This is not the document you are looking for? Use the search form below to find more!

Report home > Others

"Terbebas dari Kemiskinan: Masukan ILO atas PRSP Indonesia".

0.00 (0 votes)
Document Description
Dalam mempersiapkan masukan ILO kepada Komite Penanggulangan Kemiskinan di Indonesia, 12 seri paparan teknis singkat (Technical Briefing Notes-TBNs) telah disusun untuk memenuhi dua kegunaan. Pertama, sebagai dokumen latar belakang yang mencakup kebijakan-kebijakan kunci rekomendasi kebijakan berbagai hal terkait dengan pengentasan kemiskinan. Dan kedua, sebagai rancang bangun dalam penyusunan laporan komprehensif: "Terbebas dari Kemiskinan: Masukan ILO atas PRSP Indonesia". Paparan teknis ini membahas: Buruh Anak di Indonesia . Tema-tema lain dalam seri paparan teknis singkat meliputi: 1. Dimensi Ketenagakerjaan Dalam Kebijakan Makro Dan Sektoral; 2. Desentralisasi Dan Pekerjaan Yang Layak: Menjalin Hubungan Dengan MDGs; 3. Penciptaan Lapangan Kerja dan Pengembangan Usaha (Pengembangan UKM dan Ekonomi Lokal dan Lapangan Kerja); 4. Pengurangan kemiskinan kaum muda melalui perbaikan jalur dari sekolah menuju bekerja; 5. Pembangunan Desa, Akses, Kesempatan Kerja dan Peluang Memperoleh Penghasilan 6. Pengenbangan Keterampilan untuk Pertumbuhan Ekonomi dan Kelangsungan Hidup; 7. Pengembangan Kemampuan untuk Pemenuhan Deklarasi ILO tentang Prinsip-Prinsip Dasar dan Hak- hak di tempat Kerja; 8. Perlidungan Sosial untuk Semua; 9. Peningkatan Tata Pemerintahan yang baik dalam Pasar Tenaga Kerja melalui Penguatan Dialog Sosial dan Tripartisme; 10. Migrasi: Peluang dan Tantangan Program Strategi Pengentasan Kemiskinan (PRSP) di Indonesia . 11. Jender dan Kemiskinan
File Details
Submitter
  • Name: jacobus
Embed Code:

Add New Comment




Related Documents

KELUAR DARI KEMISKINAN: PENGALAMAN INDIVIDU DAN KOMUNITAS MOVING ...

by: sebastian, 36 pages

ntropolog ternama, Oscar Lewis, pernah memperkenalkan istilah "budaya miskin" yang ditandai oleh keadaan keseluruhan cara hidup, yang tidak hanya ditunjukkan dengan kondisi kemalangan ...

PEMBERDAYAAN EKONOMI RAKYAT MELALUI PROGRAM PEMBERDAYAAN KOPERASI ...

by: liesje, 12 pages

Pada kesempatan ini saya mengungkapkan terima kasih kepada Panitia Hari Pers Nasional 2007 yang telah memberi kesempatan sebagai salah satu narasumber pada diskusi yang lebih fokus pada topik ...

PEMANFAATAN KEBERAGAMAN BUDAYA INDONESIA DALAM PENGAJARAN BAHASA ...

by: regina, 9 pages

Bahasa Indonesia merupakan bahasa nasional sekaligus bahasa negara Indonesia. Sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia sudah dikumandangkan dalam Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928 oleh para pemuda ...

MENGOBATI ASAM LAMBUNG TINGGI, OBAT MAAG KRONIS, CARA MENURUNKAN ASAM LAMBUNG TINGGI

by: abrahamhandoyo, 2 pages

MENGOBATI ASAM LAMBUNG TINGGI, OBAT MAAG KRONIS, CARA MENURUNKAN ASAM LAMBUNG TINGGI. INFO DAN PEMESANAN HUBUNGI: REKO HANDOYO. 081389411679, 081932985325. http://obatmaagasamlambungkronis.blogspot ...

TIPS BAGAIMANA MENGECILKAN DAN MELANGSINGKAN PERUT BUNCIT? 081389411679

by: abrahamhandoyo, 2 pages

TIPS BAGAIMANA MENGECILKAN DAN MELANGSINGKAN PERUT BUNCIT? 081389411679 Perut buncit sering menjadi masalah disebabkan banyak faktor. Pertama perut buncit yang disebut obesitas abdominal yaitu ...

