This is not the document you are looking for? Use the search form below to find more!

Report home > Others

TATA BUSANA ADAT BALI AGA DESA TENGANAN PAGRINGSINGAN DAN DESA ...

0.00 (0 votes)
Document Description
This is a report of research findings regarding the lore of traditional clothing/costume in Bali Aga village in terms of its form, function, and meaning, along with its transformation in dance creativity. This is recently developed in the villages of Tenganan Pegringsingan and Asak Karangasem, where the art is inherited from one generation to another generation. The developed form of clothing in the traditional village of Bali Aga is distinctively unique, i.e. the featuring form is stimulated by the mutual support between the function and the meaning. In addition to featuring the aesthetic form, the clothing lore also reflects the meaning. This is possible due to the fact that the selected form does not only cater to the aesthetic deliberation, but he content reflects worthy and interesting symbolic values.
File Details
  • Added: October, 25th 2010
  • Reads: 1177
  • Downloads: 13
  • File size: 132.64kb
  • Pages: 8
  • Tags: busana adat, tenganan pegringsingan, and asak
  • content preview
Submitter
  • Name: franciszka
Embed Code:

Add New Comment




Related Documents

Rumah Adat Bali

by: iwantrah, 1 pages

mengupas arsitektur rumah tradisonal bali

PERANAN WANITA DALAM SENI PERTUNJUKAN BALI DI KOTA DENPASAR

by: susanna, 12 pages

Artikel ini dimaksudkan untuk membahas semakin dominannya peranan wanita dalam seni pertunjukan Bali, khususnya yang ada di Kota Denpasar, selama dua puluh lima tahun belakangan ini. Ada lima belas ...

Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan

by: eliasz, 58 pages

Bahaya gempa tektonik ini berada dari ujung utara Pulau Sumatera ke selatan, ke pantai barat Sumatera, Selat Sunda, pantai selatan Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Timur, ...

Travel Health Fact Sheet: Bali

by: desantis, 3 pages

The following information must be viewed as a guide only. It is not intended, nor implied to be a substitute for professional medical advice. Healthy travelers have the most fun! ...

Advantages, constraints and key success factors in establishing origin- and tradition-linked quality signs: the case of Kintamani Bali Arabica coffee geographical indication, Indonesia

by: shinta, 32 pages

The Indonesian Government is interested in supporting GI development in order to improve product competitiveness on the basis of quality and legal protection. To this end, a pilot project was ...

Bali Safari and Marine Park_Map_Front

by: berman, 1 pages

You can find us, Bali Safari and Marine Park by this map

Bali Safari and Marine Park_Map_Back

by: berman, 1 pages

You can find us, Bali Safari and Marine Park by this map

Tata Louvre Gurgaon, Tata Louvre || Buy-Sell Property || Tata Housing Gurgaon

by: buysellproperty, 1 pages

Tata Louvre Gurgaon, Tata Louvre || Buy-Sell Property || Tata Housing Gurgaon Tata Louvre is located in Raisina Residency on the well known golf course road extension at Sector 59 in Gurgaon. It is ...

Tata Raisina Residency Gurgaon || Buy-Sell Property || Tata Louvre Sector 59 Gurgaon

by: buysellproperty, 1 pages

Tata Raisina Residency Gurgaon || Buy-Sell Property || Tata Louvre Sector 59 Gurgaon Tata Louvre is located in Raisina Residency on the well known golf course road extension at Sector 59 in Gurgaon. ...

DISTRIBUTOR HERBALIFE JAKARTA, BANDUNG, SEMARANG, BALI, AGEN HERBALIFE JAKARTA BANDUNG, SEMARANG, BALI, GRATIS ONGKOS KIRIM DISTRIBUTOR HERBALIFE JAKARTA, BANDUNG, SEMARANG, BALI. HUBUNGI REKO HANDOYO, 081389411679, 081932985325 BINTARO JAKARTA SELATAN. h

by: abrahamhandoyo, 2 pages

DISTRIBUTOR HERBALIFE INDONESIA, DISTRIBUTOR HERBALIFE JAKARTA, DISTRIBUTOR HERBALIFE BALI, DISTRIBUTOR HERBALIFE SEMARANG, DISTRIBUTOR HERBALIFE SURABAYA, DISTRIBUTOR HERBALIFE BANDUNG, DISTRIBUTOR ...

