PENGARUH DIVIDEND PAY OUT RATIO, CURRENT RATIO,
VARIANCE OF EARNING GROWTH TERHADAP
PRICE EARNING RATIO (PER) PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK JAKARTA SKRIPSI Untuk memperoleh gelar sarjana Ekonomi pada Universitas Negeri Semarang Oleh Daru Lestariningsih 3351403050 Akuntansi S1 FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG 2007 i
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan dunia usaha dewasa ini berkembang pesat, terlebih
dalam menghadapi situasi perekonomian yang semakin terbuka. Sejalan
dengan itu, maka perusahaan juga semakin terdorong untuk meningkatkan
efisiensi dan daya saingnya. Selanjutnya akan mempercepat pembangunan
suatu Negara. Pasar modal dipandang sebagai salah satu sarana alternatif
untuk mempercepat pembangunan suatu Negara. Pasar modal merupakan
wahana yang dapat menggalang pengerahan dana jangka panjang dari
masyarakat untuk disalurkan ke sektor-sektor produktif. Apabila
pengerahan dana masyarakat melalui lembaga- lembaga keuangan maupun
pasar modal sudah dapat berjalan dengan baik, maka dana pembangunan
yang bersumber dari luar negeri makin lama makin dikurangi. (Anaroga dan
Pakarti 2001: 1).
Pasar modal merupakan sarana perusahaan untuk meningkatkan
kebutuhan jangka panjang dengan menjual saham atau mengeluarkan
obligasi. Pasar modal dapat digunakan sebagai sarana tidak langsung
pengukur kualitas manajemen, jika pasar modal sifatnya efisien harga dari
surat berharga juga mencerminkan penilaian dari investor terhadap prospek
laba perusahaan di masa yang akan datang. Pasar modal mempunyai fungsi
sebagai alokasi dana yang produktif untuk memindahkan dana dari pemberi
pinjaman ke peminjam (jogiyanto 2003 : 11).
Masyarakat pemodal membeli suatu komiditi yang sangat abstrak
dan oleh karenanya kualitas dari komiditi ini yaitu saham dan atau obligasi
ditentukan oleh kualitas informasi yang tersedia dari perusahaan emiten
yang bersangkutan. Apabila informasi tersedia berarti kualitas dari barang
yang diperjualbelikan sama seperti apa yang ditawarkan pada rumah-rumah
judi. Dalam hal ini, peranan daripada lembaga-lembaga penunjang pasar
modal seperti: akuntan publik, notaris, konsultan hokum, penjamin emisi,
quarantor, penilai, dan wali amanat adalah amat diperlukan. Pada awal
ketika calon emiten berniat
go public akan sangat menentukan kualitas
akhir instrumen pasar modal yang akan dikeluarkan. (Anaroga dan pakarti
2001: 6).
Untuk dapat memilih investasi yang aman diperlukan suatu
analisis yang cermat, teliti dan didukung dengan data-data yang akurat.
Teknik yang benar dalam analisis akan mengurangi risiko bagi investor
dalam berinvestasi. Dengan analisis tersebut diharapkan modal yang
diinvestasikan akan menghasilkan keuntungan yang maksimal dan aman,
dan jika ada risiko, risikonya lebih kecil dibandingkan dengan kemungkinan
yang dapat diraih. Secara umum ada banyak teknik analisis dalam
melaksanakan penilaian investasi, tetapi yang paling banyak digunakan
adalah analisis yang bersifat fundamental, analisis teknikal, analisis
ekonomi, dan analisis rasio keuangan. (Anaroga dan pakarti 2001: 108).
Penelitian ini menggunakan analisis fundamental dengan
menggunakan data yang berasal dari laporan keuangan perusahan. Aliran
fundamental mencoba mempelajari hubungan antara harga saham dengan
kondisi perusahaan dengan menggunakan data keuangan perusahaan.
