This is not the document you are looking for? Use the search form below to find more!

Report home > Psychology

Psikologi Humanistik dan Aplikasinya dalam Pendidikan

3.20 (5 votes)
Document Description
Psikologi humanistik atau disebut juga dengan nama psikologi kemanusiaan adalah suatu pendekatan yang multifaset terhadap pengalaman dan tingkah laku manusia, yang memusatkan perhatian pada keunikan dan aktualisasi diri manusia. Bagi sejumlah ahli psikologi humanistik ia adalah alternatif, sedangkan bagi sejumlah ahli psikologi humanistik yang lainnya merupakan pelengkap bagi penekanan tradisional behaviorisme dan psikoanalis. Psikologi humanistik juga memberikan sumbangannya bagi pendidikan alternatif yang dikenal dengan sebutan pendidikan humanistik (humanistic HGXFDWLRQ***3 HQGLGLNDQ*KXPDQLVWLN*EHUXVDKD*PHQJHPEDQJNDQ*LQGLYLGX*VHFDUD* keseluruhan melalui pembelajaran nyata. Pengembangan aspek emosional, sosial, mental, dan keterampilan dalam berkarier menjadi fokus dalam model pendidikan humanistic. Aliran Psikologi Humanistik selalu mendorong peningkatan kualitas diri manusia melalui penghargaannya terhadap potensi-potensi positif yang ada pada setiap insan. Seiring dengan perubahan dan tuntutan zaman, proses pendidikan pun senantiasa berubah.
File Details
Submitter
  • Name: titina
Embed Code:

Add New Comment




Related Documents

CARA ALAMI, JITU DAN AMPUH DALAM MENURUNKAN BERAT BADAN, CARA JITU MENGURUSKAN BADAN, PELANGSING ALAMI. CALL REKO HANDOYO, 081389411679, 081932985325 BINTARO JAKARTA SELATAN. http://makanankesehatananda.blogspot.com

by: abrahamhandoyo, 1 pages

CARA ALAMI, JITU DAN AMPUH DALAM MENURUNKAN BERAT BADAN, CARA JITU MENGURUSKAN BADAN, PELANGSING ALAMI. CALL REKO HANDOYO, 081389411679, 081932985325 BINTARO JAKARTA SELATAN. ...

PARADIGMA TASAWUF AKHLAKI DAN RELEVANSINYA TERHADAP PENDIDIKAN ...

by: heidi, 17 pages

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui : 1) hakikat tasawuf akhlaki; 2) hakikat pendidikan moral dan manusia modern; 3) Relevansi tasawuf akhlaki sebagai paradigma alternatif pendidikan moral ...

PERATURAN BERSAMA MENTERI AGAMA DAN MENTERI DALAM NEGERI

by: detriman, 8 pages

PEDOMAN PELAKSANAAN TUGAS KEPALA DAERAH/WAKIL KEPALA DAERAH DALAM PEMELIHARAAN KERUKUNAN UMAT BERAGAMA, PEMBERDAYAAN FORUM KERUKUNAN UMAT BERAGAMA, DAN PENDIRIAN RUMAH IBADAT

Seni, Sastera dan Budaya dalam Cerminan Masyarakat

by: fadwa, 5 pages

S eni dan sastera merupakan satu wadah yang amat penting dalam mengungkapkan tahap kemanusiaan kita yang sedia ada. Para sarjana telah memberitahu kita bahawa tahap ketinggian sesuatu peradaban itu ...

Agama, Tradisi dan Kesenian dalam Manuskrip La Galigo

by: lian, 8 pages

Manuskrip La Galigo adalah warisan orang Bugis. Ia pada intinya mengandungi empat aspek: keagamaan, kitab suci, tradisi dan kesenian. Sebelum menganut Islam, orang Bugis mempercayai ajaran daripada ...

Konsep Sehat, Sakit dan Penyakit dalam Konteks Sosial Budaya

by: ishaan, 11 pages

Pembangunan kesehatan sebagai salah satu upayapembangunan nasional diarahkan guna tercapainya kesadaran, kemauan, dan kemampuan untuk hidup sehat bagi setiap penduduk agar dapat mewujudkan derajat ...