PENGEMBANGAN PENDIDIKAN BERWAWASAN KEWIRAUSAHAAN SEJAK USIA DINI

by: rioko, 17 pages

Upaya peningkatan mutu pendidikan di Indonesia, telah lama dilakukan. Bahkan setiap Repelita, peningkatan mutu pendidikan merupakan salah satu prioritas pembangunan di bidang pendidikan. Berbagai ...

PELESTARIAN LINGKUNGAN DAN PENANGGULANGAN KEMISKINAN ENVIRONMENTAL ...

by: elle, 36 pages

Hubungan antara pelestarian lingkungan hidup dan penanggulangan kemiskinan sudah cukup lama menjadi bahan perdebatan, terutama di kalangan penyusun kebijakan. Di Indonesia, topik ini menjadi hangat ...

ANALISIS KEMISKINAN DAN KETIMPANGAN DISTRIBUSI PENDAPATAN PADA ...

by: nusreta, 11 pages

Penelitian ini bertujuan untuk melakukan evaluasi terhadap tingkat kemiskinan dan ketimpangan pendapatan pada peternak sapi perah di wilayah kerja KUD Sinar Jaya Kabupaten Bandung. Objek dari ...

DIET MENURUNKAN BERAT BADAN, DIET MENGECILKAN PERUT BUNCIT, DIET SETELAH MELAHIRKAN, DIET SEHAT MENURUNKAN BERAT BADAN, MAKANAN DIET YANG SEHAT, HANYA DARI DISTRIBUTOR HERBALIFE INDONESIA. HUBUNGI REKO HANDOYO, 081389411679, 081932985325 GRAHA BINTARO G

by: abrahamhandoyo, 2 pages

DIET MENURUNKAN BERAT BADAN, DIET MENGECILKAN PERUT BUNCIT, DIET SETELAH MELAHIRKAN, DIET SEHAT MENURUNKAN BERAT BADAN, MAKANAN DIET YANG SEHAT, HANYA DARI DISTRIBUTOR HERBALIFE INDONESIA. HUBUNGI ...

KONSULTAN SMK3, KONSULTAN OHSAS 18001:2007, TRAINING HSE, KONSULTASI OHSAS 18001 HEALTH AND SAFETY DARI SIEN CONSULTANT. REKO HANDOYO, 081932985325, 021-36233226, 98567515, Jl. Radiul No. 6 Jatipulo Tomang, Jakarta.

by: abrahamhandoyo, 2 pages

KONSULTAN SMK3, KONSULTAN OHSAS 18001:2007, TRAINING HSE, KONSULTASI OHSAS 18001 HEALTH AND SAFETY DARI SIEN CONSULTANT. REKO HANDOYO, 081932985325, 021-36233226, 98567515, Jl. Radiul No. 6 Jatipulo ...

Content Preview
Dalam mempersiapkan masukan ILO kepada Komite
Penanggulangan Kemiskinan di Indonesia, 12 seri paparan
teknis singkat (Technical Briefing Notes-TBNs) telah disusun
untuk memenuhi dua kegunaan. Pertama, sebagai dokumen
latar belakang yang mencakup kebijakan-kebijakan kunci
rekomendasi kebijakan berbagai hal terkait dengan
pengentasan kemiskinan. Dan kedua, sebagai rancang bangun
dalam penyusunan laporan komprehensif: "Terbebas dari
Kemiskinan: Masukan ILO atas PRSP Indonesia".

Paparan teknis ini membahas: Buruh Anak di Indonesia.
Tema-tema lain dalam seri paparan teknis singkat meliputi:
1.
Dimensi Ketenagakerjaan Dalam Kebijakan Makro Dan
Sektoral;
2.
Desentralisasi Dan Pekerjaan Yang Layak: Menjalin
Hubungan Dengan MDGs;
3.
Penciptaan Lapangan Kerja dan Pengembangan Usaha
(Pengembangan UKM dan Ekonomi Lokal dan Lapangan
Kerja);
4.
Pengurangan kemiskinan kaum muda melalui perbaikan
jalur dari sekolah menuju bekerja;
5.
Pembangunan Desa, Akses, Kesempatan Kerja dan
Peluang Memperoleh Penghasilan
6.
Pengenbangan Keterampilan untuk Pertumbuhan
Ekonomi dan Kelangsungan Hidup;
7.
Pengembangan Kemampuan untuk Pemenuhan
Deklarasi ILO tentang Prinsip-Prinsip Dasar dan Hak-
hak di tempat Kerja;
1
8.
Perlidungan Sosial untuk Semua;
9.
Peningkatan Tata Pemerintahan yang baik dalam Pasar
Tenaga Kerja melalui Penguatan Dialog Sosial dan
Tripartisme;
10. Migrasi: Peluang dan Tantangan Program Strategi
Pengentasan Kemiskinan (PRSP) di Indonesia.
11. Jender dan Kemiskinan

