This is not the document you are looking for? Use the search form below to find more!

Report home > Religion

Proposal Kegiatan Studi Agama-Agama

3.00 (2 votes)
Document Description
Dalam sejarah agama-agama di Indonesia, Minahasa memiliki sejarah kekristenan yang kuat. Agama Kristen, Katolik dan (terutama) Protestan berkembang dengan pesat. Pekabaran Injil "berhasil" memperbanyak jumlah orang beragama Kristen, membangun pusat-pusat ibadah dan kegiatan-kegiatan sosial, yaitu pendidikan, kesehatan, panti asuhan dan lain sebagainya. Mereka pun mendidik, umumnya orang-orang Kristen dengan pola pendidikan "ala" Belanda, yang dikenal bermutu. Alhasil, warga masyarakat yang berhasil dari gemblengan pendidikan ini, secara sosial-ekonomi berbeda statusnya dengan mereka yang tidak mendapat pendidikan yang sama. Keadaan ini berpengaruh pada mentalitas serta kehidupan sosial, kultural masyarakat Minahasa sampai sekarang. Masih ada di antara mereka yang merasa diri "bagian" dari Belanda (= Minahasa pernah dikenal sebagai propinsi ke-13 dari Belanda). Umumnya bermental birokrat, tidak suka bekerja di wilayah kerja yang dianggap kasar, lebih senang di perkantoran. Mereka menguasai wilayah-wilayah kerja di pemerintahan, dunia pendidikan, kesehatan sampai ke soal agama. Mereka merasa dan menganggap bahwa "Agama Kristen-lah agama dari orang-orang di daerah ini". Pernah dalam kurun waktu cukup lama bahkan sampai sekarang daerah ini dikenal dan dianggap sebagai "daerah Kristen", baik oleh warga masyarakat setempat maupun dari luar.
File Details
  • Added: October, 23rd 2010
  • Reads: 1653
  • Downloads: 39
  • File size: 23.14kb
  • Pages: 6
  • Tags: agama, interaksi, masyarakat
  • content preview
Submitter
  • Name: desi
Embed Code:

Add New Comment




Related Documents

PLURALISME AGAMA

by: angus, 37 pages

Pluralisme Ag ama ( Religious Pluralism ) adalah istilah khusus dalam kajian agama­agama. Sebagai 'terminologi khusus', istilah ini tidak dapat dimaknai sembarangan, misalnya disamakan dengan ...

SAKRAL [ SACRED] DAN PROFAN [STUDI PEMIKIRAN EMILE DURKHEIM TENTANG SOSIOLOGI AGAMA]

by: bailey, 24 pages

Emile Durkheim, seorang intelektual yang tidak dapat dilespakn dari kontek sosial kultural yang melingkupinya. Penekanannya pada sain dan reformasi sosial, maka Ia dipandang menempati posisi penting ...

Football is My Religion: Studi Tentang Sepak Bola Sebagai Agama Baru

by: septian christianto, 10 pages

football article about the new religion in the world

DI ANTARA AGAMA DAN BUDAYA :

by: jayden, 33 pages

Penyelidikan ini berusaha untuk memahami upacara Peusijuek dalam masyarakat Aceh dari perspektif agama dan budaya. Soalan utama kajian ialah adakah peusijuek itu amalan budaya atau amalan agama? ...

INVESTOR ASING DI JAWA: PENYESUAIAN BUDAYA DAN AGAMA SERTA ...

by: emmanuel, 60 pages

Tujuan penelitian ini adalah untuk: 1. Mendiskripsikan penyesuaian terhadap budaya yang dilakukan oleh Investor asing di Jawa. 2. Mendiskripsikan penyesuaian terhadap agama yang dilakukan oleh ...

Dialog Lintas Agama

by: galeri.foto.uii, 1 pages

Foto UII, UII, Klipping, Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta, Ekonomi, Akuntansi, Manajemen, Teknik, MIPA, Psikologi, Agama Islam, Google, Facebook, Twitter, Yahoo, Bing, MSN

IMPLEMENTASI KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI (KBK) BIDANG STUDI ...

by: birgit, 18 pages

Kurikulum berbasis kompetensi (KBK) disosialisasikan sejak 1999, seiring wacana perubahan lainnya yang memang bergemuruh dalam berbagai bidang di negeri ini. Pelaksanaan KBK pada dasarnya adalah ...

