This is not the document you are looking for? Use the search form below to find more!

Report home > Education

sosiologi antropologi

1.00 (1 votes)
Document Description
djunaedi s, MM, MPd - BUTIR-BUTIR BAHAN DISKUSI Untuk Mahasiswa Strata Satu Ma’had Aly Persatuan Islam Cianjur
File Details
  • Added: May, 14th 2011
  • Reads: 862
  • Downloads: 20
  • File size: 287.52kb
  • Pages: 63
  • Tags: sosiologi, antropologi
  • content preview
Submitter
  • Username: budiraspati
  • Name: budiraspati
  • Documents: 77
Embed Code:

Add New Comment




Related Documents

UAS MAIHAD ALI SOSIOLOGI ANTROPOLOGI

by: budiraspati, 1 pages

SOSIOLOGI-ANTROPOLOGI NILAI UAS MA'HAD ALY 1011 SM2 Drs. Djunaedi S, MM, Mpd

SAKRAL [ SACRED] DAN PROFAN [STUDI PEMIKIRAN EMILE DURKHEIM TENTANG SOSIOLOGI AGAMA]

by: bailey, 24 pages

Emile Durkheim, seorang intelektual yang tidak dapat dilespakn dari kontek sosial kultural yang melingkupinya. Penekanannya pada sain dan reformasi sosial, maka Ia dipandang menempati posisi penting ...

ANTROPOLOGI DAN KONSEP KEBUDAYAAN

by: danae, 33 pages

Anthropology is about all human beings, and it is the charge of the Anthropology to tell about human story, not just the good side but also the bad. It should include not just one group of people, ...

SUKSES PENGEMBANGAN HAM BAGI MASYARAKAT LOKAL: PERSPEKTIF ANTROPOLOGI EKONOMI DAN BISNIS

by: joel, 7 pages

Pengembangan Hak Azasi Manusia pada masyarakat adat atau local di kawasan tertentu di Indonesia belum maksimal. Pelanggaran HAM makin sering terjadi, karena benturan kepentingan antara kelompok ...

Konsep Sehat, Sakit dan Penyakit dalam Konteks Sosial Budaya

by: ishaan, 11 pages

Pembangunan kesehatan sebagai salah satu upayapembangunan nasional diarahkan guna tercapainya kesadaran, kemauan, dan kemampuan untuk hidup sehat bagi setiap penduduk agar dapat mewujudkan derajat ...

DI ANTARA AGAMA DAN BUDAYA :

by: jayden, 33 pages

Penyelidikan ini berusaha untuk memahami upacara Peusijuek dalam masyarakat Aceh dari perspektif agama dan budaya. Soalan utama kajian ialah adakah peusijuek itu amalan budaya atau amalan agama? ...

Penataan Lingkungan Sosial bagi Penderita Dimensia (Pikun) dan RTA ...

by: przemek, 12 pages

ulisan ini dapat menambah wawasan dan sangat bermanfaat khususnya bagi para mahasiswa yang tertarik untuk mendalami antropologi psikiatri ataupun bagi warga masyarakat awam dan juga bagi orang-orang ...

NILAI UAS MA'HAD ALY 2011 TKIII/SM6

by: budiraspati, 1 pages

NILAI UAS MA'HAD ALY 1011 SM2- SOSILOGI ANTROPOLOGI Drs, Djunaedi S, MM, MPd

IJCSS - Indonesian Journal on Computer Science - Speed

by: masbambang, 4 pages

1. Media Pembelajaran Interaktif Mata Pelajaran Bahasa Jawa Pokok Bahasan Aksara Jawa Pada Sekolah Menengah Pertama Negeri 2 Tawangsari Kabupaten Sukoharjo Dewi Kartikasari, Gesang Kristianto Nugroho ...