EMOSI DAN EKSPRESINYA DALAM MASYARAKAT

by: raija, 23 pages

Ernosi merupak.ln aspek pentingdalam kehidupan manusia yang merupakan sumber komedi dan tragedi seper!i yang banyak terjadi di masyarakat Indonesia menjelang milenium baru. Pada dasarnya dengan ...

KEBUDAYAAN DAN KESENIAN DALAM PERSPEKTIF ISLAM*)

by: katherine, 11 pages

P enulis merasa terkesan dengan apa yang diungkapkan oleh van Peursen (1976) pada bagian awal dari buku Strategi Kebudayaan , di mana ia menyatakan bahwa; Pertanyaan mengenai hakikat kebudayaan ...

UJIAN NASIONAL DAN PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN

by: rubadah, 33 pages

PERAN UN DALAM RANGKA PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN Dr. H. Teuku Ramli Zakaria, MA Pusat Penilaian Pendidikan Balitbang Depdiknas Jakarta RENCANA PEMBANGUNAN PENDIDIKAN ...

Mengidentifikasi Gagasan dan Teknik dalam Karya Seni Rupa Terapan

by: joline, 12 pages

1. Bacalah modul ini dengan seksama 2. Jika ada yang kurang kamu pahami mintalah petunjuk tutormu (guru) 3. Kerjakan tugas-tugas baik secara teoretis maupun praktik dengan benar 4. Jika kamu telah ...

Content Preview
Psikologi Humanistik dan
Aplikasinya dalam Pendidikan
Ratna Syifa’a Rachmahana1
Abstrak
Psikologi humanistik atau disebut juga dengan nama psikologi kemanusiaan
adalah suatu pendekatan yang multifaset terhadap pengalaman dan tingkah
laku manusia, yang memusatkan perhatian pada keunikan dan aktualisasi diri
manusia. Bagi sejumlah ahli psikologi humanistik ia adalah alternatif, sedangkan
bagi sejumlah ahli psikologi humanistik yang lainnya merupakan pelengkap bagi
penekanan tradisional behaviorisme dan psikoanalis.

Psikologi humanistik juga memberikan sumbangannya bagi pendidikan
alternatif yang dikenal dengan sebutan pendidikan humanistik (humanistic
keseluruhan melalui pembelajaran nyata. Pengembangan aspek emosional, sosial,
mental, dan keterampilan dalam berkarier menjadi fokus dalam model pendidikan
humanistic.

Aliran Psikologi Humanistik selalu mendorong peningkatan kualitas diri
manusia melalui penghargaannya terhadap potensi-potensi positif yang ada pada
setiap insan. Seiring dengan perubahan dan tuntutan zaman, proses pendidikan
pun senantiasa berubah.
Kata kunci: psikologi, humanistik, pendidikan
A. Pendahuluan
Aliran humanistik muncul pada tahun 1940-an sebagai reaksi
ketidakpuasan terhadap pendekatan psikoanalisa dan behavioristik.
Sebagai sebuah aliran dalam psikologi, aliran ini boleh dikatakan
relatif masih muda, bahkan beberapa ahlinya masih hidup dan
1 Dosen Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya UII Yogyakarta.
NO. 1. VOL. I. 2008 99