Pluralisme hukum dalam kewenangan peradilan agama di Indonesia ...

by: matteo, 3 pages

Penduduk Sumatera Barat yang mayoritas masyarakat Minangkabau dikenal kuat berpegang kepada adat, tetapi dapat menerima perobahan norma yang disebabkan oleh pergantian penguasa yang lebih luas ...

Kitab Suci Agama Blogernas

by: nurhidayah, 49 pages

Kumpulan Tulisan Erianto Anas

Agama, Tradisi dan Kesenian dalam Manuskrip La Galigo

by: lian, 8 pages

Manuskrip La Galigo adalah warisan orang Bugis. Ia pada intinya mengandungi empat aspek: keagamaan, kitab suci, tradisi dan kesenian. Sebelum menganut Islam, orang Bugis mempercayai ajaran daripada ...

Content Preview
Proposal Kegiatan Studi Agama-Agama
Kerjasama Institut Dialog Antariman di Indonesia (Institut DIAN/Interfidei)
dengan Sekolah Tinggi Filsafat Seminari Pineleng, Fakultas Teologia UKI-
Tomohon, Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri, Manado
Manado, 19-22 November 2007



1. Latarbelakang

Dalam sejarah agama-agama di Indonesia, Minahasa memiliki sejarah kekristenan
yang kuat. Agama Kristen, Katolik dan (terutama) Protestan berkembang dengan
pesat. Pekabaran Injil “berhasil” memperbanyak jumlah orang beragama Kristen,
membangun pusat-pusat ibadah dan kegiatan-kegiatan sosial, yaitu pendidikan,
kesehatan, panti asuhan dan lain sebagainya. Mereka pun mendidik, umumnya
orang-orang Kristen dengan pola pendidikan “ala” Belanda, yang dikenal
bermutu. Alhasil, warga masyarakat yang berhasil dari gemblengan pendidikan
ini, secara sosial-ekonomi berbeda statusnya dengan mereka yang tidak mendapat
pendidikan yang sama. Keadaan ini berpengaruh pada mentalitas serta kehidupan
sosial, kultural masyarakat Minahasa sampai sekarang. Masih ada di antara
mereka yang merasa diri ”bagian” dari Belanda (= Minahasa pernah dikenal
sebagai propinsi ke-13 dari Belanda).

Umumnya bermental birokrat, tidak suka bekerja di wilayah kerja yang dianggap
kasar, lebih senang di perkantoran. Mereka menguasai wilayah-wilayah kerja di
pemerintahan, dunia pendidikan, kesehatan sampai ke soal agama. Mereka merasa
dan menganggap bahwa ”Agama Kristen-lah agama dari orang-orang di daerah
ini”. Pernah dalam kurun waktu cukup lama bahkan sampai sekarang daerah ini
dikenal dan dianggap sebagai ”daerah Kristen”, baik oleh warga masyarakat
setempat maupun dari luar.

Keadaan ini mulai berubah setelah trans Sulawesi terbuka (awal 1980-an) dan
masyarakat transmigrasi mulai berkembang (1970-an). Semakin banyak
pendatang dari Sulawesi Selatan, Gorontalo dan Jawa yang beragama Islam
memasuki wilayah Minahasa. Mereka datang dengan berbagai maksud dan
kepentingan : pribadi, pemerintahan dan komunitas. Di mana-mana di Manado,
bahkan di seluruh Minahasa secara umum, mulai ada penduduk yang beragama
Islam. Mereka bekerja di pemerintahan, dunia pendidikan dan di sentra-sentra
perdagangan kecil, pasar, kaki lima.