Content Preview


SO
S S
O I
S O
I L
O O
L G
O I
G
I
AN
A T
N R
T O
R P
O O
P L
O O
L G
O I
G



BUTIR-BUTIR BAHAN DISKUSI
Untuk Mahasiswa Strata Satu Ma’had Aly
Persatuan Islam Cianjur









Disusun Oleh :
DJUNAEDI SAJIDIMAN










C I A N J U R
-2009-

I. SOSIOLOGI


A. PENDEKATAN DALAM MENEMUKAN KEBENARAN
1. Ilmu pengetahuan diperoleh bermula dari rasa ingin tahu yang merupakan
suatu ciri manusia yang membedakannya dengan mahluk hidup lain. Rasa
ingin tahu ini karena manusia beri oleh Alloh Swt. akal pikiran di samping
nafsu. Rasa ingin tahu ini asalnya mengenai benda-benda di sekelilingnya,
alam sekitarnya, seperti matahari, bu-lan, bitang yang dilihatnya, bahkan
kemudian ingin tahu tentang dirinya sendiri. Proses ingin tahu ini dilakukan
melalui pikirannya dengan merenung, untuk mencari jawaban apa yang
dilihatnya. Inilah yang disebut ”berfilsafat.”

2. Filsafat berasal dari bahasa Latin, Philos + Sofhia. Philos berarti gemar,
senang, cinta, menekuni, menghayati, mengamalkan. Se-dangkan sofhia
berarti bijak, peduli, berbagi, adil, jujur, berbudi luhur. Dengan demikian
filsafat berarti gemar, senang menekuni, meng-hayati, dan mengamalkan
perilaku bijak. Atau berusaha mengetahui terhadap sesuatu secara men-
dalam (hakikat, fungsi,ciri-ciri, keguna-an, masalah, dan pemecahan terhadap
masalah-masalah). Dari filsa-fat kemudian muncullah pengetahuan, ilmu,
dan ilmu pengetahuan.

3. Pendekatan dalam menemukan kebenaran itu dapat dilakukan melalui
antara lain :
a. Melalui akal sehat (commonsense).
b. Melalui prasangka (praejudice).
c. Melalui naluri/intuisi (instinct).
d. Secara kebetulan.
e. Secara coba-coba (trial and error).
f. Melalui ilham/wahyu.

4. Dari pendekatan-pendekatan itu kemudian menjadi pengetahuan hasil
pemikiran asosiatif yang menghubungkan atau menjalin se-
buah pikiran dengan pikiran lain berdasarkan pengalaman yang berulang-
ulang tanpa pemahaman kausalitas. Apabila disertai pema-haman
kausalitas (sebab-akibat) dari suatu obyek tertentu menurut metoda dan
sistematis, maka jadilah ilmu.

5. Dikatakan ilmu apabila mempunyai ciri-ciri :
a. Bersifat empirik dapat dibuktikan dengan panca indera.
b. Rasional hubungan kausalitasnya jelas.
c. Bersifat umum universal.
d. Akumulatif tumbuh dan berkembang dari masa ke masa
(mengoreksi).

6. Ilmu pengetahuan :
a. Sekelompok pengetahuan yang terorganisasi dan sistematis yang
mempelajari gejala-gejala alam dan sosial melalui eksperi-men dan
pengamatan.

b. Suatu obyek ilmiah yang memiliki sekelompok prinsip, dalil, dan ru-mus
yang melalui percobaan-percobaan yang sistematis dilakukan berulangkali
dan teruji kebenarannya, dapat diajarkan dan dipela-jari. (S.P. Siagian).

Bagan Pembagian Ilmu :
- Matematika
- Fisika
Ilmu-ilmu Eksakta - Kimia
- Statistika
- Teknik Kalkulus, dsb.

- Sejarah
- Hukum
- Psikologi
FILSAFAT Ilmu-ilmu Sosial - Ekonomi
- Politik
- Sosiologi
- Antropologi
- Administrasi, dsb.

- Seni Sastra
- Seni Tari
Humaniora - Seni Suara
- Seni Musik
- Seni Lukis
- Seni Patung, dsb.


B. PENGERTIAN SOSIAL
1. Sosial masyarakat (kumpulan individu), karena semua individu tidak
dapat hidup dalam keterpencilan selama-lamanya :
- saling membutuhkan, bahkan saling ketergantungan;
- terbentuk kerjasama;
- sebagai suatu sistem.
Dengan demikian manusia dapat dikatakan sebagai mahluk sosial (zoon
politicon).

