Pedidikan Kesehatan Reproduksi Remaja dalam kurikulum pelajaran untuk
tingkat Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas
(DRAFT)
Panduan Materi Dasar untuk Guru
Dapat Menjadi Dasar Untuk di Kembangan dan Disesuaikan dengan Keadaan
dan Kondisi Kebudayaan Lokal
Dr. Iwu Dwisetyani Utomo
Peneliti dan Dosen Pasca Sarjana
Iwu.Utomo@anu.edu.au
Australian Demographic and Social Research Institute
Australian National University
Konsultan Kesehatan Reproduksi Remaja UNFPA
Jakarta, November 2009
I. Latar Belakang
Masalah kesehatan reproduksi remaja merupakan masalah yang cukup
komplex karena keadaan dilapangan menunjukkan bahwa siswa SMP dan SMA
banyak yang sudah terlibat dalam kegiatan-kegiatan seksual dari hal-hal yang
berbau seks seperti misalnya penggunaan HP untuk mengirim SMS kata-kata
porno dan rekaman adegan porno; mengakses situs-situs internet yang berbau
pornografi, berpacaran secara berlebihan, melakukan hubungan seks yang
mengakibatkan kehamilan dan harus keluar dari sekolah, dan pelecehan seksual
pada pelajar puteri baik oleh sesama teman laki-laki maupun guru/Kepala
Sekolah. Hal ini kami dapatkan setelah melakukan wawancara dengan guru-
guru di Tasikmalaya, OKI, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur.
Namun demikian Pendidikan Kesehatan Reproduksi Remaja (PKRR) tidak
diberikan secara komprehensif di sekolah. Padahal siswa SMP dan SMA sangat
haus akan informasi kesehatan reproduksi yang benar. Akibatnya adalah para
siswa mencari tahu sendiri melalui diskusi dengan teman sebaya atau melalui
internet yang kadang justru dapat menyesatkan karena mereka menerima
informasi yang salah tentang kesehatan reproduksi dan seksualitas. Hasilnya
justru dapat merugikan masa depan remaja misalnya remaja yang mengalami
kehamilan pranikah yang harus disusul dengan pernikahan dini, aborsi tidak
aman dan kemungkinan tertular penyakit PMS/HIV/AIDS.
Selain itu koran, majalah, Televisi dan radio sering kali memberitakan tentang
tingkah laku remaja yang semakin berani dan liberal misalnya banyaknya
berita tentang kehamilan pranikah, kasus-kasus aborsi yang tidak aman bahkan
sampai mengakibatkan kematian, dan juga pelecehan seksual yang sangat
marak diberitakan dimana guru melakukan pelecehan seksual pada pelajar
puteri maupun laki-laki.
Gejolak remaja yang ditandai oleh perubahan fisik, emosi, mental dan sosial,
meningkatkan gejolak-gejolak seksual yang ada dalam diri mereka, oleh karena
itu mereka harus dibekali dengan PKRR yang benar dan bukan yang diperoleh
dari teman sebaya atau internet. Karena kurangnya informasi tentang PKRR,
maka remaja sering kali mempunyai pengetahuan yang salah tentang hal ini
yang dapat menyebabkan mereka percaya pada mitos-mitos yang salah dan
mengakibatkan terjadinya kehamilan pra nikah dan juga tertular
PMS/HIV/AIDS. Mitos-mitos yang salah tersebut misalnya:
• Hubungan seks sekali tidak akan menyebabkan kehamilan;
• Bila melakukan hubungan seks dan alat kemaluan laki-laki ditarik keluar
sebelum mencapai klimax, maka tidak akan terjadi kehamilan;
• Bila remaja puteri melakukan hubungan seks dengan tetap
menggunakan celana dalam tidak akan menyebabkan kehamilan;
• Bila setelah melakukan hubungan seks, kemudian remaja puteri loncat-
loncat maka tidak akan terjadi kehamilan;
• Bila sebelum melakukan hubungan seks dengan Pekerja Seks Komersial
(PSK), alat kemaluan laki-laki diberi air liur tidak akan tertular PMS;
• Bila pertama kali melakukan hubungan seks, dan remaja puteri tidak
mengeluarkan darah dari alat kemaluannya berarti dia sudah tidak
perawan lagi;
2
• Pembuktian rasa cinta seorang remaja puteri pada kekasihnya haruslah
dengan melakukan hubungan seksual;
• Agar cepat sembuh setelah sifon maka laki-laki yang disunat harus
malakukan hubungan seks dengan PSK.
