Makalah Mata Kuliah Pengantar Falsafah Sains
© 2003 Joko Sutrisno
Posted 11 December 2003
Makalah Pribadi
Pengantar Ke Falsafah Sains (PPS702)
Program Pasca Sarjana / S3
Institut Pertanian Bogor
Desember 2003
Dosen:
Prof. Dr. Ir. Rudy C. Tarumingkeng (Penanggung jawab)
Prof. Dr. Ir. Zahrial Coto
PENGEMBANGAN PENDIDIKAN BERWAWASAN
KEWIRAUSAHAAN SEJAK USIA DINI
Oleh:
Joko Sutrisno
P.062020071/PSL
Email : jk_stn@plasa.com
A. PENDAHULUAN
Upaya peningkatan mutu pendidikan di Indonesia, telah lama dilakukan. Bahkan
setiap Repelita, peningkatan mutu pendidikan merupakan salah satu prioritas pembangunan
di bidang pendidikan. Berbagai program dan inovasi pendidikan, seperti penyempurnaan
kurikulum, pengadaan buku ajar dan buku referensi lainnya, peningkatan mutu guru dan
tenaga kependidikan lainnya melalui berbagai pelatihan dan peningkatan kualifikasi
pendidikan mereka, peningkatan manajemen pendidikan, serta pengadaan fasilitas
penunjang, dan lain-lain selalu dilakukan. Namun sampai saat ini mutu pendidikan masih
jauh dari harapan.
Dari dalam negeri diketahui bahwa NEM SD sampai SLTA relatif rendah dan tidak
mengalami peningkatan yang berarti dari tahun ke tahun. Dari dunia usaha muncul keluhan
bahwa lulusan yang memasukidunia kerja belum memiliki kesiapan kerja yang baik. Dari
Joko Sutrisno, P.062020071
Makalah Mata Kuliah Pengantar Falsafah Sains
komparasi internasional, mutu pendidikan di Indonesia juga kurang menggembirakan.
Human Development Index (HDI) Indonesia menduduki peringkat 102 dari 106 negara
yang disurvai. Survai The Political Economic Risk Consultation (PERC) menemukan
bahwa Indonesia berada di peringkat ke 12 dari 12 negara yang disurvai. Studi lain yang
dilakukan The Third International Mathematics and Science Study-Repeat (TIMSS-R,
1999) menemukan bahwa siswa SLTP Indonesia menempati peringkat 32 untuk IPA dan
34 untuk Matematika, dari 38 negara yang distudi di Asia, Australia dan Afrika.
Peningkatan mutu pendidikan berarti peningkatan mutu sumber daya manusia.
Sementara mutu pendidikan belum menggembirakan, berarti mutu sumber daya manusia
Indonesia juga belum menggembirakan. Kini Indonesia menghadapi dua tantangan, ialah
tantangan dari dalam dan dari luar.
Dari dalam negeri krisis ekonomi belum juga berakhir sehingga pengangguran terus
bertambah. Di bidang pendidikan sendiri, data Depdiknas menunjukkan bahwa sekitar
88,4% lulusan SLTA tidak melanjutkan ke PT, dan 34,4% lulusan SLTP tidak melanjutkan
ke SLTA. Mereka setiap tahun menambah jumlah deretan pencari kerja, sementara bekal
untuk kesiapan kerja belum dimiliki.
Dari luar negeri tantangan akan muncul dengan disepakatinya AFTA (Asean Free
Trade Area) dan AFLA (Asean Free Labour Area) tahun 2003. Konsekuensinya adalah
tenaga kerja kita dalam berbagai sektor kehidupan harus mampu bersaing dengan tenaga
kerja asing dari negara-negara tetangga di lingkungan Asean.
B. MENGAPA KEWIRAUSAHAAN?
Melihat kondisi tersebut, maka dunia pendidikan harus mampu berperan aktif
menyiapkan sumberdaya manusia terdidik yang mampu menghadapi berbagai tantangan
kehidupan baik lokal, regional, nasional maupun internasional. Ia tidak cukup hanya
menguasai teori-teori, tetapi juga mau dan mampu menerapkannya dalam kehidupan sosial.
Ia tidak hanya mampu menerapkan ilmu yang diperoleh di bangku saekolah/kuliah, tetapi
juga mampu memecahkan berbagai persoalan yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari.