2. Pengertian masyarakat meliputi :
a. Manusia yang hidup bersama (dua orang atau lebih);
b. Bercampur untuk waktu yang lama, sampai lahir manusia baru,
berinteraksi, saling memahami satu sama lain, yang kemudian
menimbulkan norma-norma yang mengatur hubungan antar manusia
dalam kelompok itu;
c. Menyadari akan persamaan maupun perbedaan;
d. Suatu sistem hidup bersama, yang menimbulkan hasil budi dan daya
kebudayaan.
Dari sini muncul :

1) Nilai :

- Sesuatu yang berharga, berguna, indah, memperkaya batin
(menyadarkan manusia akan harkat martrabatnya);
- Keberhargaan (worth) atau kebaikan (goodness);
- Kemampuan yang ada pada suatu benda untuk memuaskan
manusia;
- Sifat yang melekat pada suatu obyek tetapi bukan obyeknya itu
sendiri.

2) Moral (mos, mores) :
- Kesusilaan, kelakuan, tabiat, budi pekerti;
- Keseluruhan norma yang menentukan baik buruknya sikap dan
perbuatan manusia;
- Dalam wujudnya berupa aturan-aturan (norma).

3) Etika :
- Suatu pemikiran kritis dan mendasar tentang ajaran-ajaran dan
pandangan-pandangan moral;
- Ilmu yang membahas bagaimana dan mengapa kita harus
mengambil sikap yang bertanggung jawab bila berhadapan dengan
berbagai ajaran moral;
- Membicarakan hal-hal yang bertakitan dengan predikat ”susila” dan
”tidak susila” atau ”baik” dan ”buruk”.

4) Norma :
- Petunjuk tingkah laku yang harus dijalankan dalam kehidupan
sehari-hari;
- Suatu kesadaran dan sikap luhur yang dikehendaki oleh tata nilai
untuk dipatuhi;
- Aturan-aturan baik tertulis maupun tidak tertulis agar nilai-nilai bisa
diwujudkan dengan baik dalam kehidupan;
- Wujudnya : Norma kesusilaan, norma kesopanan, norma agama,
norma hukum, dll.

3. Syarat utama terjadinya proses sosial adalah interaksi, baik interaksi
perorangan, perorangan dengan kelompok, maupun antar kelompok.

4. Setiap kumpulan individu menurut Narwoko dan Suyanto (2007:23) tidak
otomatis disebut kelompok sosial, selama belum memenuhi sya-rat antara
lain :
a. Setiap individu harus merupakan bagian dari kesatuan sosial;
b. Terdapat hubungan timbal balik di antara individu-individu yang ter-gabung
dalam kelompok;
c. Adanya faktor-faktor yang sama dan dapat mempererat hubungan mereka
yang tergabung dalam kelompok, misalnya nasib yang sama, kepentingan
yang sama, tujuan yang sama, dsb.
d. Berstruktur, berkaidah, dan mempunyai pola perilaku;
e. Bersistem dan berproses.

5. Berlangsungnya proses interaksi adalah melalui imitasi, sugesti, iden-tifikasi,
dan simpati.

a. Imitasi peniruan (bisa baik bisa buruk);
b. Sugesti pengaruh;
c. Identifikasi mencari jatidiri dengan proses imitasi maupun sugesti
(keinginan untuk menjadi sama/identik dengan orang yang diidolakan);
d. Simpati ketertarikan kepada orang/pihak lain.

6. Dalam penerapannya ilmu sosial memiliki arti yang berbeda-beda. Di-
katakan :
a. Ilmu Sosial jika obyek yang dipelajari adalah masyarakat;
b. Sosialisme suatu ideologi yang berprinsip kepemilikan umum atas
alat-alat produksi dan jasa dalam bidang ekonomi;
c. Sosial dalam Departemen Sosial kegiatan-kegiatan di la-pangan sosial
yang ditujukan untuk mengatasi persoalan-persoalan yang dihadapi
masyarakat berkaitan dengan kesejahteraannya, misal-nya :
- Tunawisma tidak memiliki rumah tempat tinggal;
- Tunakarya tidak memiliki pekerjaan (menganggur);
- Tunasusila tidak memiliki kesusilaan (germo, pelacur);
- Orang jompo orang tua yang sudah tidak memiliki apa-apa;
- Yatim piatu anak yang tidak memiliki ayah dan ibu;
- Dsb.