Content Preview
TATA BUSANA ADAT BALI AGA DESA
TENGANAN PAGRINGSINGAN DAN DESA ASAK
KARANGASEM
I Ketut Darsana1
Abstract: This is a report of research findings regarding the lore of traditional
clothing/costume in Bali Aga village in terms of its form, function, and meaning, along with
its transformation in dance creativity. This is recently developed in the villages of Tenganan
Pegringsingan and Asak Karangasem, where the art is inherited from one generation to
another generation. The developed form of clothing in the traditional village of Bali Aga is
distinctively unique, i.e. the featuring form is stimulated by the mutual support between the
function and the meaning. In addition to featuring the aesthetic form, the clothing lore also
reflects the meaning. This is possible due to the fact that the selected form does not only
cater to the aesthetic deliberation, but he content reflects worthy and interesting symbolic
values.
Keywords: Busana adat, Tenganan Pegringsingan, and Asak.
Tata Busana sebagai salah satu aspek yang sangat esensial dalam kehidupan manusia dan dapat
memberikan wahana prilaku manusia untuk dapat menunjukkan jati dirinya. Dari busana
tercermin suatu identitas diri sebagai manusia individual, manusia dari suatu negara dan manusia
yang memiliki pranata sosial yang lebih tinggi. Keanekaragaman dalam tata busana adat di
Indonesia tetap merupakan satu kesatuan budaya yang dikokohkan oleh adanya kesatuan bahasa
dan agama.
Tata busana adat Bali tidak dapat dilepaskan dari kehidupan manusianya karena dia
berkembang sejalan dengan dinamika manusia dan kebudayaannya. Ini berarti perubahan aspek
sosial budaya yang sangat cepat akan mempengaruhi pula norma-norma dan tata busana adat
yang berlaku di masyarakat. Tetapi meskipun sesuatu adat istiadat mengalami perubahan dan
perkembangan, di dalamnya akan tetap kita jumpai unsur-unsur yang konstan. Unsur-unsur yang
konstan, tetap memelihara kesinambungan atau kontinuitas antara masa lampau dan sekarang,
antara sekarang dan yang akan datang. Andaikata unsur-unsur yang konstan ini tidak ada, maka
sudah tentu generasi sekarang tidak perlu dan tidak akan dapat mengerti generasi yang
mendahuluinya
Adanya proses globalisasi, informasi serta pesatnya perkembangan industri pariwisata,
menyebabkan masyarakat Bali tidak lepas dari pengaruh-pengaruh kebudayaan luar. Pengaruh
kebudayaan luar tersebut akan membawa perubahan-perubahan yang mendasar dalam berbagai
kehidupan masyarakat Bali. Termasuk juga di dalam tata busana adat Bali. Industri pariwisata
telah memberikan dampak terhadap kebudayaan Bali dalam katagori positif dan negatif. Secara
positif, masyarakat Bali memperoleh manfaat ekonomi serta kebudayaan Bali dirangsang secara
lebih progresif. Secara negatif unsur-unsur kebudayaan tertentu untuk konsumsi wisatawan
terlibat ke produksi masa, komersialisasi dan orientasi materialisme. Oleh karena itu antisipasi
terhadap pengaruh negatif seperti tersebut di atas perlu lebih dini dipikirkan, karena tidak
diinginkan timbulnya suatu generasi kita sampai tercabut dari akar budaya dan tata nilai budaya
Bali. Usaha yang kongkret yang dapat dilakukan adalah dengan penggalian, pengkajian,
pendalaman serta memahami norma-norma, adat istiadat termasuk juga tata busana adat yang
diwariskan dalam masyarakat Bali.

Begitu pula halnya dalam tari Bali pada mulanya penari memakai busana atau pakaian
sesuai dengan apa yang ada pada saat itu sedang dipakai. Perkembangan selanjutnya, sesuai
dengan kedudukannya sebagai salah satu unsur dalam tari, maka pakaian atau busananya diatur
dan ditata sesuai dengan kebutuhan tari tersebut. Busana (kostum) untuk tari-tarian tradisional
memang harus dipertahankan. Namun demikian, apabila ada bagian-bagiannya yang kurang
menguntungkan dari segi pertunjukan, harus ada pemikiran lebih lanjut. Pada prinsipnya busana
(kostum) tersebut harus enak dipakai, tidak meng-ganggu gerak tari, menarik dan sedap dilihat
penonton. Bila perlu murah harganya dan mudah didapat. Pada tata busana tari-tarian tradisional
yang harus dipertahankan adalah desain dan warna simbolisnya. Secara umum hanya warna-
warna tertentu saja yang bersifat teatrikal dan mempunyai sentuhan emosional tertentu pula. Di
Indonesia pada umumnya merah memiliki arti simbolis berani, agresif atau aktif. Biru memiliki
kesan teatrikal tentram. Hitam memberi kesan kebijaksanaan. Warna teatrikal lainnya adalah
kuning yang memiliki kesan penuh kegembiraan dan putih memiliki kesan muda atau suci.
Sekarang ini para koreografer mulai mencoba membuat desain busana (kostum) tari yang bukan
saja berasal dari wayang kulit Bali dan drama tari yang lain, melainkan juga diambil dari busana
tradisional “Bali Aga”.
Selain beberapa hal yang sudah diutarakan di atas, tata busana dalam seni pertunjukan juga
berguna untuk mempertegas fungsi dramatik atau fungsi ekspresif dari setiap peran. Fungsi
ekspresif ini terlihat dalam penggambaran rasa sedih, ungkapan kemarahan dan lain-lain yang
terkait dengan memainkan bagian-bagian tertentu dari tata busana yang dipakai oleh peran
bersangkutan. Sementara diketahui penulis, tulisan-tulisan tentang busana adat Bali baru sebatas
busana pengantin adat Bali dengan klasifikasi nista, madya, dan utama, serta busana Pitra
Yadnya.