Buruh Anak di Indonesia
Hak Cipta © Kantor Perburuhan Internasional 2004
Pertama terbit tahun 2004
Publikasi Kantor Perburuhan Internasional dilindungi oleh Protokol 2 dari Konvensi Hak
Cipta Dunia (Universal Copyright Convention ). Walaupun begitu, kutipan singkat yang
diambil dari publikasi tersebut dapat diperbanyak tanpa otorisasi dengan syarat agar
menyebutkan sumbernya. Untuk mendapatkan hak perbanyakan dan penerjemahan, surat
lamaran harus dialamatkan kepada Publications Bureau (Rights and Permissions),
International Labour Office, CH 1211 Geneva 22, Switzerland. Kantor Perburuhan
Internasional akan menyambut baik lamaran tersebut.
_______________________________________________________________________________
ILO
Seri Rekomendasi Kebijakan:
Kerja Layak dan Penanggulangan Kemiskinan di Indonesia, 2003

I S B N 9 2 2 0 1 5 5 4 0 0
_______________________________________________________________________________
Sesuai dengan tata cara Perserikatan Bangsa Bangsa, pencantuman informasi dalam
publikasi publikasi ILO beserta sajian bahan tulisan yang terdapat di dalamnya sama
sekali tidak mencerminkan opini apapun dari Kantor Perburuhan Internasional
(International Labour Office) mengenai informasi yang berkenaan dengan status hukum
suatu negara, daerah atau wilayah atau kekuasaan negara tersebut, atau status hukum
pihak pihak yang berwenang dari negara tersebut, atau yang berkenaan dengan penentuan
batas batas negara tersebut.
Dalam publikasi publikasi ILO sebut, setiap opini yang berupa artikel, kajian dan bentuk
kontribusi tertulis lainnya, yang telah diakui dan ditandatangani oleh masing masing
penulisnya, sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing masing penulis tersebut.
Pemuatan atau publikasi opini tersebut tidak kemudian dapat ditafsirkan bahwa Kantor
Perburuhan Internasional menyetujui atau menyarankan opini tersebut.
Penyebutan nama perusahaan, produk dan proses yang bersifat komersil juga tidak
berarti bahwa Kantor Perburuhan Internasional mengiklankan atau mendukung
perusahaan, produk atau proses tersebut. Sebaliknya, tidak disebutnya suatu perusahaan,
produk atau proses tertentu yang bersifat komersil juga tidak dapat dianggap sebagai
tanda tidak adanya dukungan atau persetujuan dari Kantor Perburuhan Internasional.
Publikasi publikasi ILO dapat diperoleh melalui penyalur penyalur buku utama atau
melalui kantor kantor perwakilan ILO di berbagai negara atau langsung melalui Kantor
Pusat ILO dengan alamat ILO Publications, International Labour Office, CH 1211 Geneva
22, Switzerland atau melalui Kantor ILO di Jakarta dengan alamat Gedung PBB, Lantai 5,
2
Jl. M.H. Thamrin 14, Jakarta 10340. Katalog atau daftar publikasi terbaru dapat diminta
secara cuma cuma pada alamat tersebut, atau melalui e mail:pubvente@ilo.org ;
jakarta@ilo.org.
Kunjungi website kami:www.ilo.org/publns ; www.un.or.id
Dicetak di Jakarta, Indonesia

BURUH ANAK
di INDONESIA

Di suatu dunia yang sempurna, tak
Pendahuluan
seorangpun yang bisa membantah hak seorang
anak untuk menikmati masa kanak-kanaknya,
memperoleh pendidikan, perlindungan, kasih
sayang dan waktu untuk tumbuh dan berkembang
menjadi dewasa. Namun pada kenyataannya, ada
lebih dari 1,5 juta anak-anak berusia antara 10
sampai 14 tahun yang menjadi buruh di Indonesia.
Anak-anak itu terpaksa melepas hak-hak mereka
untuk menikmati masa kanak-kanaknya.
Dalam banyak kasus, kemiskinanlah yang
menyebabkan buruh anak mengalami masa-masa
yang tidak menyenangkan. Dan, kemiskinan
jugalah yang menggiring buruh anak ke suatu titik
dimana mereka nantinya juga akan melahirkan
generasi baru yang sama atau mungkin lebih miskin
dari mereka. Tanpa masa kanak-kanak, pada masa
ketika dasar-dasar kemampuan manusia
dikembangkan, tak dapat diingkari lagi ada lebih
1,5 juta anak-anak yang memiliki kemampuan
terbatas untuk mendapatkan penghidupan yang
layak dan juga pilihan yang terbatas untuk
menanggulangi kemiskinan. Kemiskinan diwariskan
dari satu generasi ke generasi berikutnya dimana
3
buruh anak merupakan perantara aktif yang
menyebabkan lingkaran setan kemiskinan tetap
lestari, sekaligus menyebabkan kemampuan
nasional untuk memerangi kemiskinan secara
keseluruhan terus menurun.
Kehadiran buruh anak ini merupakan akibat
dari pembangunan sosial ekonomi yang tidak
memadai dan tidak layak. Dan problema ini tidak