C. PENGERTIAN SOSIOLOGI
1. Secara terminologis, sosiologi berasal dari bahasa Latin, Socius + Logos.
Socius berati kawan, berkawan, bermasyarakat. Sedangkan Logos berarti
ilmu, berbicara tentang sesuatu. Jadi, sosiologi adalah ilmu tentang
masyarakat. Akan tetapi sulit dirumuskan dalam suatu definisi karena
cakupannya yang sangat luas (menyangkut sifat, hakikat, bentuk, isi, struktur,
proses, dll.) sehingga definisi yang ada sifatnya sementara saja.

2. Di bawah ini disajikan definisi-definisi yang dikemukakan oleh pa-ra ahli
tentang sosiologi :

a. P. Sorokin (1928:760-761) :
Sosiologi adalah suatu ilmu tentang hubungan dan pengaruh timbal balik
antara aneka macam gejala sosial. Contoh : Ekonomi dengan
nonekonomi, seperti agama, keluarga dengan moral, hukum dengan
ekonomi, dsb.

b. William Ogburn & Meyer F. Nimkoff (1959:12-13) :
Sosiologi adalah penelitian secara ilmiah terhadap interaksi sosial dan
hasilnya organisasi sosial.

c. Roucekj & Warren (1962:3) :
Sosiologi adalah ilmu tentang hubungan antara manusia dalam kelompok-
kelompoknya.

d. J.A.A. van Doom & C.J. Lammers (1964:24) :

Sosiologi adalah ilmu tentang struktur-struktur dan proses-proses
kemasayarakatan yang bersifat stabil.

e. Meta Spencer & Alex Inkeles (1982:4) :
Sosiologi adalah ilmu tentang kelompok hidup manusia.

f. David Popenoe (1983:107-108) :
Sosiologi adalah ilmu tentang interaksi manusia dalam masyarakat
sebagai suatu keseluruhan.

g. Selo Sumardjan & S. Soemardi (1982:14) :
Sosiologi adalah ilmu tentang struktur sosial dan proses-proses sosial,
termasuk perubahan-perubahan sosial :
- Jalinan antar unsur-unsur sosial;
- Kaidah-kaidah (norma);
- Lembaga-lembaga sosial paguyuban (gemeinschaft), patem-bayan
(gesselschaft);
- Kelompok-kelompok;
- Proses sosial pengaruh timbal balik antar berbagai segi kehidupan
bersama (ekonomi, politik, sosial-budaya, agama, hu-kum, dsb.).

Dari definisi-definisi di atas kiranya dapat disimpulkan bahwa :
”Sosiologi adalah disiplin ilmu tentang interaksi sosial, kelompok sosial,
gejala-gejala sosial, organisasi sosial, struktur sosial, proses sosial, maupun
perubahan-perubahan sosial.”


3. Obyek kajian sosiologi adalah masyarakat dan perilaku sosial manu-sia
dengan meneliti kelompok-kelompoknya. (Ogburn & Nimkoff, 1959:13).
Kelompok-kelompok dimaksud mencakup :
a. Keluarga;
b. Etnis;
c. Suku bangsa;
d. Komunitas pemerintahan;
e. Organisasi sosial;
f. Agama;
g. Politik;
h. Budaya;
i. Bisnis, dsb.