• Keperawanan seorang calon isteri harus divaga, bila ingin melakukan
hubungan seks lebih baik melakukannya dengan seorang PSK.
Masih banyak contoh-contoh mitos yang berhubungan dengan seksualitas yang
dapat menyesatkan remaja karena kekurang tahuan mereka tentang kesehatan
reproduksi. Bila remaja dibekali dengan pengetahuan kesehatan reproduksi
yang komprehensif, maka remaja dapat lebih bertanggung jawab dalam berbuat
dan mengambil keputusan sehubungan dengan seksualitas. Peran sekolah dan
guru dalam PKRR sangat penting agar generasi remaja dapat terselamatkan
dari kehamilan dan aborsi pranikah, pernikahan dini dan PMS/HIV/AIDS serta
penggunaan narkoba dan minuman keras.
II. Cara Menggunakan Pedoman Pendidikan Kesehatan Reproduksi Remaja
Buku panduan ini merupakan bahan dasar yang dapat digunakan oleh guru-
guru SMP dan SMA di Kabupaten pembinaan UNFPA di propinsi Jawa Barat,
Sumatera Selatan, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur dan Kalimantan
Barat. Adapun cara untuk menggunakan buku panduan ini adalah sebagai
berikut:
1. Dalam penentuan apakah materi pendidikan kesehatan reproduksi
remaja (PKRR) akan diberikan dalam mata pelajaran yang tersediri,
dalam hal ini dapat dimasukkan dalam mata pelajaran muatan lokal
(MULOK) dan diberikan setiap minggu satu kali selama 50 menit sampai
1.5 jam atau akan diintegrasikan dalam mata pelajaran IPA, Biologi, IPS,
Sosiologi, Antropologi, Agama (dalam hal ini agama Islam) dan atau BP
dapat merupakan kebijakan sekolah dan ditentukan sesuai dengan
persetujuan sekolah dengan mempertimbangkan aspek kebudayaan
setempat.
2. Dalam menentukan apakah akan memberikan PKRR dalam mata
pelajaran tersediri (MULOK) atau terintegrasi dengan pelajaran yang
lain, hal yang dapat menjadi pertimbangan yang tetap adalah agar
PKRR dapat diberikan dan dikemas menjadi bahan pelajaran yang
menarik dan tidak menambah beban tugas siswa agar siswa menjadi
sangat tertarik untuk mensimak materi yang diberikan.
3. Pedoman yang digunakan dalam penyusunan pedoman ini adalah
kurikulum national (Kepmen 22/2006 KTSP Standard Isi). Dalam kurikulum
nasional tersebut, satu persatu kata-kata kunci yang berhubungan dengan
PKRR, pada kelas berapa diberikan dan dalam mata pelajaran apa materi
tersebut diberikan dijadikan pedoman kunci (Lihat Lampiran 1).
4. Materi yang tertera dalam kurikulum nasional seharusnya
diterjemahkan dalam buku-buku (text book) oleh para penulis buku yang
digunakan oleh siswa SMP dan SMA yang diterbitkan oleh berbagai
penerbit (Daftar buku yang digunakan oleh sekolah-sekolah untuk
berbagai mata pelajaran dan tingkat pendidikan yang mengandung
informasi kesehatan reproduksi remaja lihat Lampiran II).