Buruh Anak di Indonesia
dapat diselesaikan secara efektif jika tetap
dipisahkan dari proses pembangunan yang lebih
luas.1 Dalam hal ini Indonesia cukup peka dan
tanggap. Program Pembangunan Nasional Lima
Tahunan (PROPENAS) yang sedang berjalan, 2000-
2004, mengakui ada banyak permasalahan
menyangkut buruh anak. Hal ini mengacu pada
konteks kebutuhan untuk memperkuat peraturan
dan undang-undang tentang tenaga kerja yang
masuk dalam kategori “anak-anak yang tidak punya
pilihan lain, selain bekerja” Pengakuan tentang
adanya buruh anak dalam konteks pembangunan
nasional merupakan langkah pertama menuju upaya
mengurai dan memisahkan hubungan yang kait-
mengait dan sangat erat antara buruh anak dan
kemiskinan.
Menempatkan masalah buruh anak menjadi
bagian utama dalam konteks pembangunan
nasional dan pengentasan kemiskinan secara
keseluruhan tidak hanya akan meningkatkan
efektivitas dan keterkaitan tindakan yang diambil
dalam soal buruh anak, tapi juga akan menimbulkan
efek ganda. Hal semacam ini bisa memobilisasi para
aktor yang berbeda untuk memberikan dukungan
multidimensi yang dapat mengatasi akar penyebab
munculnya buruh anak, seperti kemiskinan. Dengan
melakukan upaya seperti itu, kesempatan untuk
menjangkau lebih banyak anak bisa menjadi semakin
terbuka dibandingkan dengan yang mampu
dijangkau tindakan-tindakan yang hanya
dikhususkan untuk buruh anak. Dukungan para
pelaku yang berbeda yang bersifat multidimensi dan
komprehensif juga memungkinkan direalisasikannya
kawasan/komunitas khusus untuk buruh anak.
Bagian I:
Kondisi Buruh
Anak di
Indonesia
4
Statistik Buruh
Di Indonesia, buruh anak merupakan fenomena
Anak yang umum dan telah lama masuk dalam data
nasional dengan nama “tenaga kerja anak’ Karena
usia minimum anak yang diperbolehkan bekerja
adalah 15 tahun (Undang-undang No. 20/1999),
1
Aksi-aksi utama untuk memerangi masalah buruh anak dalam
pembangunan dan stategi pengentasan kemiskinan, Hamid Tabatabi,
ILO-IPEC, Juni 2003, halaman 2.

