cakmoki
Myopia Pada Anak
MENGENALI MATA MINUS PADA ANAK
cakmoki
04 Januari 2010
2
Myopia Pada Anak
KODE ICD-10: H52.1 : Myopia
Seorang ayah bercerita: “ Ketika anak
perempuan saya masih kelas I SD, berulang kali
kami selaku orang tua dipanggil ke sekolah oleh
gurunya. Kami diberi tahu bahwa anak kami
sering tidak menyelesaikan tugas menulis di
sekolah sehingga harus pulang lebih akhir
dibanding teman-temannya. Selain itu katanya
anak kami suka menyontek tulisan temannya
saat diberi tugas menyalin tulisan di papan tulis “. Si Ayah melanjutkan: “
Belakangan kami mengetahui mata anak kami minus 2,5 setelah konsultasi ke
dokter.”
Sementara itu seorang Ibu berkisah: “ Putra saya memiliki hobi menggambar, tapi
nampak tidak senang jika diminta menulis dan
membaca. Dia juga suka banget menonton TV
dan main game di layar komputer dalam jarak
dekat sambil sesekali memicingkan matanya.
Kata gurunya, putra saya kurang bisa
menangkap pelajaran yang ditulis di papan tulis.
Nilai raportnya kurang bagus terutama untuk
pelajaran matematika. Atas saran dokter, saya
memeriksakan mata anak saya. Ternyata minus
4. Setelah menggunakan kacamata, nilai
pelajarannya berangsur membaik .”
Cerita seorang ayah dan ibu atas putra-putri mereka menunjukkan kepada kita
bahwa peran orang tua dan guru sangat diperlukan untuk mengenali kemungkinan
gangguan penglihatan anak melalui pengamatan di sekolah dan di rumah ketika
anak sedang belajar, menggunakan komputer, ataupun bermain yang
menggunakan fungsi penglihatan.
cakmoki
3
Myopia Pada Anak
Mata minus atau myopia merupakan kelainan refraksi dimana sinar sejajar yang
masuk mata dibias membentuk bayangan di depan retina mata sehingga obyek
terlihat kabur apabila melihat jauh.
Myopia ditandai dengan kabur jika melihat
jauh, melihat obyek lebih jelas dalam jarak
dekat, mata mudah lelah dan kerap
mendekatkan mata ke obyek yang
dilihatnya.
Bagi anak yang mampu menyampaikan
keluhan penglihatan, biasanya orang tua
segera memeriksakan anaknya ke dokter.
Namun anak yang masih kecil atau tidak mampu menyampaikan keluhan
penglihatan, para orang tua dapat memantau fungsi penglihatan anaknya melalui
pengamatan sejak dini.
Myopia dapat dikenali apabila anak menunjukkan gejala-gejala sebagai berkut:
Kabur jika melihat jauh.
Memicingkan mata bila melihat jauh.
Membaca dalam jarak dekat.
Mata mudah lelah saat membaca dan kadang mengeluh sakit kepala.
Berdasarkan derajat kelainan refraksi, myopia terbagi 3, yakni:
1. Myopia ringan, minus (-) 0,25 s/d minus (-) 3,00.
2. Myopia sedang, minus (-) 3,25 s/d minus (-) 6,00.
3. Myopia berat, minus (-) 6,25 atau lebih besar.
Sedangkan berdasarkan perjalanan penyakitnya, myopia terbagi 2:
1. Myopia simpleks, yakni myopia yang dimulai sejak usia 7-9 tahun. Pada
umumnya akan bertambah hingga menjadi stabil pada usia sekitar 20 tahun.
2. Myopia progresif, yakni myopia yang minusnya bertambah dengan cepat.
cakmoki
4
Myopia Pada Anak
Bagaimana menanggulangi myopia ?
Menggunakan kacamata, yakni dengan koreksi lensa negatif terlemah yang
menghasilkan penglihatan terbaik.
Lensa kontak. Penggunaan lensa kontak terutama pada myopia tinggi dan
anisometria.
Bedah refraktif, meliputi: (a) Bedah refraktif kornea, yakni dengan mengubah
lengkungan permukaan kornea menggunakan laser atau operasi lasik. (b)
Bedah refraktif lensa, yakni tindakan ekstraksi lensa jernih yang diikuti dengan
implantasi lensa di dalam mata (intraokuler). Tindakan bedah biasanya
dilakukan jika dengan koreksi kacamata ataupun penggunaan lensa kontak
tidak memberikan hasil yang memuaskan. Hanya saja, para orang tua
hendaknya menanyakan efek samping yang mungkin timbul pasca operasi.
FAQ SEPUTAR MATA MINUS PADA ANAK
Apakah vitamin A dan wortel dapat mengurangi mata minus ? Jawab: Tidak. Mata
minus bukan karena kekurangan vitamin A tapi karena kelainan refraksi
sebagimana penjelasan pada pengertian myopia.
Apakah mata minus pada anak harus sering kontrol ? Jawab : Ya. Mata minus pada
anak sebaiknya kontrol 6 bulan hingga setahun sekali terutama pada awal
penggunaan kacamata karena mata minus pada anak biasanya cenderung
bertambah sampai usia sekitar 20 tahun.
Semoga bermanfaat.
Referensi:
PDT Ilmu Penyakit Mata RSU Dr. Soetomo, Surabaya, edisi III, 2006.
Ilmu Kesehatan Anak, Jilid II, ceakan XI, FKUI, 2005.
cakmoki
Add New Comment