3
5. Namun demikian tidak semua buku menjabarkan apa yang seharusnya
dijabarkan dalam buku yang digunakan di sekolah sesuai dengan
kurikulum. Dalam hal ini bila dirasakan bahwa materi yang terkadung
dalam buku sekolah tidak sesuai atau kurang mendalam, maka dapat
digunakan Lembaran Kerja Siswa yang disusun oleh guru, materi-materi
lain yang didapat dari buku-buku lain dan informasi dari berbagai
website yang terpecaya di internet. Juga diharapkan bila sekolah ingin
menggunakan materi PKRR yang sesuai dengan keadaan dan
kebudayaan lokal serta aspek keagamaan dan menggunakan istilah-
istilah seksualitas atau bahasa gaul lokal yang digunakan oleh remaja,
maka dalam hal ini sekolah bersama guru dapat mengembangkan materi
PKRR yang sesuai dan menggunakan pedoman ini sebagai acuan.
6. Dalam pembelajaran PKRR, selain pedoman ini dan memasukkannya
dalam mata pelajaran di sekolah maka kegiatan esktrakulikuler yang
dapat dilakukan untuk menyampaikan dan diskusi PKRR dengan anak
didik adalah sebagai berikut:
a. Info yang dikembangkan dari, untuk dan oleh remaja-siswa dalam
MADING (Majalah Dinding);
b. Dikembangkannya peer education PKRR, sesuai program PIK
KRR yang dikembangkan oleh BKKBN;
c. Mengembangkan website tentang PKRR sekolah seperti yang
sudah dikembangkan oleh SMA I Manungjaya, Tasikmalaya;
d. Mengundang tokoh-tokoh kesehatan reproduksi dan seksualitas
remaja dari DEPKES, BKKBN, Universitas atau NGO yang
bergerak dalam bidang ini juga tokoh-tokoh agama yang
mendukung PKRR;
e. Pembahasan materi PKRR dalam upacara hari Senin oleh Kepala
Sekolah;
f. Kegiatan-kegiatan estrakulikuler tentang PKRR yang dapat
merupakan diskusi, drama, lomba puisi, lomba pidato, lomba
penulisan makalah dan lomba penulisan cerpen atau poster yang
dikembangakan oleh siswa.
III. Pendidikan Kesehatan Reproduksi Remaja dalam Kurikulum Nasional?
Setelah dianalisa ternyata kurikulum nasional tidak secara spesifik
menyebutkan pendidikan kesehatan reproduksi, tetapi bidang-bidang atau kata
kunci yang ada hubungannya atau berkaitan dengan kesehatan reproduksi.
Dalam menganalisa semua mata pelajaran yang diberikan untuk SMP dan
SMA, kurikulumnya dianalisa satu per satu dan dicatat. Ternyata kurikulum
yang memuat kata-kata kunci yang berhubungan dengan kesehatan reproduksi
hanya terdapat dalam mata pelajaran IPA, Biologi, Penjaskes, IPS, Sosiologi,
dan Agama Islam. Dalam analisa ini hanya agama Islam yang kami cakup
karena kami tidak mempunyai keahlian tentang agama lainnya. Selain itu
penduduk Indonesia mayoritas beragama Islam.
Cara membaca dan menggunakan Table 1 yang memuat kata-kata kunci yang
berhubungan dengan kesehatan reproduksi adalah sebagai berikut: pada kolom
vertikal adalah mata pelajaran dimana materi kesehatan reproduksi disisipkan; kolom
horizontal adalah tingkat/kelas dimana kesehatan reproduksi dimasukkan. Contoh, di
4
kelas 7, dalam mata pelajaran Penjaskes, pada semester 2 dibahas tentang masalah
STDs dan di kelas 8 pada semester 1 diajarkan tentang free seks. Dalam mata
pelajaran IPA di kelas 8 pada semester 1 dibahas tentang pertumbuhan dan
perkembangan manusia dan di kelas 9 pada semester 1 dibahas tentang sistim
reproduksi.