Persoalannya, agama Kristen atau Gereja umumnya masih tetap berada pada
mentalitas bahwa ”ini daerah Kristen”. Warga gereja kurang mengalami tantangan
berarti dalam kehidupan bersama dengan yang ”lain”, homogen, baik etnis
maupun agama, sehingga mentalitas ”merasa paling dominan” masih hidup dan
dihidup-hidupkan. Makanya dalam interaksi bersama dengan ”yang lain” masih
berada pada tingkat ”kita yang paling berhak untuk hidup di Minahasa/Manado”.

1

Padahal secara riil, interaksi dan gesekean-gesekan antar-agama atau antar-etnis
(yang biasanya berbeda agama) sering terjadi, yang sewaktu-waktu dapat memicu
pada konflik. Apalagi di Minahasa semakin berkembang kelompok-kelompok
Kristen ”evangelical” atau lebih ekstrim yang ”fundamentalis”, juga golongan
Pentakostal yang semuanya dikenal masih ”tertutup” dalam pergaulan plural
berbasis agama. Pada saat yang sama, agama Islam semakin berkembang,
demikian juga agama Hindu, Buddha dan kini Kong Hu Cu (walaupun ketiga
agama yang disebut terakhir belum terlalu signifikan). Semuanya adalah bagian
dari dinamika perubahan dan perkembangan pluralitas di masyarakat. Mereka
adalah warga masyarakat Manado/Minahasa.

Kecurigaan, kecemburuan sering muncul dalam pergaulan di masyarakat, di
tempat kerja dan dalam bertetangga. Walaupun tentunya tidak semua, sebab ada
yang bisa memelihara hubungan yang baik dan terbuka. Hanya saja, pada level
keagamaan, keadaan ini tetap menjadi problem. Faktor merasa dan menganggap
diri paling benar dan yang lain tidak benar tetap kuat. Ungkapan-ungkapan
seperti, ”Agama Kristen yang baik, agama Islam tidak”. ”Agama Islam
pendatang, agama Kristen adalah agama asli di sini” sering muncul dan mewarnai
kegiatan-kegiatan keagamaan. Keadaan ini memberi dampak pada pola-pola
hubungan antarumat beragama di masyarakat, apalagi seperti di Manado yang
sempat mengalami dampak dari konflik di Poso, Maluku Utara dan Ambon.

Singkat kata, masih sulit bagi mereka untuk membangun hubungan antarumat
beragama dengan tulus, jujur dan obyektif. Berbagai kegiatan agama-agama
berjalan, tetapi lebih kepada soal-soal yang formal saja, tidak atau belum pada
hal-hal mendasar yang dapat memberi prospek jangka panjang ke depan lebih
baik.

Pada waktu yang sama, persoalan-persoalan di masyarakat muncul dan semakin
menciptakan rasa tidak aman, tidak adil dan tidak punya prospek ke depan. Kasus
PKL, Buyat, tenaga kerja,trafficking, narkoba, HIV/AIDS, persaingan politik
yang tidak sehat, korupsi, pembangunan dan pengembangan perekonomian dan
pariwisata yang merusak lingkungan hidup dan masa depan generasi anak,
remaja, pemuda, dan lain sebagainya.

Pertanyaannya adalah, sampai sejauhmana masyarakat yang notabene adalah
umat berbagai agama, para pemimpin umat beragama, struktural-institusional atau
yang berbasis komunitas terbuka dan bersikap kreatif-konstruktif terhadap
perubahan dan perkembangan yang sedang dan akan tetap berlangsung dengan
segala akibatnya?

Tanpa bermaksud memberi beban kepada agama-agama, dalam konteks kegiatan
ini diharapkan ada upaya untuk melakukan refleksi kritis terhadap sejarah
bersama agama-agama dalam interaksinya dengan masyarakat. Juga perlu
memikirkan bersama apa peran serius yang perlu dilakukan oleh komunitas
agama-agama yang ada di Manado/Minahasa dalam menghadapi berbagai

2

fenomena dan persoalan konkrit yang terjadi di masyarakat. Bagaimana agar
agama-agama, baik secara sendiri-sendiri melalui komunitasnya maupun
bersama-sama dapat belajar dari pengalaman bersama untuk membangun sebuah
masyarakat Minahasa/Manado yang memiliki masa depan baik, terutama bagi
generasi mendatang?