Alasannya bahwa nilai saham mewakili nilai perusahaan dalam
meningkatkan kesejahteraan pemegang saham. Nilai
intrinsik adalah nilai
yang sebenarnya dari saham yang diperdagangkan. Dalam analisis
fundamental ada dua pendekatan untuk menghitung nilai
intrinsik saham,
yaitu pendekatan nilai sekarang (
present value approach) dan pendekatan
PER (P/E
Ratio Approach). (Jogiyanto 2003 : 88)
Pendekatan
price earning ratio dicari melalui rasio antara harga
pasar saham dengan laba per lembar saham, pendekatan ini sering
digunakan oleh para analis sekuritas untuk menilai harga saham karena
pada dasarnya PER memberikan indikasi tentang jangka waktu yang
diperlukan untuk mengembalikan dana pada tingkat harga saham dan
keuntungan perusahaan pada suatu periode tertentu. PER menunjukkan
rasio dari harga saham terhadap tingkat
earning. Rasio ini menunjukkan
seberapa besar investor menilai harga dari saham terhadap kelipatan dari
earnings. Misalnya nilai PER adalah 5, maka ini menunjukkan bahwa harga
saham merupakan kelipatan dari 5 kali
earnings perusahaan. Misalnya
earning yang digunakan adalah
earnings tahunan dan semua
earning dibagikan dalam bentuk dividen, maka nilai PER sebesar 5 juga
menunjukkan lama investasi pembelian saham akan kembali setelah 5
tahun. (Jogiyanto 2003: 105).
Menurut Agus Sartono (1996 : 106), PER diartikan sebagai
indikator kepercayaan pasar terhadap prospek pertumbuhan perusahaan
sehingga banyak pelaku pasar modal yang menaruh perhatian tarhadap
pendekatan PER. Selain itu PER juga memberikan standar yang baik dalam
membandingkan harga saham untuk laba per lembar saham yang berbeda
dan kemudahan dalam membuat estimasi yang digunakan sebagai
input PER. Setiap pergerakkan harga saham akan mengakibatkan perubahan pada
PER dari saham suatu perusahaan. Bagi investor PER yang rendah akan
memberikan kontribusi tersendiri, karena selain dapat membeli saham
dengan harga yang relatif murah, kemungkinan untuk mendapatkan
capital gain juga semakin besar sehingga investor dapat memiliki banyak saham
dari berbagai perusahaan yang
go public. Sebaliknya
emiten menginginkan
PER yang tinggi pada waktu
go public untuk menunjukkan bahwa kinerja
perusahaan cukup baik dengan harapan agar harga saham akan tinggi pula.
Sebagai variable penjelas PER adalah
Dividend pay out ratio, current ratio, variance of earning growth. Menurut Robert Ang (1997 :
623)
Dividend pay out ratio merupakan perbandingan antara
dividend per share (DPS) dengan
earning per share (EPS).
Current ratio merupakan
kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendek.
Likuiditas juga bisa berarti mudah tidaknya suatu jenis investasi dicairkan
menjadi uang kas ( Anaroga 2001 : 79 ). Risiko digambarkan dengan
varian
pertumbuhan laba (
Variance of earning growth / VEG). VEG mengukur
seberapa besar penyimpangan tingkat pertumbuhan laba
emiten yang
menunjukkan simpangan baku tingkat pertumbuhan laba yang
mengambarkan risiko tiap saham.
Penelitian ini menggunakan perusahaan manufaktur sebagai
populasi penelitian. Perusahaan manufaktur yang terdaftar di bursa efek
Jakarta mencakup 19 kelompok besar, yang terdiri dari 146 perusahaan
sampai dengan tahun 2005. Perusahaan manufaktur merupakan kelompok
terbesar yang terdaftar di BEJ. Dalam penelitian ini mengambil obyek
perusahaan manufaktur karena termasuk kelompok besar daripada
kelompok lainnya, dan terdiri dari banyak jenis pilihan untuk berinvestasi,
missal kelompok makanan dan minuman, rokok, tekstil, plastik, dan
lainnya. Dengan demikian data yang akurat dan mutlak menjadi
pertimbangan utama oleh investor. Perusahaan manufaktur merupakan
perusahaan yang dapat bertahan walupun kondisi ekonomi yang kurang
baik.