Pendidikan yang demikian adalah pendidikan yang berorientasi pada pembentukan
jiwa entrepreneurship, ialah jiwa keberanian dan kemauan menghadapi problema hidup dan
kehidupan secara wajar, jiwa kreatif untuk mencari solusi dan mengatasi problema tersebut,
jiwa mandiri dan tidak bergantung pada orang lain. Salah satu jiwa entrepreneurship yang
Joko Sutrisno, P.062020071
2
Makalah Mata Kuliah Pengantar Falsafah Sains
perlu dikembangkan melalui pendidikan pada anak usia pra sekolah dan sekolah dasar,
adalah kecakapan hidup (life skill).
Pendidikan yang berwawasan kewirausahaan, adalah pendidikan yang menerapkan
prinsip-prinsip dan metodologi ke arah pembentukan kecakapan hidup (life skill) pada
peserta didiknya melalui kurikulum yang terintegrasi yang dikembangkan di sekolah.
Tulisan ini mencoba menawarkan suatu model pendidikan yang berwawasan kewirausahaan
untuk tingkat pra sekolah dan sekolah dasar. Dengan model ini jika diterapkan diharap
dunia pendidikan ikut memberikan kontribusi nyata dalam rangka peningkatan mutuSDM
diIndonesia.
Kerangka pengembangan kewirausahaan di kalangan tenaga pendidik dirasakan
sangat penting. Karena pendidik adalah ‘agent of change’ yang diharapkan mampu
menanamkan ciri-ciri, sifat dan watak serta jiwa kewirausahaan atau jiwa ‘entrepreneur’ bagi
peserta didiknya. Disamping itu jiwa ‘entrepreneur’ juga sangat diperlukan bagi seorang
pendidik, karena melalui jiwa ini, para pendidik akan memiliki orientasi kerja yang lebih
efisien, kreatif, inovatif, produktif serta mandiri.
C. KONSEP KEWIRAUSAHAAN
Instruksi Presiden No. 4 Th 1995 tanggal 30 Juni 1995 tentang Gerakan Nasional
Memasyarakatkan dan Membudayakan Kewirausahaan, mengamanatkan kepada seluruh
masyarakat dan bangsa Indonesia, untuk mengembangkan program-program
kewirausahaan. Inpres tersebut dikeluarkan bukan tanpa alasan. Pemerintah menyadari
betul bahwa dunia usaha merupakan tulang punggung perekonomian nasional, sehingga
harus digenjot sedemikian rupa melalui berbagai Departemen Teknis maupun Institusi-
institusi lain yang ada di masyarakat. Melalui gerakan ini pada saatnya budaya
kewirausahaan diharapkan menjadi bagian dari etos kerja masyarakat dan bangsa Indonesia,
sehingga dapat melahirkan wirausahawan-wirausahawan baru yang handal, tangguh dan
mandiri.
Dari segi karakteristik perilaku, Wirausaha (entepreneur) adalah mereka yang
mendirikan, mengelola, mengembangkan, dan melembagakan perusahaan miliknya sendiri.
Wirausaha adalah mereka yang bisa menciptakan kerja bagi orang lain dengan berswadaya.
Joko Sutrisno, P.062020071
3
Makalah Mata Kuliah Pengantar Falsafah Sains
Definisi ini mengandung asumsi bahwa setiap orang yang mempunyai kemampuan
normal, bisa menjadi wirausaha asal mau dan mempunyai kesempatan untuk belajar dan
berusaha.
Berwirausaha melibatkan dua unsur pokok (1) peluang dan, (2) kemampuan
menanggapi peluang, Berdasarkan hal tersebut maka definisi kewirausahaan adalah
“tanggapan terhadap peluang usaha yang terungkap dalam seperangkat tindakan
serta membuahkan hasil berupa organisasi usaha yang melembaga, produktif dan
inovatif.” (Pekerti, 1997).