NO. 1. VOL. I. 2008
terus-menerus mengeluarkan konsep yang relevan dengan bidang
pengkajian psikologi, yang sangat menekankan pentingnya
kesadaran, aktualisasi diri, dan hal-hal yang bersifat positif tentang
manusia.
Dalam tulisan singkat ini akan dijelaskan mulai dari tokoh-
tokoh penting dalam aliran humanistik dan teorinya yang relevan
dengan psikologi pendidikan, dan diakhiri dengan aplikasi psikologi
humanistik dalam dunia pendidikan, khususnya dalam proses
pembelajaran.
B. Tokoh-tokoh Penting dalam Aliran Humanistik dan
Teorinya
1. Abraham Maslow
Abraham H. Maslow (selanjutnya ditulis Maslow) adalah
tokoh yang menonjol dalam psikologi humanistik. Karyanya di
bidang pemenuhan kebutuhan berpengaruh sekali terhadap upaya
memahami motivasi manusia. Sebagian dari teorinya yang penting
didasarkan atas asumsi bahwa dalam diri manusia terdapat dorongan
positif untuk tumbuh dan kekuatan-kekuatan yang melawan atau
menghalangi pertumbuhan (Rumini, dkk. 1993).
Maslow berpendapat, bahwa manusia memiliki hierarki
kebutuhan yang dimulai dari kebutuhan jasmaniah-yang paling
asasi- sampai dengan kebutuhan tertinggi yakni kebutuhan estetis.
Kebutuhan jasmaniah seperti makan, minum, tidur dan sex menuntut
sekali untuk dipuaskan. Apabila kebutuhan ini terpuaskan, maka
muncullah kebutuhan keamanan seperti kebutuhan kesehatan dan
kebutuhan terhindar dari bahaya dan bencana. Berikutnya adalah
kebutuhan untuk memiliki dan cinta kasih, seperti dorongan untuk
memiliki kawan dan berkeluarga, kebutuhan untuk menjadi anggota
kelompok, dan sebagainya. Ketidakmampuan memenuhi kebutuhan
ini dapat mendorong seseorang berbuat lain untuk memperoleh
pengakuan dan perhatian, misalnya dia menggunakan prestasi
sebagai pengganti cinta kasih. Berikutnya adalah kebutuhan harga
diri, yaitu kebutuhan untuk dihargai, dihormati, dan dipercaya oleh
orang lain.
Apabila seseorang telah dapat memenuhi semua kebutuhan
yang tingkatannya lebih rendah tadi, maka motivasi lalu diarahkan
kepada terpenuhinya kebutuhan aktualisasi diri, yaitu kebutuhan
100

Psikologi Humanistik ... (Ratna Syifa’a Rachmahana)
untuk mengembangkan potensi atau bakat dan kecenderungan
tertentu. Bagaimana cara aktualisasi diri ini tampil, tidaklah sama
pada setiap orang. Sesudah kebutuhan ini, muncul kebutuhan untuk
tahu dan mengerti, yakni dorongan untuk mencari tahu, memperoleh
ilmu dan pemahaman. Sesudahnya, Maslow berpendapat adanya
kebutuhan estetis, yakni dorongan keindahan, dalam arti kebutuhan
akan keteraturan, kesimetrisan dan kelengkapan.
Maslow membedakan antara empat kebutuhan yang pertama
dengan tiga kebutuhan yang kemudian. Keempat kebutuhan yang
pertama disebutnya
(kebutuhan yang timbul karena
kekurangan), dan pemenuhan kebutuhan ini pada umumnya
bergantung pada orang lain. Sedangkan ketiga kebutuhan yang
lain dinamakan growth need (kebutuhan untuk tumbuh) dan
pemenuhannya lebih bergantung pada manusia itu sendiri.
Implikasi dari teori Maslow dalam dunia pendidikan sangat
penting. Dalam proses belajar-mengajar misalnya, guru mestinya
memperhatikan teori ini. Apabila guru menemukan kesulitan
untuk memahami mengapa anak-anak tertentu tidak mengerjakan
pekerjaan rumah, mengapa anak tidak dapat tenang di dalam kelas,
atau bahkan mengapa anak-anak tidak memiliki motivasi untuk
belajar. Menurut Maslow, guru tidak bisa menyalahkan anak atas
kejadian ini secara langsung, sebelum memahami barangkali ada
proses tidak terpenuhinya kebutuhan anak yang berada di bawah
kebutuhan untuk tahu dan mengerti. Bisa jadi anak-anak tersebut
belum atau tidak melakukan makan pagi yang cukup, semalam tidak
tidur dengan nyenyak, atau ada masalah pribadi / keluarga yang
membuatnya cemas dan takut, dan lain-lain.
2. Carl R. Rogers
Carl R. Rogers adalah seorang ahli psikologi humanistik yang
gagasan-gagasannya berpengaruh terhadap pikiran dan praktek
psikologi di semua bidang, baik klinis, pendidikan, dan lain-lain.
Lebih khusus dalam bidang pendidikan, Rogers mengutarakan
pendapat tentang prinsip-prinsip belajar yang humanistik, yang
meliputi hasrat untuk belajar, belajar yang berarti, belajar tanpa
ancaman, belajar atas inisiatif sendiri, dan belajar untuk perubahan
(Rumini,dkk. 1993).
Adapun penjelasan konsep masing-masing prinsip tersebut
adalah sebagai berikut :
a. Hasrat untuk Belajar
101