Penelitian ini mengangkat permasalahan mengenai investor yang
berani membeli saham dengan harga yang relatif tinggi yang berarti PER
dari saham tersebut adalah tinggi. Tujuannya untuk Investasi jangka
panjang dan karena risikonya relatif rendah, sebagai cara untuk
mendapatkan imbal hasil yang sedang namun bisa diandalkan. Padahal
saham tersebut dijual dengan harga yang tinggi ketika pasar lagi turun dan
investor lebih memperhatikan kualitas. Selain itu harga saham di Bursa
Efek Jakarta dari berbagai sektor lebih sering mengalami kenaikan yang
berarti PER saham tersebut tinggi. (oleh Antony Japari, MBA, CLU, Ch
FC, RFP-I dalam Investor edisi 133 tanggal 11 Oktober 2005). Di sisi lain
Pemerintah meminta penyetoran dividen sebesar 50 persen dari badan
BUMN padahal ideal dividen pada tahun ini adalah 25 – 30 persen, dalam
hal ini
dividen pay out ratio berhubungan positif dengan PER. Hal ini
bertentangan dengan kebanyakan teori yang mengatakan bahwa PER yang
baik adalah PER yang rendah karena harganya murah sehingga dapat
menarik investor untuk berinvestasi. Sekarang yang menjadi pertanyaan
apakah investor sudah mengambil keputusan yang tepat dengan membeli
harga saham yang tinggi dan apakah investor sudah mempertimbangkan
faktor-faktor yang mempengaruhi, karena membeli saham tidak dengan
hanya mengandalkan intuisi dan perkiraan belaka. Kondisi sosial politik
dalam negeri juga dapat berimbas pada perdagangan saham di bursa, karena
investor membutuhkan kondisi sosial politik yang stabil agar dapat
menjamin kelangsungan investasi mereka. Yang berarti seorang investor
harus pintar-pintar mempertimbangkan faktor-faktor yang mempengaruhi
dan bagaimana pengaruhnya dengan menggunakan teknik analisis, dalam
hal ini teknik analisis yang bersifat fundamental dengan pendekatan PER.
Investor harus memperhatikan dan mengetahui serta
mempertimbangakan faktor-faktor PER itu sendiri dan bagaimana pengaruh
faktor-faktor tersebut terhadap PER, sehingga dapat mengambil keputusan
investasi yang tepat. Dalam penelitian ini diambil tiga variabel yang
mungkin mempengaruhi PER yaitu
Dividend pay out ratio, current ratio dan
variance of earning growth. Investor dapat mempertimbangkan rasio
tersebut guna memilah milah saham mana yang nantinya dapat memberikan
keuntungan yang besar di masa yang akan datang, perusahaan dengan
kemungkinan pertumbuhan yang tinggi biasanya mempunyai PER yang
besar, perusahaan dengan pertumbuhan yang rendah biasanya memiliki
PER yang rendah. Dari segi Investor, PER yang terlalu tinggi barangkali
tidak menarik karena harga saham tidak akan naik lagi, yang berarti
kemungkinan memperoleh
capital gain akan lebih kecil. Walaupun terdapat
kelemahan dalam kondisi tertentu PER patut dipertimbangkan dalam
melakukan strategi investasi yang benar pada perusahaan yang tepat.
Penelitian yang dilakukan sebelumnya diantaranya, Harmono
(2004) meneliti tentang “ Analisis pengaruh kinerja keuangan perusahaan
terhadap
price earning ratio dengan menggunakan variabel bebas
current ratio,
total asset turnover dan
leverage. Temuan penelitian ini
menunjukkan bahwa ,
current ratio memiliki pengaruh yang signifikan
positif terhadap PER, sementara dua variabel independen lainnya yakni
TATO dan
leverage tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap
PER. Penelitian ini dapat dikembangkan dalam bentuk model-model lain
untuk penelitian lanjut utamanya yang berkaitan dengan rasio profitabilitas
atau rasio nilai perusahaan, serta mencermati rasio keuangan lainnya.