Bagan 1
KERANGKA BERPIKIR TENTANG KEWIRAUSAHAAN
POLA TANGGAPAN
POLA PELUANG
KARAKTERISTIK PERORANGAN
KEBUTUHAN EKONOMI
KARAKTERISTIK KELOMPOK
KEMAJUAN TEKNOLOGI
SOSIAL
PERILAKU WIRAUSAHA
Mendirikan
Mengelola
Mengembangkan
Melembagakan
HASIL USAHA
PERUSAHAAN:
Tepat Guna
Hemat Usaha
Unggul Mutu
Pembaharu
Sejalan dengan pendapat di atas, Salim Siagian (1999) mendefinisikan:
“Kewirausahaan adalah semangat, perilaku, dan kemampuan untuk memberikan tanggapan yang positif
terhadap peluang memperoleh keuntungan untuk diri sendiri dan atau pelayanan yang lebih baik pada
Joko Sutrisno, P.062020071
4
Makalah Mata Kuliah Pengantar Falsafah Sains
pelanggan/masyarakat; dengan selalu berusaha mencari dan melayani langganan lebih banyak dan lebih
baik, serta menciptakan dan menyediakan produk yang lebih bermanfaat dan menerapkan cara kerja
yang lebih efisien, melalui keberanian mengambil resiko, kreativitas dan inovasi serta kemampuan
manajemen.”
Pengertian di atas mencakup esensi kewirausahaan yaitu tanggapan yang positif
terhadap peluang untuk memperoleh keuntungan untuk diri sendiri dan atau pelayanan
yang lebih baik pada pelanggan dan masyarakat, cara yang etis dan produktif untuk
mencapai tujuan, serta sikap mental untuk merealisasikan tanggapan yang positif tersebut.
Pengertian itu juga menampung wirausaha yang pengusaha, yang mengejar keuntungan
secara etis serta wirausaha yang bukan pengusaha, termasuk yang mengelola organisasi
nirlaba yang bertujuan untuk memberikan pelayanan yang lebih baik bagi pelanggan/
masyarakat.
Semangat, perilaku dan kemampuan wirausaha tentunya bervariasi satu sama lain
dan atas dasar itu wirausaha dikelompokkan menjadi tiga tingkatan yaitu: Wirausaha andal,
Wirausaha tangguh, Wirausaha unggul.
Wirausaha yang perilaku dan kemampuannya lebih menonjol dalam memobilisasi
sumber daya dan dana, serta mentransformasikannya menjadi output dan memasarkannya
secara efisien lazim disebut Administrative Entrepreneur. Sebaliknya, wirausaha yang perilaku
dan kemampuannya menonjol dalam kreativitas, inovasi serta mengantisipasi dan
menghadapi resiko lazim disebut Innovative Entrepreneur.
Menjadi wirausaha profesional harus memenuhi kriteria ketangguhan dan
ketangguhan. Adapun ciri dari kedua kriteria tersebut adalah sebagai berikut:
a) Ciri dan Kemampuan Wirausaha Tangguh
1) Berpikir dan bertindak strategik, adaptif terhadap perubahan dalam berusaha
mencari peluang keuntungan termasuk yang mengandung resiko agak besar dan
dalam mengatasi masalah.
2) Selalu berusaha untuk mendapat keuntungan melalui berbagai keunggulan
dalam memuaskan langganan.
3) Berusaha mengenal dan mengendalikan kekuatan dan kelemahan perusahaan
(dan pengusahanya) serta meningkatkan kemampuan dengan sistem
pengendalian intern.
Joko Sutrisno, P.062020071
5
Makalah Mata Kuliah Pengantar Falsafah Sains
4) Selalu berusaha meningkatkan kemampuan dan ketangguhan perusahaan
terutama dengan pembinaan motivasi dan semangat kerja serta pemupukan
permodalan.
b) Ciri dan Kemampuan Wirausaha Unggul
1) Berani mengambil resiko serta mampu memperhitungkan dan berusaha
menghindarinya.
2) Selalu berupaya mencapai dan menghasilkan karya bakti yang lebih baik untuk
langganan, pemilik, pemasok, tenaga kerja, masyarakat, bangsa dan negara.
3) Antisipasif terhadap perubahan dan akomodatif terhadap lingkungan.
4) Kreatif mencari dan menciptakan peluang pasar dan meningkatkan
produktivitas dan efisiensi.
5) Selalu berusaha meningkatkan keunggulan dan citra perusahaan melalui inovasi
di berbagai bidang.