NO. 1. VOL. I. 2008

Menurut Rogers, manusia mempunyai hasrat alami untuk belajar.
Hal ini terbukti dengan tingginya rasa ingin tahu anak apabila
diberi kesempatan untuk mengeksplorasi lingkungan. Dorongan
ingin tahu untuk belajar ini merupakan asumsi dasar pendidikan
humanistik. Di dalam kelas yang humanistik anak-anak diberi
kesempatan dan kebebasan untuk memuaskan dorongan ingin
tahunya, untuk memenuhi minatnya dan untuk menemukan
apa yang penting dan berarti tentang dunia di sekitarnya.
b. Belajar yang Berarti

Belajar akan mempunyai arti atau makna apabila apa yang
dipelajari relevan dengan kebutuhan dan maksud anak. Artinya,
anak akan belajar dengan cepat apabila yang dipelajari mempunyai
arti baginya.
c. Belajar Tanpa Ancaman

Belajar mudah dilakukan dan hasilnya dapat disimpan dengan
baik apabila berlangsung dalam lingkungan yang bebas ancaman.
Proses belajar akan berjalan lancer manakala murid dapat menguji
kemampuannya, dapat mencoba pengalaman-pengalaman baru
atau membuat kesalahan-kesalahan tanpa mendapat kecaman
yang bisaanya menyinggung perasaan.
d. Belajar atas Inisiatif Sendiri

Belajar akan paling bermakna apabila hal itu dilakukan atas
inisiatif sendiri dan melibatkan perasaan dan pikiran si pelajar.
Mampu memilih arah belajarnya sendiri sangatlah memberikan
motivasi dan mengulurkan kesempatan kepada murid untuk
“belajar bagaimana caranya belajar” (to learn how to learn ).
Tidaklah perlu diragukan bahwa menguasai bahan pelajaran itu
penting, akan tetapi tidak lebih penting daripada memperoleh
kecakapan untuk mencari sumber, merumuskan masalah,
menguji hipotesis atau asumsi, dan menilai hasil. Belajar atas
inisiatif sendiri memusatkan perhatian murid baik pada proses
maupun hasil belajar.

Belajar atas inisiatif sendiri juga mengajar murid menjadi bebas,
tidak bergantung, dan percaya pada diri sendiri. Apabila murid
belajar atas inisiatif sendiri, ia memiliki kesempatan untuk
menimbang-nimbang dan membuat keputusan, menentukan
pilihan dan melakukan penilaian. Dia menjadi lebih bergantung
pada dirinya sendiri dan kurang bersandar pada penilaian pihak
lain.