Yeye Susilowati (2003) meneliti tentang “ Pengaruh PER
terhadap Faktor fundamental pada perusahaan publik di BEJ” dengan
menggunakan variabel PER,
dividend pay out ratio, Earning growth dan
risiko. Hasil penelitian ini adalah ada pengaruh positif antara
dividend pay out ratio dan risiko terhadap PER. Dan pertumbuhan laba (
growth)
mempunyai pengaruh yang negatif terhadap PER. Hasil penelitian ini
minimal dapat mendorong dan memicu dilakukan penelitian-penelitian
berikutnya. Dengan mempertimbangkan keterbatasan-keterbatasan yang
ada, diharapkan penelitian yang akan datang memperbaiki faktor-faktor :
a. Menggunakan variabel fundamental yang lain, misal :
current ratio, leverage, earning variability, earning covariability, dan lain-lain
b. Menggunakan proksi risiko dengan beta akuntansi dan beta pasar
c. Proksi
Growth dengan IOS (
Invesment Opportunity Set) yang sudah
banyak didukung teori.
Marwan Asri S.w. dan Anton N. Hevendi (
developed by Whitbeck kissor 1973) (1999) meneliti “ Price
earning ratio model consistency:
Evidence from Jakarta
Stock Exchange”. Sebagai variabel
independen menggunakan DPR,
earning growth, VEG sedangkan PER
sebagai variabel
dependen. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa
variabel DPR yang paling signifikan dari beberapa periode penelitian
sedangkan variabel
earning growth dan VEG tidak semua dalam periode
penelitian berpengaruh signifikan. Penelitian ini diharapkan untuk
mengingatkan pembaca bahwa setiap penilaian menggunakan analisis
Fundamental atau pendekatan lain tidak akan lepas dari kesalahan (
error) “
tidak memandang siapa yang menganalisis, atau bagaimana
menganalisisnya, kekeliruan pasti terjadi. Investor harus mengaingat bahwa
penilaian saham adalah lebih dari sebuah seni pengetahuan.
Rossje V. Suryaputri dan Christina Dwi Astuti tahun 2004
meneliti tentang ”Pengaruh faktor
leverage, dividend payout, size, earning growth and country risk terhadap
price earning ratio”. Sebagai variabel
independen menggunakan
leverage, dividend payout, size, earning growth and country risk sedangkan PER sebagai variabel
dependen. Hasil
penelitian ini menunjukkan bahwa pengaruh
leverage, dividend payout, size, earning growth dan
country risk terhadap
price earning ratio tersebut
memberikan hasil yang bervariasi pada jenis industri yang berbeda. Faktor
leverage mempengaruhi PER secara siqnifikan negatif pada industri
food and beverage. Faktor
dividend payout mempengaruhi PER secara siqnifikan
positif pada industri
metal and cable. Faktor
size mempengaruhi PER
secara siqnifikan negatif pada industri
metal dansiqnifikan positif pada
industri
food and beverage dan
paper. Faktor
country risk mempengaruhi
PER secara siqnifikan positif pada industri
cable dan
pharmacy. Sedangkan
faktor
earning growth sama sekali tidak mempengaruhi PER di seluruh
kelompok industri. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa laporan
keuangan yang datanya merupakan data historis ternyata tidak relevan
dengan ekspektasi para investor. Keraguan atas kemampuan profesional
para akuntan Indonesia dalam melakukan audit atas laporan keuangan
makin meyakinkan para investor untuk tidak percaya sepenuhnya atas
informasi yang disajikan dalam laporan keuangan.
Document Outline
Add New Comment