fokus tulisan ini diberikan pada anak-anak berusia
10-14 tahun. Berdasarkan tiga survai nasional
berbeda, diperkirakan jumlah anak-anak berusia 10-
14 tahun yang bekerja sebagai buruh mencapai
1.575.000 (7,5 persen).2 Juga perlu dicatat bahwa
26,1% dari pekerja anak adalah mereka yang
berusia 15-17 tahun3. Dan mereka yang bekerja
dalam pekerjaan-pekerjaan yang berbahaya dan
bentuk pekerjaan lain yang lebih buruk menuntut
perhatian khusus dan penanganan yang bersifat
segera.
Anak-anak bekerja di berbagai sektor dan
bentuk pekerjaan. Namun sebagian besar dari
mereka bekerja di sektor pertanian keluarga dan di
perusahaan manufaktur serta perdagangan skala
kecil. Krisis ekonomi yang terjadi tahun 1997 telah
mengubah struktur buruh anak. Akibat perubahan
signifikan dalam pasar tenaga kerja setelah krisis,
terjadi informalisasi buruh anak, jumlah anak yang
bekerja di sektor pertanian berlipat ganda, dan
menurunnya upah riil.4 Lebih jauh lagi, pekerja anak
di perkotaan meningkat tajam. Semua itu
mencerminkan adanya gelombang pekerja anak
yang memasuki sektor informal.5 Krisis ekonomi
tampaknya telah pula menyebabkan semakin
banyaknya anak-anak bekerja pada pekerjaan yang
tidak menyenangkan, yang tidak diatur dengan
jelas, tidak terlindungi dan tidak formal dan kondisi
tersebut lebih buruk dibandingkan sebelum krisis
ekonomi.
Sementara itu, dunia internasional mulai
memberikan perhatian khusus terhadap bentuk
terburuk dan sifat buruh anak. Sebagai negara yang
pertama kali menandatangani Konvensi ILO 182
2
Survei Tenaga Kerja Nasional (Sakernas) pada 2001 memperkirakan
jumlah tenaga kerja yang berusia 10-14 tahun mencapai 6,34 persen.
Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) pada 2001 memperkirakan
anak-anak pada rentang usia yang sama baik yang sudah bekerja maupun
sedang mencari kerja mencapai 9,2 persen. Pengumpulan data lain
5
untuk Sakernas 1999 yang tidak dipublikasikan mencatat angka 6,9
persen. (Sebelum 1998, Sakernas merumuskan pekerja adalah mereka
yang bekerja mulai usia 10 tahun. Karena itu, sejak 1998, Sakernas
tidak mengelompokkan secara khusus pekerja anak di bawah 15 tahun,
dan akibatnya tidak ada data yang menyebut secara khusus pekerja
anak berusia 10-14 tahun). Data Sakernas 1999 maupun 2001 sama-
sama dipakai, tapi paper ini lebih memilih Sakernas 1999 karena jumlah
sampelnya lebih besar.
3
Sakernas 1999
4
Makalah ILO/IPEC, The Economic Crisis and Child Labour in Indonesia,
Chris Manning, 2000, hal. 10
5
Makalah ILO/IPEC, The Economic Crisis and Child Labour in Indonesia,
Chris Manning, 2000, hal. 23

Buruh Anak di Indonesia
(tentang Bentuk-bentuk Terburuk Pekerja Anak),
pada 2002 Indonesia telah menetapkan satu
langkah yang signifikan ke arah penghapusan buruh
anak, terutama yang masuk dalam jenis-jenis
pekerjaan terburuk. Keputusan Presiden No. 59/
2002 tentang Rencana Aksi Nasional Penghapusan
Bentuk-bentuk Pekerjaan Terburuk untuk Anak (NAP-
WFCL) menyebutkan 13 bentuk pekerjaan terburuk
untuk buruh anak. Program ini telah menetapkan
lima dari 13 jenis pekerjaan terburuk itu sebagai
prioritas dalam lima tahun pertama pelaksanaan
program tersebut yang direncanakan berlangsung
selama 20 tahun ini. Kelima bentuk pekerjaan
terburuk itu adalah anak-anak yang terlibat dalam
penjualan, produksi, dan
13 Bentuk Pekerjaan Terburuk dari Buruh Anak
perdagangan narkoba, anak-
Keputusan Presiden No. 59/2002
anak yang diperdagangkan
untuk dijadikan pelacur dan
§
Mempekerjakan anak-anak sebagai pelacur;
anak-anak yang bekerja di
§
Mempekerjakan anak-anak di pertambangan;
p e n a n g k a p a n i k a n l e p a s
§
Mempekerjakan anak-anak sebagai penyelam
mutiara;
pantai, pertambangan dan
§
Mempekerjakan anak-anak di bidang konstruksi;
pembuatan alas kaki.
§
Menugaskan anak-anak di anjungan penangkapan
ikan lepas pantai (yang di Indonesia disebut
Secara umum, untuk
jermal);
mendapatkan data yang sahih
§
Mempekerjakan anak-anak sebagai pemulung;
tentang bentuk-bentuk
§
Melibatkan anak-anak dalam pembuatan dan
kegiatan yang menggunakan bahan peledak;
pekerjaan terburuk buruh anak
§
Mempekerjakan anak-anak di jalanan;
bukanlah hal yang mudah
§
M e m p e k e r j a k a n a n a k - a n a k s e b a g a i t u l a n g
karena sifatnya yang
punggung keluarga;
terselubung, mobilitasnya yang
§
Mempekerjakan anak-anak di industri rumah
tinggi dan keterbatasan akses.
tangga (cottage industries);
Namun demikian, ada satu
§
Mempekerjakan anak-anak di perkebunan;
§
Mempekerjakan anak-anak dalam kegiatan-
upaya yang dilakukan untuk
k e g i a t a n y a n g b e r k a i t a n d e n g a n u s a h a
menghitung jumlah anak-anak
penebangan kayu untuk industri atau mengolah
dalam delapan sektor, yang
kayu untuk bahan bangunan dan pengangkutan
b e r k a i t a n d e n g a n b e n t u k
kayu gelondongan dan kayu olahan;
§
M e m p e k e r j a k a n a n a k - a n a k d a l a m b e r b a g a i
pekerjaan terburuk dari buruh
industri dan kegiatan yang menggunakan bahan
anak yang disebutkan dalam
kimia berbahaya.
NAP-WFCL (Lihat Tabel 1).
Angka-angka pada Tabel 1
tidak menunjukkan jumlah
6
anak-anak yang terlibat dalam bentuk pekerjaan
terburuk dalam pengertian mutlak; namun demikian,
angka-angka tersebut menunjukkan jumlah anak-
anak yang bekerja di berbagai sektor yang sangat
berbahaya. Sebanyak 4.201.425 anak-anak berusia
di bawah 18 tahun terlibat dalam pekerjaan-
pekerjaan yang berbahaya, dan lebih dari 1,5 juta
di antaranya adalah perempuan.