Di samping atas inisiatif sendiri, belajar juga harus melibatkan
102

Psikologi Humanistik ... (Ratna Syifa’a Rachmahana)
semua aspek pribadi, kognitif maupun afektif. Rogers dan para
ahli humanistik yang lain menamakan jenis belajar ini sebagai
belajar dengan seluruh pribadi, belajar
dengan pribadi yang utuh. Para ahli humanistik percaya, bahwa
belajar dengan tipe ini akan menghasilkan perasaan memiliki
(feeling of belonging ) pada diri murid. Dengan demikian, murid
akan merasa terlibat dalam belajar, lebih bersemangat menangani
tugas-tugas dan yang terpenting adalah senantiasa bergairah
untuk terus belajar.
e. Belajar dan Perubahan
Prinsip terakhir yang dikemukakan oleh Rogers ialah bahwa
belajar yang paling bermanfaat ialah bejar tentang proses belajar.
Menurut Rogers, di waktu-waktu yang lampau murid belajar
mengenai fakta-fakta dan gagasan-gagasan yang statis. Waktu
itu dunia lambat brerubah, dan apa yang diperoleh di sekolah
sudah dipandang cukup untuk memenuhi tuntutan zaman.
Saat ini perubahan merupakan fakta hidup yang sentral. Ilmu
Pengetahuan dan Teknologi selalu maju dan melaju. Apa yang
dipelajari di masa lalu tidak dapat membekali orang untuk hidup
dan berfungsi baik di masa kini dan masa yang akan dating.
Dengan demikian, yang dibutuhkan saat ini adalah orang yang
mampu belajar di lingkungan yang sedang berubah dan akan
terus berubah.
3. Arthur Combs
Perasaan, persepsi, keyakinan dan maksud merupakan
perilaku-perilaku batiniah yang menyebabkan seseorang berbeda
dengan yang lain. Agar dapat memahami orang lain, seseorang harus
melihat dunia orang lain tersebut, bagaimana ia berpikir dan merasa
tentang dirinya. Itulah sebabnya, untuk mengubah perilaku orang
lain, seseorang harus mengubah persepsinya.
Menurut Combs, perilaku yang keliru atau tidak baik terjadi
karena tidak adanya kesediaan seseorang melakukan apa yang
seharusnya dilakukan sebagai akibat dari adanya sesuatu yang
lain, yang lebih menarik atau memuaskan. Misalkan guru mengeluh
murid-muridnya tidak berminat belajar, sebenarnya hal itu karena
murid-murid itu tidak berminat melakukan apa yang dikehendaki
oleh guru. Kalau saja guru tersebut lalu mengadakan aktivitas-
aktivitas yang lain, barangkali murid-murid akan berubah sikap
dan reaksinya (Rumini, dkk. 1993).
103

NO. 1. VOL. I. 2008
Sesungguhnya para ahli psikologi humanistik melihat dua
bagian belajar, yaitu diperolehnya informasi baru dan personalisasi
informasi baru tersebut. Adalah keliru jika guru berpendapat bahwa
murid akan mudah belajar kalau bahan pelajaran disusun dengan
rapi dan disampaikan dengan baik, sebab arti dan maknanya tidak
melekat pada bahan pelajaran itu; murid sendirilah yang mencerna
dan menyerap arti dan makna bahan pelajaran tersebut ke dalam
dirinya. Yang menjadi masalah dalam mengajar bukanlah bagaimana
bahan pelajaran itu disampaikan, tetapi bagaimana membantu murid
memetik arti dan makna yang terkandung di dalam bahan pelajaran
tersebut, yakni apabila murid dapat mengaitkan bahan pelajaran
tersebut dengan hidup dan kehidupan mereka, guru boleh bersenang
hati bahwa missinya telah berhasil.
Semakin jauh hal-hal yang terjadi di luar diri seseorang
(dunia) dari pusat lingkaran lingkaran (persepsi diri), semakin kurang
pengaruhnya terhadap seseorang. Sebaliknya, semakin dekat hal-hal
tersebut dengan pusat lingkaran, maka semakin besar pengaruhnya
terhadap seseorang dalam berperilaku. Jadi jelaslah mengapa banyak
hal yang dipelajari oleh murid segera dilupakan, karena sedikit sekali
kaitannya dengan dirinya.
4. Aldous Huxley
Manusia memiliki banyak potensi yang selama ini banyak
terpendam dan disia-siakan. Pendidikan diharapkan mampu
membantu manusia dalam mengembangkan potensi-potensi
tersebut, oleh karena itu kurikulum dalam proses pendidikan harus
berorientasi pada pengembangan potensi, dan ini melibatkan semua
pihak, seperti guru, murid maupun para pemerhati ataupun peneliti
dan perencana pendidikan.
Huxley (Roberts, 1975) menekankan adanya pendidikan
non-verbal yang juga harus diajarkan kepada siswa. Pendidikan
non verbal bukan berwujud pelajaran senam, sepak bola, bernyanyi
ataupun menari, melainkan hal-hal yang bersifat diluar materi
pembelajaran, dengan tujuan menumbuhkan kesadaran seseorang.
Proses pendidikan non verbal seyogyanya dimulai sejak usia dini
sampai tingkat tinggi.
Betapapun, agar seseorang bisa mengetahui makna hidup
dalam kehidupan yang nyata, mereka harus membekali dirinya
dengan suatu kebijakan hidup, kreativitas dan mewujudkannya
dengan langkah-langkah yang bijaksana. Dengan cara ini seseorang
104