Kenyataan ini, mendorong Interfidei bersama dengan Jaringan yang ada di
Manado?Minahasa untuk melakukan tindaklanjut kegiatan Studi Agama-agama di
Manado/Tomohon dengan orientasi pendalaman reflektif dan terarah pada
kegiatan aksi konkrit bersama.


2. Nama Kegiatan
Kegiatan ini adalah ”Studi Agama-Agama – Belajar Bersama Kelompok Antar-
iman”

3. Tema Kegiatan : ”Membangun Masyarakat Manado-Minahasa yang Plural :



Belajar dari Pengalaman Bersama Agama-agama di



Manado/Minahasa.”

4. Maksud/Tujuan
a. Memberi ruang dan kesempatan kepada para pemimpin umat berbasis
komunitas untuk belajar dari pengalaman bersama sejarah agama-agama di
masyarakat, sebagai bagian dari upaya membangun Manado/Minahasa yang
sehat.
b. Memberi kesempatan kepada para pemimpin umat berbasis komunitas untuk
mendapatkan pengalaman berinteraksi secara lebih intensif, terbuka dan
komunikatif dalam proses belajar bersama antariman.
c. Memberdayakan para pempimpin umat berbasis komunitas agar semakin
mampu terbuka dalam mengelola kemajemukan sebagai potensi bersama untuk
membangun daerah Manado/Minahasa yang sehat.
d. Mendorong para pemimpin umat berbasis komunitas bersama dengan
kelompoknya masing-masing dan secara bersama-sama untuk melakukan aksi
konkrit bagi kepentingan warga masyarakat, khususnya generasi mendatang.


5. Yang diharapkan

a. Semakin banyak pemimpin umat di Manado/Minahasa beserta komunitas
masing-masing yang mampu bersikap terbuka dan reflektif terhadap
perkembangan dan perubahan sosial yang berlangsung di masyarakat.
b. Para pemimpin umat beserta komunitas masing-masing semakin mampu
merefleksikan hidup keagamaannya melalui aksi konkrit bersama di masyarakat,
bersama masyarakat, untuk masyarakat.
c. Masyarakat Manado/Minahasa yang sehat dan terbebaskan dari berbagai
”penyakit” sosial, demi kebaikan hidup generasi masa depan.

3


6. Kelompok target/sasaran
Diharapkan peserta akan lebih banyak dari komunitas agama-agama, yaitu para
pemimpin : pendeta, pastor, suster, ustadz/kyai, mubaliq, majelis atau tua-tua
jemaat/umat, pengurus lembaga-lembaga keagamaan, juga mahasiswa umum dan
sekolah-sekolah keagamaan, aktivis pluralisme dan multikulturalisme, media dan
pemerintah. Untuk Studium Generale, antara 100-150 orang; studi kelas, 35-40
orang, laki-laki dan perempuan; tua dan muda.

7. Bentuk Kegiatan
Kegiatan akan berlangsung dalam dua bentuk, pertama Studium Generale, di
mana akan membahas soal tema secara terbuka dalam forum lebih luas, dipandu
oleh moderator. Kemudian dilanjutkan dengan studi kelas yang akan berlangsung
selama 3 hari dengan forum lebih kecil dan proses lebih intensif. Selama studi
kelas, peserta akan berbagi pengalaman, pemikiran dan mencairkan berbagai
prasangka, kecurigaan serta berusaha untuk merumuskan aksi bersama sebagai
upaya tindaklanjut di masyarakat. Dalam proses ini, ada kesempatan bagi peserta
untuk melakukan kunjungan lapangan, bertemu dan berdialog dengan komunitas
agama-agama. Tentang hal ini akan ditentukan kemudian dan disesuaikan dengan
konteks pembicaraan. Studi kelas akan dipandu oleh 3 orang fasilitator.