BUSANA
Seperti halnya suku-suku lain di Nusantara, Bali juga memiliki busana adat khas yang
tampil mempesona dengan berbagai ragamnya. Kalau direka-reka pengelompokannya, setidaknya
ada kelompok busana adat Bali yang dikenal hingga kini, yaitu busana agung, busana adat re-
resona, dan busana modern. Ketiga jenis busana adat ini masing-masing memiliki konsep dan
fungsi tersendiri. Artinya satu jenis busana adat dipakai pada acara tertentu saja. Diluar itu busana
adat bersangkutan tidak lazim digunakan. Lihatlah misalnya busana adat pendeta atau pemangku
yang hanya dipakai pada saat hari-hari tertentu saja. Demikian pula pakaian khas remaja pada
saat “Potong Gigi”, dan juga pakaian tari Sanghyang, hanya dipakai pada saat tertentu saja.
Busana Agung merupakan busana tradisional Bali yang paling mewah. Busana ini terlihat
gemerlap bak pakaian seorang raja beserta permaisurinya yang cantik dan anggun. Busana agung
di Bali bentuknya juga beragam tergantung dari daerah dimana busana adat itu berada. Antara
satu daerah dengan daerah lainnya di Bali memiliki kesamaan dan juga perbedaan dalam hal
Busana agung ini. Namun untuk lebih mudah mengenali Busana Agung sebaiknya dilihat pada
Busana agung yang paling umum digunakan. Busana jenis ini umumnya dipergunakan dalam
rangkaian upacara “Potong Gigi” dan Perkawinan.Saat persembahyangan di halaman rumah
untuk memohon keselamatan kehadapan Hyang Widhi sampai naik ke balai-balai tempat Potong
Gigi berlangsung para remaja yang akan mengenakan busana jenis ini. Busana ini juga masih
tetap digunakan tatkala upacara merajah menulisi dengan huruf sakti pada tempat-tempat tertentu
di badan dan ke enam gigi yang akan diasah, mabiakala, natab ayaban, mapadampel, serta saat
mejaya-jaya mohon keselamatan dan kesejahteraan.
Dalam rangkaian upacara perkawinan atau pawiwahan, Busana Agung dikenakan kedua
mempelai sejak upacara pekala-kalaan di halaman sanggah atau merajan keluarga, saat natab
ayaban, mejaya-jaya di balai-balai khusus yang dikenal dengan balai gede atau bale singasari
dipimpin oleh seorang pendeta, upacara mejejauman kunjungan pihak keluarga pria bersama