Psikologi Humanistik ... (Ratna Syifa’a Rachmahana)
akan mendapatkan kehidupan yang nikmat dan penuh arti.
Berbekal pendidikan non verbal, seseorang akan memiliki banyak
strategi untuk lebih tenang dalam menapaki hidup karena memiliki
kemampuan untuk menghargai setiap pengalaman hidupnya dengan
lebih menarik. Akhirnya apabila setiap manusia memiliki kemampuan
ini, akan menjadi sumbangan yang berarti bagi kebudayaan dan
moral kemanusiaan.
5. David Mills dan Stanley Scher
Ilmu Pengetahuan Alam selama bertahun-tahun hanya dibahas
dan dipelajari secara kognitif semata, yakni sebagai akumulasi
dari fakta-fakta dan teori-teori. Padahal, bagaimanapun, praktek
dari ilmu pengetahuan selalu melibatkan elemen-elemen afektif
yang meliputi adanya kebutuhan akan pengetahuan, penggunaan
intuisi dan imajinasi dalam usaha-usaha kreatif, pengalaman yang
menantang, frustasi, dan lain-lain. Berdasarkan fenomena tersebut,
David Mills dan Stanley Scher (Roberts, 1975) mengajukan konsep
pendidikan terpadu, yakni proses pendidikan yang mengikutsertakan
afeksi atau perasaan murid dalam belajar.
Metode afektif yang melibatkan perasaan telah bisaa diterapkan
pada murid-murid untuk pelajaran IPS, Bahasa dan Seni. Sebetulnya
ahli yang memulai merintis usaha ini adalah George Brown, namun
kedua ahli ini kemudia mencoba melakukan riset yang bertujuan
menemukan aplikasi yang lebih real dalam usaha tersebut.
Penggunaan pendekatan terpadu ini dilakukan dalam pembelajaran
IPA, pendidikan bisnis dan bahkan otomotif.
Pendekatan terpadu atau
merupakan
sintesa dari Psikologi Humanistik –khususnya Terapi Gestalt- dan
pendidikan, yang melibatkan integrasi elemen-elemen afektif dan
kognitif dalam proses belajar. Elemen kognitif menunjuk pada
berpikir, kemampuan verbal, logika, analisa, rasio dan cara-cara
intelektual, sedangkan elemen afektif menunjuk pada perasaan, cara-
cara memahami yang melibatkan gambaran visual-spasial, fantasi,
persepsi keseluruhan, metaphor, intuisi, dan lain-lain.
Tujuan umum dari pendekatan ini adalah mengembangkan
kesadaran murid-murid terhadap dirinya sendiri dan dunia
sekitarnya, serta meningkatkan kemampuan untuk menggunakan
kesadaran ini dalam menghadapi lingkungan dengan berbagai cara,
menerima petunjuk-petunjuk internal dan menerima tanggung jawab
bagi setiap pilihan mereka. Fungsi guru dalam pendekatan terpadu
105