Ada semacam kekhawatiran yang kian hari Hal-hal yang
makin menyedot perhatian kita, yakni begitu perlu mendapat
besarnya jumlah anak-anak yang terlibat dalam
penjualan, produksi, dan perdagangan narkoba, perhatian
seperti yang terlihat dalam beberapa studi terakhir. serius
Menurut Kantor Wilayah Departemen Pendidikan DKI
Jakarta (2000), 14% dari 1.603 SMP dan 16,13% Anak-anak yang
dari 1.029 SMU di Jakarta melaporkan masalah terlibat dalam
narkoba di kalangan siswa mereka. Informasi yang Penjualan,
dikumpulkan dari para pengguna narkoba
menunjukkan bahwa 10-20% anak-anak yang Produksi, dan
menggunakan narkoba adalah mereka yang terlibat Perdagangan
dalam penjualan narkoba, untuk menjaga kebiasaan Narkoba
mereka dan karena berbagai alasan lain.6
Risiko pertama yang dihadapi seorang anak
yang terlibat dalam penjualan, produksi, dan
perdagangan narkoba menyangkut aspek legal dari
tindakan mereka. Ada argumentasi bahwa anak-
anak cenderung diperalat sebagai pengedar
narkoba karena mereka merasa tidak ada yang salah
dalam perbuatan itu, dan mereka juga tidak
menyadari dampak perbuatan mereka. Celakanya,
jika mereka ditangkap polisi, anak-anak tersebut
tidak hanya akan menghadapi hukuman berat dari
penegak hukum, tapi juga dari orang-orang yang
mengendalikan mereka. Di samping itu, risiko-risiko
yang mereka hadapi lebih dari sekedar hukuman.
Risiko itu antara lain terampasnya kesempatan
anak-anak itu mendapatkan pendidikan karena
mereka dipaksa keluar dari sekolah.7 Penggunaan
narkoba juga merusak perkembangan fisik mereka.
Perlu juga disebutkan di sini bahwa narkoba
biasanya tidak hanya digunakan secara sukarela,
tapi dalam beberapa kasus, juga dengan cara
pemaksaan. Narkoba dapat digunakan untuk
menguasai anak-anak dan menjadikan rawan
terhadap jenis-jenis pekerjaan yang bersifat
eksploitatif, seperti eksploitasi seks komersial.
7
Akibat dan penderitaan yang harus dihadapi Eksploitasi Seks
anak-anak yang terlibat dalam eksploitasi seks Komersial pada
komersial juga tidak kalah seriusnya. Beberapa studi Anak-anak
memperlihatkan bahwa kenaikan perdagangan
6
Children involve in sale, production, and trafficking of drugs, in Jakarta,
a Rapid Assesment, Irawanto Phd dan Riza Sarasvita, 2003.
7
Berdasarkan penilaian yang cepat tadi, sebagian besar yang diwawancarai
menunjukkan mereka menjual narkoba ketika mereka sedang bersekolah,
terutama ketika mereka berada di SMP atau SMA (hal.6)