Table 1 Kata-kata kunci yang berhubungan dengan kesehatan reproduksi dalam
kurikulum nasional berdasarkan kelas dan mata pelajaran, 2008
Kelas
Agama
Penjaskes
IPA
Biologi
IPS
Sosiologi
Islam
SMP
7
1* Hadas,
2* STDs
1*
najis
Perkembangan
kepribadian
8
1*
1* free sex
1*
2* Pekerja seks
masturbasi
Pertumbuhan
komersial
dan
(PSK)
perkembangan
manusia
9
1*&2*
1* Sistim
1* HIV, PSK
Hidup
reproduksi
2* Perjuang
sehat
hari
kemerdekaan
10
2* perbuatan
1* free sex
baik dan
buruk
11
1* Dosa
1* HIV
2*
1* Konflik
besar,
reproduksi
dan mobilitas
homoseks,
sosial
zinah
12
1* Hukum
1* Institusi
keluarga,
sosial
usia
2
pernikahan
*Metodologi
dan
peneltian-
menghindari
HIV
perbuatan
yang tercela
Sumber: Utomo dan McDonald dkk, 2009.
Catatan: 1* adalah semester satu dan 2* adalah semester 2
IV. Apa itu Pendidikan Kesehatan Reproduksi Remaja?
Definisi tentang Pendidikan Kesehatan Reproduksi Remaja dapat mempunyai arti sangat luas,
tetapi yang jelas artinya lebih mendalam dan luas dari hanya sekedar pendidikan seks. Tujuan
utama dari PKRR adalah untuk memberi informasi dan pengetahuan pada remaja mengenai
seluk beluk kesehatan reproduksi, masalah-masalah dalam kesehatan reproduksi, bentuk-
bentuk pola-pola persahabatan antara laki-laki dan perempuan, pemahaman tentang anatomi
dan fisiologi organ-organ reproduksi, terutama yang berkaitan dengan fungsi seksual dan
bagaimana menjaga organ-organ reproduksi agar tetap sehat dan tidak tertular penyakit
seksual. Aspek sosial dari PKRR seperti bagaimana menunda pernikahan, hal-hal yang perlu
5
diwaspadai oleh remaja pada waktu berpacaran dan bagaimana bernegosiasi tentang
hubungan seksual yang tidak diinginkan, pelecehan sesksual, PMS/HIV/AIDS dan penyalah
gunaan narkoba juga merupakan bagian penting dari PKRR. Karena masalah anatomi dan
fisiologi dari organ-organ reproduksi sudah dibahas secara mendalam dalam mata pelajaran
Biologi, maka dalam buku panduan ini yang menjadi penekanan adalah tentang aspek sosial
dari kesehatan reproduksi, hal ini sangat jarang dibahas di dalam buku-buku textbook yang
digunakan di sekolah, baik di SMP maupun di SMA.
Ada berbagai cara untuk memberikan PKRR. Pendidikan Kesehatan Reproduksi Remaja
dapat diberikan di sekolah, dalam mata pelajaran tersendiri (MULOK) atau diintegrasikan
dalam mata pelajaran yang sesuai seperti Biologi, IPA, IPS, Sosiologi, Anhtropologi,
Pendidikan Agama. Pendidikan Kesehatan Reproduksi Remaja juga dapat diberikan melalui
program-program kemasyarakatan seperti yang diberikan di Youth Centre dan Karan Taruna
atau Perkumpulan Remaja Masjid atau perkumpulan remaja lainnya yang tergabung dalam
agama Katholik/Prostetan dan lain sebagainya. Pendidikan Kesehatan Reproduksi juga dapat
diberikan di klinik-klinik kesehatan yang youth friendly seperti yang tersedia di
PUSKESMAS-PUKESMAS yang sudah memberikan pelayanan kesehatan reproduksi remaja
(Program Pelayanan Terpadu Kesehatan Reproduksi Remaja yang dikembangkan oleh
DEPKES).