4. Karakteristik sosiologi (Soekanto, 1986:17) adalah :
a. Sosiologi merupakan bagian dari ilmu sosial, bukan dari bagian ilmu
pengetahuan alam dan kerohanian;
b. Sosiologi bukan merupakan disiplin yang normatif, tetapi bersifat kategoris,
artinya :
- membatasi pada apa yang terjadi, bukan pada apa yang mesti terjadi;
- tidak menilai baik dan buruk, apa yang benar atau apa yang salah;
- Jadi, karenanya dapat dikatakan sebagai ilmu yang murni.

c. Sosiologi bertujuan menghasilkan pengertian-pengertian dan pola-pola
umum (nomotetik), yaitu mencari apa yang menjadi prinsip-prinsip atau
hukum-hukum umum yang terjadi dalam interaksi antar manusia maupun
kelompok sifat, hakikat, bentuk, isi, struktur, dan proses dari
masyarakat manusia.
d. Sosiologi merupakan ilmu sosial yang empiris, faktual, rasional
(jelas nyata).
e. Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang abstrak bahan kajian
yang diperhatikan adalah bentuk-bentuk dan pola-pola peristiwa
masyarakat, bukan wujud masyarakatnya yang konkrit.
f. Sosilogi merupakan ilmu pengetahuan yang menghasilkan penger-tian-
pengertian dan pola-pola umum.

5. Kegunaan sosiologi : Secara praktis untuk mengetahui, mengiden-tifikasi, dan
mengatasi problem sosial (Soekanto, 1986:340). Problem sosial
dilihat dari fokus kajian secara makro, yang dibedakan berdasarkan bidang-
bidang keilmuan. Contoh :
a. Yang berasal dari faktor ekonomi kemiskinan dan pengang-guran, dsb.
b. Yang berasal dari faktor kesehatan terjangkitnya penyakit me-nular,
rendahnya angka harapan hidup, tingginya angka kema-tian, dsb.
c. Yang berasal dari faktor psikologis meningkatnya fenomena neurosis
(sakit syaraf), tingginya penderita stress, dsb.
d. Yang berasal dari faktor politik tersumbatnya aspirasi politik massa,
meningkatnya sistem pemerintahan yang otorioter, tidak berfungsinya
lembaga-lembaga negara, dsb.
e. Yang berasal dari faktor hukum korupsi, meningkatnya angka
kejahatan, tawuran, perkosaan, kenakalan remaja (juvenil deli-cuency),
white collar crime” (kejahatan kerah putih), dsb.

Dari fokus kajian mikro, berfungsi memberikan informasi untuk meng- atasi
masalah-masalah keluarga perpecahan :
a. Krisis keluarga yang mengakibatkan perceraian;
b. Broken home, dsb.

6. Ruang lingkup sosiologi dapat dibedakan menjadi beberapa sub disip-lin
sosiologi (Supardan, 2008:78), yaitu :
a. Sosiologi Pedesaan (Rural Sociology);
b. Sosiologi Industri (Industrial Sociology);
c. Sosiologi Perkotaan (Urban Sociology);
d. Sosiologi Medis (Medical Sociology);
e. Sosiologi Wanita (Women Sociology);
f. Sosiologi Militer (Militery Sociology);
g. Sosiologi Keluarga (Family Sociology);
h. Sosiologi Pendidikan (Educational Sociology);
i. Sosiologi Seni (Art’s Sociology/Sociology of Arts).


D. SEJARAH TEORI SOSIOLOGI


Sosiologi sebagai suatu ilmu pengetahuan pertama kali dikemukakan oleh
Auguste Comte (1798-1853). Akan tetapi sebetulnya penelitian tentang
masyarakat secara sistematis sebelumnya pun telah ada. Penelitian masyarakat
sebelum Comte dimaksud, antara lain :

1. Plato (429-347 sM) seorang filsuf Romawi, menelaah masyarakat secara
sistematis dengan merumuskan teori organis yang mencakup bidang
kehidupan ekonomi dan sosial.

2. Aristoteles (384-322 sM) melakukan analisis terhadap lembaga-lembaga
politik dalam masyarakat.

3. Ibn Khaldun (1332-1406) seorang filsuf Arab mengemukakan bebe-rapa
prinsip pokok untuk menafsirkan kejadian sosial dan peristiwa dalam sejarah.

4. Zaman Renaissance :
a. Thomas More dan Campanella mengemukakan tentang masyara-kat
ideal;
b. Niccolo Machiavelli mengemukakan bagaimana cara memperta-hankan
kekuasaan.