Buruh Anak di Indonesia
remaja untuk dijadikan pelacur cukup signifikan
sebagai pemicu migrasi (antarnegara dan domestik)
serta perdagangan tenaga kerja. Berdasarkan data
tahun 1999 yang diperoleh dari Departemen Sosial,
ada sekitar 70.000 anak yang terjerumus menjadi
pekerja seks (ILO/IPEC, 2001b:9). Angka tersebut
cocok dengan pernyataan Farid bahwa 30 persen
pekerja seks berusia di bawah 18 tahun (Irwanto,
dkk., 2001:30).8 Menjamurnya jasa hiburan yang
beraneka ragam memberikan peluang bagi berbagai
bentuk pekerjaan seks yang beraneka ragam.
Kompleks hiburan, panti pijat, bar, karaoke, gadis-
gadis yang mempromosikan bir, para penjual
minuman ringan dan teh, dan sebagainya
memungkinkan terjadi eksploitasi seksual komersial.
Bentuk-bentuk
Jenis pekerjaan yang membahayakan anak-
anak seperti penangkapan ikan di sektor lepas
Pekerjaan yang pantai, pertambangan dan pembuatan alas kaki
Berbahaya bagi memerlukan penanganan segera. Enam macam
Buruh Anak bahaya seperti kecelakaan, bahaya kimia, fisik,
ergonomis, psikososial dan biologi akan
mempengaruhi perkembangan anak dalam berbagai
bentuknya. Misalnya, penggunaan air raksa di
pertambangan, dan perekat yang mengandung
pelarut organik beracun seperti toluena, methyl
ethyl keton, dan aseton pada pekerjaan pembuatan
alas kaki informal dapat menimbulkan kerusakan
otak atau kerusakan sistem saraf pusat. Peralatan
dan perkakas yang digunakan anak-anak seringkali
dibuat untuk memenuhi persyaratan pekerja
dewasa, dan tidak memberikan perlindungan
khusus kepada anak-anak yang secara fisik belum
sepenuhnya berkembang. Dalam skenario terburuk,
bahaya-bahaya semacam ini bisa merenggut nyawa
seorang anak/atau menyebabkan kerusakan
permanen pada diri anak. Suatu kecelakaan parah
yang terjadi di Kalimantan Timur pada tahun 1998
telah merenggut nyawa 32 orang pekerja, dan
separuh dari korban tersebut adalah anak-anak.
8
Buruh Anak di
Anak-anak yang potensial menghadapi
Rumah Tangga lingkungan kerja yang berbahaya, tapi belum
mendapat perhatian adalah anak-anak yang bekerja
di rumah tangga. Menurut survai dasar pertama
pada tahun 2002/2003 yang dilakukan oleh
8
Perdagangan Wanita dan Anak di Indonesia, ICMC and Solidarity Center,
USAID, 2003, hal. 68

Universitas Indonesia dan ILO-IPEC, ada sekitar
688.132 anak-anak yang menjadi pekerja rumah
tangga di Indonesia. Sangatlah sulit menentukan
jumlah pekerja rumah tangga anak-anak atau untuk
menggeneralisasi kondisi kerja mereka karena
situasi kerja yang mungkin dihadapi oleh anak-anak
t e r s e b u t s a n g a t b e r a g a m t e r g a n t u n g p a d a
majikannya. Namun demikian, tidak ada seorangpun
yang bisa meniadakan risiko yang harus dihadapi
oleh pekerja anak-anak di rumah tangga di balik
pintu tertutup tanpa adanya dukungan dari luar.
Anak- anak itu seringkali berada dalam pengawasan
penuh para majikan mereka, sehingga hal semacam
ini seringkali dipandang “ mirip perbudakan”.
Seringkali, para pekerja anak-anak di rumah tangga
menghadapi siksaan fisik, siksaan seksual dan
emosional. Namun demikian, mereka cenderung
menyembunyikan keadaan yang sebenarnya karena
takut kehilangan pekerjaan. Meskipun masalahnya
cukup serius, pekerja anak-anak di rumah tangga
sampai saat ini belum mendapat perhatian yang
memadai dan belum dimasukkan ke dalam sektor-
sektor yang diprioritaskan pada Fase Pertama NPA-
WFCL.
Bagian II: Buruh
Anak dan
Kemiskinan