kedua mempelai ke keluarga pihak wanita, sebagai akhir rangkaian upacara perkawinan menurut
adat Bali.
Sekali lagi Busana Agung memang beragam sesuai dengan desa-kala-patra (tempat,
waktu, dan keadaan) setempat. Kain yang digunakan adalah wastra-wali khusus untuk upacara.
Kadangkala juga bisa diganti dengan wastra putih, simbol penggerak kesucian. Yang paling
umum wastra- wali seringkali diganti dengan kain songket, karena kain jenis ini sangat pas untuk
mewakili kemewahan dengan gemerlap benangnya. Bagaimana pun kain jenis ini melambangkan
status atau prestise bagi pemakainya. Selain mengenakan wastra kain sang pria juga
menggunakan kampuh gelagan atau dodot yang ukurannya sama dengan kain yang dipakai.
Kampuh ini juga dipakai hingga menutupi dada, karena si pria tidak mengenakan baju. Pada
punggung seringkali tersembul keris yang rebah ke kanan. Biasanya keris yang disungkit adalah
keris pusaka keluarga yang berhulu emas bertahtakan permata atau berbilah gading bagi yang
punya. Hiasan kepala yang digunakan berupa petitis atau gelungan terbuat dari emas, dengan
beberapa bunga emas, dan bunga segar yang bertengger di bagian belakang.
Adakalanya gelungan diganti dengan ikat kepala biasa atau sering disebut destar terbuat
dari kain songket yang tidak kalah gemerlapnya. Langkah yang gagah, memegang ujung kain
yang menjuntai panjang ke bawah, memberi nilai tambah bagi kelelakian seseorang di kala
upacara berlangsung.
Bagi wanitanya, yang paling menarik untuk ditatap tentu hiasan kepalanya yang berupa
petitis emas, ron-ronan yang dihias dengan rangkaian bunga cempaka di bagian belakang
dikombinasikan dengan bunga kembang sepatu berwarna merah yang lazim disebut pucuk bang
atau pucuk rejuna yang dipasang di tengah bagian muka gelung agung. Kembang sepatu ini bisa
diganti dengan mawar merah atau bunga kenyeri susun merah yang tetap mengesankan meriah
dan anggunnya paras sang wanita. Di lain tempat gelung agung biasa diganti dengan bancangan
bunga tanpa petitis, dan ron-ronan.
Namun hiasan bunganya tetap sama, termasuk peran bunga emas yang sering mendominasi.
Unsur lainnya adalah kain berwarna gelap yang disebut wastra wali cokordi, wastra wali keeling,
atau wastra wali bias membah.
Sebelum kain yang khusus ini dikenakan, wanita yang berbusana
agung mengenakan terlebih dahulu kain lapis dalam yang disebut sinjang atau tapih yang nampak
keluar dari batas bawah kain, yang ujungnya mengarah ke belakang, terlepas bebas diantara
kedua kaki sang wanita.
Sinjang ini pada akhirnya seolah mengatur langkah wanita menjadi pelan namun anggun.
Stagen atau pepetet juga dikenakan, dengan ciri khas terdiri dari potongan kain warna-warni yang
indah dan harmonis ditambah dengan lukisan prada emas. Yang terakhir adalah peran selendang
yang disebut wastra wali petak sari atau wastra wali kesetan gedebong dengan warna kuning
sekaligus berfungsi sebagai penutup dada, dengan ujungnya menggelantung bebas ke belakang,
melalui bahu kiri.
Busana Adat Reresonan adalah busana untuk bekerja dalam segala macam kegiatan adat.
Karena itu, busana jenis ini ditata ringkas dan sederhana baik bagi wanita maupun prianya. Pada
dasarnya baik wanita ataupun prianya hanya memakai kain serta penutup dada. Khusus untuk
prianya, penutup dada disebut saput atau kampuh bisa langsung menjadi ikat pinggang, dan
dinamai bebed, atau ubed-ubed. Kadangkala saput dipakai dengan ikat pinggang yang disebut
sabuk tubuan seperti dikenakan remaja desa adat Tenganan Pegringsingan. Mereka menyebutnya
saput mebasa-basa. Kini baik wanita maupun pria melengkapi dirinya dengan baju, saat
mengenakan busana adat reresonan
Busana Adat Modern, busana adat ini banyak memunculkan kreasi-kreasi baru, namun
tetap memakai pola dasar tradisional. Bagi wanita mengenakan baju kebaya, selendang yang
dijadikan stagen, serta kain. Sanggul wanita tetap dipilih sanggul tradisional Bali. Sedangkan
untuk remaja lebih sering tidak mengenakan sanggul. Yang terpenting pada penggunaan busana
jenis ini adalah pemilihan warna yang serasi antara kain, baju, selendang, serta aksesoris yang