5. Thomas Hobbes (1588-1679) mengemukakan keadaan alamiah manusia
yang didasari pada keinginan-keinginan mekanis sehingga manusia selalu
saling berkelahi.

6. John Locke (1632-1704) dan J.J. Rousseau (1712-1778) mengemu-kakan
tentang kontrak sosial, yaitu kontrak antara warga masyarakat dengan
penguasa atas dasar pamrih. Jika penguasa yang mempu-nyai wewenang
gagal memenuhi syarat-syarat kontrak, maka warga berhak memilih pihak
lain.

7. Saint Simon (1760-1825) mengemukakan bahwa manusia hendaknya
dipelajari dalam kehidupan berkelompoak.

Auguste Comte memakai istilah sosiologi dalam penelitian masyarakat dan
membedakan antara ruang lingkup dan isi sosiologi dengan ilmu-ilmu
pengetahuan lainnya.

Menurut Comte, terdapat tiga tahap perkembangan intelektual manusia yang
masing-masing merupakan tahap perkembangan sebelumnya, yaitu :

1. Tahap Teologis dan Fiktif manusia menafsirkan gejala-gejala yang ada di
sekelilingnya dikendalikan oleh roh dewa-dewa atau Tuhan.

2. Tahap Metafisik dalam setiap gejala terdapat kekuatan-kekuatan atau inti
tertentu yang pada akhirnya dapat diungkap.
3. Taham Menemukan Hukum Alam tugas ilmu pengetahuan positif untuk
memecahkannya.


Ilmu pengetahuan positif apabila ilmu pengetahuan tersebut memu-satkan
perhatian pada gejala-gejala yang nyata/konkrit, tanpa ada halangan dan
pertimbangan-pertimbangan lain.

Dibedakan antara sosiologi statis dan sosiologi dinamis. Sosiologi statis
memusatkan perhatian pada hukum-hukum statis yang menjadi dasar dari
adanya masyarakat. Bahwa gejala sosial saling berkaitan, karena itu yang
dipelajari harus seluruh gejala sosial tidak sendiri-sendiri. Unit sosial yang
terpenting bukan individu melainkan keluarga. Agar suatu masyarakat
berkembang simpati, maka harus diganti dengan dengan kooperasi yang hanya
mungkin jika ada pembagian kerja.
Sedangkan sosiologi dinamis merupakan teoiri tentang perkembangan dalam arti
pembangunan, ditandai dengan tingkat intelegensia yang rendah ke tingkat yang
tinggi.
Teori sosiologi sesudah Comte dibagi menjadi beberapa mazhab :

1. Mazhab Geografi dan Lingkungan.
Tokohnya adalah Edward Buckle (1821-1862) dan Le Plag (1806-1888).
Mazhab ini mengungkapkan bahwa masyarakat bisa berkem-bang jika ada
tempat berpijak dan tempat untuk hidup.
2. Mazhab Organis dan Evolusioner.
Tokohnya Herbert Spencer (1820-1903) dan W.G. Summer (1840-1910).
Mazhab ini menganalogikan antara masyarakat dengan organisme manusia
dan kebiasaan sosial yang timbul secara tak sadar (folkway).

3. Mazhab Formal.
Tokohnya Georg Simmel (1858-1918) yang terpengaruh oleh Emmanuel
Kant, dan Leopold von Wiese (1876-1961). Mazhab ini mengemukakan :
a. Untuk menjadi warga masyarakat perlu mengalami proses indivi-dualisasi
dan sosialisasi;
b. Sosialisasi memusatkan perhatian pada hubungan antar manusia tanpa
mengaitkan dengan tujuan maupun kaidah.

4. Mazhab Psikologi.
Tokohnya Gabriel Tarde (1843-1904) yang menjelaskan bahwa gejala sosial
karena reaksi psikis seseorang. Richard H. Cooley (1864-1924)
mengembangkan konsep primary group (hubungan antar pribadi dalam
kelompok yang dekat sekali). Sementara L.T. Hobhause (1864-1883)
memusatkan perhatian pada kondisi psikologis kehidupan sosial.