Sementara itu dalam suatu penelitian tentang Standarisasi Tes Potensi
Kewirausahaan Pemuda Versi Indonesia; Munawir Yusuf (1999) menemukan adanya 11 ciri
atau indikator kewirausahaan, yaitu:
1. Motivasi berprestasi
2. Kemandirian
3. Kreativitas
4. Pengambilan resiko (sedang)
5. Keuletan
6. Orientasi masa depan
7. Komunikatif dan reflektif
8. Kepemimpinan
9. Locus of Contro
10. Perilaku instrumental
11. Penghargaan terhadap uang.
Sementara itu menurut G. Meredith, et.al (1996) mengemukakan bahwa: Para
wirausaha adalah orang-orang yang mempunyai kemampuan melihat dan menilai
kesempatan-kesempatan yang ada; mengumpulkan sumber-sumber daya yang dibutuhkan
Joko Sutrisno, P.062020071
6
Makalah Mata Kuliah Pengantar Falsafah Sains
guna mengambil keuntungan daripadanya dan mengambil tindakan yang tepat guna
memastikan sukses.
Para wirausaha adalah individu-individu yang berorientasi kepada tindakan, dan
bermotivasi tinggi yang mengambil risiko dalam mengerjar tujuannya. Daftar ciri-ciri dan
sifat-sifat berikut memberikan sebuah profil dari wirausaha:
Ciri-ciri
W a t a k
Percaya diri
Keyakinan
Ketidaktergantungan, individualitas
optimisme
Berorientasikan tugas dan hasil
Kebutuhan akan prestasi,
berorientasi laba, ketekunan dan ketabahan,
tekad kerja keras, mempunyai dorongan
kuat, energitic, dan inisiatif.
Pengambil risiko
Kemampuan mengambil risiko, suka pada
tantangan.
Kepemimpinan
Bertingkah laku sebagai pemimpin
Dapat bergaul dengan orang lain.
Menanggapi saran-saran dankritik
Keorisinilan
Inovatif dan kreatif
Fleksibel
Punya banyak sumber
Serba bisa, mengetahui banyak
Berorientasi ke masa depan
Pandangan ke depan
Perseptif
D. LIFE SKILL SEBAGAI UNSUR DALAM BIDANG KEWIRAUSAHAAN
1. Pengertian life skill
Dalam kehidupan keseharian, manusia akan selalu dihadapkan problema hidup
yang harus dipecahkan dengan menggunakan berbagai sarana dan situasi yang dapat
dimanfaatkan. Kemampuan seperti itulah yang merupakan salah satu inti kecakapan
hidup (life skill). Artinya kecakapan yang selalu diperlukan oleh seseorang di manapun
ia berada, baik yang berstatus peserta didik, pekerja, guru, pedagang, maupun orangtua.
Pengertian life skill adalah kecakapan yang dimiliki seseorang untuk mau dan berani
menghadapi problema hidup dan kehidupan secara wajar tanpa merasa tertekan,
Joko Sutrisno, P.062020071
7
Makalah Mata Kuliah Pengantar Falsafah Sains
kemudian secara proaktif dan kreatif mencari serta menemukan solusi sehingga
akhirnya mampu mengatasinya.
2. Ruang Lingkup life skill
Kecakapan hidup (life skill) dapat dipilah menjadi lima bagian, ialah kecakapan
mengenal diri (self awarness), kecakapan berpikir rasional (thinking skill), kecakapan
sosial (social skill), kecakapan akademik (academic skill), dan kecakapan vokasional
(vocational skill).
(1) Kecakapan mengenal diri (self awareness) atau kecakapan personal (personal
skill), adalah kecakapan yang diperlukan bagi seseorang untuk mengenal
dirinya secara utuh. Kecakapan ini mencakup :
a) penghayatan diri sebagai makhluk Tuhan
b) penghayatan diri sebagai anggota keluarga dan masyarakat
c) penghayatan diri sebagai warga negara
d) menyadari dan mensyukuri kelebihan dan kekurangan diri
e) menjadikan kelebihan dan kekurangan sebagai modal dalam
meningkatkan diri agar bermanfaat bagi diri dan lingkungannya.