dikenakan. Bagi pria busananya terdiri dari destar atau ikat kepala, baju, kain, kampuh yang
menyelimuti kain, umpal yang mengikat kampuh. Busana jenis ini sangat umum dipakai saat ini.
Pada setiap pelaksanaan PKB dari tahun ke tahun salah satu kegiatan yang terus ada adalah
Pawai Pakaian Adat Bali baik yang digunakan dalam pelaksanaan Upacara Pitra Yadnya,
Manusa Yadnya,
maupun Dewa Yadnya. Penggunaan pakaian adat ini seringkali dilengkapi
dengan berbagai macam sanggul atau pengikat kepala. Salah satu model ikat kepala wanita Bali
yang sering kita jumpai di PKB adalah lelunakan. Mengurai rambut merupakan hal yang tidak
lazim bagi wanita Bali apalagi pada kegiatan-kegiatan yang terkait dengan kegiatan adat. Pada
zaman dulu, rambut terurai bagi wanita Bali hanya berlaku saat di peraduan, saat bersedih, atau
melaksanakan sumpah tertentu. Di luar hal tersebut rambut wanita Bali mesti disanggul.
Dalam keseharian, untuk menghindari terlepasnya sanggul, wanita Bali akan mengenakan
pengikat sanggul yang lazim disebut “teng kuluk”. Di tempat umum seperti pasar-pasar
tradisional, tengkuluk sangat lazim digunakan oleh masyarakat. Jenis dan bentuk tengkuluk pun
sangat be-ragam. Salah satu diantaranya ya lelunakan. Lelunakan sendiri merupakan
pengembangan tengkuluk dalam bentuknya yang manis dan indah, karena kain yang dipakai
bukan lagi handuk, melainkan selendang. Kain selendang yang digunakan untuk lelunakan ujung-
ujungnya tertata rapi serta memiliki bukaan yang lebar, sehingga lebih melindungi kepala dan
mengikat rambut yang tergelung lebih erat.
Lelunakan yang menambah ayunya wanita Bali ini, pada awalnya merupakan pengikat
kepala dan rambut wanita Desa Adat Badung. Dalam perkembangannya, cenderung menjadi
milik khas wanita seluruh Kabupaten Badung. Bahkan karena keindahannya, sekarang telah
menjadi milik wanita Bali, secara keseluruhan. Lelunakan biasanya digunakan dalam upacara
kematian di banjar yang dikenal dengan Ngaben, dengan aneka rangkaiannya. Lelunakan menjadi
semakin populer saat diciptakannya tari Tenun sekitar 1960–an. Si penari Tenun yang tentunya
para remaja pilihan berparas ayu tampil di pentas dengan gelung lelunakannya yang dimodifikasi
begitu indah dan asrinya. Maka jadilah lelunakan ini hiasan kepala wanita Bali yang memikat dan
semakin popular, bahkan sudah pula dipakai pada acara resmi diluar kegiatan adat.
Perlu diketahui bancangan merupakan alat untuk menancapkan bunga. Disamping
menghias kepala wanita, bancangan dipergunakan pula untuk menghiasi beberapa jenis sesajen
atau sarana pemujaan lainnya, seperti gebogan, prani, gegaluh, pratima, pralingga, dan
pecanangan saat upacara keagamaan. Tangkainya bancangan umumnya terbuat dari bambu
sedangkan tempat menancapkan bunga terbuat dari kawat yang dibentuk seperti spiral, sehingga
bunga yang tertancap bisa bergerak gemulai kala dipakai.
Sebagai bagian dari busana wanita Bali, bancangan umum dipakai dalam Tari Pendet, Tari
Sisia, atau saat prosesi yang dinamai peed dilakukan. Dalam momen seperti itu, bancangan
merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam suatu mahkota kebesaran atau gelung-agung.
Kerangka Bancangan terbuat dari rotan kecil yang kalau di Bali disebut penyalin. Tempat
menancapkan bunga diatur sedemikian rupa yakni mengecil ke atas. Namun bentuk
keseluruhannya tetap berbentuk bulan sabit, atau Ardha Chandra seperti yang terlihat pada
gelung agung gelung janger, onggar-onggar rejang Bungaya dan Rejang Asak. Warna bunga
jepun Bali yang dipakai adalah yang berwarna putih dengan pangkal helai bunga berwarna
kuning. Bunga ini selanjutnya diimbuhi kembang kuning Alamanda di bagian bawahnya, denga
tajuk mahkota digunting sehingga selaras proporsi dan komposisinya dengan bunga jepun.
Satu lagi, di puncak tengah bancangan dipasang sekuntum bunga mawar merah atau
sekuntum pucuk bang kembang sepatu warna merah yang juga disebut pucuk rejuna. Dengan
gradasi dan komposisi warna yang manis dan indah itu, bancangan jepun sampai sekarang
menjadi salah satu mahkota wanita Bali yang sangat popular.
Onggar-onggar entah kapan diciptakan, dan entah siapa penciptanya, hiasan kepala seunik
dan seindah Onggar-onggar menjadi ada dan acapkali digunakan pada suatu acara di desa adat.
Onggar-onggar merupakan gelung hiasan kepala di desa adat Bungaya Karangasem. Hiasan
kepala ini dipakai para wanita penari Rejang Saput Karah. Gelung Onggar-onggar diselipi bunga