8. Materi Studi
Materi studi akan disesuaikan dengan tema, berdasarkan situasi konteks setempat.

9. Narasumber
Narasumber untuk Studium Generale berjumlah 5 orang, 3 orang dari Manado, 2
orang dari luar Manado (Prof. Dr. Qasim Mathar dari Universitas Islam Negeri
Alauddin, Makassar dan Dr. Jan Aritonang dari Sekolah Tinggi Teologia,
Jakarta). Diharapkan para pembicara dapat menjadi pendamping untuk studi
kelas.

Dr. Jan Aritonang diharapkan dapat menyampaikan dinamika perkembangan
Protestantisme di Indonesia. Apa dan bagaimana dinamikanya dalam konteks
pluralitas masyarakat Indonesia, tantangan dan peluang? Apa refleksi kritis
yang penting disampaikan untuk menjadi pembelajaran bersama, baik dalam
kapasitas kepentingan ke dalam, maupun dengan agama-agama lain dan lebih
luas lagi dalam masyarakat?

Prof. Dr. Qasim Mathar diharapkan dapat menyampaikan dinamika
perkembangan Islam di Indonesia. Apa dan bagaimana dinamikanya dalam
konteks pluralitas masyarakat Indonesia, intra dan antar, tantangan dan
peluang? Apa refleksi kritis yang penting disampaikan untuk menjadi
pembelajaran bersama, baik dalam kapasitas kepentingan ke dalam, maupun
dengan agama-agama lain dan lebih luas lagi dalam masyarakat?



4

Lokal – Islam, diharapkan dapat menyampaikan dinamika perkembangan
Islam di Manado/Minahasa. Apa dan bagaimana dinamikanya dalam konteks
pluralitas masyarakat di Manado/Minahasa, intra agama Islam dan antar-
agama, apa tantangan dan peluang? Apa refleksi kritis yang penting
disampaikan untuk menjadi pembelajaran bersama, baik dalam kapasitas
kepentingan ke dalam, maupun dengan agama-agama lain. Dengan demikian
kehadiran agama Islam di Manado/Minahasa merupakan potensi untuk
membangun dan mengembangkan kehidupan masyarakat seutuhnya, yang
tidak mudah diganggu oleh kepentingan-kepentingan sesaat, termasuk
kepentingan kelompok.
(usul dari STAIN, atau dulu yang saya kenal adalah
ketua komunitas Islam di Tomohon, namanya pak Suharto, tinggal di pasar
tomohon)


Lokal – Protestan, diharapkan dapat menyampaikan dinamika perkembangan
Kristen Protestan di Manado/Minahasa. Apa dan bagaimana dinamikanya
dalam konteks pluralitas masyarakat di Manado/Minahasa, intra agama
Kristen (tidak hanya GMIM tetapi juga kelompok-kelompok Kristen lainnya :
Pentakosta dan gerakan-gerakan evangelical) dan antar-agama, apa tantangan
dan peluang? Apa refleksi kritis yang penting disampaikan untuk menjadi
pembelajaran bersama, baik dalam kapasitas kepentingan ke dalam, maupun
dengan agama-agama lain. Dengan demikian kehadiran agama Kristen
Protestan di Manado/Minahasa merupakan potensi untuk membangun dan
mengembangkan kehidupan masyarakat seutuhnya, yang tidak mudah
diganggu oleh kepentingan-kepentingan sesaat, termasuk kepentingan
kelompok. (usul pdt. Prof. Dr. Richard Siwu)


Lokal – Katolik, diharapkan dapat menyampaikan dinamika perkembangan
Kristen Katolik di Manado/Minahasa. Apa dan bagaimana dinamikanya dalam
konteks pluralitas masyarakat di Manado/Minahasa, intra agama Kristen
Katolik (termasuk ”aliran pembaruan” yang mulai tumbuh dalah Gereja
Katolik) dan antar-agama, apa tantangan dan peluang? Apa refleksi kritis yang
penting disampaikan untuk menjadi pembelajaran bersama, baik dalam
kapasitas kepentingan ke dalam, maupun dengan agama-agama lain. Dengan
demikian kehadiran agama Kristen Katolik di Manado/Minahasa merupakan
potensi untuk membangun dan mengembangkan kehidupan masyarakat
seutuhnya, yang tidak mudah diganggu oleh kepentingan-kepentingan sesaat,
termasuk kepentingan kelompok. (usul dari Keuskupan atau Pineleng)


10. Waktu dan Tempat Pelaksanaan
Waktu pelaksanaan pada tanggal 19-22 November 2007. Studium Generale akan
berlangsung di Manado (lokasi dalam konfirmasi), sedangkan studi kelas akan
diadakan di luar kota Manado (dalam konfirmasi).