Dalam tiga dasawarsa terakhir, setelah tahun Pertumbuhan
1965, Indonesia mengalami pertumbuhan ekonomi Ekonomi yang
yang mantap kecuali selama krisis ekonomi pada Memihak Kaum
kuartal ke-4 tahun 1997 dan 19989. Menurut laporan
dari ILO/IPEC, perkembangan ekonomi makro Miskin dan
Indonesia selama dua puluh tahun terakhir (1976 Buruh Anak
sampai 1996) memperlihatkan hubungan yang unik
dengan kemiskinan buruh anak. Laporan tersebut
menyebutkan bahwa tingkat kemiskinan nasional
bisa diturunkan menjadi hanya seperlima dari tahun
1970-an (berkurang sebanyak 81%), tapi penurunan
kemiskinan di kalangan buruh anak hanya 42 persen
9
(Lihat Lampiran 2).10
9
Tingkat kemiskinan turun dari 40,1 persen pada 1976 menjadi 11,3
persen (1996), tapi krisis ekonomi mengembalikan Indonesia ke tahun
1981 dan 1984, Pada tahun 2002, tingkat kemiskinan di Indonesia
mencapai 17,9 persen (Indonesian-interim PRSP, hal. 3).
10
Makalah Kerja ILO tentang Pekerja Anak di Indonesia, Unger dan Irawan,
hal. 5, 2002, ILO Jakarta.

Buruh Anak di Indonesia
Orang mungkin bertanya-tanya mengapa
penurunan angka kemiskinan tidak sertamerta
menurunkan kemiskinan pada buruh anak.
Jawabannya barangkali adalah pertumbuhan
ekonomi tidak secara langsung memberikan efek
yang sama pada pertumbuhan ekonomi kaum
miskin, sehingga hal itu tidak bisa diterjemahkan
menjadi pengentasan kemiskinan di kalangan orang
miskin. Karenanya, tidak berarti hal itu akan
mempengaruhi tingkat kemiskinan buruh anak.
Pendapat ini semakin diperkuat oleh tren pada
koefisien Gini yang memperlihatkan semakin
buruknya ketidakmerataan pendapatan dari tahun
1964 (0,333) ke tahun 1996 (0,356). Hal ini
menunjukkan bahwa tanpa pertumbuhan ekonomi
yang berpihak pada kaum miskin, pertumbuhan
ekonomi tidak akan menyebabkan terjadinya
distribusi pendapatan yang lebih baik, sehingga
rumah-tangga miskin tetap saja miskin dan rawan
terhadap persoalan buruh anak.
Ini semakin memperjelas arti penting
pertumbuhan ekonomi yang berpihak kepada kaum
miskin untuk mengatasi masalah buruh anak.
Gerakan dan arah strategi pengentasan kemiskinan
di Indonesia seperti yang disebut dalam UU. 25/
2000 tentang Propenas (Program Pembangunan
Nasional Lima Tahunan) 2000-2004 dan the Interim-
Poverty Startegy Paper (I-PRSP) pada 2002
menempatkan dampak terhadap rumah tangga
miskin dan membantu pertumbuhan ekonomi yang
memihak kaum miskin sebagai sasaran. I-PRSP
menyoroti pengentasan kemiskinan di luar
“pertumbuhan ekonomi makro” dan menekankan
bahwa pertumbuhan ekonomi saja tidak cukup,
karena ia haruslah seiring sejalan dengan upaya
mengarahkan pertumbuhan ekonomi yang berpihak
kepada orang miskin.11 Karena kita percaya bahwa
pengentasan kemiskinan dengan fokus pada
pertumbuhan ekonomi yang berpihak kepada orang
miskin akan sangat membantu dalam mengurangi
10
buruh anak, upaya-upaya untuk menghapus buruh
anak senantiasa berjalan seiring dengan upaya-
upaya untuk mendorong pertumbuhan ekonomi
yang berpihak kepada orang miskin. Dengan
demikian, upaya-upaya ke arah penghapusan buruh
anak dapat dianggap sebagai kontribusi langsung
11
Indonesian Interim-Poverty Reduction Strategy paper (I-PRSP), Badan
Perencanaan Pembangunan Nasional, 2002, hal. 7.

Download
"Terbebas dari Kemiskinan: Masukan ILO atas PRSP Indonesia".

 

 

Your download will begin in a moment.
If it doesn't, click here to try again.

Share "Terbebas dari Kemiskinan: Masukan ILO atas PRSP Indonesia". to:

Insert your wordpress URL:

example:

http://myblog.wordpress.com/
or
http://myblog.com/

Share "Terbebas dari Kemiskinan: Masukan ILO atas PRSP Indonesia". as:

From:

To:

Share "Terbebas dari Kemiskinan: Masukan ILO atas PRSP Indonesia"..

Enter two words as shown below. If you cannot read the words, click the refresh icon.

loading

Share "Terbebas dari Kemiskinan: Masukan ILO atas PRSP Indonesia". as:

Copy html code above and paste to your web page.

loading