emas yang disebut sekar sasak. Sehingga mahkota rejang itu membuat sang penari tampak
semakin anggun.
Pelestarian dan Perubahan
Konsep, unsur dan struktur tata busana adat Bali, Kalau disimak seperti halnya sejarah
perkembangan busana sejak dibutuhkan oleh manusia, ia merupakan salah satu unsur kebudayaan
produk manusia Bali. Selaras dengan eksistensi kebudayaan Bali, yang hidup dan berkembang,
sejak era tradisi kecil sampai era tradisi besar, tampaknya berkembang terus maju. Lebih-lebih
pada era sekarang, era gemuruhnya ilmu komunikasi dengan produk peralatan teknologi modern
yang didukung oleh sumber daya manusia Bali yang baik, kebudayaan Bali pada umumnya dan
tata busana adat tampak semakin maju dan berkembang terus. Tetapi dalam mengantisipasi
perkembangan kebudayaan Bali pada umumnya, dan keanekaragaman tata busana adat Bali Aga
sebagai kekayaan budaya, perlu dipersiapkan jurus-jurus yang berupa perencanaan untuk menjaga
keajengan dan kelestariannya. Sistem dan upaya yang patut ditempuh adalah dengan lebih
diintensifkan lagi kegiatan-kegiatan inventarisasi, studi melalui penelitian dan seminar, untuk
mengkaji, menganalisis seluruh hasil inventarisasi keanekaragaman tata busana adat Bali Aga
sebagai kekayaan budaya. Kita jangan terlena dan keenakan untuk menjual warisan adihiluhung
keanekaragaman tata busana adat Bali Aga sebagai kekayaan budaya, yang sekaligus sebagai
salah satu aset pariwisata Budaya yang dikembangkan dan dipromosikan di Bali ini. Oleh karena
itu terhadap kelestarian, pembinaan dan pembangunan keanekaragaman tata busana adat Bali Aga
sebagai kekayaan budaya, menjadi tanggung jawab kita bersama untuk menanganinya. Lebih-
lebih bagi mereka yang sebagai pewaris seluruh produk budaya, keanekaragaman tata busana adat
Bali Aga. Andaikata upaya dan usaha itu dapat dilaksanakan kita telah dapat mewujudkan rasa
tanggung jawab terhadap dua komponen yakni:
- Komponen yang merintis menciptakan melalui cipta, karsa dan kreativitas seluruh bentuk dan
jeni serta keanekaragaman tata busana adat Bali sebagai kekayaan dan warisan budaya
kepada kita yang hidup pada era sekarang.
- Komponen yang menjadi generasi mendatang, sebagai pewaris dan penerus eksistensi,
kehidupan dan perkembangan keanekaragaman tata busana adat Bali sebagai kekayaan
budaya yang adhiluhung, yang memiliki nilai-nilai luhur dan spritual, seperti yang telah
dikemukakan dalam sub-sub sejarah perkembangan tata busana adat Bali, walupun
dikemukakan secara pantheon dan mitologis, pada dasarnya kalau kita berpijak dan meniti
kepada sumber itu, dapat dikemukakan tata busana adat bali, adalah meniru tata busana para
Dewa. Untuk dapat membuktikan konsep ini, dapat disimak kembali konsep, unsur dan
struktur busana arca-arca Istadewata atau pun wayang, serta Lontar Panji Amalat rasmi. Atau
simak kembali konsep, unsur dan struktur busana agung adat Bali. Selain dari-pada itu, kalau
upaya ini betul-betul dapat diusahakan untuk melaksanakannya, tidak akan terjadi the missing
link, dalam eksistensi, kehidupan, pembinaan dan pengembangan kebudayaan Bali pada
umumnya dan keanekaragaman tata busana adat Bali sebagai kekayaan budaya Bali, yang
merupakan unsur dan Khazanah kebudayaan Nasional. Inventarisasi, pencatatan
keanekaragaman tata busana adat Bali sebagai kekayaan budaya, patut diusahakan.
Inventarisasi itu dapat diformulasikan persamaan konsep, unsur dan strukturnya, termasuk
perbedaan dan ciri kekhasan masing-masing. Termasuk di desa-desa adat yang memiliki
kekhasan tersendiri, seperti busana adat Desa Adat Tenganan Pegeringsingan, busana adat
Daa dan Trunanya dalam berbagai kegiatan agama dan adat di lingkungan desa adatnya.
Termasuk busana adat pada waktu Mabuang, magere Pandan. Dan juga khusus bagi daanya,
pada saat ngerejang. Usaha yang sama patut juga dilakukan di Desa Adat Bungaya yang
terkenal dengan Rejang Onggar-onggarnya, di Desa adat Asak, dengan Rejang Asaknya.
Termasuk di Desa Adat Ngis yang terkenal dengan busana adat Daa Malongnya. Belum lagi
di daerah Kabupaten yang lainnya, yang ada saja memiliki keunikan produk busana adatnya,