(2) Kecakapan berpikir rasional (thinking skill) adalah kecakapan yang diperlukan
dalam pengembangan potensi berpikir, mencakup :
a) kecakapan menggali dan menemukan informasi (information searching)
b) kecakapan mengolah informasi dan mengambil keputusan (information
processing and decision making skills)
c) kecakapan memecahkan masalah secara kreatif (creative problem
solving skill)
(3) Kecakapan sosial ataukecakapan interpersonal (social skill) mencakup :
a) kecakapan komunikasi dengan empati (communication skill). Empati,
sikap penuh pengertian dan seni komunikasi dua arah, perlu ditekankan,
karena yang dimaksud berkomunikasi bukan sekedar menyampaikan
pesan, tetapiisi dan sampainya pesan, disertai dengan ‘kesan’baik, akan
menumbuhkan hubungan yang harmonis.
b) kecakapan bekerjasama
Joko Sutrisno, P.062020071
8
Makalah Mata Kuliah Pengantar Falsafah Sains
(4) Kecakapan akademik (academic skill) ataukemampuan berpikir ilmiah,
mencakup komponen-komponen :
a) kemampuan melakukan identifikasi variabel
b) kemampuan merumuskan hipotesis
c) kemampuan melakukan penelitian
(5) Kecakapan vokasional (vocational skill), adalah keterampilan yang dikaitkan
dengan berbagai bidang pekerjaan tertentu yang terdapat di masyarakat.
Secara sederhana dapat dibuat skema pembagian kecakapan hidup yang perlu
ditanamkan kepada peserta didik, sebagai berikut :
Self Awarness
Thinking
Skill
General Life Skill
Social
Skill
Life Skill
Academic Skill
Specific Life Skill
Vocational
Skill
3. Kurikulum Berorientasi pada kecakapan hidup
Program pendidikan berwawasan kewirausahaan adalah program pendidikan
yang berorientasi pada kecakapan hidup. Program ini dapat disusun dalam bentuk
kurikulum khusus atau terintegrasi dalam berbagai mata pelajaran. Untuk tingkat Pra
Sekolah dan SD, program pendidikan berorientasi pada kecakapan hidup, dapat
dikembangkan menjadi sebagai berikut :
(1) Tujuan Pembelajaran :
a) content Objectives, yaitu penguasaan siswa terhadap materi
pembelajaran. Tidak semua materi pelajaran harus dikuasai siswa
melalui pembelajaran intra kurikuler disekolah. Materi pelajaran yang
memiliki onsep kunci serta tema-tema esensial yang mendorong
tercapainya kemampuan generik, yang wajib dimiliki siswa, selebihnya
dapat ditugaskan di rumah atau kegiatan lain.
Joko Sutrisno, P.062020071
9
Makalah Mata Kuliah Pengantar Falsafah Sains
b) Methodological Objectives, yaitu penguasaan siswa terhadap proses
penemuan konsep kunci keilmuan, sehingga memungkinkan siswa untuk
memiliki dan menguasai proses penemuan konsep kunci (keterampilan
proses).
c) Life skill objectives, yaitu penguasaan siswa dalam mengaplikasikan
konsep kunci serta keterampilan prosesnya dalam kehidupan sehari-hari.
Keterampilan ini disebut kecakapan hidup karena meliputi content
objectives dan methodological objectives dan merupakan kecakapan
yang dapat ditransfer dalam berbagai bidang keilmuan dan teknologi.
Dalam hal ini siswa TK dan SD berlatih basic intelectual skill dan basic
manual skill yang seluruhnya bersifat generik.
(2) Kurikulum Pembelajaran
Materi pembelajaran untuk pembentukan life skill untuk anak TK dan SD
meneurut Panduan Depdiknas 2002 adalah sebagai berikut :
a) General Life Skill, meliputi :
- pendidikan karakter
- pendidikan akademis
- pendidikan jasmani
b) Specific Life Skill, meliputi :
(a) pendidikan personal dan sosial :
- pendidikan kehidupan dalam keluarga
- kebersihan dan kesehatan diri
- makanan dan gizi
- penggunaan obat-obatan yang berguna dan tak berguna
- kesehatan reproduksi/pendidikan seksualitas
- keamanan diri/keselamatan diri
- pemeliharaan lingkungan
- penggunaan waktu luang
- pendidikan kenegaraan
- advokasi menjadi warga masyarakat dan warga negara
Joko Sutrisno, P.062020071
10
Add New Comment