NO. 1. VOL. I. 2008
adalah untuk lebih membebaskan murid dari ketergantungan
kepada guru, dengan tujuan akhir mengembangkan responsibilitas
murid untuk belajar sendiri. Guru hanya membantu mereka dengan
memberikan pilihan-pilihan yang masuk akal bagi pikiran mereka,
dan jika perlu guru bisa menolak memberikan bantuan untuk hal-
hal yang bisa ditangani oleh murid sendiri.
Lebih jauh, David Mills dan Stanley Scher memaparkan tujuan
pendidikan terpadu ini secara detail sebagai berikut :
a. Membantu murid untuk mengalami proses ilmu pengetahuan,
termasuk penemuan ide-ide baru, baik proses intelektual maupun
afektif.
b. Membantu murid dalam mencapai kemampuan untuk menggali
dan mengerti diri mereka sendiri dan lingkungan sekitarnya
dengan cara yang ilmiah.
c. Meningkatkan pengertian dan ingatan terhadap konsep-konsep
dan ide-ide dalam ilmu pengetahuan.
d. Menggali bersama-sama murid, implikasi-implikasi dari aplikasi
yang mungkin dari ilmu pengetahuan.
e. Memungkinkan murid untuk menerapkan baik proses maupun
pengetahuan ilmiah untuk diri mereka, serta meningkatkan
kesadaran murid terhadap dunia mereka dan setiap pilihan yang
mereka ambil.
Penerapan metode gabungan antara kognitif dan afektif ini
menunjukkan hasil yang lebih efektif dibanding pengajaran yang
hanya menekankan aspek kognitif. Para siswa merasa lebih cepat
menangkap pelajaran dengan menggunakan fantasi, role playing dan
game , misalnya mengajarkan teori Newton dengan murid berperan
sebagai astronot.
C. Aplikasi Aliran Humanistik Dalam Pendidikan
Humanisme dalam Islam sebenarnya sudah terumuskan
dalam konsep khalifatullah dalam Islam. Untuk mengerti konsep
ini bisa dilacak pada sumber dasar Islam surat Al-Baqarah (2): 30-
32; yang substansinya ada tiga hal decara jelas diterangkan, yaitu:
(1) manusia adalah pilihan Tuhan; (2) keberadaan manusia dengan
segala kelebihannya dimaksudkan sebagai wakil Tuhan di atas bumu
(
), dan (3) manusia adalah pribadi yang bebas
yang menanggung segala risiko atas perbuatannya.
Terkait dengan konsep di atas, sistem pengajaran di lembaga
106

Psikologi Humanistik ... (Ratna Syifa’a Rachmahana)
pendidikan, termasuk lembaga pendidikan Islam yang bermasalah,
paling tidak ditandai oleh beberapa hal berikut: (1) pengajaran materi
secara umum termasuk pengajaran agama belum mampu melahirkan
creativity. Akar masalah di sini terletak pada satu kenyataan bahwa
bahan pengajaran di kurikulum kita terlalu overload; (2) morality
atau akhlak di sekolah umum masih menjadi masalah utama, dan
(3) punishment atau hukuman dalam berbagai bentuk lebih tampak
dari reward atau penghargaan.
Berikut banyak sekali hal-hal yang merupakan aplikasi dari
teori-teori humanistik, walaupun hanya akan ditampilkan sebagian
aplikasi dalam proses pembelajaran, dikarenakan keterbatasan
ruang dan waktu.
1. Open Education atau Pendidikan Terbuka
Pendidikan Terbuka adalah proses pendidikan yang memberikan
kesempatan kepada murid untuk bergerak secara bebas di sekitar
kelas dan memilih aktivitas belajar mereka sendiri. Guru hanya
berperan sebagai pembimbing. Ciri utama dari proses ini adalah
murid bekerja secara individual atau dalam kelompok-kelompok
kecil. Dalam proses ini mensyaratkan adanya pusat-pusat belajar
atau pusat-pusat kegiatan di dalam kelas yang memungkinkan murid
mengeksplorasi bidang-bidang pelajaran, topik-topik, ketrampilan-
ketrampilan atau minat-minat tertentu. Pusat ini dapat memberikan
petunjuk untuk mempelajari suatu topik tanpa hadirnya guru dan
dapat mencatat partisipasi dan kemajuan murid untuk nantinya
dibicarakan dengan guru (Rumini, 1993).
Adapun kriteria yang disyaratkan dengan model ini adalah
sebagai berikut :
a. Tersedia fasilitas yang memudahkan proses belajar, artinya
berbagai macam bahan yang diperlukan untuk belajar harus
ada. Murid tidak dilarang untuk bergerak secara bebas di ruang
kelas, tidak dilarang bicara, tidak ada pengelompokan atas dasar
tingkat kecerdasan.
b. Adanya suasana penuh kasih sayang, hangat, hormat dan
terbuka. Guru menangani masalah-masalah perilaku dengan jalan
berkomunikasi secara pribadi dengan murid yang bersangkutan,
tanpa melibatkan kelompok.
c. Adanya kesempatan bagi guru dan murid untuk bersama-
sama mendiagnosis peristiwa-peristiwa belajar, artinya murid
107