seperti busana adat Deeng Gede dan Deeng Matah di beberapa Desa Adat di Kabupaten
Buleleng.
Faktor-faktor Yang Mendukung Pelestarian
Kata faktor mengandung pengertian sesuatu hal (keadaan, peristiwa dan sebagainya yang
ikut menyebabkan (mempengaruhi) terjadinya sesuatu. Sedangkan kata pelestarian berasal dari
bahasa Jawa, yang menjadi perbendaharaan kata bahasa Indonesia. Kata pelestarian berasal dari
kata lestari yang berarti tetap selama-lamanya tidak berubah sebagai sediakala, sehingga kata
pelestarian mengandung pengertian menjadikan (membiarkan) tetap tidak berubah.
(Purwadarminta, 1976:592). Dengan demikian pengertian faktor yang mendukung pelestarian,
mengandung pengertian sesuatu yang membantu mendukung sesuatu menjadi tetap selama-
lamanya tidak berubah sebagai sediakala.
Sesungguhnya berdasarkan pengertian di atas, ada beberapa faktor yang memiliki andil
dalam usaha pelestarian tata busana adat Bali Aga, antara lain faktor agama, faktor adat, faktor
sikap, yang dalam hal ini mengacu kepada masyarakat selaku pemanfaatan atau pemakai tata
busana adat Bali Aga. Faktor sikap ini mengandung pengertian suatu usaha yang berdasarkan
pendirian atau pendapat masyarakat, kelompok-kelompok, lembaga-lembaga yang ada dalam
masyarakat, diharapkan dapat melestarikan tata busana adat Bali Aga. Maksudnya tindakan-
tindakan atau usaha-usaha apa saja yang dilakukan oleh kelompok-kelompok, lembaga-lembaga
baik resmi maupun tidak resmi yang diharapkan dapat melestarikan tata busana adat Bali Aga.
Desa adat memegang peranan penting dalam usaha pelestarian tata busana adat Bali Aga.
Hal ini tampak dalam aktifitas yang dilakukannya baik yang bersekala besar atau luas, selalu
tampak mengenakan tata busana adat Bali Aga. Tata busana adat Bali Aga yang digunakan sudah
tentunya disesuaikan dengan situasi. Dengan menggunakan tata busana adat Bali Aga dalam
aktifitasnya, ini berarti lembaga Desa Adat telah melakukan suatu usaha agar tata busana adat
Bali Aga menjadi tetap kekal atau tetap selama-lamanya tidak berubah sebagai sediakala.
Penggunaan tata busana adat Bali Aga khususnya tata busana Dehe dan Truna di desa
Tenganan Pagringsingan digunakan dalam upacara yadnya, yang dalam hal ini adalah upacara
DewaYadnya (Rejang) dan Manusa Yadnya (Pernikahan).
Lembaga-lembaga resmi seperti Pemerintah Daerah Bali, baik Tingkat Propinsi, Tingkat
Kabupaten, maupun Tingkat Kecamatan, juga acapkali mengadakan usaha pelestarian tata busana
adat Bali, yang dilaksanakan dengan cara melalui instruksi-instruksi dengan surat keputusan, dan
cara-cara lainnya yang dianggap wajar. Usaha pelestarian busana adat Bali Aga sering kita
temukan dalam rangka PKB.
Kiranya dengan seluruh uraian ini telah cukup dapat dikatahui bahwa faktor sikap
masyarakat adalah merupakan sumber usaha pelestarian tata busana adat Bali. Berlandaskan pada
faktor sikap inilah usaha-usaha pelestarian tata busana adat Bali dituangkan dalam faktor agama
dan adat, yang pelaksanaan pelestariannnya, melalui berbagai cara, antara lain melalui
pembinaan-pembinaan, dan juga melalui upacara-upacara yang bersifat keagamaan.
Faktor-Faktor yang Membawa Perubahan.
Usaha pembangunan telah menghadapkan kita secara langsung dengan masalah budaya
dan dengan proses budaya kita memperbaharui diri dalam menjawab tantangan-tantangan
kehidupan baru. Kebudayaan merupakan kerangka sandarannnya, sistem pengetahuan yang
merupakan aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, rencana-rencana yang terdiri atas serangkaian
model kognitif yang digunakan secara seliktif oleh manusia yang memilikinya sesuai dengan
lingkungan yang dihadapinya dengan mempergunakan segala kemampuannnya untuk berjuang
dan dengan demikian memperoleh kemajuan serta meningkatkan mutu hidupnya.
Tata busana adat Bali Age sebagai salah satu unsur kebudayaan, perwujudannya tidak
lepas dari rangkaian pesan yang hendak disampaikan kepada anggota masyarakat lewat lambang
yang dikenal dalam tradisi masyarakatnya. Berkenaan dengan pesan-pesan nilai budaya yang