Cara penyampaian PKRR dapat melalui pengajaran/kuliah, pendidikan sebaya dan konsultasi,
diskusi kelompok, role play dan cara-cara mengatasi masalah kesehatan reprodksi dan
seksualitas, KIE secara public, dengan melibatkan pembina-pembina orang dewasa, electronic
media, internet, televisi, radio atau kombinasi dari berbagai cara tersebut. Di Indonesia dalam
derajat yang berbeda-beda baik dalam kedalaman pemberian PKRR, waktu dan metode yang
digunakan dalam memberikan PKRR dapat dikatakan remaja yang pernah duduk di
pendidikan formal sudah pernah terpapar informasi tentang PKRR melalui pelajaran-pelajaran
tersebut di atas.
Ada berbagai jenis PKRR yang sudah dikembangan oleh berbagai negara yang telah
memberikan dan mengimplementasikan PKRR si sekolah. Dalam hal ini Pendidikan
Kesehatan Reproduksi Remaja yang komprehensive seperti yang dipaparkan di atas, terdiri
dari: program PKRR yang bernama Program Menunda Hubungan Seks (Abstinence only
program-abstinence only until marriage) yaitu program yang mementingkan penundaan
hubungan seks secara total sebelum pernikahan; Program Menunda Hubungan Seks Plus
(Abstinence Plus Program) yaitu program seperti yang diuraikan di atas, tetapi dalam
program ini materi yang diberikan ditambah dengan pendidikan tentang alat kontrasepsi yang
dapat digunakan untuk mencegah terjadinya kehamilan dan PMS, termasuk HIV/AIDS; dan
Pendidikan HIV/AIDS (HIV/AIDS risk education, Act Smart atau Choosing Health).
Program ini lebih memfokuskan pada cara-cara agar terhindar dari PMS/HIV/AIDS,
bagaimana menunda inisiasi atau kontak pertama dalam melakukan hubungan seks sebelum
nikah dan juga memberi informasi tentang bagaimana menggunakan condom bagi remaja
yang sudah aktif secara seksual.
6
Inti dari PKRR
Abstinence only program-Abstinence only
untill marriage adalah pendidikan kesehatan
reproduksi yang menekankan pentingnya
menunda hubungan seks sampai pernikahan.
Abstinence Plus Program adalah program
pendidikan
kesehatan
reproduksi
yang
memberikan informasi tentang penundaan
hubungan seks sampai pernikahan ditembah
denganpendidikan tentang alat kontrasepsi
dan kegunaannya untuk mencegah terjadinya
kehamilan dan penularan PMS/HIV/AIDS.
HIV/AIDS
Risk
Education/Pendidikan
HIV/AIDS adalah pendidikan kesehatan
reproduksi
yang
memfokuskan
tentang
PMS/HIV/AIDS: cara-cara penularannya dan
bagaimana menghindarinya, cara menunda
kontak seks pertama, cara menggunakan
kondom bagi yang sudah aktif secara seksual.
Untuk menentukan program PKRR yang sesuai untuk anak didik maka kepala sekolah dan
guru, bila memungkinkan juga orangtua murid berdiskusi untuk memilih program mana yang
tepat untuk diterapkan di sekolah dengan mempertimbangan aspek budaya dan agama
setempat. Apakah akan memberkan PKRR yaqng konprehensif, pendidikan HIV/AIDS, atau
pendidikan Abstinence only atau Abstinence plus.
Setelah menentukan cakupan dari PKRR, maka materi dalam bagan berikut dapat diberikan
sesuai dengan kelas siswa.