11. Pelaksana
Penanggungjawab program adalah bidang Pendidikan Institut Dialog Antar-iman
di Indonesia (Institut DIAN/Interfidei). Pelaksana di lapangan adalah kerjasama

5

Interfidei dengan Sekolah Tinggi Filsafat Seminari Pineleng; Fakultas Teologia
Universitas Kristen Indonesia, Tomohon; Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri,
Manado. Dari ketiganya, masing-masing akan dijalankan oleh Senat Mahasiswa.

12. Mengapa di Manado?
Sudah beberapa kali Interfidei mengadakan kegiatan di Manado bersama-sama
dengan jaringan setempat, baik LSM maupun perguruan tinggi berbasis agama,
yaitu sejak tahun 2001. Dari pengalaman dengan berbagai output yang ada,
dipikirkan Manado menjadi salah satu kota di mana bisa ditemukan Jaringan
Interfidei yang lebih mandiri dan berkembang. Ini berkaitan dengan rencana
Interfidei dalam program 3 tahun terakhir (sampai dengan tahun 2007/2008)
untuk memilih Jaringan di beberapa daerah sebagai Jaringan yang mampu untuk
tumbuh dan berkembang aktif secara mandiri. Di daerah ini penting sekali
menghidupkan kegiatan antariman secara kontinu, yang tidak terbatas kepada para
pemuka agama berbasis institusi/struktural, atau kegiatan pertemuan formal
berhubungan dengan hari-hari raya tertentu, tetapi, juga kelompok para pemimpin
umat berbasis komunitas antar-iman bersama dengan komunitas masing-masing.
Maksudnya, bukan saja karena potensi konflik di Manado cukup rentan dan
sewaktu-waktu bisa terbuka sebagaimana di daerah-daerah lain, tetapi juga dalam
rangka memfungsikan peran agama-agama dalam proses pengembangan
Manado/Minahasa untuk menjadi daerah dengan masyarakat yang sehat dan
terbebaskan dari berbagai penyakit sosial demi generasi mendatang.

Dari beberapa kali evaluasi dan percakapan, baik di Manado dengan jaringan
setempat dan secara informal dengan teman, kenalan Interfidei di luar Manado;
juga pertimbangan di kalangan Interfidei sendiri, dipikirkan penting untuk
melanjutkan kegiatan Studi Agama-agama, bersama dengan stakeholders yang
ada di sana, khususnya dengan komunitas agama-agama, para pendeta,
kyai/ustadz, pastor, suster, biku, pedande, pimpinan lembaga-lembaga
keagamaan, aktivis pluralisme, media, mahasiswa umum dan dari perguruan
tinggi berbasis agama, dosen, guru, pemerintah. Kegiatan ini relevan dengan
konteks kebutuhan komunitas antaragama di Manado, dan Sulawesi Utara
umumnya.

***








6

Download
Proposal Kegiatan Studi Agama-Agama

 

 

Your download will begin in a moment.
If it doesn't, click here to try again.

Share Proposal Kegiatan Studi Agama-Agama to:

Insert your wordpress URL:

example:

http://myblog.wordpress.com/
or
http://myblog.com/

Share Proposal Kegiatan Studi Agama-Agama as:

From:

To:

Share Proposal Kegiatan Studi Agama-Agama.

Enter two words as shown below. If you cannot read the words, click the refresh icon.

loading

Share Proposal Kegiatan Studi Agama-Agama as:

Copy html code above and paste to your web page.

loading