disampaikan, maka pemahamannya dapat dilakukan melalui berbagai simbol–simbol dalam
ragam tata busana adat Bali Aga.
Dalam pengertian budaya bisa termasuk tradisi dan tradisi dapat diterjemahkan dengan
pewarisan atau penerusan norma, adat istiadat, kaidah-kaidah tetapi tradisi tersebut bukanlah
suatu yang tak dapat diubah, tradisi justru dipadukan dengan aneka ragam perbuatan dan diangkat
dalam keseluruhannya. Mereka membuat tradisi, menerima, menolaknya atau mengubahnya.
Itulah sebabnya mengapa kebudayaan merupakan cerita tentang perubahan-perubahan serta
riwayat yang selalu memberi wujud baru kepada pola-pola kebudayaan yang sudah ada.
Pakaian sebagai hasil dari kerajinan tenun dari Bali sering disebut dengan kain Bali
adalah salah satu diantaranya. Kerajinan tenun tersebut baik berupa kain maupun perhiasan penuh
dengan hiasan dengan dekoratif yang indah, dengan desain yang indah komposisi yang harmonis
serta bentuk ragam hiasnya yang mempunyai karakteristik yang mencolok. Demikian pula
dengan teknik-teknik menghiasnya sangat berpariasi misalnya dalam pembuatan desain, cara
menenun, pemakaian warna, bahan corak yang dapat menimbulkan kekaguman, sehelai kain tidak
hanya berfungsi sebagai penutup tubuh belaka, akan tetapi merupakan hasil karya seni yang
mengekspresikan si pembuat dengan masyarakatnya.
Dalam masyarakat Bali seluruh hidupnya dapat dikatakan serba dikelilingi oleh adat
istiadat. Tegasnya kehidupan sehari-hari mereka tidak dapat dipisahkan dengan kehidupan adat-
istiadatnya. Namun perlu juga disadari bahwa adat istiadat (penggunaan tata busana adat Bali)
tidak lepas dari perubahan dan perkembangan baik cepat maupun lambat, namun demikian
didalamnya akan tetap kita jumpai unsur-unsur yang konstan.
Dilihat dari sikap mental penggunaan busana Deha dan Truna desa Tenganan
Pagringsingan maupun di desa Asak sudah mencerminkan tata krama. Secara dinamis tata busana
adat Bali telah mengikuti perkembangan peradaban, dalam hal ini menitikberatkan pada sistem
nilai keseimbangan dan keselarasan terutama dalam menumbuhkan rasa kesetiaan.
Nilai budaya Bali khususnya tata busana adat Bali Aga tidak mengalami perubahan.
Dengan dimikian kelestarian perlu dijaga. Apabila kurang kepedulian terhadap permasalahan ini,
maka dalam kurun waktu yang tidak lama akan mengakibatkan lunturnya jati diri nilai-nilai tata
busana adat Bali Aga.
Untuk itu patutlah pembinaan dan bimbingan tetap dilakukan da-lam rangka melestarikan
nilai-nilai budaya khususnya nilai budaya tata busana adat Bali Aga , Desa Adat adalah
pengemban tugas utama, karena pendukung kebudayaan Bali adalah masyarakat Bali sendiri. Hal
ini dapat dipahami, bahwa kedudukan, fungsi dan peran Desa Adat adalah meru-pakan ujung
tombak dalam melestarikan nilai-nilai budaya dan sekaligus menjadi benteng pertahanan dalam
menghadapi hal-hal yang tidak sesuai dengan jiwa dan kepribadian masyarakat Bali.
SIMPULAN
Fungsi Busana Teruna dan Daha desa Adat Tenganan Pegring-singan adalah untuk upacara
Dewa Yadnya dan Manusa Yadnya serta sebagai sarana pengikat rasa solidritas masyarakat.
Makna Busana Teruna dan Daha desa Adat Tenganan Pegringsingan adalah untuk menolak bala
dan pengikat gejolak jiwa pemuda yang kondisi labil.
Bentuk Busana Teruna dan Daha Asak Karangasem terdiri dari bagian kepala, badan dan
kaki. Bagian kepala berupa pusung lungguh yang terbuat dari duk atau ijuk, bunga empak-empak,
blengker, bunga sandat, bunga mawar merah, bunga angle, perkapat, subang, pacek atau cucuk,
jamang (dalam payas agung). Payas madya hanya menggunakan blengker, bunga kamboja
Bali/Jepun Bali berbentuk setengah lingkaran. Bagian badan berupa sabuk klip, dua selendang
prada, gelang tangan. Bagian kaki memakai tapih, dan kamen songket. Bentuk busana Teruna
juga terdiri dari bagian kepala, badan dan kaki. Bagian kepala berupa udeng atau destar songket.
Bagian badan memakai saput, umpal, keris, gelang tangan. Bagian kaki memakai wastra songket.

Transformasi busana Teruna dan Daha desa adat Tenganan Pegringsingan dan desa adat
Asak Karangasem dalam tata busana seni tari pada Tugas Akhir Mahasiswa Jurusan Seni Tari ISI
Denpasar dapat dilihat pada: elemen warna, busana untuk tubuh dan hiasan untuk kepala.
DAFTAR RUJUKAN
Gie, The Liang. 1996. Filsafat Keindahan. Yogyakarta: Pusat Belajar Ilmu Berguna.
Ibroni, T.O. 1999. Pokok-pokok Antropologi Budaya. Jakarta:Yayasan Obor Indonesia.
Malinowski, Branislaw. 1983. Dinamika Bagi Perubahan Budaya: Satu Penyiasatan Mengenai
Perhubungan Ras di Afrika. Dewan bahasa dan Pustaka Kementerian Pelajaran Pelajaran
Malaysia: Malaysia.
Purwadarminta, W.J.S. 1976. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Departemen Pendidikan
dan Kebudayaan.
Sobur, Alex. 2003. Semiotika Komunikasi. Bandug: PT. Remaja Rosdakarya.
Sutrisno, Mudji Sj.Fx. dan Verhaad Sj. Christ. 1993. Estetika Filsafat Keindahan. Yogyakarta:
Kanisius.
Storey, John. 2003. Teori Budaya dan Budaya Pop. Yogyakarta: Memetakan Lanskap Konseptual
Cultural Studies.

Download
TATA BUSANA ADAT BALI AGA DESA TENGANAN PAGRINGSINGAN DAN DESA ...

 

 

Your download will begin in a moment.
If it doesn't, click here to try again.

Share TATA BUSANA ADAT BALI AGA DESA TENGANAN PAGRINGSINGAN DAN DESA ... to:

Insert your wordpress URL:

example:

http://myblog.wordpress.com/
or
http://myblog.com/

Share TATA BUSANA ADAT BALI AGA DESA TENGANAN PAGRINGSINGAN DAN DESA ... as:

From:

To:

Share TATA BUSANA ADAT BALI AGA DESA TENGANAN PAGRINGSINGAN DAN DESA ....

Enter two words as shown below. If you cannot read the words, click the refresh icon.

loading

Share TATA BUSANA ADAT BALI AGA DESA TENGANAN PAGRINGSINGAN DAN DESA ... as:

Copy html code above and paste to your web page.

loading