7
Bagan 1. Materi PKRR yang dapat dikembangkan dan dimodifikasi sesuai
dengan keadaan budaya dan agama lokal, 2009
Tahap I. Bentuk-bentuk persahabatan/pacaran
Persahabatan sosial yang sehat/Healthy social relationships
Bentuk-bentuk persahabatan/Different types of relationships
Batas-batas dalam persahabatan dengan lawan jenis/Self control in
relationships
Kejujuran, rasa hormat dan tanggung jawab dalam
persahabatan/Honestly, respect and responsibility in relationship
Memegang janji dalam persahabatan/Promise keeping
Tahap 2. Negosiasi tentang seks dan bagaimana menolak hubungan seksual
Pelecehan seksual/Sexual harassment
Strategi-strategi bernegosiasi untuk perilaku seksual dan bagaimana cara
menolak hubungan seksual/Negotiating sexuality and how to say no
Kesetaraan gender/Gender equality
Keadilan sosial/Social justice
Tahap 3. Kehidupan berkeluarga
Tidak melakukan dan menunda hubungan seks/Sexual abstinence
Pernikahan dan kehidupan keluarga/Marriage and family
Alat kontrasepsi/Contraception
Tahap 4. Hubungan seks yang aman dan penyakit menular seksual
Hubungan seks yang aman/Safe sex
PMS/HIV/AIDS
Seksualitas yang sehat dan bahagia/Sexual pleasure?
Nilai-nilai sosial dan religius tentang seksualitas/Social and religious
values on sexuality
Hubungan sesama jenis (homoseksual dan lesbian) dan dampaknya
V. Topik-topik PKRR yang dibahas dalam buku-buku SMP dan SMA
Pada bagian III, telah dibahas tentang dimana PKRR dapat diintegrasikan/disisipkan
dalam mata pelajaran sesuai dengan tingkat/kelas. Dengan menggunakan panduan
kata-kata kunci dalam kurikulum nasional tersebut, maka buku-buku yang digunakan
di SMP dan SMA untuk mata pelajaran Biologi, IPA, IPS, Sosiologi, Penjaskes dan
Agama Islam dianalisa. Buku-buku tersebut dibeli dari berbagai penerbit dan
kemudian dianalisa agar mengetahui variasi dan deskripsi yang digunakan dari
berbagai buku tersebut. Hampir tiga ratus buku dari tingkat SD sampai SMA
dianalisa, namun untuk panduan ini hanya buku SMP dan SMA yang dianalisa.
8
Bagan 2. Tiga Belas Topik-topik PKRR yang ada dalam
buku text book SMP dan SMA pada pelajaran IPA,
Biologi, IPS, Penjaskes dan Agama Islam, 2009
1. Kebersihan alat kemaluan: Pengertian tentang organ
kemaluan (alat kemaluan perempuan; alat kemaluan laki-
laki); cara membersihkan alat kemaluan perempuan dan
cara membersihkan alat kemaluan laki-laki.
2. PMS: pengertian tentang penyakit PMS dan bagaimana
cara untuk menghindarinya.
3. HIV/AIDS: pengertian tentang penyakit HIV/AIDS dan
bagaimana cara untuk menghindarinya.
4. Alat reproduksi perempuan: sindrom premenstrual
(PMS-pre menstrual syndrome); kanker payudara, kanker
servik dan kanker rahim; infertilitas; endometriosis.
5. Masalah reproduksi laki-laki: impoten-lemah syahwat,
prostat dan ketidak suburan.
6. Kehamilan dan proses kelahiran: proses biologis dari
fertilitas; tahapan kehamilan; proses kelahiran; ASI.
7. Pertumbuhan dan perkembang manusia: tahapan
pertumbuhan dan perkembangan manusia; pubertas;
menstruasi; mimpi basah; masturbasi.
8. Teknologi reproduksi: Pengaturan kelahiran (KB);
berbagai teknologi untuk test darah untuk HIV; sistim
reproduksi; test kehamilan; bayi tabung (IVF).
9. Institusi sosial dan perilaku seksual: pelecehan seksual-
pengertian dan cara untuk menghindarinya; mobilitas social
dan tingkah laku seksual (buruh migran dan kemiskinan).
10. Free sex (Seks bebas): seks pranikah; kehamilan pranikah;
aborsi dan aborsi pranikah dan konsekuensinya;
homoseksualitas; premarital pregnancy; kumpul kebo dan
PSK.
11. Institusi keluarga: Pernikahan; usia perkawinan; bentuk-
bentuk perkawinan; kehidupan berkeluarga; hukum-hukum
keluarga; hubungan suami-isteri/hubungan seksual dalam
perkawinan.