5. Mazhab Ekonomi.
Tokohnya Karl Marx (1818-1883) yang mempergunakan metode sejarah dan
filsafat untuk membangun suatu teori perubahan, menuju keadaan di mana
ada keadilan. Selama masyarakat terbagi atas kelas-kelas, maka kelas yang
berkuasalah akan terhimpun segala kekuatan dan kekayaan. Karena itu
kelas-kelas harus dihapuskan dalam masyarakat. Kelas yang kuat (Borjuis)
dan kelas tertindas (Proletar). Kelas tertindaslah perjuangannya yang harus
menang sehingga tidak ada lagi kelas. Inilah yang disebut komunal, yang
nantinya menjadi komunis. Pemikiran Karl Marx ini kemudian dikembangkan
oleh Lenin dan Stalin di Rusia, dan Mao Tse Tung (Mao Zedong) di China.


Tokoh lainnya adalah Max Weber (1864-1920) yang mengemukakan bahwa
semua bentuk organisasi sosial harus diteliti menurut perilaku warga yang
motivasinya serasi dengan harapan-harapannya. Diungkapkannya empat
tipe ideal aksi sosial sebagai berikut :
a. Aksi yang bertujuan tingkah laku yang ditujukan untuk mendapatkan
hasil-hasil yang efisien;
b. Aksi yang berisi nilai yang telah ditentukan sebagai perbuatan
merealisasikan dan mencapai tujuan.
c. Aksi tradisional menyangkut tingkah laku yang melaksanakan aturan
yang bersanksi.
d. Aksi yang emosional menyangkut perasaan seseorang.

6. Mazhab Hukum.
Tokohnya Durkheim, yang menyatakan hukum dihubungkan dengan jenis-
jenis solidaritas dalam masyarakat. Hukum adalah kaidah-kaidah yang
bersanksi yang berat ringannya bergantung pada sifat pelanggaran,
anggapan, serta keyakinan masyarakat tentang baik buruknya sesuatu
tindakan. Terdapat sanksi, yaitu sanksi refresif yang
mendatangkan penderitaan (pidana), dan sanksi restitutif yang hendak
mengembalikan keadaan pada situasi semula sebelum terjadi kegoncangan
akibat dilanggarnya suatu kaidah (hukum perdata, hukum dagang, hukum
acara, hukum administrasi, hukum tata negara, dll.) setelah dikurangi unsur-
unsur pidananya.

Max Weber pun dapat dimasukkan ke mazhab ini karena mempunyai
pendidikan di bidang hukum selain karena mengemukakan empat tipe ideal
hukum :

a. Hukum irasional dan material, yaitu bahwa pembentuk undang-undang
dan hakim mendasarkan putusan-putusannya semata-mata pada nilai-nilai
emosional tanpa merujuk pada suatu kaidah apa pun;

b. Hukum irasional dan formal, yaitu bahwa pembentuk undang-undang dan
hakim berpedoman pada kaidah di luar akal karena didasarkan pada
wahyu dan ramalan-ramalan;

c. Hukum rasional dan material, yaitu bahwa pembuatan undang-undang
dan hakim merujuk pada kitab suci, kebijakan-kebijakan penguasa, atau
ideologi tertentu yang dianutnya.

d. Hukum rasional dan formal, yaitu hukum dibentuk semata-mata atas
dasar konsep abstrak dari ilmu hukum.

Hukum formal berkecenderungan untuk menyusun sistematika kaidah-kaidah
hukum, sedangkan hukum material lebih bersifat em-piris. Tetapi keduanya
dapat dirasionalisasi, yaitu hukum formal pada logika murni, sedangkan
hukum material pada kegunaannya.



Download
sosiologi antropologi

 

 

Your download will begin in a moment.
If it doesn't, click here to try again.

Share sosiologi antropologi to:

Insert your wordpress URL:

example:

http://myblog.wordpress.com/
or
http://myblog.com/

Share sosiologi antropologi as:

From:

To:

Share sosiologi antropologi.

Enter two words as shown below. If you cannot read the words, click the refresh icon.

loading

Share sosiologi antropologi as:

Copy html code above and paste to your web page.

loading