah Turbain, 1978;
al-Ahwal as-Syakhsiyah karya Mustafa as-Siba’I, Damaskus: Matba’ah al-Jami’ah, 1970; Tafsir
al-Maeagi
oleh Mustafa al-Maragi, Beirut: Dar al-Fikr T.T.; al-Majmu’ Syarhal-Muhazzab oleh
an-Nawawi, Beirut: Dar al-Fikr, T.T.; al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an oleh al-Qurtubi, Kairo: Dar
al-Kutub al-Arabiyah, 1967; Nihayat al-Muhtaj oleh ar-Ramli, Beirut: Dar al-Fikr, T.T.; Halul
oleh Salih Lahidan, Beirut: Alim al-Kutub, T.T.; Fiqh as-Sunnah
oleh Sayyid Sabiq, Dar al-Fikr, 1983; Subul as-Salam oleh as-San’ani, Beirut: Dar al-Fikr, T.T;
al-Muwafaqat oleh as-Syatibi, Beirut: Dar al-Ma’rifah, T.T.; dan al-Fiqh al-Islami wa Adillatuh
oleh Wahbah az-Zuhaili, Damaskus: Dar al-Fikr, 1984.
22 M. Atho’Mudzhar, “ Peranan Analisis Yurisprudensi…hlm. xxxix-xi.
70 Al-Mawarid Edisi XVII Tahun 2007

Download
Menyimak Pemikiran Hukum Islam Satria Effendi

 

 

Your download will begin in a moment.
If it doesn't, click here to try again.

Share Menyimak Pemikiran Hukum Islam Satria Effendi to:

Insert your wordpress URL:

example:

http://myblog.wordpress.com/
or
http://myblog.com/

Share Menyimak Pemikiran Hukum Islam Satria Effendi as:

From:

To:

Share Menyimak Pemikiran Hukum Islam Satria Effendi.

Enter two words as shown below. If you cannot read the words, click the refresh icon.

loading

Share Menyimak Pemikiran Hukum Islam Satria Effendi as:

Copy html code above and paste to your web page.

loading