12. Kekerasan seksual: perang dan kekerasan seksual;
pemerkosaan; kekerasan domistik (kekerasan dalam
keluarga; kekerasan terhadap isteri; kekerasan orangtua
terhadap anak).
13. Religus aspek dari kesehatan reproduksi: Tata cara
bersuci, berwudhu, mandi besar/wajib; perilaku terpuji dan
tercela); Hadas, najus; Dosa besar, homo dan zinah;
postpartum (masa nifas).
9
VI. Paparan butir-butir dalam kurikulum sesuai dengan bidang pelajaran dan
kelas
Di bawah akan dijabarkan tentang butir-butir dalam kurikulum yang sesuai dengan
bidang pelajaran dan kelas yang dapat dikaitkan dengan ajaran tentang PKRR. Butir-
butir dalam kurikulum nasional ini dapat dilihat secara detail di
http://ww.puskur.net/index.php?menu=profile&pro=136&iduser=5.
Guru agar mengkaitkan butir-butir tersebut dengan apa yang tertera dalam buku
pelajaran. Bila deskripsi dalam buku pelajaran dinilai kurang sesuai oleh guru atau
kurang bermanfaat informasinya maka guru dapat memodifikasikannya dan
mengembangkan materi dengan mengkaitkan pada 13 issue kesehatan reproduksi di
atas dan juga diskusi dengan siswa untuk masalah-masalah kesehatan reproduksi
remaja yang sesuai dengan kondisi, kebudayaan dan nilai-nilai agama lokal.
Bahan dalam buku sekolah yang digunakan dapat dikombinasikan dengan bahan-
bahan yang didapat dari buku-buku yang sudah diterbitkan oleh DEPKES, BKKBN,
UNFPA, PKBI, media cetak dan elektronik, koran dan majalah, internet-website atau
studi kasus lokal yang sedang menjadi masalah. Misalnya:
1. Anak SMA yang hamil sebelum menikah dan menuntut agar ia dapat
mengikuti ujian nasional;
2. Kasus-kasus aborsi pranikah yang berakhir dengan tragis-ditinggalkan oleh
pacar yang menghamili, digugurkan oleh dukun dan berakhir dengan
pendarahan yang sangat membahayakan;
3. Kawin terlalu dini-usia muda (Kasus Syek Mudji), kawin paksa, kawin lari
yang banyak terjadi di NTB;
4. Pelecehan seksual oleh guru atau kepala sekolah pada siswa;
5. Pelecehan seksual oleh oleh pelajar laki-laki pada pelajar perempuan atau
antar pelajar laki-laki.
6. HP dan internet: SMS porno dan photo bugil atau porno di HP yang banyak
beredar di sekolah-sekolah di Tasikmalaya, Sumatera Selatan, NTB dan NTT.
Bahasan tentang kurang bermutunya infomarsi-informasi yang diberikan di
internet yang mengandung informasi pornografik yang websitenya bukan
diterbitkan oleh lembaga-lembaga terkemuka. Untuk mengakses informasi
yang akurat tentang kesehatan reproduksi remaja dapat akses ke website
BKKBN, CERIA-Cerita Remaja Indonesia (http://ceria.bkkbn.go.id/) yang
dapat juga dijadikan tempat konsultasi remaja untuk masalah-masalah
kesehatan reproduksi. Website Cerita sangat kaya akan informasi KRR yang
mempunyai situs tentang: Kegiatan; CURHAT; referensi KRR; link; contact;
penelitian; PIK-KRR; dan galeri.
7. Dampak dari remaja putus sekolah yang banyak terjadi terutama di tingkat
SMA karena terpaksa kawin karena hamil. Pembahasan dapat berkisar
dampak untuk masa depan remaja, dampak dikucilkan dari masyarakat, teman
sebaya dan keluarga, dampak kesehatan fisik dan psikologi bagi perempuan
muda yang belum siap untuk hamil dan melahirkan anak, dampak bagi
kesehatan bayi, dampak ekonomi dan sebagainya.
10
Add New Comment