NO. 1. VOL. I. 2008
memeriksa pekerjaan mereka sendiri, guru mengamati dan
mengajukan pertanyaan-pertanyaan.
d, Pengajaran yang bersifat individual, sehingga tidak ada tes
ataupun buku kerja
e. Guru mempersepsi dengan cara mengamati setiap proses
yang dilalui murid dan membuat catatan dan penilaian secara
individual, hanya sedikit sekali diadakan tes formal.
f. Adanya kesempatan untuk pertumbuhan professional bagi guru,
dalam arti guru boleh menggunakan bantuan orang lain termasuk
rekan sekerjanya.
g. Suasana kelas yang hangat dan ramah sehingga mendukung
proses belajar yang membuat murid nyaman dalam melakukan
sesuatu.
Perlu untuk diketahui, bahwa penelitian tentang efektivitas
model ini menunjukkan adanya perbedaan dengan proses pendidikan
tradisional dalam hal kreativitas, dorongan berprestasi, kebebasan
dan hasil-hasil yang bersifat afektif secara lebih baik. Akan tetapi dari
segi pencapaian prestasi belajar akademik, pengajaran tradisional
lebih berhasil dibandingkan poses pendidikan terbuka ini.
2. Cooperative Learning atau Belajar Kooperatif
Belajar kooperatif merupakan fondasi yang baik untuk
meningkatkan dorongan berprestasi murid. Dalam prakteknya,
belajar kooperatif memiliki tiga karakteristik :
a. Murid bekerja dalam tim-tim belajar yang kecil (4 – 6 orang
anggota), dan komposisi ini tetap selama beberapa minggu.
b. Murid didorong untuk saling membantu dalam mempelajari
bahan yang bersifat akademik dan melakukannya secara
berkelompok.
c. Murid diberi imbalan atau hadiah atas dasar prestasi
kelompok.
Adapun teknik-teknik dalam belajar koperatif ini ada 4 (empat)
macam, yakni :
a.

Dalam teknik ini murid-murid yang kemampuan dan jenis
kelaminnya berbeda disatukan dalam tim yang terdiri dari empat
sampai lima orang anggota. Setelah guru menyajikan bahan
pelajaran, lalu tim mengerjakan lembaran-lembaran kerja, saling
108

Download
Psikologi Humanistik dan Aplikasinya dalam Pendidikan

 

 

Your download will begin in a moment.
If it doesn't, click here to try again.

Share Psikologi Humanistik dan Aplikasinya dalam Pendidikan to:

Insert your wordpress URL:

example:

http://myblog.wordpress.com/
or
http://myblog.com/

Share Psikologi Humanistik dan Aplikasinya dalam Pendidikan as:

From:

To:

Share Psikologi Humanistik dan Aplikasinya dalam Pendidikan.

Enter two words as shown below. If you cannot read the words, click the refresh icon.

loading

Share Psikologi Humanistik dan Aplikasinya dalam Pendidikan as:

Copy html code above and paste to your web page.

loading